Episode 9 - Komodo Nagaradja


Sudah kepalang basah, biar basah sekali. Bintang tak lagi menimbang-nimbang. Ia berada tepat di mulut gua. Meski tekanan yang ia rasakan sangat berat, suara tersebut mungkin satu-satunya harapan untuk mengetahui tentang pulau ini. 

Bintang melangkahkan kaki masuk ke dalam gua. Radius gua cukup besar, sekitar 3 m, sehingga rongga gua mencapai diameter seluas 6 m. Dinding-dinding gua terbilang mulus, tanpa ada stalaktit maupun stalagmit. Kondisi gua lebih mirip seperti lubang yang sengaja digali, bukan hasil dari terpaan alam.

Bintang terus melangkahkan kaki. Bagian dasar lubang sama seperti dindingnya. Perlahan ia rasakan bahwa lubang ini tidak mendatar, tapi turunan yang semakin lama semakin terjal. Kini ia berada sekitar 10 m di dalam lubang. Semakin terbatas sinar matahari yang menyeruak masuk.   

Pada kedalaman sekitar 15 m, ia hanya dapat melihat samar-samar sekeliling. Masih belum terlihat akan tanda-tanda ujung lubang. Di depan hanya kegelapan tanpa batas. Bintang mulai bimbang.

“Sesepuh yang berdiam di dalam gua,” ungkapnya dengan sopan. “Terima kasih atas undangan untuk masuk ke dalam gua. Apakah masih jauh langkah yang harus ditempuh?” 

Sesungguhnya tujuan dari pertanyaan ini bukan hanya untuk mengetahui seberapa jauh lagi langkah yang perlu ditempuh. Bintang ingin memastikan apakah yang mengundangnya masuk memiliki niat baik atau sebaliknya. Tergantung dari jawaban yang ia terima, Bintang sudah siap melarikan diri meninggalkan gua. Sudah tidak mungkin gua ini didiami manusia. Manusia pasti memerlukan penerangan yang memadai bila tinggal di dalam lubang seperti ini. 

Tidak ada jawaban dari ujung sana. Bintang menghentikan langkah. Tidak lama, matanya menangkap seberkas cahaya termaram yang merambat perlahan dari dalam lubang. Ia pun melanjutkan langkah kaki. Kali ini lebih cepat dari sebelumnya. 

Lubang gua berujung ke sebuah ruang bundar. Bintang menyapu pandang. Lantai ruang cukup datar. Yang sebelumnya ia kira bundar, adalah sisi samping dan atas ruang. Di tengah sinar temaram, Bintang belum dapat memastikan luas ruang tersebut. Namun, perkiraannya adalah ruang berbentuk kubah, dengan luas mencapai diameter hampir 40 m. Sangat luas.

“Hm… Sudah cukup lama sejak terakhir kali seorang tamu datang bertandang,” sebuah suara kembali menyapa. Kini terdengar bahwa suara tersebut terasa berat, nuansa kelelahan terasa dari setiap kata yang keluar. 

“Nama hamba Bintang Tenggara,” ungkap Bintang ke arah sisi ruang yang masih gelap gulita. “Saya berasal dari Dusun Peledang Paus, di Pulau Paus. Sejak sehari yang lalu saya tiba dan tersesat di pulau ini,” tambah Bintang cepat. Ia menahan diri untuk mengajukan pertanyaan. Lebih sopan memperkenalkan diri terlebih dahulu, pikirnya.

“Oh…”

Perlahan, dua cercah sinar berwarna kuning keemasan muncul dari sisi ruang yang gelap. Jarak yang memisahkan sinar-sinar tersebut hampir 1 m. Ukuran masing-masingnya sebesar kepala manusia dewasa, di tengah-tengah terdapat lingkaran berwarna hitam mengkilap.

Sepasang bola mata! Bintang terkejut, jantungnya berdebar keras, tubuhnya kaku dan sedikit terhuyung ke belakang. Seekor binatang siluman, gumamnya dalam hati.

“Apakah engkau takut?” suara dari kegelapan menyadari rasa tidak nyaman lawan bicaranya. 

Perlahan, sejumlah kristal kuarsa berpendar, menyibak cahaya ke penjuru ruang. Bintang melihat sebuah moncong mirip buaya dengan lebar dan tinggi sekitar 2 m menempel di tanah. Perlahan terlihat kepala dan leher yang panjang, dan tubuhnya besar sekali. Tinggi tubuh binatang siluman tersebut mencapai 5 m. Kaki-kakinya besar dengan kuku-kuku panjang berwarna hitam kusam. Ekor panjangnya ditekuk ke samping tubuhnya. Secara keseluruhan, panjang tubuh binatang siluman tersebut dari moncong sampai ekornya mungkin lebih dari 20 m. 

Berkas cahaya semakin terang menyibak sang binatang siluman. Kulit di sekujur tubuhnya dilapisi oleh sisik-sisik besar berwarna kemerahan mirip batu bata. Di banyak bagian, sisik telihat mengelupas, menampilkan kulit berwarna abu-abu gelap. Di sisi atas tubuhnya terlihat bergerigi, yang berbaris dari kepala hingga ke ekor.

“Saya takut sekali,” ungkap Bintang tanpa ragu apalagi malu. Hanya orang tidak waras atau bernyali baja yang berani bila berhadapan dengan tekanan luar biasa dan pemandangan yang mengerikan seperti ini. 

“Namun, sesepuh siluman mengundangku kemari tidak dengan niat buruk.”

“Hahaha....” suara tawa sang siluman bergema mengisi seluruh ruangan gua. 

Bintang terperangah. Meski terdengar suara tawa, moncong sang binatang siluman tidak bergerak sama sekali. Tubuhnya hanya terdiam, sesekali bergetar perlahan saat menarik dan menghempaskan napas.

“Aku berutang budi padamu. Bagaimana mungkin bisa aku berniat buruk?” kembali terdengar suara dari arah sang binatang siluman. 

Berutang? Pikir Bintang dalam hati. Bagaimana mungkin sang binatang siluman berutang pada dirinya. Ini kali pertama mereka bertemu. Semakin banyak pertanyaan di benak Bintang. Ia sangat ingin mengetahui tentang pulau ini dan bagaimana caranya kembali ke Dusun Peledang Paus. 

Sebelum Bintang sempat mengajukan pertanyaan, sang siluman kembali melontarkan pertanyaan terlebih dahulu. “Tadi kau katakan bahwa tersesat ke pulau ini, bagaimana ceriteranya?” 

“Sehari yang lalu saya terjatuh ke laut, dan harusnya cidera berat, bahkan mungkin menghembuskan napas terakhir karena terkena libasan ekor Paus Surai Naga. Saya tak sadarkan diri setelah itu. Saat siuman, saya sudah berada di hutan pulau ini.” 

“Jadi kau tidak sengaja membuka segel pulau ini?”

“Segel pulau ini?” Bintang semakin kebingungan. “Pulau apakah ini? Bagaimana caranya saya bisa kembali ke Dusun Peledang Paus?” Bintang tak lagi dapat menahan diri.

“Tidakkah orang tuamu mengajarkan tentang keahlian? Tentang persilatan dan kesaktian?” sang siluman mengabaikan pertanyaan Bintang. 

“Orang tua saya bukanlah orang-orang ahli. Mereka tidak pernah berbicara tentang persilatan dan kesaktian, apalagi memberi tunjuk-ajar,” jawab Bintang. Sedikit keraguan terbersit dari jawabannya kali ini. 

“Tidak dapat diterima akal. Sudah jelas kau berada di Kasta Perunggu Tingkat 1.” 

Bintang terkejut sampai seolah ingin memuntahkan darah. Kepalanya pening, ia terjerembab ke belakang. 

“Kemudian, hanya para ahli yang mempraktekkan keterampilan khusus terkait segel, yang dapat menjangkau pulau ini,” lanjut sang binatang siluman. 

Bintang hanya terduduk diam. Badannya masih lemas. Apakah binatang siluman ini mengerjainya? 

“Sepertinya kau memang tak mengerti apa-apa. Aku perlu istirahat. Kembalilah lagi dalam dua jam. Akan kujawab tiga pertanyaanmu.”

Bintang hanya menatap diam. 

“Bila ingin menunggu di situ juga tidak apa-apa,” tutup sang binatang siluman. 

Meski memiliki kepintaran di atas rata-rata anak seusianya, Bintang tetaplah seorang anak berusia 12 tahun. Kata-kata sang siluman menggetarkan jiwa. Bagaimana tidak? Bila benar ia memiliki kesaktian, bukankah itu berarti kesempatan untuk mengubah nasib dusunnya? Bukankah menjadi kesempatan untuk membahagiakan ibunya? Bukankah berarti ia bisa menjadi seorang lamafa?!


...


Dua jam berlalu cepat. Bintang kembali ke dalam gua, atau liang binatang siluman untuk lebih tepatnya. Ia telah menimbang-nimbang serangkaian pertanyaan. Mengaitkan satu fakta dengan fakta lainnya. Ada seribu satu pertanyaan yang ingin ia ajukan. Ia mengurutkan pertanyaan paling utama, hanya tiga pertanyaan yang dapat diajukan kepada sang binatang siluman. 

“Sudahkah kau siapkan tiga pertanyaan?” tanya sang binatang siluman. Meski tubuhnya hanya terdiam, suaranya mengesankan rasa penasaran terhadap anak yang terdampar ini.

“Pertanyaan pertama, siapakah sesungguhnya jati diri sesepuh siluman?” tanpa basa-basi. Kini Bintang sudah lepas dari keterkejutan. Ia siap.

Sepasang mata siluman menyempit. Ia tidak menyangka pertanyaan pertama malah terkait jati dirinya. Menurut perkiraannya, pertanyaan pertama kemungkinan besar tentang pulau ini. 

“Namaku... Komodo Nagaradja,” suara sang siluman berwibawa.

“Aku biasa dipanggil Nagaradja, dan aku adalah siluman sempurna,” tutupnya segera. 

Bintang kali ini mampu menyembunyikan keterkejutanya. Padahal, ada dua hal menakjubkan dari jawaban tersebut. Pertama, menurut kakek Kepala Dusun, binatang siluman komodo adalah binatang siluman terkuat di wilayah tenggara, namun mereka diduga punah saat Perang Jagat dahulu. 

Kemasyuran komodo sama tingginya dengan gajah dari Pulau Barisan Barat, orangutan dari Pulau Belantara Pusat, babirusa dari Pulau Logam Utara, badak dari Pulau Jumawa Selatan, atau cenderawasih dari Pulau Mutiara Timur. 

Kedua, siluman sempurna adalah eksistensi yang bermartabat. Evolusi dari binatang siluman menjadi siluman sempurna setidaknya memerlukan waktu seribu tahun. Dengan umur yang sebegitu panjang, siluman sempurna memiliki kearifan dan keahlian jauh sekali di atas rata-rata manusia. 

Kesimpulannya, bila binatang siluman termasyur seperti komodo berevolusi menjadi siluman sempurna, maka pastilah memiliki kesaktian tiada tara. 

“Pertanyaan berikutnya?” sergah Nagaradja. 

“Pertanyaan kedua...,” Bintang menarik napas, “apakah sesepuh Komodo Nagaradja mengenal ayahku?” 

“Tentu saja. Ayahmu adalah Balaputera. Seorang ahli yang menguasai keterampilan khusus segel.” 

Bintang telah memperkirakan kemungkinan atas jawaban ini. Benar nama sang ayah adalah Balaputera.

Sang ayah tersebut hilang di laut, tak ada tanda-tanda kekerasan dari peledang yang ia naiki, yang hanyut dibawa ombak kembali ke pesisir dusun.Kemudian, dirinya sendiri tiba di tempat ini saat terjatuh ke laut. Lalu, Nagaradja mengatakan bahwa dirinya berutang budi kepada Bintang, seseorang yang baru ditemuinya beberapa jam lalu. Berutang budi dapat terjadi secara tidak langsung, misalnya seseorang yang dekat dengan Bintang memberikan suatu bentuk bantuan. 

Benang merah dari ketiga hal tadi cukup nyata terlihat. Meski sudah memperkirakan, detak jantung Bintang tetap berdetak kencang. 

“Pertanyaan terakhir,” Nagaradja tak menyembunyikan rasa ingin tahu. Pertanyaan seperti apa yang akan anak laki-laki ini ajukan. 

“Pertanyaan terakhir....”

Bintang sesungguhnya tidak menyiapkan hanya tiga pertanyaan. Pertanyaan pertama adalah pertanyaan pancingan. Sedangkan pertanyaan kedua adalah pertanyaan konfirmasi. Ada belasan pilihan yang ia siapkan untuk pertanyaan ketiga, yang akan ia ajukan sesuai dengan jawaban yang diperoleh atas pertanyaan pertama dan kedua...

“Sudikah kiranya, sesepuh Nagaradja, mengangkat hamba sebagai seorang murid, untuk mendalami persilatan dan kesaktian...?”