Episode 59 - Hari-Hari Mereka Tanpa – Bagian 4



Euis telah selesai dengan tugasnya hari itu. Di dalam ruangan yang hanya diisi oleh sedikit orang, dialah salah satu yang tetap tinggal di jam-jam sore.

Waktu di mana seharusnya orang-orang bersenang-senang dengan seluruh kegiatannya.

Dia sendirian. Namun itu hanya kata kiasan untuk mengisi kekosongan di hatinya. Karena di saat itu juga, sebenarnya ada satu orang lagi yang menghabiskan hampir seluruh waktunya berada di depan meja kerja.

Dia melihat lelaki berkacamata itu dengan penuh perhatian dan tanda tanya. Kenapa dia mengerjakan tugasnya lebih lama dari biasanya? Pertanyaan itu terus menerus terngiang di dalam kepala Euis. Dan itu adalah salah satu dari alasan kenapa dia masih bertahan di dalam ruangan.

Ingin rasanya mengganggu waktu lelaki itu dengan bertanya pertanyaannya. Tetapi apa daya, keseriusan dari lelaki itu membuatnya tak bisa bergerak dari posisinya berada. 

“Permisi.”

Suara pintu ruangan terbuka, dan berjalan dua orang adik kelas yang menjadi pembantu lelaki itu.

Mereka berdua—laki-laki dan perempuan—melewati meja Euis dengan senyum yang merekah di wajah mereka. Euis membalas pula sapaan lembut mereka dengan senyuman menawan yang membuat mereka melangkah lebih cepat.

“Anu, Bang Rian!”

Si adik laki-laki membuyarkan keseriusan Rian. Meskipun dia tahu perbuatannya agak sedikit kurang ajar, tetapi dia harus melakukannya untuk menyampaikan apa yang ingin mereka katakan.

“Ada apa?”

Dua adik itu tak lekas menjawab pertanyaan dari kakak kelasnya. Mereka berdua saling menatap lebih dulu untuk memutuskan siapa yang akan berbicara. Sampai pada akhirnya si adik perempuan berbicara lebih dulu, dan disambung oleh si adik laki-laki.

“Kami pikir sudah cukup untuk hari ini. Kakak gak harus mengerjakan semuanya sendirian.”

“Itu benar. Apalagi pekerjaannya tak sesuai dengan kesepakatan awal yang dibuat.”

Euis sangat mengerti perasaan si adik perempuan. Tetapi dia sama sekali tak mengerti maksud dari si adik laki-laki.

***

Dua orang pembantu—tangan kanannya—datang untuk menyampaikan sesuatu yang sedang mereka rasakan. Si adik perempuan tampak khawatir dengan keadaannya. Si adik laki-laki juga kelihatannya merasakan hal yang sama, hanya saja perasaannya lebih mengarah ke banyak tugas yang datang pada mereka hari itu.

Rian awalnya berniat ingin meminta kepada dua adik kelasnya untuk berhenti mengkhawatirkan dirinya. Namun itu sama saja melempari mangga yang sudah busuk, dia malahan akan menambah kekhawatiran dari dua adiknya. Untuk itu dia memutuskan untuk menghentikan pekerjaannya.

Pulpen di tangannya diletakkan dengan halus. Punggung tegapnya yang mulai merasa pegal ditubrukkan ke kepala kuris yang empuk. Nafas panjang dan berat juga dikeluarkan dengan selesainya pekerjaannya.

“Maaf sudah mengkhawatirkan kalian. Kalian benar, tugas banyak yang datang tiba-tiba ini juga tak seharusnya bisa cepat diselesaikan. Sepertinya kebiasaan burukku sejenak keluar tadi.”

Senyum lega merekah di wajah dua adiknya. 

“Jadi, kalian pulang saja duluan, aku akan membereskan semua ini sebelumnya.”

“Enggak, kami akan membantu.”

“Kami gak bisa biarin abang melakukan semuanya sendirian.”

Dua adik yang perhatian, atau sama keras kepalanya seperti dirinya?

“Oke, ayo kita bereskan.”

Namun, dia benar-benar tak ingin menghilangkan semangat membantu para adiknya. 

Mereka bertiga bekerja cukup cepat untuk membereskan segala kekacauan yang ada di meja. Merapikan banyak dokumen sesuai dengan kelompoknya. Menaruh segala peralatan ke tempatnya. Dan membuang segala sesuatu yang dianggap tak berguna lagi ke dalam keranjang sampah.

“Oke, kita sudah selesai. Apa kalian punya rencana lain sebelum pulang?”

Pertanyaan Rian disambut dengan ekspresi cerah dari kedua adiknya. Dan untuk menjawab pertanyaan dari kakak kelasnya, si adik perempuan yang merupakan kelas dua—dan juga kakak kelas dari si adik laki-laki—menjawab lebih dulu pertanyaan Rian.

“Aku akan mengecek kelas lebih dulu sebelum pulang. Memastikan kalau anak-anak sudah membereskan kelas.”

“Kalau aku, tak benar-benar punya kepentingan sih. Tapi mungkin aku akan mampir ke perpus.”

Dua adiknya menjawab dengan rencana mereka masing-masing. Kelihatannya yang perempuan adalah gadis yang bertanggung jawab. Lalu si laki-laki memiliki hobi yang dapat mencerahkan pikirannya.

“Kalau gitu, kalian duluanlah.”

“Baik. Kami duluan kak.”

“Kami duluan bang.”

Dua adiknya pergi meninggalkan ruangan. Memberikan kesempatan untuk Rian melakukan sesuatu sebelum benar-benar pulang.

Mengambil beberapa dokumen yang belum selesai dikerjakan dan menaruhnya ke dalam tas. Akhirnya dia bisa pulang dengan tenang.

Posisinya saat itu tengah menghadap ke depan meja kerja. Dan dia membelakangi ruangan, yang mana di belakangnya berdiri seorang teman lama yang telah memerhatikan pekerjaannya dalam waktu yang cukup lama.

Dia berbalik, keterkejutan tak membuatnya berteriak atau melakukan sesuatu yang berlebihan, tetapi dia berdiri di tempat dengan wajah yang bingung.

“Apa yang kau lakukan di situ?! Bikin kaget aja.”

Perkataannya mungkin berkata seperti itu, tetapi wajahnya sama sekali tak memerlihatkan ekspresi yang sebenarnya.

“Apa yang mau kamu lakukan dengan kertas-kertas barusan?”

Bertolak pinggang, Euis bertanya seperti seorang ibu yang sedang mencurigai anaknya.

“Kertas apa?”

Dan jawaban yang diberikan benar-benar mengejutkan. Untuk ukuran seorang yang jarang sekali berbohong, Euis benar-benar dibuat terkejut dalam hatinya. Bahkan kelihatannya dia tak ingin membahas permasalahan yang sedang diangkat oleh Euis.

“Huft...”

Namun pada akhirnya, Euis tak ingin terlalu memaksa Rian untuk menjelaskan alasan dari perbuatannya, dan berniat untuk mengajaknya pulang.

“Okelah! Yuk, pulang!”


Mereka pergi meninggalkan bangunan tempat mereka bekerja—bangunan tiga. 

Berjalan menyusuri halaman yang sangat luas, dan membutuhkan waktu cukup lama untuk menemukan pintu gerbang. Meskipun begitu, itu bukanlah masalah utamanya. Karena mereka telah terdiam cukup lama, bahkan tak ada satupun dari mereka yang membuka mulut untuk memecahkan keheningan.

Sebenarnya, diam juga bukanlah masalah utama. Masalah utamanya adalah, kejujuran yang diinginkan seseorang, dan kebohongan yang ingin tetap dipertahankan bagaimanapun caranya.

Untuk mencapai tujuan itu, tak ada satupun dari mereka yang ingin mengangkat topik untuk dibicarakan. Kecuali satu, tetapi Euis merasa berat untuk mengangkatnya sekarang. Karena suasana hatinya juga cukup sulit untuk diutarakan dengan kata-kata.


Sesampainya di gerbang depan, mereka tetap mempertahankan diamnya hati dan mulut. Bahkan dari beberapa kelompok dan murid yang mereka lewati dan melewati mereka, merasa ada yang aneh dengan perilaku tersebut.

Anehnya juga, tak ada satupun yang—memang ada beberapa yang mengenal mereka—mencoba untuk membantu suasana senyap itu. Kecuali satu, dia yang tak ingin melihat adanya pertikaian di dalam sekolah yang dia jaga.

“Punten1, Neng Euis, Bang Rian!”

Itu adalah Teguh yang telah mengetahui keadaan dua insan tersebut dengan mendengarkan dari mereka yang melihat mereka sebelumnya.

Rian dan Euis hampir secara bersamaan melihat ke arah sumber suara. Euis terlebih dahulu membalas sapaan Teguh.

“Mangga2, Kek!”

Dan Rian membalas sapaan Teguh dengan menganggukkan kepala satu kali. 

Tatapan Teguh terus mengarah kepada mereka yang bahkan belum berada dekat dengan pos. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu pada mereka, dan akhirnya mereka berdua berjalan mendekat menuju pos jaga.

Teguh yang berada di pos, turun ke permukaan tanah dan menunggu datangnya dua insan yang dia ingin untuk bantu memecahkan masalah mereka.

“Ada apa kek?”

Euis yang menyadari keanehan dari Teguh, bertanya lebih dulu sebelum Teguh berkata sesuatu.

“Enggak, kakek cuma pengen tahu, pekerjaan kalian sebagai Wakajur3 bagaimana?”

Rian dan Euis melihat satu sama lain atas pertanyaan Teguh. Wajah mereka bertanya-tanya, kenapa dia mengangkat topik seperti itu? yang mana seharusnya tak ada satupun masalah yang bisa membuat orang lain khawatir karenanya.

“Kurasa, semuanya berjalan seperti biasanya. Tak ada masalah sama sekali, memangnya kenapa kakek mengangkat topik seperti itu?”

Rian kelihatannya juga penasaran dengan motif Teguh yang saat itu ingin berbincang dengan mereka. 

Teguh tak segera menjawab. Pertama dia menggosok janggut yang kelihatan keras dan tak cukup lebat – tetapi memenuhi hampir seluruh wajahnya – dengan tangan kanan. Terlihat sedang memikirkan sesuatu sebelum menjawab pertanyaan Euis dan Rian.

“Yah, gak ada sesuatu yang istimewa untuk mengangkat topik itu sih. Tapi apa salahnya kalau kakek hanya ingin tahu. Sebagai seorang pria yang dekat dengan orang tua kalian, kakek juga punya kebijakan untuk tahu beberapa aktifitas kalian bukan.”

Oh begitu, benar juga dapat terlihat dari wajah Euis dan Rian. Memang benar, untuk ukuran pria yang cukup mengenal dekat orang tua mereka, Teguh merupakan figur yang penting yang masih bisa bersama mereka.

Bahkan untuk Euis, pria yang berdiri di hadapannya itu merupakan sahabat karib dari kakeknya. Karena itu, tak ada alasan khusus untuk tak menjawab pertanyaan yang ditanyakan sebelumnya.

“Yah, aku tak punya masalah apapun dalam pekerjaanku. Semua berjalan lancar, dan kalau aku kesulitan dengan sesuatu, aku punya dua tangan kanan untuk membantu.”

“Aku juga, sepertinya sama seperti Euis.”

“Apa benar begitu?”

Euis sedikit tak memercayai perkataan Rian tentang pekerjaannya sebagai rekan. Karena sebelumnya, Rian terlihat sedikit kesulitan untuk mengerjakan dokumen-dokumen yang tak pernah dia sentuh sebelumnya.

“Apa maksudmu?”

“Aku tahu kamu sedang kesusahan. Tapi aku membiarkannya karena kupikir kamu juga tak ingin dibantu.”

“Itu karena sudah tugasku bukan. Aku bukannya tak ingin meminta bantuan. Hanya saja, melihatmu yang sudah sesibuk itu, tak mungkin aku tega untuk meminta sebuah bantuan.”

“Tapi untuk sekali saja tak apa kan. Lagipula yang perlu kamu lakukan adalah memintaku untuk menjelaskan apa yang harus kamu lakukan pada kertas-kertas itu. Dan tak apalah menyisihkan waktu untuk memberikan beberapa saran kepada seorang sahabat.”

Rian menjadi terdiam dengan perkataan Euis. Karena dari sudut pandangnya, apa yang dikatakan Euis benar-benar tak terpikirkan olehnya. 

Teguh yang melihat dialog di antara dua insan di hadapannya, hanya akan terdiam dan hanya akan bergerak jika sesuatu yang benar-benar gawat terjadi di antara mereka. Namun, untuk sekarang—sepertinya hal itu takkan terjadi karena sikap dewasa dari keduanya. Yang mana melihat kesalahan dari dirinya sendiri dan berusaha membantu untuk meluruskan kesalahan tersebut.

______________________________________________________________________________


Glosa:

1. (1) = Ucapan salam dalam bahasa sunda.

2. (2) = Ucapan untuk membalas salam dalam bahasa sunda.

3. (3) = Wakil Ketua Jurusan.