Episode 9 - Hilangnya Sang Ratu


Sudut pandang Danny.

Anak baru itu tidak seburuk yang dirumorkan orang-orang. 

Dia memang tampak menyeramkan karena di bajunya terdapat bercak darah, tapi dengan pengalamanku aku bisa tahu, itu darah hewan, bukan darah manusia. Itu dapat dibedakan dari kekentalan darahnya. Darah ayam tidak lebih kental dibanding darah manusia.

Dan saat dia tiba-tiba terlihat seperti menyerang Bu Mellinda, itu hanya kecelakaan. Orang biasa memang tidak bisa melihat detil kecil seperti itu, tapi Dan bisa, dia melihat anak baru itu menginjak tali sepatunya sendiri, yang mengakibatkan anak itu tersandung ke arah depan, dan terlihat seperti akan menyerang Bu Mellinda.

Bahkan, saat pelajaran berlangsung, dia duduk tenang mendengarkan pelajaran dari guru. Tidak seperti yang lainnya yang curi-curi waktu untuk mengeluarkan HP dan mengecek sosial media. 

Dia tidak melakukannya.

Rumor benar-benar tidak bisa dipercaya.

Kecuali untuk kenyataan bahwa dia bahkan terlambat pada hari pertamanya masuk sekolah, itu dapat diartikan dia bukan orang yang disiplin, dia tidak cocok untuk dunia militer.

Yah, walaupun aku masih belum tahu apakah dia benar-benar anak mafia dan punya tiga pacar atau tidak. 

Aku seperti biasa, sangat ingin bertanya, tapi aku tahan. Seperti yang Dan katakan dulu, “Terkadang, semakin banyak yang kau tahu, semakin banyak masalahmu.” 

Aku bukan orang kurang kerjaan yang ingin menambah masalah untuk diriku sendiri.

Aku lebih berpikir tentang pesta ulang tahun ayah Alice hari ini.

Seperti, pakaian apa yang harus aku kenakan? 

Aku bingung.

Apakah aku harus berpakaian formal, dengan jas, kemeja dan celana setelan?

Tidak, tidak, itu terlalu kaku, dan umurku baru enam belas tahun, itu sangat tidak relevan.

Apakah aku harus berpakaian santai, dengan kaos dan jeans?

Tidak, tidak, itu terlalu santai, akan terlihat tidak sopan untuk memakainya pada acara itu.

Aku terus berpikir dan berpikir, hingga aku mendapat sebuah kesimpulan. 

Kenapa aku terlalu memikirkannya?

Kenapa aku tidak menjadi aku yang seperti biasa. Tanpa harus peduli kata orang lain, inilah aku, aku yang simpel dan biasa saja.

Aku akhirnya memutuskan untuk memakai kemeja dan celana kain setelan.

Jam tiga sore, aku sudah berada di depan gerbang sebuah rumah besar.

‘Apakah aku salah alamat?’ pikirku.

Aku berpikir seperti itu bukan karena rumah itu sangat besar dan megah, tapi karena rumah itu sangat sepi. Bukankah akan ada pesta ulang tahun? Dan Alice juga menyuruh aku datang jam tiga sore, tapi kenapa masih sangat sepi?

Aku mengecek alamat yang Alice beritahu padaku. Benar. Tapi, kenapa?

Akhirnya setelah banyak berpikir dan ragu, aku memutuskan untuk menekan bel. Toh, jika memang salah alamat aku hanya harus meminta maaf.

Setelah beberapa saat setelah aku menekan bel, aku mendengar suara langkah kaki, aku melihat ke arah suara itu berasal dan di sana aku melihat seorang pria gagah dengan kumis tebal. Dia terlihat seperti berumur di pertengahan empat puluhan. Tubuhnya tegap dan pandangan matanya setajam elang. Aura pria tersebut sangat mendominasi yang membuat aku sedikt ketakutan.

Ayah Alice sangat menyeramkan.

“Cari siapa?” ucap pria tersebut.

“Sa-saya diundang A-alice buat da-datang om!” jawabku terbata-bata.

“Ada perlu apa?” ucap pria itu sembari memelototi aku.

“Bukannya hari ini om ulang tahun, saya di undang datang sama Alice om, buat hadir di acara ulang tahun om” balasku sudah tidak terbata-bata lagi. Aku menekan sekuat tenaga rasa gugupku.

“Ulang tahun saya?” tanya pria itu lagi.

“Iya om!” Jawabku sambil mengangguk kayak ayam lagi batuk.

“Ini bukan hari ulang tahun saya,” ucap pria itu tegas.

“Eh?” aku terkejut mendengarnya.

Lalu, apakah Alice berbohong padaku?

Tiba-tiba terdengar langkah kaki, aku melirik sumber suara itu dan ternyata itu adalah Alice.

“Huft ... huft ... Pak Budi, dia temanku,” ucap Alice yang masih terengah-engah.

“Oh, jadi dia teman nona, maaf sudah menunda, silahkan masuk,” ucap Pak Budi sembari membuka pagar.

“...” aku tidak bisa berkata-kata setelah melihat ini, dia bukan ayahmu?

Sambil berjalan masuk, Alice menceritakan semuanya, ternyata Pak Budi adalah satpam di rumahnya dan sudah sangat sering anak laki-laki mencoba datang ke rumah untuk bertemu Alice, tapi ternyata bahkan Alice sendiri tidak mengenal siapa laki-laki itu, jadi Pak Budi menjadi sangat hati-hati jika ada tamu, apalagi laki-laki yang mengatakan ingin bertemu dengan Alice.

Alice juga belum memberitahu Pak Budi bahwa aku akan datang ke acara ulang tahun ayahnya. Karena, biasanya saat ulang tahun, mereka hanya merayakannya dengan makan malam bersama.

Setelah mendengar itu, aku bertanya-tanya. Kenapa aku ikut diundang? Jika aku, yang notabene adalah orang luar, masuk ke acara keluarga seperti itu, bukankah aku hanya akan seperti pengganggu saja?

Saat aku tiba di depan rumah Alice, aku melihat di teras rumahnya, ada seorang pria berambut klimis sedang duduk di kursi rotan, sambil menatap papan catur di atas meja di sampingnya.

“Oh, dia sudah datang,” Ucap pria berambut klimis itu.

Jujur, unsur uniknya hanya pada rambut klimisnya.

Tubuhnya normal seperti orang militer pada umumnya namun tidak terlalu mencolok, wajahnya normal dan cenderung agak pasaran, mungkin kau bisa menemuinya sekali dua kali saat berjalan di pasar. Hanya rambutnya yang hitam dan klimis yang membuatnya agak unik.

Ya, hanya rambut klimisnya.

“Iya Pa, dia Danny!” Balas Alice lembut.

“Iya om, saya Danny,” Ucapku.

Ayah Alice mengangguk lalu berkata, “Silahkan duduk,” ucapnya sambil menunjuk ke kursi rotan di samping meja yang masih kosong.

“Iya om,” Balasku sembari duduk.

“Alice, kamu ke dapur bantu Ibu!” Ucap Ayah Alice.

“Siap komandan!” Balas Alice sambil memberi hormat lalu berjalan masuk ,”Aku tinggal dulu ya Danny,” Ucapnya sambil melambaikan tangan.

Sekarang hanya ada aku dan pak klimis ini. 

Aku tidak tahu harus mulai dari mana, dan suasana ini ... sangat canggung.

Kampret.

“Hari ini om ulang tahun, ya?” aku bertanya, tapi setelah aku berpikir lagi, pertanyaan itu sangat bodoh.

“Haha, jangan sungkan!” Jawab Pak klimis. 

Aku rasa jawabannya agak tidak nyambung.

“Sambil menunggu para perempuan selesai urusan dapur, ayo kita main catur!” Ucap Pak klimis.

“...”

“Apa? Kamu tidak bisa?” tanya Pak klimis.

“Ah, bisa kok om, bisa!” Sergahku cepat.

Pertandingan catur antara aku dan Pak klimis pun dimulai. 

Dipertandingan pertama, aku yang sangat mengandalkan duet antara dua kuda dan benteng berhasil menang melalu kerja keras yang sangat alot. Butuh banyak pengorbanan, seperti ketika aku harus merelakan ratu saat dia menyerang, tapi akhirnya pengorbanan ratu dibayar dengan manis oleh pasukan kepercayaannya.

Di babak kedua aku agak tertekan dengan banyaknya prajurit yang masuk ke wilayahku, pasukanku tidak bisa berjalan dengan leluasa. Untuk mengatasinya, aku mengobankan prajuritku. Namun, ternyata itu menjadi awal dari kehancuran pasukanku.

Saat aku mengorbankan para prajurit malang itu, kuda milik Pak klimis segera masuk wilayah pertahananku lalu diikuti dengan ratu yang membuat pasukanku semakin kocar kacir, tidak berdaya, tidak lama kemudian aku langsung kalah.

Sekarang, babak ketiga, babak penentuan dimulai.

Aku mulai dengan memajukan prajurit untuk menguasai wilayah permainan tengah. Tapi, Pak klimis juga tidak tinggal diam, dia memajukan kuda untuk menghalau laju prajuritku lalu mencoba menyerang balik dengan memajukan para prajuritnya.

Perebutan wilayah tengah berlangsung dengan sengit.

Dengan jual beli serangan yang terus menerus berlangsung, satu persatu pasukan dari kedua belah pihak mulai tumbang.

Medan perang mulai berdarah.

Aku mengatur strategi menggunakan duet kuda untuk menyerang bagian kanan pertahanan musuh, sambil mengunci pergerakan ratu Pak klimis yang sedang membantu pertahan di sebelah kanan.

Tiba-tiba, Pak klimis mulai frustasi, benteng miliknya terbang jauh ke wilayah pertahananku, membuat prajuriit tidak bisa berkutik.

Namun, inilah yang aku tunggu-tunggu, dengan majunya sang benteng, ratu milikku jadi leluasa untuk menyerang dan akhirnya dia bersama duet kuda berhasil untuk memporak-porandakan pasukan musuh.

Hingga akhirnya situasi genting datang bagi pasukan Pak klimis, dia harus mengorbankan salah satu antara ratu atau raja, diiringi sebuah drama, ratu rela berkorban untuk raja.

Dengan kematian ratu, moral pasukan Pak klimis menjadi turun. Aku melakukan serangan penuh, semua pasukan maju, dan hanya menyisakan beberapa untuk melindungi raja.

“Hei, lihat itu!” ucap Pak klimis sembari menunjuk ke arah belakangku. Aku menoleh ke arah yang ditunjuk, tapi tidak melihat sesuatu apapun. 

“Ah, ada apa om?” tanyaku bingung.

“Haha, bukan apa-apa, ayo kita lanjutkan,” ucap Pak klimis.

Aku kembali fokus ke papan catur. Tapi tunggu? Dimana ratuku? Sebelumnya dia masih ada? Aku melihat ke arah Pak klimis dengan curiga.

“Hmm? Kenapa? Ayo kita lanjutkan!” ucap Pak klimis sambil tersenyum kecil.

Benar-benar tidak tahu malu.

Dia mengalihkan perhatianku lalu membuang ratuku. Di dalam hatiku tiba-tiba ada dorongan untuk berkata kasar, tapi aku tahan.

“Kampret!” Tapi keceplosan

“Kenapa?” tanya Pak klimis.

“Haha, bukan apa-apa, saya cuma mikir, tadi saya salah jalan,” ucapku.

“Haha, tidak usah dipikirkan, yang berlalu biarkan berlalu!” ucap Pak klimis dengan wajah hikmat.

Pertarungan kembali berlanjut, dengan hilangnya ratu secara tiba-tiba, membuat pasukanku kebingungan, dengan serangan kejutan akhirnya rajaku tewas di tangan musuh.

“Haha, kamu masih harus banyak latihan!” ucap Pak klimis sambil mengangkat dagunya.

‘Kampret lu’ bentakku dalam hati.

“Iya om,” ucapku sembari membereskan papan catur.

Setelah membereskan papan catur, aku melihat langit sudah berwarnaya oranye, tanpa aku sadari aku dan Pak klimis sudah bermain cukup lama.

“Kamu serius sama Alice, kan?” ucap Pak klimis, entah kenapa auranya tiba-tiba berubah, menjadi sangat mendominasi.

“Iya om!” ucapku terburu-buru, padahal aku tidak mengerti maksudnya.

“Bagus, Alice itu anak saya satu-satunya, dan sebenarnya saya tidak sudi menyerahkannya padamu, tapi .... huft, apa boleh buat, suatu hari nanti dia pasti pergi juga, jadi lebih baik dari sekarang saya mempersiapkan diri dan melihat bagaimana orang yang membawa pergi putri saya!” Ucap Pak klimis dengan nada dramatis.

“...”

“Kamu harus selalu menjaga dia.”

“Baik om!” ucapku, ya tentu saja, aku adalah seorang pria, jika ada wanita yang dalam masalah, entah siapa pun pasti akan aku tolong.

“Baiklah, ingat kata-katamu, jika tidak...,” Pak Klimis berdiri dan berjalan ke arah pintu, “Nasibmu akan sama seperti sang ratu.”

“Eh?” aku terbengong sambil melihat punggung Pak klimis yang semakin jauh.