Episode 165 - Meninggal... 


Kepala anak remaja tersebut berputar-putar bak perahu yang dilambungkan ombak deras saat badai di tengah lautan. Pening bukan kepalang. Ia merasakan sekujur tubuhnya kaku, rasa dingin dari bebatuan jalan setapak menusuk sampai ke dalam sumsum tulang. Ia hendak bangkit, namun tiada berdaya. 

Bintang Tenggara sudah kembali ke Lintasan Saujana Jiwa. Matanya terpejam, berupaya setengah mati mempertahankan kesadaran. Ia mencoba membuka kedua belah mata, akan tetapi mengurungkan niat. Setidaknya, dalam keadaan mata terpejam rasa pening sedikit dapat tertahan. 

Kemudian, reflek Bintang Tenggara menggenggam erat jemari tangan. Tindakan ini sedikit mengalihkan rasa pening yang menghujam di kepala. Seketika itu, ia sedikit terkejut ketika merasakan keberadaan benda asing di dalam genggaman tangan kanan. Setengah meraba, di dalam telapak tangan kanan terasa gumpalan kertas yang membungkus benda kecil yang cukup keras. Bentuknya benda tersebut seperti... sebuah botol.

Mungkinkah...? batin Bintang Tenggara. Perlahan ia pun berjuang menarik tangan kanan ke arah wajah. Gumpalan kertas diurai perlahan, dimana sebuah botol kecil mengemuka. Anak remaja itu menggigit penutup botol yang merupakan sumpalan terbuat dari kayu kecil. Tanpa ragu, ia segera menenggak habis seluruh isi botol kecil itu. 

“Hop!” Bintang Tenggara segera bangkit berdiri. Tubuhnya dapat bergerak bebas. Mata hatinya menebar luas. Tiada lagi terasa tekanan yang sebelumnya mendera ganas. 

“Dari manakah kau peroleh ramuan itu...?” tetiba terdengar suara menyapa. 

“Ini...” 

Bintang Tenggara kini sudah dapat memastikan bahwa isi di dalam botol kecil, tak lain adalah ramuan yang diracik dari sari Buluh Perindu, serbuk Akar Bahar, serta adonan Kembang Tujuh Rupa. Dengan kata lain, isinya adalah ramuan yang bermanfaat dalam memperkuat jalinan mata hati untuk sementara waktu! Dan, yang paling penting, diketahui bahwa isi botol kecil tersebut merupakan hasil meramu oleh Ginseng Perkasa, Jenderal Keenam Pasukan Bhayangkara, Maha Maha Tabib Surgawi!

“Super Guru... berapa lamakah diriku kehilangan kesadaran...?”

“Sekitar tiga menit,” sahut Komodo Nagaradja. “Katakan padaku, dari manakah kau peroleh ramuan itu...?” ulang sang Super Guru. Nada suaranya mengesankan ada sesuatu yang mengganjal di hati. 

Belum sempat Bintang Tenggara menjawab pertanyaan Komodo Nagaradja, sebuah bayangan nan serba putih mengemuka dari dalam lukisan kesepuluh. Sosok seorang tua, yang tak lain adalah jiwa dan kesadaran Maha Maha Tabib Surgawi, menjelma. 

“Yang Terhormat...” 

“Nak Bintang, sapa saja diriku sebagai Kakek Gin...” 

“Kakek Gin jenggotmu keriting!” sergah Komodo Nagaradja. Seketika itu juga, mencuat sosok besar kemerahan. 

Sosok bernuansa serba putih kini berhadap-hadapan dengan sosok bernuansa serba merah. 

“Ck!” si kakek tua mendecak lidah. “Jenderal Ketiga Pasukan Bhayangkara, Komodo Nagaradja... Siluman Super Sakit!” 

“Jenderal Keenam Pasukan Bhayangkara, Ginseng Perkasa... Tabib Maha Maha Cabul!” balas Komodo Nagaradja. 

Bintang Tenggara tetiba merasa terjepit di tengah-tengah, di antara sosok serba putih dengan sosok serba merah. 

“Muridku, katakan apa yang Tabib Maha Maha Cabul itu pinta darimu?”

“Heh!? Murid!? Sejak kapan kau mengangkat murid!? Tak cukup pandai kau mendidik murid!” 

“Jangan percaya akan kata-kata manis yang keluar dari bibir tebal itu!” 

“Aku dan anak remaja ini telah mengikat sebuah kesepakatan!”

“Batalkan!” 

“Tiada bisa! Aku telah menjalankan kewajibanku dengan menolong anak ini keluar dari alam bawah sadar yang dipicu oleh Lintasan Saujana Jiwa. Aku bahkan meramukan sebotol kecil Tetesan Batin untuknya!” 

Bintang Tenggara terpana. Bukankah kedua ahli ini merupakan sesama Jenderal dari Pasukan Bhayangkara? Bukankah mereka pernah bahu-membahu berjuang melindungi Negeri Dua Samudera? Lalu, mengapa mereka seperti bermusuhan!?

“Apa isi kesepakatan kalian!?” sergah Komodo Nagaradja ke arah Bintang Tenggara.

“Diriku akan membantu mengumpulkan bahan-bahan untuk meramu tubuh baru bagi Kakek Gin,” ujar Bintang Tenggara lugas, sambil menunjukkan secarik kertas yang ada di telapak tangan kanannya. 

“Gila!” sergah Komodo Nagaradja. “Imbalan yang ia berikan jauh dari setimpal! Tak akan mudah mengumpulkan bahan-bahan apa pun itu!”

“Kesepakatan adalah kesepakatan!” sela Ginseng Perkasa. 

“Wariskan keterampilan khusus peramu dan keterampilan khusus tabib kepada muridku!” 

“Sudah berapa lama kau meniti jalan keahlian!? Apakah super sakitmu sudah menjalar sampai ke otak? Keterampilan khusus adalah bakat bawaan sejak lahir! Tiada dapat diturunkan!”

Bintang Tenggara bertanya-tanya. Memanglah benar bahwa tak semua ahli terlahir dengan keterampilan khusus. Bilamana seorang ahli memiliki keterampilan khusus, maka hanyalah akan memiliki satu jenis saja. Mencerna kata-kata Super Guru, mungkinkah Maha Maha Tabib Surgawi memiliki dua keterampilan khusus di saat yang bersamaan? Keterampilan khusus sebagai peramu sudah terbukti, lalu sepertinya ia juga memiliki keterampilan khusus sebagai tabib. Sungguh di luar nalar. 

Peramu dan tabib adalah dua keterampilan khusus yang berbeda, namun saling berkaitan. Peramu, dapat meracik dan mengolah berbagai ramuan menggunakan mata hati yang ditopang tenaga dalam. Tabib adalah penyembuh, yang memanfaatkan mata hati menelusuri tubuh pasien, mencari tahu tentang penyakit dan sebab-musababnya, kemudian menggunakan tenaga dalam untuk melakukan upaya-upaya penyembuhan. 

“Aku adalah Jenderal Ketiga, sedangkan kau hanyalah Jenderal Keenam... lakukan perintahku, wahai Tabib Maha Maha Cabul!” Komodo Nagaradja menudingkan jemari telunjuknya!

“Angka-angka itu hanyalah pembeda. Tak ada pemeringkatan di antara para jenderal. Kau tak lebih tinggi dariku, hai Siluman Super Sakit!” balas Ginseng Perkasa.

Bagaimana ini? batin Bintang Tenggara. Dalam upaya menyembuhkan tubuh Super Guru Komodo Nagaradja, kini telah ditemukan Maha Maha Tabib Surgawi, yang adalah sesuai petunjuk Raja Bangkong IV. Namun, mengapakah mereka tak akur adanya?

“Super Guru,” sela Bintang Tenggara. “Bagaimana bila setelah mengumpulkan bahan-bahan bagi tubuh Kakek Gin, kita meminta agar beliau menyembuhkan tubuh Super Guru?”

“Aku tak sudi!” 

“Heh!? Tubuhmu terluka... Hahaha... Kau hanyalah gentayangan tanpa tubuh...” 

“Tutup moncong bau itu! Kau lebih gentanyangan daripada aku!” 

Suasana tetiba hening. 

Kedua Jenderal Bhayangkara nan digdaya baru menyadari bahwa sesungguhnya mereka berada di dalam perahu yang sama. Yang satu memiliki tubuh tiada berdaya menunggu ajal, sedangkan satunya lagi tak memiliki tubuh namun berpeluang membuat tubuh baru. Walau demikian, tak satu pun dari mereka terlihat hendak mengalah. 

Bintang Tenggara ikut terdiam. Ia memerlukan kedua tokoh ini untuk bekerja sama. Ia lalu teringat kata-kata Raja Bangkong IV, bahwa yang terpenting adalah tujuan utama dapat tercapai. 

Hampir limabelas menit berlalu. Tiada satu pun ahli bersuara dan bertindak memecah keheningan. Jikalau diibaratkan dalam sebuah pertarungan, maka keadaan sedang seimbang. Komodo Nagaradja dan Ginseng Perkasa bertahan sama kuat. Bintang Tenggara berperan sebagai wasit yang tiada memiliki kuasa, mungkin lebih cocok disebut sebagai penonton saja, padahal ia adalah tokoh utama. 

Sambil menghela napas, anak remaja tersebut meletakkan botol kecil di permukaan goa. Ia lalu mengangkat kedua belah tangan ke arah sosok Ginseng Pekasa...

“Memutarbalikkan Fakta!” 

“Huuaaaaaaphh…” suara Ginseng Perkasa terdengar dari dalam botol kecil yang tadinya memuat ramuan Tetesan Batin. Suara yang ia keluarkan mirip seseorang yang baru saja berhasil menghirup napas panjang dari mulut, setelah hampir tenggelam di laut. 

“Jurus ini...!?” Kesadaran Ginseng Perkasa kembali mengemuka tepat di atas botol kecil. Tokoh tersebut tentunya segera menyadari akan jurus Merampas Jiwa Menuai Raga yang dikombinasikan dengan jurus Saudagar Sesat Jiwa. 

“Nak Bintang, bagaimana mungkin dikau menggabungkan dua jurus aliran hitam menjadi sebuah jurus segel yang bahkan diriku belum pernah ketahui!?” 

“Aku yang mengajarinya! Huahahaha…” gelak Komodo Nagaradja sombong, meski berbohong.

“Kakek Gin, mohon maafkan diriku yang lancang. Akan tetapi, diriku akan membawa Kakek Gin keluar dari Lintasan Saujana Jiwa ini.”

Bintang Tenggara memungut botol kecil yang memuat jiwa dan kesadaran Ginseng Perkasa. Segera pula ia masukkan botol kecil tersebut ke dalam dimensi ruang penyimpanan di dalam mustika retak milik Komodo Nagaradja. 

“Hei! Jangan masukkan botol itu ke dalam sini!” hardik Komodo Nagaradja. 

Tak hendak membuang waktu lagi, Bintang Tenggara segera melangkah maju menyusuri jalan setapak untuk mencapai lukisan berikutnya. Setelah dapat melihat lukisan kesebelas, segera ia melanjutkan ke lukisan yang keduabelas. Tekanan terhadap mata hati perlahan terasa lagi. Sepertinya, pengaruh dari ramuan Tetesan Batin dalam memperkuat jalinan mata hati mulai memudar. 

Bintang Tenggara telah menggenggam biji karet yang diberikan oleh Pendiri Perguruan Anantawikramottunggadewa. Bila dipecahkan, biji karet tersebut akan membawa dirinya keluar dari dalam Lintasan Saujana jiwa. 

Meskipun demikian, tanpa sedikit pun rasa ragu, anak remaja tersebut… terus merangsek maju! 

“Hm… Aku suka nyali muridmu ini.”

“Diam kau! Kau menumpang di dalam mustika milikku. Bicaralah hanya bila aku menyuruhmu berbicara!” hardik Komodo Nagararadja sebagai penguasa wilayah. 

“Heh! Kau kira aku berkenan berada di dalam sini!? Tempat ini lembab dan bau! Mirip seperti takdirmu!” 

Mengabaikan pergumulan di ulu hati, Bintang Tenggara berupaya mencapai lukisan ketigabelas. Menurut Super Guru Komodo Nagaradja, dirinya hanya kehilangan kesadaran selama tiga menit. Akan tetapi, bagi anak remaja tersebut, hampir dua bulan waktu yang ia jalani di alam bawah sadar. Selama merenungi lautan dan langit, ia memperoleh kesempatan untuk berpikir jernih. Pada akhirnya, bila hendak segera menyembuhkan tubuh Super Guru, maka perlu menumbuhkan keahlian. Bintang Tenggara sudah sepenuhnya menyadari bahwa dirinya perlu menjadi kuat. 

Tekanan mata hati kembali mendera. Pengaruh ramuan Tetesan Batin sudah sepenuhnya memudar. Darah mengalir dari hidung dan telinga. Bintang Tenggara pun merasakan bahwa cairan merah nan hangat mengalir di kedua belah pipi. 

“Hei! Kau hendak membiarkan muridmu mati muda!?” sergah Ginseng Perkasa. 

Komodo Nagaradja hanya diam. Baru kali ini ia merasakan bahwa super muridnya itu bersungguh-sungguh untuk melampaui batas kemampuan diri sendiri. Selama ini, adalah Komodo Nagaradja yang paling mengetahui Bintang Tenggara hanya setengah hati dalam membangun keahlian. Di satu sisi, Komodo Nagaradja memahami bahaya bila terlalu memaksakan diri di tempat ini. Di sisi lain, dirinya merasa senang akan perkembangan yang ia amati dari sang murid. 

“Guru dan murid yang sama-sama sakit. Agar kau ketahui, tiada tabib maupun ramuan yang dapat menyembuhkan kegilaan seperti ini!” 

Komodo Nagaradja masih diam membatu. Bila mengkehendaki, maka sangatlah mudah bagi dirinya memecahkan biji karet. Dirinya hanya perlu menebar jalinan mata hati. Semudah membalik telapak tangan.

Bintang Tenggara bertumpu pada kedua lutut. Telapak tangan menempel di lantai goa demi menopang tubuh. Sekujur tubuh berkeringat dingin. Darah masih pengalir pelan dari hidung, telinga dan mata. Sedikit lagi, dirinya akan dipaksa bersujud tiada berdaya. Akan tetapi, wajahnya terus menantang lukisan. Mata hatinya menebar hendak memperoleh gambaran sejelas mungkin. 

Samar dan berbayang, upaya Bintang Tenggara sedikit membuahkan hasil. Anak remaja itu mulai mendapati gambaran tanah yang berundak-undak. Berjajar dalam perspektif. Kemudian, sekujur tubuh anak remaja tersebut bergetar deras, lalu roboh tertelungkup...

“Prak!” Jalinan mata hati Komodo Nagaradja memecah biji karet! 

...


Bintang Tenggara segera mengamati sekeliling. Ia berada di dalam ruangan yang sangat luas, dengan deretan meja membentang ke kiri dan kanan. Tentunya, kali ini bukanlah kali pertama anak remaja itu kehilangan kesadaran. Sudah sangat sering terjadi. Sebagaimana diketahui, di saat meniti jalan berliku dan mendaki ngarai terjal dunia keahlian, adalah lumrah adanya untuk kehilangan kesadaran, lalu terbangun di tempat yang sama sekali berbeda. 

Di hadapan Bintang Tenggara, melayang dua sosok perkasa. Sosok pertama merah, besar dan gagah, sedangkan sosok kedua putih dan sepuh sedikit bungkuk. 

“Super Guru... Kakek Gin...,” sapa Bintang Tenggara sedikit kikuk. 

“Jikalau dikau kehilangan nyawa, maka diriku akan berubah menjadi jin botol,” keluh Ginseng Perkasa. “Bagaimana pula dengan kesepakatan yang telah kita setujui...?”

“Tidak ada kesepakatan!” sergah Komodo Nagaradja.

Mulai lagi... batin Bintang Tenggara. Sedikit menyesali tindakan menyatukan kedua tokoh Jenderal Bhayangkara, Bintang Tenggara melangkah keluar dari kamar nan luas. Baru ia sadari bahwa dirinya berada di Balai Pengobatan milik Perguruan Anantawikramottunggadewa.

Bintang Tenggara melangkah pelan. Di ruang tunggu, dirinya mendapati Canting Emas dan Kuau Kakimerah duduk berdampingan. Wajah keduanya seperti bunga yang baru saja layu, lesu. Di dekat pintu keluar, Panglima Segantang terlibat dalam pembicaraan sangat serius dengan Putra-Putra Perguruan Anantawikramottunggadewa. Sedangkan Aji Pamungkas, ia sedang berupaya mengintip ke dalam salah satu kamar perawatan. 

“Apa yang kalian risaukan?” ujar Bintang Tenggara sambil melangkah mendekat. “Diriku baik-baik saja.” 

Canting Emas dan Kuau Kakimerah bangkit berdiri. Panglima Segantang dan Aji Pamungkas segera datang menghampiri. 

“Ada apakah gerangan...?” Bintang Tenggara menjadi sedikit penasaran.

“Lamalera...,” bisik Canting Emas pelan. 

“Oh? Kemanakah Lamalera?” sahut Bintang Tenggara penuh semangat. Kepalanya terlihat menoleh ke kiri dan ke kanan.

“Lamalera... di dalam Lintasan Saujana jiwa...” Canting Emas mulai terlihat gugup

“Ya...?”

“Lamalera... meninggal dunia...” 

“APA!?”