Episode 166 - Ditolak...



Seorang remaja terlihat sedang menutup sebuah gerbang dimensi ruang yang teramat sangat besar. Benar-benar besar sekali ukurannya, mungkin seukuran setengah bukit. Sesiapa pun yang memandangi pasti akan terpana dan bertanya-tanya… Bagaimana mungkin gerbang dimensi ruang sebesar itu bisa terbuka? Bagaimana mungkin remaja lelaki tersebut memiliki kemampuan yang memadai dalam melakukan apa pun itu yang sedang ia lakukan. 

“Anak muda, siapakah dikau dan apakah gerangan yang sedang dikau lakukan...?”

Remaja lelaki itu tiada kuasa menjawab. Ia sedang memusatkan perhatian pada formasi segel. Peluh membahasi tubuhnya, napas menderu, dan tenaga dalam di mustika menipis dengan teramat sangat. Tak lama, gerbang dimensi nan besar perlahan menyusut dan menutup. 

Hampir kehabisan tenaga dalam dan kelelahan tiada terkira, remaja lelaki tersebut tetiba jatuh terjerembab duduk. Ia kemudian mengeluarkan botol minuman dan segera menenggak air dengan lahapnya. Ceceran air mengalir di dagu sampai ke dada. 

“Puan Ahli Yang Terhormat, hamba bukanlah siapa-siapa,” jawab anak lelaki tersebut sembari menyeka wajah dan bangkit berdiri. Ia melontar senyum ramah.  

Lawan bicaranya, seorang perempuan dewasa muda, melenggok mendekat. Seutas selendang bermotif batik dan berwarna ungu melingkar di lehernya. Mulai dari bagian leher ke bawah, jalinan kabut ungu pekat dan tebal melingkupi sampai ke ujung kaki. Terkadang, bila kabut menipis, maka akan terlihat siluet tubuh yang demikian menggoda. 

“Namaku Tirta Kahyangan,” ujar perempuan itu tersenyum genit. “Diriku memahami bilamana dikau tiada hendak mengungkapkan apa yang baru saja dikau perbuat. Akan tetapi, setidaknya, beritahukanlah siapa sesungguhnya namamu…”

“Oh… maafkanlah hamba yang terlalu lancang,” tanggap pemuda itu. “Nama hamba adalah… Wira.” *

“Wira… tentu bukanlah nama lengkapmu.” 

Si remaja, yang dapat diperkirakan berusia sekitar 18 tahun, hanya membalas dengan senyuman. Keberadaan dirinya di tengah hutan nan lebat sungguh diliputi misteri.

“Di usia yang teramat muda, dikau memiliki kemampuan merapal segel yang jauh di atas rata-rata ahli. Pertemuan kita mungkin telah digariskan takdir.”  

“Apakah gerangan maksud Puan Tirta Kahyangan…?”

Tirta Kahyangan lalu mengeluarkan sebuah kitab berwarna ungu dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi. Ia lalu menyerahkan kitab tersebut kepada Wira. “Diriku datang ke hutan ini dengan niat menyembunyikan kitab ini …” 

Wira menerima kitab tersebut. Jalinan huruf berukiran lembut tercetak di permukaan sampulnya. “Kitab Kahyangan…,” gumam Wira pelan. 

“Kumohon dikau bersedia membantu menyembunyikan kitab tersebut…” Di saat yang sama, jalinan kabut berwarna ungu turun dan mengelilingi tubuh Wira. “Nawa Kabut Kahyangan, Bentuk Keenam…” 

Remaja bernama Wira tiada merasa terancam ketika sekujur tubuhnya terbungkus oleh kabut berwarna ungu. Sebaliknya, ia merasakan kehangatan. Dirinya terpana ketika menyadari bahwa kelelahan yang mendera tubuh perlahan memudar. Tidak hanya sampai di situ, mustika tenaga dalam Kasta Perunggu Tingkat 9 di ulu hati yang hampir terkuras habis, juga berangsur-angsur kembali dipenuhi oleh tenaga dalam. 

“Bersediakah dikau membantu…?” tanya Tirta Kahyangan sekali lagi. 

“Puan Tirta Kahyangan terlalu mudah mempercayai ahli yang baru saja ditemui.” 

“Firasatku mengatakan bahwa dikau dapat dipercaya.” 

“Di kaki bukit itu terdapat sebuah goa kecil,” tanggap Wira. “Diriku akan merapal formasi segel ruang, untuk menyembunyikan kitab ini sesuai permintaan Puan Tirta Kahyangan.” 

Kedua ahli yang baru saja bertemu dan berkenalan melangkah berbarengan. Tiada terjadi pertukaran kata-kata di antara mereka. Sesampai di mulut goa, Wira segera merapal formasi segel. Udara meretak lalu merekah, ketika sebuah lorong dimensi ruang berpendar pelan. 

“Apakah ada syarat dan ketentuan khusus yang Puan Tirta Kahyangan hendak berikan terhadap segel ini…?” aju Wira pelan. 

“Pastikan bahwa segel ini hanya dapat dibuka dengan darahmu dan darahku, serta darah dari keturunan masing-masing dari kita. Diperlukan keduanya. Darah dari salah satu saja tiada akan berguna,” jabar Tirta Kahyangan. Ia lalu menggigit ujung jemari. Setetes darah melayang pelan menuju formasi segel. 

Wira mengangguk. Ia pun menggigit ujung jemari, dan melemparkan setetes darahnya. Segera setelah itu, formasi segel yang menyembunyikan Kitab Kahyangan pun rampung.

“Terima kasih, wahai Wira. Diriku berutang padamu. Di masa depan, bilamana dikau memerlukan bantuan apa pun, datanglah ke hadapanku, Jenderal Kedua dari Pasukan Bhayangkara.” 

Usai mengucapkan terima kasih, Tirta Kahyangan melesat tinggi ke udara dan menghilang dari hadapan Wira yang sempat terpana. 


“Hei! Jangan melamun saja!” 

“Eh…?”

“Sepertinya kau bukanlah menantu yang berbakti…”

Balaputera tersadar dari lamunannya. Ia terlihat sedikit kebingungan. “Maksudmu…?” 

“Mengapa ibu mertuamu menolak bertemu muka!?” hardik Sang Kancil sebal. 

Lelaki dewasa berpenampilan lusuh dan binatang siluman Kasta Perak tersebut sedang melayang ringan di atas lautan. Keduanya bergerak meninggalkan wilayah Kepulauan Para Raja. 

“Pastinya dikarenakan penampilanmu yang mirip dengan gelandangan! Sudah berkali-kali kukatakan untuk mencukur rambut serta merapikan kumis dan janggutmu! Sudah berapa lama kau tiada berganti pakaian!?”

“Penampilan bukanlah utama…,” gumam Balaputera. 

“Jikalau diriku menjadi ibu mertuamu, maka aku pun akan menolak bertemu muka dengan menantu gelandangan!” omel Sang Kancil.

Balaputera hanya menghela napas panjang. Tiada kuasa dirinya membantah omelan Sang Kancil. 

“Aku lelah. Aku jemu! Sudah beberapa waktu ini tiada kesempatan bagiku mendongeng!” 

“Kita memiliki sedikit waktu luang,” sela Balaputera. “Mari kita berkunjung ke Pulau Bunga. Diriku masih memiliki sebuah janji kepada sesepuh yang berdiam di sana….” 

“Eh, apakah itu!?” tetiba Sang Kancil berseru. Ia lalu melesat cepat ke arah sebuah perahu ramping yang sedang melaju. 

“Tap!” Sang Kancil mendarat di atas geladak perahu. 

“Bahaha… Kita kedatangan tamu! Lucu sekali kambing ini!” Seorang remaja bertubuh gempal terlihat sangat riang. 

“Ha!? Aku sudah bosan makan ikan. Mari kita sembelih kambing ini. Bersiaplah menyantap kambing guling malam ini!” sahut seorang remaja lelaki di belakang bersemangat.

“Kurang ajar! Aku adalah Sang Kancil! Tidakkah orang tua kalian pernah berceritera tentang aku!?” 

“Bahaha… ia bisa berbicara!” gelak Ammandar Wewang. 

“Maafkanlah kelancangan teman seperjalananku….” Balaputera menyusul mendarat di geladak perahu Pinisi Penakluk Samudera. “Izinkan kami undur diri.” 

“Sesepuh Balaputera… hamba mohon sudi kiranya untuk tinggal barang sejenak.” Keumala Hayath menyela, lalu membungkukkan tubuh. Ia baru saja melompat turun dari atas anjungan.

“Oh…?” Balaputera sedikit terkejut. “Siapakah gerangan dikau yang mengenali diriku…?” 

“Hamba bernama Keumala Hayath. Ibu hamba adalah salah seorang murid Maha Guru Mayang.”

“Salam hormat!” tetiba terdengar suara menggelegar. Di saat yang sama, Ammandar Wewang membungkukkan tubuh dan wajahnya berubah serius. “Maafkanlah kelancangan hamba yang tiada mengenali Siteppa Teppangeng!” Ammandar Wewang demikian gugup sampai ia berteriak-teriak saat menyapa. **


===


“Terima kasih atas kehormatan Yang Mulia Raja Bangkong IV yang telah sudi menerima kunjungan diri ini.” Seorang lelaki dewasa berwajah tampan menyapa santun.

“Hubungan Kemaharajaan Pasundan dan Kerajaan Siluman Gunung Perahu berlangsung baik. Adalah sebuah kehormatan bagi kami menyambut kunjungan Sri Baduga Maharaja, Yang Mulia Prabu Silih Wawangi.” 

“Sudahi basa-basi kalian…,” di sudut ruangan Istana Kedua Kerajaan Siluman Gunung Perahu, seorang perempuan dewasa menempelkan gelas ke bibir nan merah. Perlahan, ia menyeruput teh. 

“Yang Terhormat Puan Mayang Tenggara…,” sapa Sri Baduga Maharaja dengan santun. 

“Sopanlah sedikit…,” gerutu Raja Bangkong IV kepada Mayang Tenggara. 

“Kemanakah perginya adikmu, si Sangara Santang…?” ujar Mayang Tenggara kepada Sri Baduga Maharaja. 

“Pangeran Sangara Santang menghilang sejak beberapa waktu lalu. Akan tetapi, diri ini yakin bahwa beliau baik-baik saja.” 

“Ia justru tak akan baik-baik saja bila bertemu denganku…” dengus Mayang Tenggara. 

Istri Balaputera itu sangat hendak bersua Sangara Santang sekali lagi. Dirinya hendak memastikan apakah sebaiknya membiarkan saja Sangara Santang, atau mencabut nyawanya. Tentu Mayang Tenggara menyadari bahwa dirinya perlu bertarung menghadapi Raja Bangkong IV terlebih dahulu. Pastinya tak akan mudah. Menurut perkiraannya, diperlukan waktu setengah hari pertarungan serius untuk membungkam si Cebong Cebol itu. 

“Yang Mulia Prabu Silih Wawangi,” sela Raja Bangkong IV. “Kebetulan Yang Mulia berkunjung, diriku memiliki satu pertanyaan.” 

“Apakah itu, wahai Yang Mulia Raja Bangkong IV…?”

“Beberapa puluh tahun lalu, diriku menitipkan sebuah lencana… Apakah Yang Mulia Prabu Silih Wawangi masih menyimpan lencana tersebut…?”

“Oh…?”

“‘Oh’ apa?” Mayang Tenggara melirik. 

“Yang Mulia Raja Bangkong IV serta Yang Terhormat Puan Mayang Tenggara… Belasan tahun silam, diri ini menderita racun yang menggerogoti mustika tenaga dalam. Berkat nasehat dari Puun Dangka di Alas Roban, diri ini mengembara seorang diri mencari Batu Bacan Taruna yang dikatakan dapat menjadi penawar racun tersebut…”

“Jangan berbelit-belit. Segeralah masuk ke pokok permasalahan…,” gerutu Mayang Tenggara. 

Prabu Silih Wawangi tersenyum ringan, berupaya mengalihkan kegelisahan. “Sekira setahun yang lalu, diri ini kebetulan berpapasan dengan seorang anak remaja yang memiliki Batu Bacan Taruna dimaksud. Atas kemurahan hati, ia menganugerahi batu tersebut. Sebagai imbalan, dan karena lencana itulah satu-satunya barang berharga yang diri ini miliki saat itu, maka…”

“Kau memberikan… Kunci Gerbang Neraka….” Mayang Tenggara mulai terlihat kesal, “kepada seseorang yang kau temui di jalan…?” 

“Tenanglah sedikit….” Raja Bangkong IV melotot geram ke arah Mayang Tenggara. 

“Oh, percayalah Ceceb…,” Mayang Tenggara menggeretakkan gigi. “Aku… sudah… sangat… sangat… sabar….” 

Aura tenaga dalam Mayang Tenggara tetiba meningkat deras. Cangkir teh di atas meja berderak. Gemuruh mulai terdengar di seantero ruangan dalam Istana Kedua. 

Raja Bangkong IV siaga, bersiap membentengi Prabu Silih Wawangi bila keadaan semakin memanas. Ia sangat mengenal Mayang Tenggara yang bersumbu pendek. Dirinya pun siap menderita luka-luka yang tak ringan. Sudah biasa. Perempuan itu tak pernah berubah, dapat mengamuk tanpa memperdulikan waktu dan tempat. 

“Yang Mulia Raja Bangkong IV serta Yang Terhormat Puan Mayang Tenggara, diri ini memohon maaf karena lalai menunaikan sebuah amanah.” 

“Kepada siapakah gerangan Kunci Gerbang Neraka diberikan…?” Raja Bangkong IV berupaya meredakan suasana. “Tentunya Yang Mulia Prabu Silih Wawangi mengetahui nama anak remaja dimaksud.” 

“Seorang anak remaja yang bernama… Bintang Tenggara.” 

“Hah!?” Mayang Tenggara dan Raja Bangkong IV tercengang secara bersamaan! 

“Tok! Tok! Tok!” Tetiba terdengar ketukan pintu Istana Kedua. 

“Asep…? Masuklah. Ada apakah gerangan…?” Raja Bangkong IV memperoleh kesempatan untuk mengalihkan pembicaraan sejenak.

“Salam Hormat Yang Mulia Paduka Raja Bangkong IV…” 

Mayang Tenggara mendengus. Prabu Silih Wawangi menghela napas lega. Tentu ia sudah mengetahui bahwa Bintang Tenggara merupakan putra dari Mayang Tenggara. Sebuah kebetulan yang tiada terduga dan, dengan demikian, Kunci Gerbang Neraka berada di pihak yang aman.

“Seorang gadis, salah seorang anggota dari Regu Perdamaian tempo hari, memohon bertemu muka dengan Yang Terhormat Puan Mayang Tenggara…” ujar Asep. 

“Oh… siapakah gerangan?” aju Raja Bangkong IV. Ia mengetahui betul bahwa terdapat tiga gadis yang menjadi anggota Regu Perdamaian itu. 

“Embun Kahyangan.”

“Suruh dia pergi…,” gerutu Mayang Tenggara. “Aku tak berkenan bersua.” 

“Katakan padanya untuk menanti…,” sela Raja Bangkong IV, yang menyadari betul bahwa suasana hati Mayang Tenggara sedang tak enak. 

“Kau membahayakan nyawa putraku…” Mayang Tenggara menggerutu ke arah Prabu Silih Wawangi. 

“Tiada perlu khawatir. Bintang Tenggara saat ini berada di Perguruan Anantawikramottunggadewa.”

“Benarkah…?” 

“Benar! Resi Gentayu yang mengabari beberapa waktu lalu. Segeralah dikau menyusul ke sana…,” ujar Raja Bangkong IV. 

“Kau mengusirku…?” Mayang Tenggara melotot. 

“Hmph…” Raja Bangkong IV tersenyum kecut. Secepat mungkin perempuan itu angkat kaki dari wilayah Kerajaan Siluman Gunung Perahu dan Tanah Pasundan, maka akan semakin baik adanya. 


Embun Kahyangan meninggalkan Padepokan Kabut tanpa arah dan tujuan pasti. Sebelum menuju tempat yang tertera di dalam peta peninggalan Mama Tirta Kahyangan, ia terlebih dahulu perlu menemukan Paman Balaputera. 

Akan tetapi, tiada siapa yang mengetahui di mana keberadaan Paman Balaputera. Untunglah sebelum bertolak dirinya sempat memperoleh informasi bahwa Puan Mayang Tenggara sedang berada di Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Kemungkinan besar Puan Mayang Tenggara mengetahui tempat keberadaan Paman Balaputera. 

Berbekal informasi tersebut, gadis dengan lekuk tubuh nan menggoda pun tiba di Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Asep yang dirinya temui, lalu membenarkan keberadaan Puan Mayang Tenggara. Bersama Asep, Embun Kahyangan lalu mendatangi Istana Kedua Kerajaan Siluman Gunung Perahu.

 “Yang Terhormat Puan Mayang Tenggara menyuruhmu pergi. Ia tiada berkenan bersua,” ujar Asep mengulangi pesan. 

“Hm…?”

“Akan tetapi, Raja Bangkong IV mengatakan agar dirimu menanti terlebih dahulu.” 

“Terima kasih, Asep. Diriku akan menanti di sini.” 

“Ikutlah denganku ke Istana Utama. Selama berada di dalam wilayah Kerajaan Siluman Gunung Perahu, Puan Mayang Tenggara menetap di sana.”

“Tiada mengapa. Diriku akan menanti di sini,” ulang Embun Kahyangan. 

“Bila demikian, izinkan diriku untuk undur diri karena masih ada pekerjaan yang perlu diselesaikan di Istana Utama.”

Embun Kahyangan berdiri diam menanti. Benaknya melayang mengingat masa kecil. Dari waktu ke waktu, Paman Balaputera senang bertandang ke Padepokan Kabut. Beliau sangatlah ramah dan penuh perhatian. Lelaki dewasa itu pun senang mengajak bermain dan berbincang-bincang. Oleh karena itu, dirinya selalu menanti kunjungan Paman Balaputera, dan entah mengapa dirinya selalu merasa sangat nyaman bersama Paman Balaputera. Bagi Embun Kahyangan yang tumbuh yatim piatu di perguruan, Balaputera layaknya sosok seorang ayah yang ideal. 

Benak Embun Kahyangan lalu membayangkan akan sosok Puan Mayang Tenggara. Dirinya tiada pernah bertemu muka. Akan tetapi, bilamana Paman Balaputera adalah sosok yang sangat ramah dan penuh perhatian, maka Puan Mayang Tenggara pastilah seorang perempuan nan lemah lembut. Suaranya pastilah merdu, gerak tubuhnya pastilah gemulai bak putri-putri diraja. 

Puan Mayang Tenggara adalah calon ibu mertua, batin Embun Kahyangan. Wajahnya tetiba terasa memanas dan berubah merah. Diriku harus memberikan kesan terbaik, pikirnya dalam hati….

Embun Kahyangan lalu membuka dan menanggalkan jubah ungu pemberian Bintang Tenggara. Dirinya kini hanya mengenakan selembar tipis Selendang Batik Kahyangan. Ini adalah penampilan terbaiknya, yang sering mengundang decak kagum dari banyak ahli kemana pun ia melangkah. 

Embun Kahyangan yang masih berpikiran demikian polos adanya berupaya tampil tenang. Ia menanti dengan penuh harap kesempatan bertemu muka dengan Mayang Tenggara.



Catatan: 

*) Nama ‘Wira’ pertama kali muncul dalam Episode 113. 

**) Dalam bahasa Bugis, ‘Siteppa Teppangeng’ berarti saling menimpa atau mendarat di tempat yang sama. Dalam hubungan kekerabatan berarti semua hubungan yang terjadi akibat pernikahan. Termasuk diantaranya: mertua, menantu, ipar, paman dan bibinya pasangan, sepupunya pasangan, saudaranya ipar, iparnya saudara, dan sebagainya.