Episode 56 - Hari-Hari Mereka Tanpa – Bagian 1



Beni keluar rumah, melihat ke arah rumah temannya yang tak dihuni. 

Pergi memang sudah menjadi rutinitas dari para penghuni rumah tersebut, tetapi tanpa memberi kabar yang pasti, perasaannya sedikit kecewa karena kesepian yang tak dapat dijelaskan.

“Hei, kau masih lama?!”

“Tunggu!”

Dia berteriak ke dalam rumah, dan pertanyaannya dijawab oleh suara Rini yang kedengarannya sedang tergesa-gesa.

“Ya ampun, beginilah perempuan, selalu tak bisa tepat waktu hanya untuk berdandan sepele.”

Dia mengeluhkan apa yang menjadi rutinitas mereka.

Berdandan boleh saja. Namun terkadang, hal itu terlalu banyak membuang waktu mereka yang mana seharusnya dapat dimanfaatkan dengan baik. Dan Beni mengutuk siapapun yang mengatakan kalau berdandan sebelum pergi keluar rumah adalah keharusan bagi para perempuan.

“Maaf lama.”

“Hadehh.”

“Ada apa, sepertinya desahanmu lebih parah dari biasanya?”

Beni tak menjawab dan hanya mengarahkan wajahnya ke arah rumah yang bertetanggaan dengan mereka.

Memang sudah seharusnya keluarga itu mengabari kalau ada sesuatu yang bisa mereka bantu. Tetapi, yang mereka dapatkan dari bertanya “memangnya ada keperluan apa?” dijawab dengan mudahnya dengan “hanya urusan sesaat”.

Meskipun begitu, rasa tidak enak di dalam hati dan pikiran mereka mengatakan kalau pasti ada sesuatu yang buruk yang sedang terjadi.

“Aku, juga merasakan yang sama.”

Rini menggumamkan perasaannya yang keluar yang dapat didengar oleh Beni.

“Aku, gak tahu harus gimana bilangnya, tapi, seakan jarak di antara kita semakin jauh seiring berjalannya waktu.”

“Sepertinya bukan aku saja yang merasakan hal itu.”

“Jangan mencoba menyamakan setiap perasaan kita!”

Beni merasa kalau dirinya sedang dianggap rendah karena pikirannya dapat terbaca dengan mudah oleh Rini. Hanya saja Rini tak dapat mengungkapkan hal apa yang menjadi alasan kalau setiap pemikiran mereka sama.

“Sudahlah. Lebih baik kita mulai berangkat sekarang.”

Jam menunjukkan 07.15. 45 menit menuju lonceng berbunyi. Lama perjalanan menuju ke bukit sekolah adalah 30 menit. Itu artinya mereka bahkan bisa menghabiskan 15 menit sisanya untuk bermain-main.

Mereka berjalan dengan suasana yang tak dapat dijelaskan dengan kata-kata. Masing-masing dari mereka terdiam dan bahkan tak memiliki niat untuk mengisi pagi dengan basa-basi seperti biasa. Itu terjadi setelah perginya penghuni rumah, yang dapat membuat hati mereka tenang hanya dengan diamnya di rumah mereka sendiri.

Namun, penghuni rumah tetangga itu sekarang telah pergi entah ke mana, mereka tak tahu.

Mereka hanya bisa berharap kalau kabar terbaru datang secepatnya dan mereka dapat setidaknya menenangkan hati. 

Mereka telah sampai di jalan utama menuju ke sekolah—perbatasan antara desa dengan ladang. Tak jauh di sana, berdiri menghadap ke timur wanita yang anggun. Memiliki kewibawaan dan kebijaksanaan yang dapat dikatakan hanya bisa dicapai oleh orang-orang berusia lansia.

Namun, di usianya yang masih cukup muda, kebijaksanaan dan kewibawaan itu telah didapatkan dengan keistimewaan dari darah di dalam dagingnya.

“Bu Risak!”

Memakai pakaian batik serba hitam, auranya memancarkan tekanan yang cukup kuat untuk membuat orang-orang di sekelilingnya menghormati dan mewaspadainya.

“Walah, ada Nak Rini!”

Entah bagaimana caranya, sepertinya Risak sedang menunggu mereka. Namun ada satu hal yang menjanggal dari sapaan itu, hanya satu orang yang dipanggil. 

Beni dan Rini bergegas—berjalan—menuju ke sisi Risak. 

“Bu Risak!”

“Wah-wah, sepertinya kamu mulai tumbuh dan hampir mengalahkanku.”

Mengalahkan tingginya, mungkin itu maksud dari Risak. Karena sangat jarangnya mereka bertemu, respon yang diberikan oleh Risak tentu saja tak membuat terkejut Rini. 

“-Anu, bu Risak, di mana Bagas sekarang?”

“Kamu juga kelihatannya mulai pandai memakai make up.”

Risak mulai menggoda Rini dengan pengamatannya yang mengerikan. Meskipun make up yang digunakan Rini seharusnya tak terlalu dapat terlihat, di sisi lain Risak dapat menebaknya hanya dalam sekali tatap.

Hal itu sontak membuat Rini malu dan berhenti saat dia ingin bicara.

“Apa kamu ingin membuat orang lain terpesona dengan kecantikanmu?”

“E-eh, itu enggak kok!”

“-A, anu...”

“Hmm, jadi, apa itu untuk membuat seseorang semakin tertarik denganmu?”

“I-itu juga bukan!”

“-Hoalah, apa keberadaanku tak dipedulikan di sini, woi au***r, gimana nih?! Kok jadi...”

Semakin Risak menggodanya dengan pengamatannya yang mengerikan, semakin merah pula wajah Rini dibuatnya. Dan panas sinar matahari yang menerpa membuatnya mulai berkeringat dan mengingat kembali akan kengerian dari sosok yang ada di hadapannya.

Dengan mudahnya dapat mengatakan prasangka baik. Orang-orang baru yang baru saja berkenalan dengannya beberapa saat, takkan tahan dengannya untuk waktu yang lama. Hal itu terjadi karena kekuatan mata yang sangat jeli dalam mengamati seseorang. 

Meskipun begitu, setidaknya Risak tak menggunakan kemampuan miliknya untuk melakukan hal buruk. Dan kasus seperti itu sama sekali tak pernah terjadi dalam sejarah hidupnya.

Melihat perilaku tertekan dari Rini, Risak tersenyum sambil memegangi pipinya dengan satu tangan. Yang membuat pernyataan secara tak langsung kalau dia menikmati hal itu.

“Jadi, kapan kamu akan menyatakannya?”

“E-eh, m-me-menya-menyatakan apa?!”

Rini menjadi semakin panik karena—Risak telah mengetahui segala permasalahannya—pikirannya telah terbaca. Bagaimana ini, kalau seperti ini terus, aku akan berakhir dengan harus menyatakan perasaanku di sini?

Pikirannya menjadi semakin panik karena bisa saja, Risak mewujudkan hal itu menjadi kenyataan kalau dia mau.

“O-o-o-ohh iya, ki-kita-kita kan harus berangkat secepatnya menuju sekolah!”

Rini menemukan sebercak cahaya di saat dia berada dalam ujung tanduk. Seperti seorang kapten bajak laut yang memerintahkannya untuk jatuh ke air. Namun, dia lupa kalau sebenarnya sayap ada di punggung untuk membawanya terbang.

“J-jad-jadi, Bu Risak, kami izin untuk berangkat!”

Rini dengan kekuatannya yang masih tersisa untuk berhadapan dengan Risak, mencoba untuk mencium tangan Risak sebagai tanda penghormatan seorang yang lebih tua. Risak menerima tawaran penghormatan itu dan membiarkan Rini menyalimnya.

“Biarkanlah ilmu yang menuntun kalian!”

Risak tak mengatakan apa yang biasanya orang tua lain katakan saat anak-anak mereka pergi bersekolah. Namun dia mengatakan sesuatu hal yang memang bisa dikira sebagai perkataan yang keluar darinya.

Setelah saliman kedua selesai, Risak menatap ke arah dua orang anak yang berlari menuju ke sekolah. Di saat anak-anak lain hanya berjalan santai, mereka kelihatan harus berlari karena sesuatu hal.

Menghadapi sapaan anak-anak desa—yang terpesona akan keberadaannya—Risak tersenyum simpul yang dapat membuat para anak laki-laki berdebar jantungnya, dan bergetar hati untuk para anak perempuan.

“Tapi jangan salah pilih dalam menuntut ilmu. Karena bisa saja, ilmu tersebut dapat membawamu menuju jurang kedengkian dunia.”

Risak menggumamkan hal itu, di saat takkan ada seorangpun yang dapat mendengar perkataan dinginnya. Dia lalu menatap jauh ke arah bukit yang dulunya menjadi tempat dengan kesan yang sangat manis, yang membawanya menuju manis pahitnya kehidupan sekarang.


Terus berlari sampai tengah jalan—kira-kira satu kilometer—Rini akhirnya berhenti. Jantungnya berdegup kencang, bukan karena aktifitas fisik yang dia lakukan sebelumnya, tetapi lebih ke rasa takut untuk menghadapi Risak lagi.

Pikirannya benar-benar kacau dibuat Risak. Jantungnya tak henti-hentinya bergetar saat kembali memikirkan perkataan Risak sebelumnya “kapan kamu akan menyatakan perasaanmu?”.

“Hei...”

“Hyaa!”

Dia berteriak saat ada seseorang yang menepuk bahunya. Membuat orang lain yang melihat mereka sontak mengalihkan pandangan mereka ke arahnya.

“K-kau, jangan bikin kaget kenapa?!”

“Eeehh, justru kau yang bikin kaget tahu. Tiba-tiba aja lari sekencang angin seperti sedang dikejar setan aja.”

Mungkin ada benarnya, hanya saja lebih ke dia baru saja melihat sebuah penampakan mengerikan. Yang setidaknya harus dia hindari untuk sekarang.

“Y-y-ya, kalau itu aku minta maaf.”

Karena merasa kalau dirinya yang memang bersalah, Rini meminta maaf dengan lembut. Tanpa perasaan mengelak sedikitpun.

“Jadi, ada apa sih barusan? Kok aku kaya dicuekin gitu sama Bu Risak? Dan terlebih lagi, kita bahkan tak sempat menanyakan di mana Bagas berada karena kau langsung lari!”

“Ma-maaf, entah bagaimana aku sangat ingin menghindari untuk bertemu Bu Risak saat ini!”

Beni terheran dengan alasan kenapa Rini berlari karena keberadaan Risak. Dan bodohnya, dia ikut berlari dengannya tanpa sebab yang pasti, padahal ada sesuatu yang sangat ingin dia tanyakan dan pastikan kepada Risak.

“Aahh, bodohnya!”

“E-eh?!”

Rini tak mengerti dengan alasan apa Beni bersikap seperti itu. 

Dia menutupi wajahnya dengan dua tangan. Menekannya seolah dia adalah orang terbodoh di dunia—padahal mereka bahkan tak pernah melakukan hal seperti itu.

“Ya udah deh. Toh juga terlanjur, dan berbalik untuk menemuinya lagi takkan bisa terjadi.”

Seperti halnya daun yang terhembus angin, keberadaan Risak hanya bisa ditemui sesekali. Kesempatan kedua hanyalah keberuntungan belaka bagi mereka yang ingin bertemu lagi dengannya di waktu yang sama.

“Oh iya, kita lupa menanyakan tentang Bagas!”

Tersadar dengan sesuatu, Rini berteriak. Beni menatap Rini dengan ekspresi meremehkan. Rini yang terlambat menyadari hal itu lebih lama dari dugaannya, bertingkah seolah dia adalah satu dari sekian pelupa terparah di dunia.

“A-apa?”

“Gak ada. Karena terlanjur, lebih baik kita lanjut aja.”

Dengan begitu, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah. 

Perjalanan yang biasa. Tak ada sesuatu hal yang spesial yang terjadi. Seperti seorang penantang yang datang untuk memperebutkan orang yang ditaksirnya—salah satu dari mereka. Atau orang-orang yang melihat mereka dengan tatapan iri seperti melihat sebuah pasangan serasi.

Hal itu tak benar-benar terjadi kecuali...

“Woi kalian berdua! Udah mesra aja pagi-pagi begini!”

Sekelompok anak laki-laki datang dengan menerjang Beni dari belakang. Dengan suara “wuoh”, Beni mencoba menahan terjangan salah satu temannya yang hampir membuat merekanya terjatuh. Meskipun pada akhirnya dia terjatuh karena banyaknya serangan yang diberikan.

Beberapa anak laki-laki di belakang mereka hanya menertawakan atau menambahkan candaan untuk menggoda mereka.

“Kalian, datangnya jangan bikin kaget gitu dong!”

Rini mengeluarkan kemarahannya kepada sekelompok anak laki-laki yang menyerang Beni yang hampir dilakukan setiap hari.

“Hahaha, maaf!”

Setidaknya kata-kata yang hampir mirip seperti itulah yang mereka katakan untuk mereda kemarahan Rini.

“Hu~h!”

“Hei, Rini!”

Rini mengeluhkan kekesalannya dengan desahan berat. Namun perasaan buruknya telah tertangkal dengan panggilan dari satu dari tiga orang gadis yang kelihatannya adalah teman-temannya.

“Hei!”

Tanpa basa-basi dia langsung beralih haluan kepada tiga orang teman perempuannya. Meninggalkan Beni yang masih merasakan cukup rasa sakit yang diberikan temannya.

“Kalian~!”

Setelah merasa lebih baik, ingin rasanya Beni untuk membalas perilaku teman-temannya. Yang mana ada yang mendorong dengan bahu, mengapit lehernya sewaktu mereka melompat ke depan. Dan bahkan menekan tubuhnya sewaktu dia berada di permukaan tanah.

“W-wah! Lari~!”

“Kabur!”

“Selamatkan dirimu~!”

“Ampuu~n!”