Episode 8 - Pulau Asing


Kerumunan pohon kemiri tumbuh menjulang tinggi. Jumlahnya tak terhitung. Dedaunan lebat kerumunan tersebut menjadikan hutan semakin teduh, namun sedikit lembab. Jika diperhatikan baik-baik, maka beraneka jenis serangga akan terlihat sibuk memulai tugas harian mereka, ada yang mengumpulkan makanan, ada yang melindungi sarang. Kicau burung pun sahut-bersahut, entah apa yang mereka bahas pagi ini, pagi kemarin mereka sibuk berdebat tentang siapa yang terbangun lebih dahulu.

 

Cahaya matahari pagi menyapa tanah dan rerumputan melalui celah-celah dedaunan pohon kemiri. Sisa-sisa kabut pun tak lupa disapa. Namun, mungkin karena malu, begitu disapa cahaya matahari, kabut lalu menghilang begitu saja. 

Seberkas cahaya matahari bermain-main ke kelopak mata seorang anak lelaki berusia sekitar 12 tahun. Ia tergeletak sejak petang hari sebelumnya. Pakaiannya lembab, namun wajahnya kemerahan, tidak menunjukkan tanda-tanda dihinggapi penyakit sama sekali. 

Sesekali beberapa ekor monyet menoleh ke arah tubuh tersebut. Ada yang masih di atas pohon, ada pula yang sudah menjejakkan kaki ke tanah. Di antara rasa ingin tahu dan waspada, monyet dengan nyali paling besar pun hanya berani mengambil jarah 3 langkah dari tubuh tersebut.

Kelopak matanya, bergerak perlahan. Sinar matahari yang menyapa, berhasil menarik perhatiannya. 

Dimana ini? tanya Bintang dalam hati. Ia segera bangkit, mengayunkan sendi-sendi tubuhnnya sambil memperhatikan apakah ada cedera di sekujur tubuhnya. Yang ia rasakan hanyalah perasaan lembab dari pakaian yang ia kenakan. 

Ingatan terakhirnya sebelum terbangun adalah ia jatuh ke laut setelah melemparkan tubuh Lamalera ke peledang yang ia naiki sebelumnya. Harusnya ia telah menjadi korban hentakan ekor Paus Surai Naga. 

Pandangannya lalu menyapu sekeliling. Pohon kemiri bukanlah sesuatu yang baru. Seringkali ia berpapasan dengan pohon kemiri saat berlari ke atas bukit, tapi tidak pernah dalam jumlah sepadat ini.

Melihat berkas cahaya matahari, ia sadar bahwa hari masih pagi. Ia mungkin jatuh pingsan semalaman. Di manakah ini? Harusnya ia terbawa arus dan tersadarkan diri di pesisir pantai, bukan di tengah hutan. 

Apakah ada yang menyelamatkan jiwaku? Pandangannya sekali lagi menyapu sekeliling, mencari tanda-tanda kehidupan manusia. Tatap matanya lalu berpapasan dengan sekawanan monyet berwarna cokelat. 

“Apakah kalian tahu dimana ini?” tanyanya dengan sopan. Berharap bahwa ini adalah dunia khayal, dimana monyet bisa berbicara, karena sesungguhnya ia telah mati. Kematian adalah jawaban paling masuk akal dari seluruh rangkaian kejadian ini.

Sekawanan monyet hanya menatap dirinya, tanpa memberi jawaban. Bintang dan monyet-monyet saling tatap. Tak lama, menyesali tindakannya, Bintang menghela napas panjang lalu mencari cara lain untuk memastikan dimana dirinya kini berada. 

Dari posisi matahari dan aliran air, Bintang tau bahwa ke utara berarti arah laut, dan ke selatan adalah arah pegunungan. Dalam keadaan seperti ini, sebagai anak pantai, maka seharusnya ia menuju ke arah laut, lalu mencari petunjuk lebih jauh di sana. Namun, sedari sadar tadi, ada perasaan berbeda dari dalam dirinya. Ia seolah merasakan sesuatu dari arah gunung, semacam tekanan yang tak bisa ia jelaskan.

Tekanan tersebut tidak menandakan bahaya. Tidak pula tekanan yang berupa panggilan atas dirinya. Perasaan seperti ini tidak pernah ada sebelumnya. Sungguh menumbuhkan rasa penasaran. Bintang, meski demikian, melangkah kaki sambil menghitung setiap langkah ke arah pantai. Di wilayah yang tak ia kenal, lebih baik waspada, pikirnya.

Lebih dari satu jam berlalu sejak Bintang tiba di hutan. Kini ia berada di pesisir pantai. Garis pantai, di kiri dan kanannya, panjang sejauh mata memandang. Tetumbuhan yang hidup di sepanjang pantai tidak jauh berbeda dari Pulau Paus. Sengat terik matahari pun sama. Pulau ini bukanlah Pulau Paus, tapi setidaknya masih dalam wilayah yang sama, simpulnya. Pulau ini asing, tapi terasa tidak asing. Apakah Pulau Sabana atau mungkin Pulau Kuda? 

Sambil mencari sempalan perut, Bintang masih tidak menemukan tanda-tanda kehidupan manusia. Mungkin ada kehidupan di sisi lain pulau ini, pikirnya. Mengingat garis pantai yang panjang, Bintang berpikir untuk menuju sisi lain pulau melalui hutan dan gunung. Mungkin saja ada kehidupan di tengah pulau. Selain itu, sambil menuju sisi lain pulau, ia juga bisa memeriksa tekanan yang masih samar-samar ia rasakan dari sisi tengah pulau. Sekali merengkuh dayung, dua-tiga pulau terlampaui, pikirnya. 

Enam jam berlalu sejak Bintang tersadar di pulau ini. Ia kini berjalan menyusuri semak-semak. Langkahnya mulai menanjak. Tumbuhan mulai jarang terlihat dan udara semakin menipis. Ia enggan melangkah lebih jauh karena saat ini berada di perbatasan vegetasi. 

Berdasarkan ilmu alam yang pernah ia baca, batasan vegetasi adalah wilayah perbatasan antara kawasan hutan dan puncak gunung, yang ditandai oleh daerah berpasir, berkerikil atau penuh bebatuan. Wilayah ini sering dituruni kabut yang membatasi jarak pandang, sehingga cenderung berbahaya, apalagi pada malam hari. 

Tanpa sadar, benaknya membayangkan sang ibu. Apakah Bunda akan bersedih karena merasa kehilangan dirinya? Tentu Bunda bersedih, oleh karena itu aku harus kembali dalam keadaan selamat.

Bintang memilih bersabar. Ia kembali ke hutan untuk menghabiskan malam di sana. Besok pagi-pagi aku akan naik ke puncak. Dari atas sana, pastinya akan terlihat pemandangan seputar pulau, dan mungkin pulau-pulau lain di sekitar sini.

Sebelum matahari terbit, Bintang telah bangun dari tidurnya. Ia menghabiskan malam di atas pohon. Setelah menyantap sarapan buah-buah liar seadanya, yang ia kumpulkan pada petang sebelumnya, Bintang memulai lagi perjalanan mendaki.

Hanya tiga jam perjalanan, Bintang telah tiba di puncak. Di sisi dalam puncak, adalah kawah bekas gunung berapi. Anehnya, kawah tersebut membentuk telaga yang luas. Tidak hanya satu telaga saja, tetapi tiga telaga. Dua telaga berdampingan satu sama lain, sedangkan yang ketiga sedikit lebih jauh ke arah barat. Anehnya lagi, ketiga telaga tersebut memiliki warna yang berbeda-beda. 

Tekanan yang ia rasakan sebelumnya semakin menguat. Bintang menyapu pandang dan samar-samar melihat ada sebuah gua di antara dua telaga pertama dan telaga ketiga. Dari arah sanalah tekanan itu terasa berasal. 

Keraguan melanda benak Bintang. Apakah sebaiknya ia menuju gua tersebut. Atau mengurungkan saja niatnya, dan menuruni sisi utara puncak menuju sisi lain pantai. Dari puncak tidak kelihatan ada tanda-tanda kehidupan manusia di sisi selatan pulau. Sambil beristirahat ia mengamati arah ke gua yang dikelilingi tebing terjal dengan saksama. 

Akhirnya Bintang memutuskan untuk menuju gua. Ia berencana mengamati saja isi dalam gua dari luar. Jika berbahaya, ia akan segera melarikan diri. Ia percaya pada kemampuan larinya. Ia telah cukup beristirahat dan menghapal rute lari. Kalau pun yang keluar dari dalam gua adalah binatang siluman yang dapat terbang, ia akan melompat ke telaga, bila binatang siluman darat yang dapat berlari kencang, maka melompat ke telaga pun bisa. 

Hanya saja, sekarang ia harus memastikan bahwa telaga-telaga tersebut cukup aman untuk direnangi. Bahwa di dalamnya tidak ada binatang siluman yang berdiam. Percuma saja bila keluar dari kandang harimau, untuk kemudian masuk ke kandang singa, pikirnya.

Dua telaga yang berdampingan tersebut berwarna merah dan biru. Ia telah menyadari perbedaan warna sedari tadi, sejak berada di puncak. Setelah dihampiri, nyatanya perbedaan bukan hanya terletak pada warna, tapi juga pada suhu air telaga. Air di telaga berwarna merah suhunya panas, di tengah-tengah telaga terlihat jelas air bergelegak tanda mendidih. Sedangkan telaga berwarna biru bersuhu dingin dan ditengahnya terdapat bongkahan es yang mengapung. Sungguh aneh, dua telaga yang berdampingan bisa memiliki suhu yang sangat ekstrim berbeda. 

Jadi, sekarang tidak mungkin memanfaatkan kedua telaga ini sebagai tempat untuk melarikan diri atau bersembunyi, pikir Bintang. Telaga ketiga, pikirnya lagi, cukup jauh dan mungkin sama berbahayanya. Lebih cepat dan mudah bila ia melarikan diri dan bersembunyi ke arah hutan di sisi selatan.

Setelah menghitung langkah dan memperkirakan waktu tempuh, dengan demikian, rencana telah tersusun. Sungguh persiapan yang panjang.

Bintang menghela napas sambil memantapkan dirinya. Ia berjalan ke arah mulut gua. Jarak semakin memendek. Ia berada hanya sekitar 10 m dari mulut gua. Tekanan yang ia rasakan semakin besar. Akibat tekanan tersebut, sekujur tubuhnya berkeringat.

Kini ia berada tepat di mulut gua. Dengan tekanan seperti ini, sulit baginya melarikan diri dengan kecepatan tinggi bila ada bahaya mengancam.

“Lama sudah tiada tamu yang bertandang.” 

Bintang terkejut. Suara yang berat, seperti berasal dari orang tua, sama beratnya dengan tekanan yang kini Bintang rasakan, bergema. 

“Hai, anak muda. Masuklah!”