Episode 17 - Si Sniper No. 1


Dengan sedikit cahaya dari lampu emergensi, ruangan gelap itu bisa digunakan. Walaupun berdebu dan berantakan, tidak ada seorang pun yang mengeluh. 

Feya yang bertanggung jawab selama Noxa pergi, dengan percaya diri memilih salah satu bangunan dari sekian bangunan yang setidaknya aman sebagai tempat untuk menyusun rencana. Sebuah ruangan yang cukup besar dengan beberapa kursi usang yang tidak semuanya bisa digunakan. 

Di atas meja yang penuh debu dan kerikil-kerikil, ada sebuah mangkuk yang isinya baru saja berpindah ke perut Noxa. 

“Kazu, Baron… jarak kita ada dua kilometer dari target, ‘kan?” Noxa yang baru mengisi perutnya, kembali menggunakan otak. “Bagaimana keadaan sekitar?”

Terlalu sepi, itu yang dipikirkan Noxa semenjak ia menaiki mobil bersama dengan Reina. Tidak mungkin, tidak ada manusia yang tinggal di sekitar sini. Karena ini bukan yang pertama kali, Noxa ingin memastikan bahwa tidak akan ada seorang pun yang menggangu misi mereka nanti.

“Aah, masalah itu...” Kazu tersenyum paksa. “Belum sama sekali.”

Baron yang berdiri di belakang Kazu, melanjutkan. “Karena semuanya terlihat kelelahan, kami jadi tak bisa melakukan itu.”

Noxa berdeham panjang. 

Sambil menunggu Faye kembali membawa setiap ketua tim dan juga Rem, ia tidak tahu harus berbuat apa. Mungkin karena perutnya yang diisi sedikit berlebihan, konsentrasinya sedikit menghilang. 

“Ugh, mungkin tidak ada cara lain lagi.” Noxa memiringkan kepalanya dengan rasa bingung yang menumpuk.

Tidak lama kemudian, mulai dari ketua tim sembilan, lalu delapan, empat, dan yang terakhir Rem dan Faye datang berkumpul di ruangan yang jika dilihat dari luar, mungkin bisa roboh kapan pun tanpa ada yang menyadari.

“Maaf tiba-tiba memanggil kalian. Aku yakin, semua orang lelah di sini, jadi semakin cepat semakin baik.” Selagi Noxa berbicara, Faye berpindah ke sisi gadis pendek itu seperti yang biasa ia lakukan.

Rem yang beberapa menit lalu masih tertidur pulas dibangunkan oleh Faye. Tidak heran jika mulutnya terbuka lebar beberapa kali menahan rasa kantuk. 

“Aku tidak keberatan, tapi kenapa aku juga dipanggil? Untuk sementara, aku ikut Neil jadi… aku rasa tidak perlu sampai memanggilku juga.” Dengan suara dan mata yang lemas, dirinya bersusah payah memperkuat kedua kaki agar bisa tetap berdiri.

“Jika membicarakan tentang tanggung jawab, mungkin benar. Aku ingin kau di sini karena aku butuh masukan juga.”

“Uuh, aku ragu aku bisa memberi masukan, tapi terserahlah…” Ia jongkok sambil bersandar pada tembok. Dengan kedua matanya yang tertutup, tidak ada yang bisa tahu kalau gadis itu sedang tertidur atau tidak.

Tanpa banyak berpikir, Noxa melanjutkan.

“Thita dan Elang, ya?” Matanya menunjuk ketua tim Mono Chrome dan Harpy Eagle bergantian.

“I-Iya?” “Kenapa?” Keduanya menjawab, dengan wajah yang bisa dibilang lesu juga. Entah karena mereka sedang berbicara dengan Noxa, atau memang dalam kondisi yang tidak nyaman. 

“Aku belum familiar dengan anggota tim kalian. Setidaknya, aku ingin tahu apa salah satu dari anggota kalian ada yang bisa menggunakan sniper?”

“Eh, salah satu temanku bisa menggunakannya.” Elang mengangguk, diikuti dengan jawaban Thita. “Aku juga ada satu orang.”

Noxa kembali masuk ke dalam pikirannya sendiri. Ditambah dengan Feya dan Rem, maka jumlahnya akan menjadi empat. Meski tidak terlalu berguna untuk besok, tidak terlalu buruk seandainya tempat pertarungan berubah ke arah kota.

“Hanya untuk berjaga-jaga, mungkin harusnya aku bertanya padamu juga.” Mata Noxa terarah pada gadis yang daritadi terdiam. “Neil, bagaimana denganmu?”

“Satu-satunya orang yang biasa menggunakan sniper di timku, sayangny sedang tidak ikut saat ini.” Neil mendekap. “Tapi, aku tidak tahu apa Rem bisa menggunakannya atau tidak.”

“Eeh?!”

Dengan kondisi yang tenang, rasa kaget semua orang di ruangan gelap itu bisa terdengar. Meski tidak bisa melihat dengan jelas, Neil tahu mereka semua memasang wajah pucat atau mungkin sesuatu yang tidak diduga-duga terjadi.

“Hmm, kenapa?” Neil heran.

“Mengecewakan…” Noxa kehilangan harapan. “Tidak biasanya kau seperti ini.”

Sebelum misi, biasanya Neil selalu rajin membaca file-file yang sudah disiapkan khusus untuk tugas. Meski hal itu muncul karena rasa tanggung jawab, tidak semua agen khusus mau repot-repot melakukan hal itu. Jadi, bagi Noxa rasanya sedikit aneh kalau sampai Neil tidak tahu tentang hal ini.

“Yah, mau bagaimana lagi. Neil tidak pernah melihatku menggunakan sniper, jadi tidak aneh jika dia tidak tahu.” Dengan suara lesu, Rem mengesampingkan rasa kantuk untuk mengikuti diskusi.

“Thita dan Elang juga belum pernah melihatmu menggunakan sniper, tapi mereka berdua tahu.” Noxa tidak habis pikir dengan Neil yang ketinggalan informasi. “Rem itu salah satu sniper terbaik—tidak, dia mengalahkan Ai dan Atsu dari tim satu. Jadi, yah bisa dibilang dia sniper nomor satu di OFD saat ini.”

“Terima kasih sudah memujiku.” Masih menutup mata, mulut Rem terbuka. Semua orang yang berkumpul tidak ragu sedikit pun kalau gadis itu mungkin baru saja mengigau.

“Hmm, aku baru mendengarnya.” Neil terlihat lebih serius dari biasanya. Ini membuktikan bahwa perasaannya saat berbicara di helikopter tidaklah salah.

Noxa menepuk tangan satu kali, mengembalikkan semua pandangan pada dirinya.

“Kembali ke topik utama. Walaupun tim dua pernah berhadapan dengan Sky Chaser, bukan berarti kami tahu banyak. Untuk saat ini, makhluk itu suka tempat tinggi selain itu dua kali sehari makhluk itu akan kembali ke laut untuk mencari makan. Jangan menganggap yang aku ucapkan itu seratus persen benar. Saat latihan dan menghadapi sesuatu yang nyata, semuanya berbeda.”

Noxa sudah memikirkan beberapa cara, tapi kondisi tempat yang tidak menguntungkan membuat pilihannya sangat terbatas. 

“Hanya empat orang yang akan pergi ke jembatan dan menghadapi makhluk itu secara langsung. Sisanya, menemani sniper yang akan menembak dari gedung-gedung sekitar. Yah, tentu saja jika kalian punya masukan atau ingin protes langsung katakana saja. Meski kemungkinan besar, rencananya tidak akan berubah.”

Noxa memberi senyum kecil pada semua orang yang berkumpul.

Thita, yang merupakan ketua tim Mono Chrome mengangkat tangan.

“Hmm, kenapa?”

“Ini sedikit meragukan. Empat orang pergi ke jembatan, lalu empat orang menjadi sniper dan yang lain menjaga sniper. Aku sedikit mengerti, tapi apa gunanya sniper dalam misi ini? Apa mereka hanya diam dan memperhatikan dari jauh.”

“Ooh, kau cukup pintar.” Noxa memuji dengan suara rendah. 

Jembatan, tempat dengan ruang terbatas tanpa ada yang menghalangi seperti bangunan-bangunan tinggi. Angin laut akan menjadi masalah serius bagi sniper dalam hal ini. Dengan kata lain, meski mereka bersiap menembak, mustahil bagi mereka untuk mendapatkan akurasi seratus persen di tempat terbuka.

“Yah, diam dan memperhatikan dari jauh juga termasuk pekerjaan. Tim delapan dan sembilan belum pernah melawan Rank A, jadi tidak aneh jika kalian tidak mengerti. Tidak perlu buru-buru dan santai saja.” Noxa menjelaskan berharap kedua tim yang masih kurang berpengalaman itu mengerti.

“T-tapi… hanya empat orang yang turun ke lapangan? Ada enam belas orang yang dikirim ke sini. Bukankah enam orang itu terlalu sedikit?” Thita masih ragu.

“Lebih dari itu, akan sangat sulit mengendalikannya. Aku, Baron, Neil, dan Navi yang akan turun. Sisanya seperti yang sudah kukatakan, menemani sniper.”

Semakin sedikit jumlahnya, semakin mudah bagi Noxa untuk memberikan perintah. Di sisi lain, Neil dan Navi setidaknya punya inisiatif untuk bertindak dan berpikir sendiri dibandingkan dengan anggota yang lain. Ini yang menjadi alasan, kenapa Noxa memilih mereka berdua.

“Kalau begitu, bukankah ini sama saja tim delapan dan sembilan tidak ada gunanya?” Thita sedikit kecewa dengan keputusan Noxa. 

Dirinya ikut mengambil misi ini berharap mendapat pengalaman lebih dan setidaknya bisa bertambah menjadi sedikit lebih kuat. Hanya dengan duduk diam dan memperhatikan saja, tentu saja hal itu tidak akan cukup untuk memuaskan batinnya.

“Ugh, kau membuatku kesal.” Noxa mencoba menahan diri. “Jangan merendahkan diri sendiri. Kalau aku tidak butuh bantuan, sejak awal aku tidak akan meminta bantuan.” 

Noxa menghela. Di saat yang lain berusaha agar masalah ini cepat berakhir, satu orang membuatnya semakin rumit. Bukan berarti ia bisa membantah ucapan Thita juga.

“Sky Chaser bukan hanya kuat, tapi juga gesit. Membawa banyak orang di tempat sempit seperti itu sama saja dengan bunuh diri. Yang jadi masalah utamanya adalah, seandainya salah satu dari kalian mati, aku yang harus bertanggung jawab. Sebisa mungkin, aku ingin menghindari hal itu.”

Jika Noxa harus menjelaskan lebih lengkap, tim delapan dan sembilan sejak awal memang hanya akan menghalangi jalan saja. Seandainya ia berkata seperti itu, mungkin mental mereka akan jauh lebih buruk lagi.

“Ada saatnya kalian akan turun tangan.” Noxa tidak tahu harus caranya untuk menjelaskan, tapi sebagai pemimpin terkadang dia tidak boleh lari dari pertanyaan-pertanyaan yang diberikan. ?Untuk saat ini, ikuti saja perintahku. Kalian semua boleh istirahat. Untuk sementara, tim dua akan membuka mata untuk berjaga jika ada sesuatu yang terjadi.”

Thita menahan diri. 

Ucapan Noxa mungkin ada benarnya, tapi rasa kesal tidak bisa diredamkan begitu saja hanya dengan perintah dari orang yang jauh lebih tinggi. 

Elang menepuk pundak Thita yang diliputi dengan rasa bingung dan kecewa. 

“Mereka memberikan kita kesempatan, jadi bersabarlah sedikit.” Elang mencoba menenangkan. “Lagipula, ini bukan Rank B atau A. Aku bahkan tidak mengerti, kenapa mereka memilih kita.”

Noxa membuat pernyataan untuk yang terakhir kalinya.

“Akan kukatakan lagi, jika kalian berdua tidak berguna, kalian berdua tidak akan ada di sini saat ini. Aku hanya menempatkan kalian di bangku cadangan saja. Sekarang, pergilah! Aku tidak ingin kalian mengantuk saat sedang bertugas besok.”

“Uuh, maaf.” Thita memalingkan pandangan. Bersama dengan Elang, mereka berdua keluar.

“Yang barusan itu bukan sindiran, ‘kan?” Rem membuka kedua mata. “Yah, terserah. Aku juga pergi.”

“Hmm… Neil, kenapa kau masih di sini?” 

Neil dengan datar, balik memperhatikan Noxa. “Tidak ada pengumuman tambahan untukku?” 

“K-kenapa kau berpikir seperti itu?” Noxa nampak bingung. Entah apa yang dimaksud kata-kata Neil. Mungkin tentang rapat tadi sore, atau rencana besok karena ia harus turun ke lapangan juga? Ia tidak tahu yang mana.

“Ngomong-ngomong, kenapa tidak menyuruh salah satu dari tim delapan atau sembilan untuk berjaga-jaga? Kau satu-satunya yang paling lelah di sini, bukan?”

“Tidak jadi masalah jika aku yang paling lelah di sini, aku hanya bertindak sesuai dengan pilihan yang terbaik. “

“Noxa, bukankah itu artinya kau tidak percaya pada mereka?” Neil tidak menolehkan pandangan. 

Ketiga anggota tim dua masih berdiri di belakang Noxa. Saat Neil berkata mereka, ia bukan hanya menunjuk tim delapan dan sembilan, tapi juga semua orang yang berpartisipasi dalam misi ini.

“Neil, kau memberikan kesan yang buruk padaku. Jika menurutmu begitu, terserah apa katamu saja.” Noxa memberi jeda. “Dan satu lagi. Maaf, Neil. Tapi tak ada lagi yang harus kubicarakan denganmu. Kau juga lebih baik istirahat.”

Setelah puas mendengar jawaban Noxa, Neil keluar dari bangunan yang sudah tak berpenghuni lagi sesuai dengan kemauan Ketua tim Aster Glass.