Episode 58 - Hari-Hari Mereka Tanpa – Bagian 3



Di dalam ruang seni, Beni menatap tajam ke arah kanvas kosong. Ekspresinya bukannya menunjukkan ketidaksenangan, tetapi sedikit mengarah pada murka dalam diam. Malahan, pikirannya sangat tenang sekarang. Jika diaplikasikan ke sebuah bentuk tindakan yang sangat buruk, dia bisa saja melukai seseorang dengan parah menggunakan kuasnya.

Sebuah ekspresi yang takkan pernah dia tunjukkan ke depan publik, ke hadapan orang-orang yang mengenalnya dengan baik, atau bahkan kepada dirinya sendiri. Karena versi Beni yang sekarang adalah, versi yang benar-benar berbeda dengan topeng yang dia kenakan sehari-harinya.

Setelah beberapa lama tak bergerak. Akhirnya tubuhnya bereaksi dengan gambaran dalam pikirannya yang akan diilustrasikan ke dalam kanvas putih.

Kuas di tangan kiri, papan cat yang hanya mengandung cat warna hitam kelam di tangan kanan. 

Tangan kirinya bergerak dengan kecepatan yang bahkan dia sendiri tak dapat membayanginya. Mengoles kuas dengan cat, lalu menggoreskannya ke kanvas. Hal itu terus-menerus dilakukan sampai dia puas akan hasratnya.

Gerakannya benar-benar efisien. Tak ada yang sia-sia. Dia bahkan tak kelihatan akan gagal dalam melukis kali itu.

Sampai pada akhirnya, beberapa menit telah berlalu. Dia telah menyelesaikan lukisannya. Terlihat di dalam kanvas yang awalnya putih bersih, sekarang telah dipenuhi oleh warna hitam kelam yang dapat membuat siapapun yang melihatnya merasa tenggelam ke dalam sebuah imajinasi liar.

Pohon raksasa yang mendominasi tanah di sekitarnya. Tak memiliki apapun selain batang dan ranting-ranting raksasa. Meskipun tak memiliki warna hijau, pohon itu berdiri dengan kokoh. Tanah di sekitarnya juga, seperti dirasuki oleh keberadaan sang pohon.

Tak memiliki warna apapun selain hitam dan abu-abu. Bahkan untuk langit yang seharusnya memberikan warna bagi dunia, tak dapat mengalahkan eksistensi dari sang pohon.

Beni yang telah mencurahkan semua perasaannya ke dalam lukisan—kemarahan, kemurkaan, kejengkelan, dan kekesalan—merasa sangat lega. Kuas dan papan cat terjatuh tanpa diberikan pengampunan.

Tangannya terkulai ke bawah, seolah telah memberikan segalanya kepada lukisan barusan. 

Setelah beberapa saat beristirahat, dia mengambil kanvas dan mengoyak-ngoyaknya seolah dia tak pernah ingin melukis hal itu sebelumnya. Melangkah ke keranjang sampah, dan membuang tumpukan kertas putih selayaknya dia membuang segala perasaan negatif yang ada pada dirinya.

“Tidakkah kalian mau memberikanku sedikit beban itu.”

Dia menggumamkan sesuatu yang menjadi pokok seluruh perasaan negatifnya. Melangkah mundur, dan terduduk di kursi dengan gerakan yang kasar. 

“Yah, tapi, memangnya apa yang bisa kulakukan dengan tubuhku yang lemah ini.”

Kepalanya seakan telah diberi batu yang sangat memberatkan. Sehingga membuatnya menahan selagi menunduk dengan satu tangan di paha.

Suara pintu terbuka mengundang perhatiannya untuk menoleh. Itu adalah gadis yang selama hampir seluruh hidupnya mendedikasikan diri untuk melindungi dirinya.

“Hei. Apa yang sedang terjadi?”

Gadis itu baru saja datang namun dia bisa melihat rasa ketidaksenangan dari ekspresi Beni.

Dia ingin menjawab, tetapi dia tak ingin gadis itu mengkhawatirkan dirinya. Meskipun malah sebaliknya, gadis itu mulai mengkhawatirkan sikapnya yang tak seperti biasa.

“Hei.”

Gadis itu masuk dengan perasaan khawatir yang dapat dia rasakan. Mengetahui kalau gadis yang kau cintai tak seharusnya melihat kondisimu yang seperti sekarang memang memalukan, tetapi mau bagaimana lagi, perasaan yang telah dia pendam sejak lama tak dapat lagi tertahan dan akan segera meledak kalau dia tak meredakannya.

“Rini, apa menurutmu, aku adalah orang yang paling tak berguna di antara kita berlima?”

***

Dia mengingat kalau barang miliknya ada yang tertinggal di dalam ruang seni. Jadi dia memutuskan untuk mengambilnya walaupun ada sebuah kelas yang harus dia hadiri sebentar lagi.

Namun, sebuah firasat kuat mengatakan padanya untuk pergi saat itu juga. Karena itu dia tak membuang-buang waktu dan segera pergi menuju ke ruang seni.

Dia telah berada di depan pintu, tetapi dia dapat merasakan keberadaan seseorang di dalam ruangan. Dia dapat mengetahuinya setelah mendengarkan suara kertas dirobek-robek dan dibuang ke dalam keranjang sampah.

Dia juga mendengarkan sebuah suara yang sangat dia kenal yang mampu membuatnya khawatir.

“Tidakkah kalian mau memberikanku sedikit beban itu.”

Suara itu tak berhenti di situ saja, beberapa saat kemudian dia dapat mendengar lagi suara ketidaksenangan dengan kemampuan yang dia miliki.

“Yah, tapi, memangnya apa yang bisa kulakukan dengan tubuhku yang lemah ini.”

Hatinya terasa sakit setelah mendengar perkataan barusan. Lalu dia berusaha menguatkan diri untuk segera membuka pintu. Di dalamnya, yang terkasih sedang bermuka masam karena sedang merasakan sesuatu.

“Hei. Apa yang sedang terjadi?”

Dia mencoba untuk mencari tahu apa yang sedang dialami yang terkasih, namun bukan jawaban yang dia dapat, malah sikap yang mengatakan untuk tak datang dan melihatnya yang seperti itu.

“Hei.”

Dia mencoba lagi untuk menghilangkan kerisauannya, tetapi sekali lagi, bukan jawaban baik yang dia dapat, malahan pertanyaan balik yang membuat hatinya gundah.

“Rini. Apa menurutmu, aku adalah orang yang paling tak berguna di antara kita berlima?”

Hatinya seakan bisa saja hancur, karena cintanya mengucapkan perkataan yang menganggap dirinya sendiri tak berguna. Meskipun begitu, dia tak ingin siapapun menganggapnya seperti itu, bahkan untuk dirinya sendiri.

Karena itu, hal yang harus dia lakukan adalah menenangkan diri yang terkasih dengan segala yang dia bisa. 

Dia mendekat, dan berdiri di depan yang terkasih. Dia sedang berdiri, dan yang terkasih sedang duduk dengan kepala menunduk. Tinggi dari keduanya terlihat sama saat mereka berhadapan seperti itu.

Namun, bukan masalah jika kebenarannya mengatakan demikian. Karena yang terpenting untuk sekarang adalah, menenangkan hati yang terkasih. 

Dia mengulurkan kedua tangannya, melingkari leher yang terkasih. Dia juga mendekatkan tubuhnya lagi, agar kepala yang terkasih tak terlalu menunduk saat berada dalam pelukannya.

“Kamu tak seperti yang kamu pikirkan.”

Yang terkasih sepertinya merasa terkejut karena perilakunya. 

“Apa kamu tahu, Euis ataupun Rian seringkali memuji kegeniusanmu dalam melukis.”

Dia mengatakan hal itu dengan kelembutan yang dapat melelehkan hati. 

“Apa kamu tahu, kalau sebenarnya teman-teman yang aku kenal memujimu karena sikapmu yang polos.”

Yang terkasih kelihatannya telah merasa lebih tenang. Bahkan sepertinya dia menginginkan kasih sayang lebih untuk hatinya yang sensitif.

“Apa kamu tahu, guru-guru selalu memuji kepintaranmu. Apa kamu tahu semua itu adalah hal yang sangat berharga bagiku, bagi mereka bertiga, bagi keluarga kita.”

Yang terkasih membuat gerakan, tangannya yang panjang melingkari tubuh langsingnya. Yang bahkan bisa memeluk secara penuh tubuh mungilnya.

“Maka dari itu, jangan sama sekali menganggap dirimu tak berguna atau apapun yang berakhir dengan perasaan rendah diri. Karena, kamu sangat berharga bagiku.”

***

Rian memandang datar ke arah seseorang yang berdiri di depan kaca satu sisi itu. Sebenarnya dia ingin melihat dengan wajah jengkel atau kesal, tetapi dia harus menahannya sekarang karena akan menjadi masalah kalau dia mengacaukan yang satu ini.

“Jadi, apa urusanmu datang ke sini?”

Suara itu memenuhi hatinya dengan pertanyaan. Bukannya dia sudah tahu, jadi kenapa harus bertanya. Rian menahan pemikiran itu untuk sekarang, karena apa yang harus dia dapatkan adalah sebuah jawaban, dan mungkin saja bantuan.

Yang kedua mungkin saja akan dengan senang hati diberikan, namun untuk yang pertama, mungkin sulit.

“Aku ingin mengetahui kondisinya.”

Ada banyak kemungkinan dari perkataan Rian dalam perkataannya. Tetapi untuk ukuran seorang Vian Andira, itu hanya membutuhkan waktu dan pemikiran yang tak lama untuk menebaknya.

“Maaf, tapi aku takkan memberi tahumu masalah keluarga kami. Karena itu adalah sebuah kebijakan.”

Seperti yang dia duga, Vian sama sekali tak berniat untuk menjawab keinginan Rian yang pertama. 

“Apa hanya itu?”

Vian bertanya apakah ada keperluan lain Rian datang kepadanya. Dengan masih dalam posisi yang sama—berbicara dengan membelakangi dan dibelakangi—Rian bertanya dengan perasaan yang sangat berat untuk keperluannya yang pertama.

“Aku ingin mengambil alih posisi yang ditinggalkan itu.”

Dia tak mengatakan siapa dan alasan kenapa dia mengatakan hal itu. Namun masihlah cukup mudah untuk membaca niatnya yang sesungguhnya. 

Vian tak segera menjawab permintaan Rian, karena harus ada beberapa proses dan ketentuan untuk mengabulkan permintaannya. Dan dari ratusan murid di sekolah, hanya ada beberapa orang yang dapat mengambil posisi yang sedang kosong sekarang.

Meskipun Vian tak mengerti, bagaimana Rian bisa mengambil keputusan sebesar itu walaupun dia tak mengetahui keadaan yang sebenarnya dari pemilik posisi yang sedang diperbincangkan. 

***

Perkiraan? Ataukah kemungkinan seperti yang dimiliki Bibi Risak? Atau hanya sebuah firasat dari seorang sahabat?

Vian sama sekali tak dapat memikirkan alasannya. Tetapi dia tak ingin mengambil pusing untuk memikirkan hal itu sekarang. Karena yang terpenting adalah, mengisi kekosongan yang memang jika dibiarkan untuk waktu dekat, akan cukup gawat jadinya.

“Apa kau yakin dengan keputusan itu? pekerjaan kami bukanlah pekerjaan yang hanya mengandalkan ketahanan tubuh saja kau tahu.”

“Aku mengerti hal itu.”

“Lalu atas dasar apa kau memintanya. Kau tahu bukan, posisi itu bukanlah sesuatu yang dapat kau gantikan hanya dengan memintanya pada seseorang.”

“...”

Rian terlihat terdiam sejenak. Wajahnya menandakan keraguan ketika Vian dapat melihatnya dari kaca satu sisi di depannya. Apa hanya itu keberanianmu? Vian ingin mengatakannya, tetapi perkataannya yang sebelumnya akan menjadi sia-sia karena itu juga merupakan provokasi untuk membuat Rian ragu dalam memutuskan keputusannya.

“Aku tahu ini adalah permintaan yang egois dan tak berasalan. Tapi untuk sebentar saja, biarkan aku menggantikan posisinya—tidak, biarkan aku mengerjakan seluruh bagiannya selagi dia tak berada di sini.”

Rian menundukkan kepalanya selagi berdiri. Mengatakan niat dan keputusannya dengan perasaan yang membuat Vian terkagum karenanya. Benar-benar orang yang menarik. Dan firasat ketertarikannya mengatakan, kalau hal ini akan menjadi sesuatu yang besar dalam sejarah hidupnya mengiyakan perkataan seseorang selain beberapa orang yang dia anggap setara dengan kemampuannya.

“Aku tak memiliki wewenang untuk membuatmu berada di posisi itu, tapi aku bisa mengalihkan semua pekerjaan itu seperti yang kau minta. Beritahukan kepada Rino untuk mengurus prosesnya. Sebagai pengawas, dia seharusnya sudah tahu apa yang harus dilakukan.”

Wajah datar itu tak memerlihatkan kepuasan melainkan menyiapkan diri untuk segala pekerjaan yang akan datang padanya.

“Baik.”

“Dan satu lagi, aku akan menarik seluruh pekerjaan itu kalau aku melihatmu tak dapat menanggung semuanya.”

“Aku akan berusaha agar hal seperti itu tak terjadi.”

“Baguslah.”

Perbincangan mereka seharusnya sudah selesai. Karena pilihan telah diputuskan, dan yang menunggu selanjutnya adalah pekerjaan yang sangat banyak.

“Kalau begitu, aku permisi.”

“Iya... dan berjuanglah dengan apa yang ingin kau pertahankan, Gorila.”