Episode 15 - Indahnya Masa Sekolah yang Tak Mungkin Kembali


Minggu-minggu ini, siswa kelas XII di SMA Harapan Nusantara sedang mengadakan ujian praktek. Ujian praktek ini dilaksanakan sebelum ujian nasional.

Berbicara ujian praktek, jadi anak IPA itu serba ribet, apalagi pas menjelang akhir-akhir masa sekolah tapi enggak seribet bikin skripsi sih yang setiap ketemu dosen direvisi mulu tuh skripsi. Tapi kenapa ya anak IPA image-nya itu lebih pinter dari anak IPS? Itu hanya image, baik anak IPA maupun anak IPS, mereka masing-masing punya kelebihan. Ya anak IPA pintar menghitung, apalagi hitung-hitungan pas lagi pacaran. 

 “Yank, aku lapar, kita makan di situ ya?” kata si cewek sambil nunjuk restoran mahal.

 “Yank, kamu mau tempat romantis enggak?” tanya si cowok.

 “Dimana?”

 Akhirnya tuh cowok mengajak si cewek makan ketoprak di pinggir jalan, karena enggak mau jajan di tempat mahal. Parahnya lagi tuh cowok pakai acara hutang ke tukang ketopraknya. Pas si cowok buka dompetnya, ternyata isi dompetnya itu cuma KTP doang.

 “Bang, maaf nih. Saya ngutang dulu ya. Hehehe,” kata si cowok sambil menyengir kuda.

 “Ngutang?”

 “Iya, nih jaminannya,” kata si cowok sambil memberi KTP.

 Sementara si cewek cuma memasang muka manyun.

 “Sialan nih cowok! Masa gue diajak makan di pinggir jalan!”

 Ternyata KTP itu selain sebagai kartu identitas, dia bisa juga digunakan sebagai alat jaminan. Hebat ya KTP. 

 ***

 Pagi ini anak IPA tujuh lagi kumpul di lab biologi. Mereka semua sudah pada rapih memakai jas lab yang warnanya itu putih dan kalau setiap dipakai oleh siswa sekolah ini jadi terlihat memakai jas putih, suer benar lho enggak bohong. Mereka sedang menunggu guru biologi. Enggak butuh waktu lama, Bu Guru Biologi yang memakai kacamata itu masuk. Dia berdiri di depan lab sambil memegangi mic ditemani Coklat dan Ival yang masing-masing lagi megang gitar dan bass serta Tiar yang siap menabuh drum. Konser pun dimulai, anak IPA tujuh pada histeris menjerit.

 “Kalian biasa di luaaar!” sambut guru biologi itu.

 Bukan seperti itu ceritanya, masa ada guru biologi mendadak konser di lab, kan aneh. Anak IPA tujuh siap-siap untuk praktek biologi, biasanya sih bedah-bedah gitu.

 “Dalam ujian praktek biologi, diharapkan kalian tidak menggunakan kalkulator. Kenapa tidak diperbolehkan menggunakan kalkulator? Karena tidak ada hubungannya. Ini biologi bukan matematik, paham?”

 “Paham, Buuu!”

 “Nah lihat di meja masing-masing. Di situ sudah terdapat katak, kalian tahu katak itu makhluk apa?”

 “Makhluk hidup, Buuu.”

 “Pintar, sekarang tugas kalian adalah membedah katak itu.”

 “Bu!” Coklat mengancungkan telunjuknya.

 “Ya kenapa, Coklat?”

 Coklat pun berdiri dari tempat duduknya, dia kemudian ke dinding lab ini sambil menundukkan kepalanya. Wajahnya terpilu ada hasrat yang ingin dia sampaikan.

 “Bu, jujur. Aku tidak tega untuk membedah si katak ini. Uh uh uh, ini mencerminkan bahwa kita tidak mempunyai rasa berprikatakan, kasihan dia. Dimana saatnya dia bahagia menikmati hidupnya, kini harus merelakan hidupnya hanya karena praktek ini, sungguh kejam! Bagaimana nasib keluarganya? Anaknya … istrinya … mungkin dalam hujan mereka sedang menunggu sang ayah untuk pulang, namun kesedihan itu akan datang ketika dia tahu bahwa sang ayah sudah tiada. Kejam!” ujar Coklat sambil berlutut.

 Anak IPA tujuh menitikan air mata, mereka terbawa haru dengan apa yang barusan dikatakan Coklat. Bu Guru Biologi juga merasakan kesedihan yang mendalam dan akhirnya praktek membedahnya enggak jadi dilaksanakan. Mereka yang keluar dari lab biologi masih menangis terbawa haru. 

 *** 

 Jadi anak IPA itu terkadang engga enak. Mereka itu harus membawa image yang katanya anak IPA lebih pintar dari anak IPS. Karena kepintaran itulah anak-anak IPA di sekolah selalu jaim, enggak mau yang namanya pacaran. Ya ini hanya untuk yang pintar-pintar saja sih, kalau yang aneh kayak Coklat dan Ival sih sama saja kayaknya. Contohnya kayak Fauzi, dia itu ranking satu terus di SMA mulai dari kelas sepuluh sampai kelas dua belas. Ceritanya Fauzi lagi duduk di depan kelas, eh dia didekatin sama cewek cakep.

 “Hy, Zi.” Senyum manis cewek itu.

 “Ya, kenapa?”

 “Nanti malam kamu ada acara? Kita nge-date yuuuk.”

 “Sorry, nanti malam aku belajar.”

 “Oh, ya sudah. Aku nge-date sama yang lain aja deh.”

 Si cewek langsung pergi, dan hanya menyisakan penyesalan di hati Fauzi.

 “Anjiiiir, itukan cewek cakep. Kenapa gue tolak mentah-mentah sih? Ah bosen gue belajar mulu, tapi kalau enggak belajar dan nilai gue turun, gimana? Mereka pasti pada ketawain gue, terus gua enggak dapat PTN, dan akhirnya gue jadi gembel, tapi gue ngebet juga pengin punya cewek. Aarrrrgggtt!”

 Itu Fauzi, tapi beda cerita kalau Coklat yang ada di depan kelasnya. Dia lagi bengong berharap ada cewek mengajak dia nge-date kayak Fauzi. Eh tersampaikan juga, ternyata ada cewek cantik dekatin dia.

 “Hy.” Senyum cewek itu.

 “Hy juga.” Coklat membalas senyumannya.

 “Nge-date yuk entar malam?”

 “Waw, ok. Jam berapa dan dimana?”

 Lalu cewek itu seketika terdiam.

 “MasyaAllah,” ujar si cewek tepok jidad.

 “Kenapa?”

 “Sorry, tadi aku enggak sadar.”

 “Anjiir, gue kira beneran nih cewek mau nge-date sama gue.”

 ***

 Usai dari lab biologi, anak IPA tujuh beramai-ramai ke lab fisika. Biicara soal fisika, sebenarnya pelajaran fisika itu pelajaran orang kurang kerjaan. Buktinya, buah jatuh dari pohon saja masih sempat-sempatnya buat dihitung berapa kecepatan buah jatuh dari pohon, belum ditambahkan sama jenis jatuhnya, itu gerak lurus beraturan atau berubah beraturan. Repot kan?

 “Bang, tukang kelapa ya?” 

 “Iya, Ade, mau beli kelapa?”

 “Boleh, tapi saya mau yang langsung dari pohonnya. Abang bisakan petikin?”

 “Oh bisa, De.”

 Si abang tukang kelapa pun manjat pohon kelapa. Sementara si ade lagi siap-siap pegang stopwatch, kertas dan pulpen. Pasti tuh si ade lagi siap-siap buat menghitung kecepatan kelapa jatuh dari pohonnya, kurang kerjaan banget kan.

 “Yang ini, De!” teriak tukang kelapa sambil memegangi kelapanya.

 “Iya, Bang, jatuhin!”

 “Iya!”

 Kedebught! 

 “Aduwh sakit!” kata tukang kelapa memegangi pantatnya.

 “Aduh, kenapa Abang yang jatuh, saya itu minta kelapanya yang dijatuhin.”

 “Yaaah, tadi mintanya bang jatuhin, ya udah saya jatuhin diri deh.”

 ***

 Anak IPA tujuh sekarang lagi kumpul di luar lab fisika, mereka siap-siap mau praktek tentang fisika seperti membaca puisi, bermain drama, dan sebagainya. Guru fisika mereka dikenal sebagai Pak Guru yang pelit banget sama suara, sampai-sampai setiap kali tuh guru menjelaskan pelajaran, mereka cuma bilang hah hoh hah hoh.

  Guru fisika itu datang, dia berjalan dari arah kanan anak IPA tujuh. Melihat guru datang dari kejauhan Coklat pun memanggilnya sambil mengangkat tangan.

 “Paaaak! Apa kabaaar?!”

 “Baik ….” Pak Guru itu menjawabnya dengan suara pelan, sampai-sampai serangga kecil kayak semut yang berdiri di samping tuh guru tidak mendengarnya.

 “Sob, tadi dengar suara manusia?” tanya semut 1.

 “Enggak,” jawab semut 2.

 “Oh, mungkin cuma perasaan gue aja kali ya?” 

 “Mungkin.”

 Pak Guru itu kemudian membuka pintu lab ini dengan menggunakan linggis karena kunci labnya hilang entah kemana. Ketika pintu lab terbuka, mata Pak Guru melirik kanan kiri melihat suasana. Dia mengajak anak IPA tujuh untuk masuk dengan cara mengendap-endap.

 “Ayo masuk mumpung yang punya lagi enggak ada,” bisik Pak Guru dengan pelan.

 “Ok, Pak,” jawab anak IPA tujuh dengan suara pelan juga.

 Dirasa suasana aman, mereka pun masuk. Melihat ada tivi, handphone, laptop. Mereka ramai-ramai membawanya keluar. Dengan tampang yang tidak berdosa, mereka meninggalkan lab ini. Yang jadi pertanyaan, sejak kapan lab fisika ada tivi, handphone sama laptop? 

 ***

 Setelah dari lab fisika, anak IPA tujuh bergegas untuk ke lab kimia. Guru kimia di sekolah itu selalu dianggap salah satu guru killer, padahal sih baik hati enggak pernah membunuh orang. Tapi itulah realitanya, apalagi kalau guru kimianya perempuan, wah pasti tuh guru galak banget, bukan main galaknya, bahkan anjing kepolisian sampai diam termenung ketika diomeli sama tuh guru kimia.

 “Kamu gimana sih, masa jenis-jenis atom saja enggak tahu!”

 Itu guru kimia lagi mengomeli anjing, sementara si anjing hanya diam. Ya tuh guru kurang kerjaan kali, anjing kok diomelin. Kayaknya sih wajar kalau guru kimia perempuan itu galak. Rata-rata kan guru kimia itu sudah jadi ibu-ibu, mungkin mereka pusing memikirkan suaminya sama anak-anaknya yang juga pada enggak bisa dan enggak mengerti pelajaran kimia.

 “Suamiku, aku capek loh tiap hari ajari kamu kimia, tapi kamu enggak bisa-bisa. Aku sakit loh.”

 “Maaf, Istriku.”

 “Kamu engga mengerti perasaan aku sih, sakitnya itu loh, sakitnya itu di sini,” ucap Bu guru kimia sambil nunjuk hati.

 Apa hubungannya rumah tangga sama pelajaran kimia? Kita balik lagi ke IPA tujuh. Anak IPA tujuh sekarang lagi berkumpul di depan lab kimia, mereka sedang menantikan guru kimia datang. Menunggu guru kimia datang itu kayak seorang suami lagi menunggu istirnya melahirkan, mondar-mandir di ruang tunggu. Perasaannya itu gelisah, gregetan kayak lagi pengin mengacak-acak suasana.

 “Aduuh,” ucap si suami sambil gelisah duduk di kursi.

 “Lagi nunggu istrinya melahirkan ya, Mas?” tanya orang si sampingnya.

 “Iya.”

 Saking gelisahnya dan enggak bisa diamnya, perasaannya pengin mengacak-acak apa saja yang ada di sekitarnya.

 “Aduh udah enggak tahan nih,” kata si suami.

 “Sabar nanti juga bakalan lahir tuh bocah.”

 Akhirnya tuh si suami mengacak-acak isi dalam rumah sakit ini. Benda apa saja yang dia lihat, dia acak-acak gitu aja. Plaaang tuiiiing tuiiiiing! Si suami itu melempar-lemparkan kursi, pot bunga, dan benda-benda lainnya di ruang tunggu ini. Kerjaan si suami itu dilihat sama Pak Satpam rumah sakit, tahu kan apa yang akan terjadi? Ya betul, akhirnya tuh Pak Satpam ikut main lempar-lemparan. Masa kecil kurang bahagia.

 ***

 Anak IPA tujuh masih menunggu guru kimia datang, muka mereka sudah pada lecak menunggu guru sampai sekarang belum nongol-nongol. Tiba-tiba terdengar suara pengumuman lewat speaker.

 “Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Hari ini Bu Tati tidak masuk, jadi praktek kimianya ditunda sampai batas waktu yang masih belum bisa ditentukan.”

 “Horeee!”

 Anak IPA tujuh pada teriak kegirangan. Ya biasalah mereka, kalau ada guru killer enggak masuk pasti kegirangan, ya kan? Kalian semua pasti merasakan yang namanya itu pas sekolah.

 ***

 Beberapa bulan kemudian, ketika anak-anak kelas dua belas sudah melewati masa ujian nasional beserta ujian-ujian lainnya. Kini pagi ini, mereka semua berkumpul di lapangan. Mereka semua berbaris sesuai dengan kelasnya masing-masing untuk mendengar pengumuman hasil kelulusan sekolah. Di depan lapangan sudah berdiri Pak Kepala Sekolah dengan gayanya yang berwibawa.

 “Anak-anak, hari ini bapak senang sekali bisa bertatap muka dengan kalian.”

 “Ya itu sih bapak, kalau saya sih enggak, Pak,” ujar Coklat.

 “Hari ini tepat Bapak akan memberi pengumuman atas hasil ujian nasional kalian. Bapak tentunya akan senang jika kalian lulus, apalagi kalau enggak ketemu sama dua orang rese itu, hahahaha.” 

 Kriiik kriiiik kriiik, suasana menjadi hening. Hanya terdengar bisikan-bisikan enggak jelas dari para siswa.

 “Gan, itu pak kepala sekolah ngelawak?” 

 “Mungkin.”

 Kembali ke soal pengumuman pelulusan. Usai memberi sambutan sebentar, kini Pak kepala sekolah bersiap mengumumkan siapa saja yang lulus tahun ini.

 “Bagi namanya yang disebut .…”

 “Pak!” Coklat mengancungkan tangan.

 “Iya, kenapa, Coklat?”

 “Nama yang disebut sama Bapak?”

 “Bukan! Tapi sama malaikat pencabut nyawa!”

 “Iya deh.” Coklat lalu tertunduk.

 Pengumuman pelulusan berlangsung. Satu persatu nama siswa disebutkan dan maju ke depan untuk menerima surat tanda pelulusan langsung dari Pak Kepala Sekolah. Setelah menunggu waktu kurang lebih 10 abad 8 tahun 11 bulan 43 minggu 3 hari 12 jam 14 menit 56 detik, akhirnya nama Coklat pun disebutkan oleh kepala sekolah. Tuh kan aneh, walaupun sudah menunggu selama itu, Coklat masih terlihat muda.

 “Coklat.”

 Coklat pun maju ke hadapan Pak Kepala Sekolah dengan wajah yang terhiasi oleh sebuah senyuman begitupula dengan wajah Pak Kepala Sekolah. Pak Kepala Sekolah memberikan sebuah surat kepada Coklat, Coklat tersipu malu.

 “Ini surat buat kamu,” kata Pak Kepala Sekolah.

 “Aduh si Bapak, saya kan jadi malu,” ucap Coklat sambil mengedipkan matanya.

 Melihat kemesaraan yang tercipta antara Pak Kepala Sekolah dan Coklat, Ival yang masih berdiri sambil megangin surat pelulusan di lapangan tersulut rasa cemburu, dia kemudian memunguti gelas minuman yang ada di kantin sambil menggerutu.

 “Apaan tuh tadi, pakai acara pandang-pandangan segala, aku kan cemburu jadinya.”

 Anggap saja adegan yang barusan itu enggak ada, cukup orang oon yang berbuat seperti itu. Kembali ke Coklat yang sekarang lagi berdiri di tengah lapangan sambil siap-siap buka surat di tangannya itu. Dag dig dug, suara jantungnya pas mau buka surat.

 “Ayo buka, Coklat,” kata Ival.

 “Ayo dong buka,” kata Tiar.

 “Buka! Buka! Buka!” serentak anak IPA tujuh bersorak.

 Mau enggak mau kan karena banyak yang minta Coklat buat membuka, akhirnya Coklat pun menuruti permintaan teman-temannya itu. Dengan gagah berani dan rasa percaya diri yang tinggi, Coklat pun membuka bajunya.

 “Eeee, bukan bajunya yang dibuka, tapi suratnya,” ujar Ival.

 “Oh, bilang dong,” kata Coklat memakai lagi bajunya.

 Dalam hitungan ketiga Coklat akan membuka suratnya. Satu … dua … tigaaa. Coklat hanya terdiam melihat isi surat yang dia baca. Dia seolah tak percaya dengan apa yang dialihat di hadapannya, teman-temannya pun diam, guru-guru pun juga diam, nah pembacanya juga diam. Mereka pun semuanya diam, untungnya saja diamnya mereka, enggak ada seorang pun yang kentut.

 “Dengan ini, Coklat dinyatakan … lulus!” teriak Coklat kegirangan.

 Saking girangnya Coklat lulus, dia berlari ke arah Bu Riny yang sedang berdiri di pinggir lapangan. Ketika dia berlari karena rasa gembira yang begitu dalam, enggak sengaja Coklat kesandung batu dan jatuh. Pluk! Badannya tengkurep memeluk tanah. 

 “Jujur, gue pengin banget meluk Bu Riny, eh malah jadi meluk tanah.”

 Meski sempat jatuh, Coklat bangkit lagi. Dia menundukkan kepalanya menahan rasa malu sekaligus menahan hasratnya untuk buang air. Rasa malunya bisa dia tahan, namun rasa ingin buang air tidak mampu dia tahan. Coklat bergegas ke kamar mandi.