Episode 57 - Hari-Hari Mereka Tanpa – Bagian 2



Pintu kelas dibuka. Seorang murid laki-laki berkacamata seram masuk ke dalam dengan aura yang tak biasa. Ditambah lagi, masuknya dari pintu depan setelah pergi sesaat ke kantor guru, menambah rasa takut dari para teman-temannya.

“Sebelumnya aku minta maaf. Sepertinya Pak Elang tak dapat datang hari ini.”

“Eh, kenapa?”

Salah satu teman laki-lakinya bertanya.

“Dia bilang kalau di kota ada masalah yang harus dia bereskan. Dan dia takkan kembali sampai besok.”

Seperti ada suara jangkrik yang berbunyi, ruang kelas tak merespon apapun dengan perkataan Rian.

“Dia juga mengatakan kalau kita bebas menggunakan laboratoriumnya.”

“Wuhuuu~!”

Bola telah masuk ke dalam gawang. Setidaknya seperti itulah suasana kelas bila diilustrasikan dengan acara tv. Sangat riuh dengan pemberitahuan yang baru saja dia katakan. Suatu kesenangan tersendiri bagi mereka kalau lab yang sudah jarang digunakan menjadi bebas digunakan untuk hari itu.

“Tapi-!”

Suara lantangnya menghentikan riuh ruang kelas. Karena dia masih belum mengatakan semuanya sampai habis.

“Kita harus lebih dulu mengerjakan soal yang dia berikan pada kita.”

“Yaa~hh!”

Shuttlecock yang telah diperjuangkan dengan susah payah, akhirnya terjatuh di lapangan sendiri. Para penonton pun kecewa dengan kejadian itu.

“Pekerjaan yang dia berikan adalah, pilihan berganda.”

“Yeeeaahh~!”

Seorang penyerang berhasil melakukan slam dunk dengan baik. Membuat para penontonnya terkejut dengan aksi berani yang dia tunjukkan.

“Tapi-!”

Peluit berbunyi dan wasit ingin menyatakan sesuatu.

“Soalnya ada 50.”

“Yaa~hh!”

Kalau pemain tersebut melakukan pelanggaran terhadap aksinya.

“Evan, tolong bantu aku. Kau juga, Riski.”

Rian meminta tolong kepada dua teman laki-laki yang memang tak kebetulan duduk di bagian depan. Memberikan tumpukan lembar kertas yang akan dibagikan ke seluruh orang.

“Haha!”

“Ada apa?”

“Soalnya gampang banget!”

“Eh, beneran?! Oh iya, hahaha, kalau begini mah satu jam aja bakal siap!”

“Empat puluh lima menit ini mah, kalau soalnya setaraf seperti anak smp.”

“Hoho, kayaknya ada yang menantang nih. Setengah jam buat soal gampil begini.”

“Hah! Soal beginian, 15 menit pasti... kelar.”

Di saat keributan terjadi karena persoalan kertas yang mereka pegang, gelombang aura hitam menerjang mental mereka. Mengatakan kalau tak ada yang boleh main-main dengan soal yang ada di tangan mereka.

“Nomor 25...”

“Woi, Ben, kau udah ada di nomor itu!?”

“Hahaha, mana mungkin. Aku cuma bolak-balik doang kok, hehehe.”


Hampir satu jam mereka mengerjakan tugas. Bahkan untuk Rian yang duduk di depan dengan kursinya sendiri—tak menggunakan kursi guru—dia dengan seriusnya mengerjakan soal yang ada di tangan.

Beberapa orang telah selesai mengerjakan, tetapi mereka berusaha untuk tetap tenang karena tak ingin membuyarkan fokus teman-teman mereka yang masih bekerja.

Rian yang kelihatannya sudah selesai dengan kertasnya, melihat ke sekeliling, memastikan kalau tak ada satupun yang melakukan kekacauan dengan suasana tenang itu.

Namun, salah satu murid laki-laki di kursi bagian pinggir ujung kelas berjalan menuju ke arahnya.

“Oi, lek, kelihatannya kau lebih lama dari yang kuduga.”

“Ya, melakukan pengecekan sebanyak lima kali sepertinya cukup untuk membuang waktuku yang tersisa.”

“Lima kali!?”

“Tenangkan dirimu.”

“M-maaf. Jadi, kenapa kau melakukan pengecekan sebanyak itu?”

“Ya, itu karena, mengerjakan soal dengan taraf smp begini, 30 menit aja udah kelar. Apa?”

30 menit katanya. Memasang wajah meremehkan pada sahabatnya, Beni merasa kalau dirinya telah dicela oleh sesuatu yang tak terlihat.

“Bagaimana denganmu?”

“Aku membuang waktuku dengan berkhayal untuk menghabiskan waktuku. Dan waktu yang kugunakan untuk menyelesaikan soal-soal itu, entahlah, kupikir sama denganmu.”

“Kau bahkan tak ingin melakukan pengecekan. Apa kau merasa sepintar itu dengan dirimu yang sekarang?”

“Gak juga sih. Toh seperti yang kau bilang, soal setaraf smp seperti itu aja pasti bisa dikerjakan dengan cepat dan mudah.”

Mereka monster atau apa sih? Prasangka seperti itu muncul dibenak teman-teman mereka yang mendengar percakapan. Bagaimana mereka mengatakan soal-soal setaraf anak kuliah, yang dibalut oleh bingkai soal anak smp dapat dikerjakan dengan cepat dan mudahnya.

Bahkan salah satu dari mereka berdua, mengatakan kalau mengecek soal yang telah selesai sebanyak lima kali dan tak menyadari tingkat kesulitan dari soal yang mereka kerjakan.

“Hampir satu jam, bagaimana, semuanya?!”

Rian menyuarakan rasa penasarannya kepada teman-temannya yang masih berusaha keras untuk menemukan jawaban yang tepat dalam kertas tes mereka. Namun yang diberikan untuk menjawab pertanyaan Rian sepertinya sedikit mengurangi kepercayaannya terhadap teman-teman sekelasnya.

“M-maaf, bisa beri sedikit waktu lagi untuk mengeceknya. Takutnya karena menganggap remeh, jadi ada yang salah.”

“Itu – itu benar. Lagipula kita masih punya banyak waktu kok!”

Banyak dari mereka yang menyuarakan hal yang sama. Yang pada intinya meminta Rian untuk bersabar lebih lama lagi untuk menunggu. 

Meskipun alasan yang mereka berikan sebenarnya hanya untuk pengalihan, Rian tak menyadari dan hanya seseorang yang berada di sampingnya yang dapat melihat kebohongan dari teman-teman mereka.

“Oke, karena aku udah selesai, boleh duluan dong.”

“Woi, jangan bertindak seenaknya. Seenggaknya tetaplah di sini dan menunggu agar bisa pergi sama-sama.”

“Yiieehh, ooii, cepetan dong meriksanya! Keburu angin timur berhembus ke barat nih!”

Beni mengatakan hal itu seolah memberitahu kepada teman-teman sekelasnya, kalau mereka seharusnya tak melihat soal dari sajiannya saja. Dan hanya seseorang saja yang tak mengerti arti dari ucapannya, yang lainnya justru merasa kalau ucapan Beni barusan merupakan pukulan telak untuk mereka.

Tok Tok Tok!

Suara pintu terketuk berbunyi dari pintu depan.

“Biar aku aja.”

Beni menawarkan diri untuk menemui siapa yang mengetuk pintu. 

“Tolong.”

Rian membalas kepergian Beni dengan permintaan tolong.

“Waaahhh!”

“Hm...”

Beni membuka pintu, dan apa yang dia dapatkan adalah teriakan dari beberapa perempuan. Rian yang merasa terganggu menatap keluar, di mana Beni menemui mereka yang memiliki keperluan.

“Sshhh!”

Dari dalam, Rian mendengar lagi suara desisan untuk menutup mulut mereka yang berteriak.

“Ada apa?”

Di luar, Beni menanyakan maksud dari para perempuan yang sepertinya berasal dari jurusan akuntansi. Hal itu dapat diketahui dari baju praktikum yang mereka pakai.

“Itu, anu, apa kamu tahu hatiku telah tercuri olehmu!”

Dia(perempuan) yang berada paling depan mencoba untuk menggoda selagi memiliki kesempatan. Tetapi Beni tak terlihat tertarik dengan itu dan kembali mengarahkan rasa penasarannya.

“Apa keperluan kalian?”

Dia takkan tergoda oleh godaan apapun yang diberikan oleh perempuan lain. Setidaknya para perempuan dihadapannya mengetahui hal itu dan meskipun begitu masih ingin mencoba. 

“Itu, sebenarnya, ini tentang persoalan Pangeran Kedua.”

“Bagas, memangnya ada apa?”

“Beberapa waktu yang lalu, dia membantu kami dengan mengerjakan sedikit persoalan manajemen perkontrakan.”

“Bisa kulihat sebentar?”

Salah satu dari mereka mendekat dan menunjukkan sebuah kertas map dengan banyak kertas di dalamnya. Beni mengambil satu dan melihat dari isi kertas yang merupakan formulir yang mungkin saja dia tak ketahui. Namun satu hal yang dia tahu, sepertinya Bagas juga melakukan apa yang bukan menjadi tugasnya. Dengan kata lain, membantu proses pembelajaran siswa lain seperti apa yang dia lihat sekarang.

Dalam sekejap, ekspresi Beni berubah dari pribadi yang supel, menjadi pribadi yang misterius. Matanya menatap tajam ke arah kertas. Pikirannya tak berada dalam tubuhnya. Menunjukkan sedikit ketidaksenangan dengan keadaan.

Mereka yang melihatnya, seolah seperti melihat orang lain yang berada dalam tubuh Beni.

“Hei!”

Suara perempuan lain, yang sepertinya ditujukan kepada mereka yang datang ke kelas XII TKJ memanggil.

“Ada apa?”

“Kita diminta untuk tak datang ke sini.”

Jawaban itu dikatakan dengan nada yang pelan. Namun Beni masih dapat mendengarkan walaupun dia terlihat pura-pura.

“A-anu, Beni.”

“Ah, iya, apa kalian mau pergi? Bagaimana dengan keperluannya?”

“Eh, k-kayaknya gak jadi deh. Ya udah ya, bye!”

Para perempuan itu mengucapkan salam perpisahan yang ambigu. Seolah mereka ingin kabur dari wilayah musuh. Tetapi mereka melupakan sesuatu, sesuatu yang masih dipegang oleh Beni.

Suara pintu kelas terbuka berbunyi. Rian yang penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang terjadi akhirnya datang untuk memastikan.

“Ada keperluan apa mereka ke mari?”

“Hmm, tidak ada. Sepertinya mereka hanya mau menggodaku saja.”

Beni merentangkan kedua tangannya dengan gerakan setengah-setengah. Melakukan gerakan yang memberitahu lebih jelas perasaan suntuknya.

“Aah, aku sudah tidak sabar. Hei, karena sudah terlanjur di luar, aku duluan ya.”

Memberikan lambaian satu tangan dengan tangan yang memegang kertas, Beni berlalu meninggalkan kelas. Rian tak melarang dan juga tak mencegah kepergiannya, karena apa yang membuatnya saat itu sangat terpikirkan sesuatu adalah, kertas yang dipegang Beni.

Walaupun sesaat, Beni menunjukkan sisi depan dari kertas tersebut. Yang memberitahukan kalau kertas itu adalah kertas formulir perkontrakan. Namun yang jadi pertanyaan adalah, untuk apa kertas itu ada di anak-anak dari jurusan lain yang datang sebelumnya.


Setelah memastikan seluruh anggota kelasnya berada dalam laboratorium komputer, Rian ingin beranjak pergi.

“Hei ketua, kapan kau akan kembali?!”

“Ya, seharusnya tidak lama. Tapi aku akan berusaha kembali secepatnya. Karena ada suatu hal yang harus kukerjakan.”

“Begitu ya! kami akan tetap di sini sampai jam 1. Pastikan kau kembali ya!”

“Yoo!”


Berjalan di beranda sekolah. Rian terpikirkan beberapa hal. Yang paling terutama adalah, ke mana perginya Beni. Dia tak kehadirannya di ruang laboratorium. Yang kedua, ke mana dia harus mencari tahu tujuan dari kertas yang dipegang Beni sebelumnya.

Kalau untuk menemukan Beni, kemungkinan besar dia akan berada di ruang seni. Tempat yang paling aman dan satu-satunya yang akan dia tuju kalau dia ingin melakukan sesuatu.

Tujuan utamanya telah terpecahkan. Tujuan keduanya, cukup sulit untuk menemukan jalan keluarnya. Kalaupun dia punya, pasti itu menyangkut mengenai hal yang paling ingin dia hindari untuk mencari jalan keluar.

Meskipun begitu, dia tetap harus melakukannya. Karena hal ini, menyangkut persoalan seluruh jurusannya.


Di depannya adalah ruangan yang paling ingin dia hindari untuk dimasuki. Namun tekadnya telah bulat. Agar dia memasuki ruangan itu untuk mencari jalan keluar yang ingin dia temukan.

Pintu ruangan tersebut dibuka. Dan ruangan di dalamnya di dominasi oleh kegelapan. Di tengah-tengah ruangan, terdapat dua sofa yang di tengahnya memiliki meja kaca. Di bagian belakang, terdapat meja kerja yang hanya dihiasi oleh vas dan bunga mawar merah.

Berdiri di depan dinding kaca satu arah beserta seluruh koleksi wayangnya, seseorang yang paling ingin dia hindari untuk ditemui.

Rambut hitam yang bagian depannya dicat berwarna merah darah. Pakaian praktikum yang hanya dimiliki beberapa murid saja di sekolah. Aura yang terpancar dari keberadaannya kebanyakan adalah, ketidaktenangan. Ketidaktenangan yang bukannya berasal dari dirinya, melainkan orang lain. Dengan kata lain, dia adalah ketidaktenangan itu sendiri.

“Akhirnya kau memilih untuk datang padaku, Riansyah Hasibuan.”

Perkatannya seolah-olah telah memprediksi tindakan yang akan dia lakukan. Dan Rian mengakui hal itu sebagai keistimewaan dari otak yang ada di kepalanya. Bukan hanya dia yang berdiri di hadapannya, melainkan seluruh keturunan dari keluarga...