Episode 164 - Ginseng Perkasa



Seorang anak remaja lelaki berdiri termenung. Kedua matanya menatap jauh ke arah kaki langit, yang ditandai sebuah garis mendatar dan memanjang seolah mempertemukan langit dengan lautan. Langit dan lautan membentang luas, seolah tanpa batas. 

Hembusan angin laut terasa dingin dan terik mentari membakar kulit. Meskipun demikian, anak remaja tersebut tetap berdiri tiada bergeming. Benaknya melayang jauh, melewati kaki langit. Ia sama sekali belum dapat menerima kenyataan bahwa petualangan yang selama ini berlangsung hanyalah mimpi belaka. Sebuah mimpi panjang di kala ia kehilangan kesadaran setelah menyelamatkan Lamalera. 

“Hari sudah siang,” tegur Lembata Keraf, Kepala Dusun Peledang Paus. “Aku akan kembali ke gubuk.” 

Bintang Tenggara masih diam di tempat. Ia hanya melepas senyum kecut. Sudah beberapa pekan berlalu sejak dirinya kembali menetap di Dusun Peledang Paus. Sepekan yang lalu, anak remaja itu bahkan sempat meminjam perahu untuk mengunjungi Pulau Bunga. Dirinya berharap dapat merasakan kehadiran formasi segel yang mengasingkan pulau tersebut, untuk masuk ke dalam wilayahnya. Seorang murid berharap dapat bertemu Super Guru Komodo Nagaradja...

Akan tetapi, tanpa mustika tenaga dalam dan mata hati, bagaimana mungkin dapat merasakan keberadaan formasi segel...? Bintang Tenggara kembali dengan tangan kosong. Mungkinkah dirinya ditakdirkan untuk kembali menetap di Dusun Peledang Paus? 

Hari demi hari berlalu. Sepekan... dua pekan... satu bulan. Jika Kepala Dusun Lembata Keraf menantikan kedatangan paus, maka Bintang Tenggara tiada mengetahui apa yang dirinya nantikan. Anak remaja tersebut hanya termenung, berdiri dalam diam. 

Benak Bintang Tenggara mengawang. Selama ini dirinya tiada begitu menyukai dunia persilatan dan keahlian. Terlalu banyak mara bahaya dan tipu daya yang mendera. Petualangan yang ia jalani pun semata disebabkan sebuah kewajiban untuk menyembuhkan Super Guru Komodo Nagaradja. Akan tetapi, jika demikian adanya, mengapa kini dirinya merasa sepi...? Padahal, di dusun ini ada Bunda Mayang, Lamalera, serta teman-teman bermain... Kakak Panggalih Rantau pun, dari waktu ke waktu masih datang membawa dagangan... 

Inilah dia kehidupan damai sebelum bersua Super Guru Komodo Nagaradja, batin Bintang Tenggara.

Seperti hari-hari sebelumnya, Kakek Kepala Dusun kembali ke gubuknya di saat terik mentari mencapai puncaknya. Baru saja Bintang Tenggara hendak memutar tubuh, sudut matanya menangkap sosok serba putih melintas cepat di atas lautan... 

“Seorang ahli...?” gumam Bintang Tenggara. 

Spontan anak remaja tersebut memacu langkah menyusuri pantai. Raut wajahnya penuh dengan semangat, langkah kakinya memacu cepat, tatapan matanya tak lepas dari sosok tersebut. Terkadang ia lari menyamping, agar terus dapat menyaksikan ahli tersebut. Perangai Bintang Tenggara terlihat seperti seorang anak yang melihat sesuatu yang benar-benar baru, sehingga ingin segera mengamati dengan seksama guna mengetahui lebih jauh. 

Sosok berwarna putih menghilang di kaki langit...

Bintang Tenggara berhenti di tempat. Kepala tertunduk, ia melangkah gontai. Jemari kakinya bermain-main dengan pasir hangat di pesisir pantai. Tiada terasa, bahwa dirinya telah berlari sangat, sangat jauh dari Dusun Peledang Paus, bahkan melewati dusun tetangga. 

“Anak muda....”

Bintang Tenggara terperangah! Sebuah suara berat terdengar datang dari atas. Ia segera mendongak, dan mendapati sosok serba putih melayang tinggi tepat di atas kepalanya. 

Sosok tersebut lalu melayang turun dengan ringan. Ia berpakaian serba putih. Kulit wajahnya putih, namun penuh keriput. Alis, rambut dan janggutnya panjang, juga berwarna putih. Tubuhnya sedikit bungkuk. Tua sekali pembawaan sosok ini. 

“Anak muda, apakah dikau dapat melihat diriku...?” ujar sosok tersebut sesaat sesudah mendarat di pasir putih. Ia mengeluarkan sebatang tongkat kayu setinggi panggul.

“Tentu saja, Yang Terhormat Tuan Ahli.” Kedua mata Bintang Tenggara sedari tadi tak pernah lepas dari sosok tersebut. 

“Hm...?” sosok serba putih menoleh ke kiri dan kanan. “Pantas saja diriku merasakan kejanggalan di ‘alam’ yang baru muncul ini...,” gumamnya pelan. 

“Dari manakah asal Yang Terhormat Tuan Ahli...?” aju Bintang Tenggara tanpa berbasa-basi. 

“Dari manakah asal dirimu, wahai anak muda...?” balas orang tua nan berpenampilan serba putih itu. Bintang Tenggara baru menangkap bahwa tebal sekali bibir orang tua itu, yang terlindung oleh kumis dan janggut lebat berwarna putih. 

Bintang Tenggara terdiam. Selama termenung, bukan tak pernah ia menduga-duga bahwa tempat ini bukanlah Dusun Peledang Paus yang sesungguhnya. Setidaknya, bukan Dusun Peledang Paus dimana ia tumbuh. Terdapat sebuah kemungkinan bahwa tempat ini sebenarnya merupakan... dunia paralel! 

“Yang Terhormat Tuan Ahli, nama hamba adalah Bintang Tenggara.” 

“Bintang Tenggara... nama yang bagus.” Orang tua itu menatap dalam ke arah Bintang Tenggara. 

Bintang Tenggara melangkah berdampingan bersama sosok serba putih, yang entah mengapa memegang tongkat mesti tiada memerlukan. Anehnya, beberapa orang yang berpapasan dengan mereka tak dapat menyadari kehadiran orang tua itu. Bahkan, setibanya di gubuk, Bunda Mayang pun tiada dapat melihat atau mendengar tamu yang berkunjung. Keberadaannya hanya dapat disadari oleh Bintang Tenggara seorang. 

 “Yang Terhormat Tuan Ahli, mungkinkah tempat ini merupakan dunia paralel...?” Bintang Tenggara menetaskan lamunan orang tua itu.

“Oh?”

Sepekan berlalu cepat. Selama sepekan pula orang tua itu hanya mengikuti dan mengamati Bintang Tenggara. Terkadang ia memperhatikan dari dekat, terkadang ia meninjau dari kejauhan. Sepertinya ada yang hendak ia pastikan terlebih dahulu sebelum beramah-tamah lebih jauh dengan anak remaja yang baru ditemui.

“Sudikah kiranya Yang Terhormat Tuan Ahli menjelaskan tentang dunia ini....” 

Bintang Tenggara, sedang berdiri menatap kaki langit, di atas batu karang nan besar. Sementara, lelaki tua dengan penampilan serba putih baru saja menghampiri dirinya. Sejauh ini, Bintang Tenggara tak hendak berlaku kurang sopan. Ia membiarkan saja orang tua itu mengikuti dan mengamati kehidupan keseharian di Dusun Peledang Paus. Orang tua ini kemungkinan besar satu-satunya ahli yang dapat menjelaskan perihal dunia ini. Kepercayaan harus terbangun terlebih dahulu, batin Bintang Tenggara. 

 “Pertama, bagaimanakah kiranya Nak Bintang dapat tiba di tempat ini.” 

“Sebagai bagian dalam latihan keahlian, hamba memasuki Lintasan Saujana Jiwa,” jawab Bintang Tenggara sopan. 

“Lalu...?”

“Pada lukisan kesepuluh, hamba menyentuh bingkai yang terlihat sangat berbeda.” Bintang Tenggara menyembunyikan kenyataan bahwa ia sebenarnya membetulkan posisi bingkai lukisan yang terlihat agak miring. 

“Dunia ini bukanlah dunia paralel....” Orang tua itu menjawab ringan. “Dunia ini adalah alam bawah sadarmu yang diwujudkan oleh Lintasan Saujana Jiwa.” 

Bintang Tenggara terdiam. Dugaannya sejauh ini, bersama dengan perkiraan para ahli baca, salah besar. Benaknya pun berhenti menduga-duga. 

“Pada dasarnya, adalah mudah untuk keluar dari alam bawah sadar yang dipicu oleh Lintasan Saujana Jiwa. Nak Bintang hanya perlu menabar mata hati untuk menemukan pintu keluar....”

“Tapi...” Bintang Tenggara hendak menyela.

“Akan tetapi, karena menyentuh bingkai lukisan tersebut, alam bawah sadarmu dan alam bawah sadarku menjadi terhubung. Dan oleh karena mata hatiku lebih perkasa, maka mata hatimu tiada dapat dikerahkan.” 

Bintang Tenggara berupaya mencerna dalam diam. 

“Entah sudah berapa lama, diriku terkurung di alam bawah sadar sendiri,” ucap orang tua itu sambil menghela napas panjang. “Dengan kata lain, saat ini Nak Bintang ikut terpenjara bersama diriku.” 

Orang tua itu lalu membuka ceriteranya. Bahwanya, suatu hari di masa lalu, ia mengalami ancaman jiwa. Dalam keadaan terdesak, terpaksa ia menelan sebutir Pil Pelumat Jiwa.* Ramuan tersebut membuat jiwa dan kesadarannya melepaskan diri dari dari tubuh. Dalam keadaan terpaksa pula, jiwa dan kesadaran tersebut melarikan diri untuk bersembunyi. Walhasil, jiwa dan kesadaran tersebut masuk ke dalam Lintasan Saujana Jiwa, kemudian terkurung tak berdaya di dalam bingkai lukisan. 

Menurutnya, sesungguhnya ia dapat saja keluar dari tempat ini. Akan tetapi, ia menyadari bahwa tubuhnya telah lama mati. Tanpa tubuh, ia hanya akan menjadi jiwa gentayangan, yang lambat laun akan menghilang dari dunia nyata. 

Bintang Tenggara segera mengaitkan kenyataan ini dengan keadaan Super Guru Komodo Nagaradja. Jiwa dan kesadaran tokoh tersebut dilepaskan dari dalam tubuh yang terluka berat menggunakan jurus Memutarbalikkan Fakta. Karena tubuh Komodo Nagaradja masih hidup, maka hanya menunggu kesempatan untuk mengobati tubuh tersebut, sebelum mengembalikan jiwa dan kesadaran. 

 “Jadi, bagaimanakah caranya agar kita dapat keluar dari tempat ini...?” Bintang Tenggara penuh harap. 

Orang tua itu hanya menatap ringan. “Sebelum itu, ada yang hendak diriku pastikan....”

Bintang Tenggara segera menyadari bahwa ada sesuatu yang dikehendaki oleh orang tua itu. Sesuatu yang pada akhirnya menjadi imbal balik atas bantuan yang diberikan nanti. 

 “Terimalah ini,” orang tua itu menyerahkan sebuah kitab nan tebal. “Aku akan kembali dalam sepekan.” 

...


Sepekan berlalu cepat. Suasana hati Bintang Tenggara tiada seperti hari-hari biasa, di kala berdiri termenung menatap kaki langit. Pagi-pagi sekali, ia telah menanti di bawah pohon teduh di atas bukit. Semangat menggebu.

Sesuai janji, orang tua yang dapat diperkirakan sebagai salah satu tokoh nan sangat digdaya di masa lalu, telah kembali. Ia melayang turun di hadapan Bintang Tenggara. Ia lalu mengeluarkan tongkat, sebagai aksesoris pendamping penokohan, sehingga memberikan kesan penuh wibawa dan bijaksana. Bibirnya yang tebal tiada dapat disembunyikan oleh kelebatan kumis serta janggut putih.

 Orang tua itu lalu mengibaskan tangan dengan ringan. Di hadapan Bintang Tenggara, kemudian mengemuka tiga jenis tumbuhan siluman yang berbeda-beda. Sebilah bambu, serangkaian akar, serta sebentuk bunga berwarna-warni. 

“Sebutkan nama dan manfaat tumbuhan-tumbuhan siluman ini,” perintah orang tua itu. 

“Buluh Perindu,” ujar Bintang Tenggara penuh percaya diri. “Bila digunakan untuk menopang tulang yang patah, maka dapat mempercepat penyembuhan. Di saat yang sama, aroma yang dikeluarkan dapat menarik kedatangan binatang siluman. 

Orang tua itu mengangguk. 

“Akar Bahar. Bermanfaat untuk menyerap racun-racun ringan dari dalam tubuh, serta dapat melancarkan aliran tenaga dalam.” 

Orang tua itu kembali mengangguk, menandari jawaban benar adanya. 

“Kembang Tujuh Rupa. Bermanfaat untuk meningkatkan daya serap tenaga alam.” 

Bintang Tenggara merasa janggal di kala menerima kitab yang setiap halamannya berisikan berbagai gambar macam jenis tumbuhan siluman serta manfaat. Di saat yang sama, rasa ingin tahu mencuat di dalam dirinya. Ia pun melibas habis isi kitab tersebut. 

Orang tua itu kembali mengibaskan tangan. Sebuah lesung batu lalu mengemuka. Jemarinya kemudian menari… bilah Buluh Perindu mengkerut lalu menghasilkan setetes sari pati. Akar Bahar menjadi serbuk. Lalu, kelopak Kembang Tujuh Rupa terpisah-pisah, dimana setiap satunya berubah menjadi gumpalan adonan kecil berwarna-warni. 

“Keterampilan khusus peramu…,” gumam Bintang Tenggara pelan. Ia pernah menyaksikan Sesepuh Ketujuh di Perguruan Gunung Agung memperagakan kemampuan ini pada suatu malam di masa lalu. **

Sari Buluh Perindu, serbuk Akar Bahar, serta adonan Kembang Tujuh Rupa melayang berputar di atas lesung batu. Orang tua itu mencampurkan satu persatu bahan ke dalam lesung batu dan mengaduk. Rangkaian proses ini dilakukan hanya dengan menebar jalinan mata hati. 

Bilamana ahli dengan keterampilan khusus pawang mengandalkan mata hati untuk mengontrol binatang siluman, keterampilan khusus peramu mengutamakan mata hati untuk memilah dan mengolah bahan dasar ramuan. Sungguh keterampilan khusus yang menantang kodrat alam.

Lesung batu tetiba bersinar temaram… Tak berselang lama, mencuat keluar beberapa tetes ramuan. Orang tua itu mengeluarkan sebuah botol kecil, mengisinya dengan ramuan yang baru saja selesai, lalu mengirimkan ke arah Bintang Tenggara. 

“Tebaklah manfaat dari ramuan yang baru saja diramu ini...,” perintah si orang tua.

Bintang Tenggara menatap botol di telapak tangan kanannya. Bagaimanakah cara mengetahui manfaat dari ramuan ini...? Mungkinkah manfaat dari ketiga jenis bahan dasar tumbuhan siluman bersatu padu menjadi satu? Apakah menghasilkan sebuah ramuan yang bermanfaat untuk mengobati patah tulang, menetralisir racun, sekaligus meningkatkan daya serap tenaga alam...?

Bintang Tenggara terdiam. Tidak sesederhana itu, batinnya. Ia mengingat bahwa tertulis di dalam kitab tumbuhan siluman, bahwa reaksi antara satu tumbuhan terhadap tumbuhan lain dapat menghasilkan dampat yang berbeda-beda. Apalagi bila mempertimbangkan kadar dan cara pengolahannya, maka akan menghasilkan ratusan, bila tidak ribuan, kemungkinan. 

“Bagaimana...?” Orang tua itu mengingatkan.

Bintang Tenggara berpikir dalam diam. Anak remaja itu menghela napas panjang....Dirinya diminta menebak, dirinya sedang diuji. 

“Reaksi antara sari Buluh Perindu, serbuk Akar Bahar, adonan Kembang Tujuh Rupa beragam sesuai kadar dan cara pengolahannya. Akan tetapi, bila mencermati manfaat dasar setiap satunya, maka kemungkinan besar ramuan ini bermanfaat meningkatkan kemampuan mata hati untuk sementara waktu....” Jawaban Bintang Tenggara dipenuhi dengan keraguan. 

“Apakah bijak untuk menebak tanpa mengetahui kadar dan cara pengolahannya...?” aju orang tua itu. 

“Seberapa banyak kadar dan seberapa rumit cara pengolahan, ramuan yang dihasilkan tak mungkin terlalu jauh menyimpang dari bahan-bahan dasar pembuatannya. Kembang Tujuh Rupa menyerap tenaga alam, untuk dialirkan oleh Akar Bahar. Di saat yang sama, Buluh Perindu yang diketahui menebar aroma untuk menarik perhatian, akan mengalami perubahan sifat bilamana dicampurkan dengan Kembang Tujuh Rupa.” 

“Tebakanmu tepat, bahwa ramuan ini bermanfaat meningkatkan kemampuan indera keenam untuk sementara waktu... Akan tetapi, uraianmu kurang akurat.” 

Bintang Tenggara hanya bisa diam. Toh, dalam permainan tebak-tebakan seperti ini, harapan memberi jawaban yang benar sebagian besarnya bergantung pada keberuntungan. 

“Akan tetapi... Nak Bintang memiliki ingatan yang baik serta naluri yang peka terhadap sesuatu yang baru...,” orang tua itu berhenti sejenak. “Diriku dapat membantu Nak Bintang keluar dari tempat ini.... Akan tetapi, Nak Bintang harus bersedia mengikat sebuah kesepakatan.”

“Apakah kesepakatan dimaksud, wahai Yang Terhormat Tuan Ahli...?”

“Nak Bintang harus membantu membuatkan tubuh baru agar diriku nantinya dapat keluar dari tempat ini.” 

“Hah!?” Bintang Tenggara tiada dapat menahan keterkejutan dirinya. Mencari tubuh yang sesuai untuk dirasuk seperti halnya Hang Jebat saja, sudah luar biasa rumit. Akan tetapi, bagaimanakah caranya membuat tubuh manusia!?

“Nak Bintang... tidaklah serumit itu.” Orang tua itu seolah dapat membaca pikiran Bintang Tenggara. Ia lalu melanjutkan, “Yang kukatakan adalah membantu... Dengan kata lain, Nak Bintang hanya perlu mengumpulkan bahan-bahannya saja.”

Bintang Tenggara menerima secarik kertas. Lusuh sekali. Sepertinya, telah sejak lama kertas ini dipersiapkan. Pada bagian atas, tertulis ‘Bahan Dasar Pengklonan’.***

Bintang Tenggara menelusuri daftar bahan-bahan dasar yang tertera di atas kertas. Pada urutan paling bawah, anak remaja tersebut terpana. ‘Sisa bagian tubuh asli (tulang, rambut, atau gigi)’ adalah sebagaimana yang tertulis. 

Tunggu dulu... sebelum itu... siapakah orang tua ini? Bagaimana bila ia merupakan tokoh jahat, misalnya salah satu Raja Angkara!? Bukankah membantu kebangkitan dirinya dapat menimbulkan mara bahaya!?

Raut wajah Bintang Tenggara mencerminkan keraguan. Perkembangan situasi yang tiada terduga. Ia hanya menatap orang tua itu tanpa tahu harus berkata apa. Kaki langit menjadi latar belakang, nan terlihat membentang dari atas bukit. 

“Namaku adalah Ginseng Perkasa...,” ucap orang tua itu, lagi-lagi seolah dapat menebak pikiran. “Banyak ahli yang mengenal diriku sebagai Jenderal Keenam Pasukan Bhayangkara...”

Bintang Tenggara terpana. 

“Diriku juga biasa dijuluki sebagai... Maha Maha Tabib Surgawi.” 



Catatan: 

*) Melati Dara pernah mengatakan memakan Ramuan Pelumat Jiwa dalam Episode 34. 

**) Episode 74. 

***) Dalam bioteknologi, pengklonan (cloning) merujuk pada berbagai usaha yang dilakukan manusia untuk menghasilkan salinan berkas DNA terhadap gen, sel, atau organisme.