Episode 8 - Perkenalkan, Aku Raku.


“Maaf, aku terlambat,” ucap pemuda itu.

Bu Mellinda tertegun lalu memandang ke arah pemuda itu sambil berkata dengan tenang, “Cepat masuk dan perkenalkan diri.”

Pemuda itu berjalan santai. Lalu, tiba-tiba saja menerjang Bu Mellinda hingga membuat Bu Mellinda terjatuh pada pantatnya.

Melihat ini, semua siswa laki-laki kecuali Danny merasa tidak terima karena ada seseorang yang mencoba menyerang Bu Mellinda. Seorang pemuda memukul meja, kemudian berdiri lalu menatap tajam pada anak baru tersebut sambil berteriak, “Apa yang kau lakukan!”

Anak baru itu linglung lalu menjawab, “Tidak, ini tidak sengaja.”

Pemuda berdarah panas itu masih marah dan berteriak lagi, “Jangan kau kira aku tidak berani padamu. Jangankan Yakuza, bahkan jika kau adalah anak Presiden, aku pasti akan menghajarmu.”

“Benar, kami pasti akan menghajarmu.”

“Dasar berandalan, betapa bodoh tiga pacarnya itu.”

“Benar, padahal masih banyak yang jomblo disini.”

Kemarahan mereka keluar dari topik dan menjadi bentuk iri karena menurut rumor dia memiliki tiga pacar.

“DIAM!!!” bentak Bu Mellinda yang sudah berdiri kembali. Dia mengerutkan kening lalu menarik napas dalam-dalam, mencoba untuk meredam amarahnya.

“Cepat perkenalkan diri lalu duduk di kursimu,” ucap Bu Mellinda sembari menatap anak baru itu.

“Ba-baik,” ucap anak baru itu.

Berdiri di depan kelas dengan bajunya yang basah karena keringat dan memiliki bercak darah, membuat para gadis sedikit takut dan tidak berani menatapnya. 

“Perkenalkan, namaku Rangga Kuncoro, biasa di panggil Raku.” Ucap Raku lalu menoleh ke arah Bu Mellinda.

“Hanya itu?” tanya Bu Mellinda.

“Iya,” jawab Raku.

“Baiklah, tidak apa-apa, cepat duduk di sana,” ucap Bu Mellinda sembari menunjukan pada Raku ke arah kursi kosong yang telah disiapkan untuknya.

“Terima kasih Bu. Untuk yang sebelumnya, saya minta maaf,” ucap Raku.

“Baiklah, tidak apa-apa, cepat duduk, saya akan memulai pelajaran,” ucap Bu Mellinda, lalu cepat melanjutkan ucapannya, “Untuk ‘itu’, sehabis sepulang sekolah kamu harus datang ke kantor dan menjelaskan semuanya,” Sembari menujuk pada bercak darah di baju Raku.

“Baik Bu,” balas Raku lalu berjalan menuju kursinya.

Setelah duduk, dia melepas tasnya dan menghela napas dengan barat.

‘Ini hari yang sangat kacau’ pikirnya.


***


SUDUT PANDANG RAKU

Tepat pukul lima pagi, jam weker berbunyi dan membangunkan aku yang yang sedang terlelap.

Aku merapikan selimut dan kasur, lalu aku mengganti baju dengan baju olahraga, aku akan lari pagi. Untuk mengimbangi keseharianku yang biasa di kamar seharian, itulah yang aku lakukan untuk tetap sehat.

Ya, aku sering berada di kamar seharian, bermain game, membaca novel, komik atau menonton anime.

Setelah memakai sepatu, aku langsung bergegas untuk berlari.

Rute yang aku pilih tidak jauh, karena aku harus sampai kembali di rumah pukul setengah enam untuk bersiap-siap masuk ke sekolah baruku.

Ini adalah yang kesekian kalinya aku pindah sekolah, aku pindah karena ayahku. Dia mendapat tugas dari bosnya untuk mengatur perusahaan cabang di kota ini. Awalnya aku sedih karena aku harus berpisah dari teman-temanku, tapi sekarang aku sangat mengantisipasi bagaimana teman-teman baru yang akan aku temui di sekolah baru ini.

Sejuk menusuk kulitku karena aku tidak memakai pakaian lebih. Tapi aku terus berlari di lingkungan baru ini, berada di tempat asing terasa sangat mendebarkan.

Sudah seminggu aku berada di kota ini, kota ini sangat indah, walaupun banyak gedung menjulang tinggi ke langit. Namun, pohon juga tidak kalah banyak, yang membuat udara di kota ini terasa segar dan sejuk.

Walaupun ini adalah sebuah besar kota, tapi masih banyak orang yang lebih memilih untuk berjalan kaki ataupun menggunakan sepeda, yang membuat kota ini tidak bising seperti kota besar lainnya.

Sebelumnya, aku sudah pergi ke sekolah baruku untuk mengurus berkas-berkas untuk pindah sekolah dan bertemu dengan salah seorang siswa di sana. Dia sangat ramah, kami berkenalan dan saling mengobrol, dan ternyata dia juga memiliki hobi yang sama dengan aku, ini membuat aku sangat senang.

Aku memberitahunya bahwa aku akan pindah ke sekolah ini, dan hari ini aku sangat tidak sabar untuk bisa bertemu dan berbicara tentang hobi kita. 

Tapi, aku lupa bertanya nama dan kelas berapa dia.

Aku masih terus berlari dan setelah sekian lama akhirnya aku tiba kembali ke rumah, saat aku mencoba untuk melepas sepatu, kakiku rasanya sangat sakit, ini mungkin akibat aku tidak pemanasan sebelum mulai berlari.

Aku memaksa berjalan walau kakiku terasa sangat sakit. Duduk di sofa, aku beristirahat sejenak sembari memijat kakiku yang kram. Setelah aku rasa sudah tidak terlalu sakit lagi, aku mengambil handuk untuk menyeka keringat di tubuhku. Setelah itu aku langsung menuju kamar mandi.

Setelah selesai mandi, aku segera memakai seragam sekolah. berkaca di cermin, aku melihat pria tampan. Tentu saja itu aku.

Aku mengambil dompet lalu memasukan ke kantung celana, memakai tas lalu pergi ke meja makan untuk sarapan.

Setelah sarapan aku segera berangkat sekolah, aku tidak sabar untuk bertemu dengan teman-teman baru di sana. Rumahku tidak jauh dari sekolah, jadii aku memutuskan untuk berjalan kaki ke sana.

Di sebuah persimpangan, aku melihat seorang nenek-nenek sedang berdiri dengan linglung sambil memegang tas belanjaan. Sepertinya dia ingin menyebrang.

Aku mendekati nenek tersebut lalu bertanya, “Mau menyebrang nek?”

Nenek itu menoleh ke arahku lalu menjawab, “Iya.”

“Saya bantu menyebrang nek,” ucapku sembari memegang tangan nenek itu, karena usianya dan juga barang bawaannya yang banyak, nenek itu berjalan sangan pelan.

Aku berpikir, ini masih sangat awal, jadi aku memutuskan untuk membantu nenek itu membawa barang belanjaan menuju rumahnya.

“Tidak usah nak, nanti kamu telat!” Sergah nenek itu.

“Tidak apa-apa, hari ini tidak ada pelajaran,” aku berbohong agar nenek itu tidak khawatir.

“Baiklah, terima kasih nak,” ucap nenek tersebut sembari tersenyum kecil.

“Haha, tidak apa-apa nek,” balasku sembari membawa barang belanjaan nenek tersebut.

Di perjalanan menuju rumah nenek tersebut, aku banyak mengobrol dengan nenek tersebut, dia berkata hari ini adalah hari ulang tahun cucunya, dan karena itu dia ingin membuatkan makanan enak untuk cucu kesayangannya itu.

Setelah sekian lama, akhirnya aku dan nenek tersebut sampai ke rumahnya. Rumah sederhana yang terbuat dari kayu, halaman rumah itu sangat lapang dan banyak pohon buah-buahan yang di tanam, seperti jambu, rambutan dan mangga.

Sebelum aku pergi, nenek itu sedikit ragu lalu memutuskan untuk meminta tolong padaku untuk menangkap ayam, dia ingin memasak ayam untuk cucunya.

“Tidak masalah nek,” ucapku lalu melepas tas dan menaruhnya di kursi yang berada di teras.

Nenek itu berkata, ayam peliharaannya di biarkan bebas di halaman belakang rumahnya, jadi aku segera berjalan ke sana, sesampainya di sana, aku melihat ayam jago berdiri dengan angkuh di atas dahan pohon mangga, memandang dengan jijik ke arahku seakan berkata, “Manusia rendahan.”

Aku mencari ke sekitar dan akhirnya menemukan sebuah batu seukuran telapak tangan, aku bersiap lalu melempar batu tersebut ke arah ayam jago sombong itu, berharap dia akan terkejut lalu turun dari dahan pohon, akan lebih mudah untuk menangkapnya di tanah.

Batu mengenai dahan pohon tempat ayam jago sombong tersebut berdiri dan membuat dahan itu bergoyang, ayam jago sombong itu berkokok lalu sambil mengepakan sayapnya berpindah ke dahan pohon yang tidak jauh dari sana.

Aku terkesima dan takjub, ayam jago itu tidak hanya sombong, tapi juga cukup pintar. 

Dia musuh yang layak.

Aku mencari ke sekitar lalu mengumpulkan beberapa batu, memegang salah satu batu yang aku kumpulkan, lalu melemparkan ke arah ayam jago sombong itu. Namun, dengan sigap, ayam itu terbang dan menghindari lemparanku, tapi sebelum ayam itu sampai di dahan pohon berikutnya, aku segera melempar batu lagi ke arah ayam tersebut.

Ayam itu seakan menyadari arah lemparan batu kedua, dia berkokok sembari menghindar dari lemparan itu lalu mendarat dengan aman di atas dahan dan memandang dengan jijik ke arahku. 

Tapi mata ayam itu langsung terbelalak, karena tiba-tiba ada batu yang dengan kencang menuju arahnya, ‘BAM’ batu itu terkena wajah ayam itu dan membuat dia kehilangan keseimbangan lalu terjatuh.

Aku yang berada di bawah dengan sigap berlari lalu menangkap ayam itu. Setelah mengikat kaki ayam itu, aku membawanya ke tempat sepi dan mulai menyembelihnya.

Bersamaan dengan tewasnya ayam itu, rasa dendam yang berkumpul di dalam hatiku juga lenyap.

Setelah beberapa saat, aku membawa ayam yang sudah di sembelih itu ke nenek tadi.

“Makasih nak, udah bantuin nenek,” ucap nenek itu.

“Tidak masalah nek.”

“Itu ... bajumu, kotor semua.” 

“Ah, gak masalah nek, hari ini tidak ada pelajaran, jadi aku langsung pulang ke rumah saja,” ucapku bohong sembari melihat bajuku yang ternyata terkena cipratan darah ayam.

“Ya udah nek, saya pamit dulu ya.”

“Iya, hati-hati di jalan nak.”

Aku berjalan sambil melambaikan tangan ke arah nenek itu, setelah agak jauh, aku langsung berlari ke arah sekolah, aku telat.

Aku melihat ke arah gerbang, itu tertutup, tamat riwayatku.

Aku memutuskan untuk memutar ke belakang sekolah lalu melompat pagar, pagar di sekolah ini tidak terlalu tinggi, jadi aku bisa melompatinya. Setelah itu, aku cepat berlari ke kelas, tapi aku tidak tahu di mana kelasku, aku hanya di beri tahu bahwa aku akan masuk ke XII A.

Aku berlari sembari mencari dimana XII A.

Akhirnya aku menemukannya, aku terburu-buru dan langsung mencoba masuk. “BANG” karena tidak sengaja, pintu itu terdorong dengan keras.

Setelah itu, yang terjadi adalah kekacauan total.

Aku tersandung karena menginjak tali sepatu dan semua siswa mengira aku seperti aku ingin menyerang guru. Kemudian, siswa laki-laki mulai berteriak memarahi aku dan akhirnya tidak ada yang mau berbicara dengan aku.

Semuanya kacau di hari pertama ini.

Lebih parah lagi, dompet di kantung celanaku hilang.

Sepulang sekolah, aku pergi ke kantor guru untuk bertemu dengan Bu Mellinda, setelah aku jelaskan semuanya, Bu Mellinda tidak menghukum aku dan hanya sedikit menegur lalu menyuruhku pulang.

Aku tidak langsung pulang ke rumah, aku berjalan lalu duduk di tepi sungai, mengagumi bagaimana sungai yang terus mengalir tanpa berhenti.

Benar, ini belum berakhir, aku pasti bisa mendapat teman.

Aku bangkit lalu berjalan menuju rumah, setelah sampai, tiba-tiba saja ada gadis kecil membawa rantang berjalan menuju arahku.

“Kak Rangga, kan?” ucap gadis itu.

“Benar, dan kamu?” balasku bingung.

“Ini ada ayam buatan nenek, aku yang ulang tahun hari ini,” ucap gadis tersebut sembari menyodorkan rantang.

“Oh, jadi kamu yang ulang tahun, selamat ulang tahun ya, tapi kamu kok bisa tahu rumah kakak?” 

“Ini,” Ucap gadis itu polos sambil merogoh kantung celananya, mencoba mengambil sesuatu, itu dompetku, lalu menyodorkan dompet itu padaku, “Aku lihat alamat kakak di kartu pelajar kakak, dompet kakak tadi jatuh di dekat rumah.”

“Oh, Terima kasih,” ucapku sambil menyeringai.

“Tidak, tidak, aku yang harusnya bilang terima kasih ke kakak,” ucap gadis itu sambil tersenyum lebar.

Melihat senyum polosnya, hatiku terasa hangat.

Hari ini tidak seburuk yang aku kira. 

Ini hari yang menakjubkan.