Episode 35 - Garis Depan



Jikalau situasi sekarang diumpamakan sebagai kerucut, maka barangkali Red dan kawan-kawan telah sampai di pucuk runcingnya. Terus-menerus, kemampuan mereka diuji oleh seseorang yang punya daya tahan tubuh tinggi. Atau, paling tidak, Roland adala salah satu lucid dreamer yang punya lucidity berpuluh-piuluh kali lipat banyaknya. 

Lihat saja! Rasanya sudah cukup lama mereka memojokkan lelaki kekar itu. Namun, dia selalu saja sukses mencari celah, meski belum berhasil merangsek keluar dari pengaruh skill Red.

“Tidak ada kabar dari garis depan,” ujar Fasha kian cemas. “Saat kita dibuat kewalahan oleh satu orang, aku jadi khawatir kepada teman-teman kita yang harus menghadapi tujuh musuh sekaligus.”

“Apa-apaan kau?! Asrama malam diisi oleh orang-orang kuat, bersolidaritas tinggi. Jadi, tak perlu khawatir, Fasha! Mereka pasti berhasil.” Red protes.

“Semoga saja,” lirihnya, seketika terkaget-kaget. “Arah jam dua belas!”

“Bagus! Reflect Eyes!”

Satu lagi golem yang terpotong pergerakannya. Satu pula kesempatan Roland untuk bertempur di luar portal lenyap. Mereka benar-benar bekerja keras, tiada yang berpangku tangan. Bahkan, kali ini Sarasvati tampak menghimpun lucidity guna memberi serangan dahsyat kepada golem-golem yang teramat menyebalkan itu.

“Ganesha!” serunya, bersanding dengan Sang gajah putih di sisi kiri, memikul gada emas. “Habisi para pengganggu!”

Ganesha membungkuk, menguatkan pijakan, lalu memelesat ke sepanjang jalur penuh golem. Bagaikan tikus mungil, golem-golem tersebut berhamburan, menggali tanah dengan segenap kemampuan mereka agar terbebas dari musuh. Akan tetapi, Ganesha bukanlah gajah lamban. Dengan sigap, guardian jempolan itu melibas tiga ekor golem punggung berlumut menggunakan gadanya.

BRAK!

Ketiganya terpental, serta-merta menabrak pepohonan sejauh dua meter. Ada bekas terpa angin di tanah, sangat besar, nyaris menyerupai busur panah. Ganesha terbukti bersungguh-sungguh meladeni makhluk yang sebenarnya tak pantas bersanding dengan dirinya.

“Lima golem lagi. Arah jam tiga!”

“Reflect Eyes!”

Ganesha lagi-lagi meluncur ke depan, menghampiri sekumpulan golem yang barusan menerobos tanah. Tanpa basa-basi, Sang gajah mengayunkan gada emas hingga dua di antaranya harus rela terombang-ambing di udara.

“Bagus!” sanjung Red sumringah. “Kita masih punya kesempatan.”

“Arah jam delapan!”

“Reflect Eyes!”

Persaingan belum sepenuhnya berakhir, kendati Roland sama sekali tidak diuntungkan dalam kondisi semacam ini. Terlebih, tatkala jumlah golem yang menjadi media teleportasinya menyusut drastis. Ganesha memang menghabisi sebagian besar dri mereka, tetapi sebagian lagi menghilang secara misterius. Tidak terlacak oleh indra sensorik Fasha, baik di permukaan atau di dalam tanah, yang jelas kini tersisa satu ekor lagi.

“Tidak ada golem yang muncul lagi. Semuanya lenyap.”

“Benarkah? Apa kita berhasil?” Red menyambut antusias.

“Entahlah. Mungkin, hanya mungkin, ini adalah perubahan pola serangan. Musuh tidak seagresif sebelumnya, itu pertanda bagus. Akan tetapi, bisa saja ini jebakan.”

Red bungkam, tiada lagi menggubris pernyataan Fasha yang penuh akan argument. Ia hening, memerhatikan keadaan sekitar, lalu menarik napas dalam-dalam seraya memejamkan mata.

“Di mana golem yang terakhir?” ujarnya kemudian.

“Arah jam satu,” tukas Fasha.

“Reflect Eyes.”

Seisi arena bergetar manakala mata beriris zambrut Red mencalang. Sungguh mengejutkan, bahkan bagi Sarasvati sekalipun. Pasalnya, Reflect Eyes bukan tipe skill yang dapat menimbulkan dampak sedemikian mencolok. Apalagi, tiada kontas fisik. Hanya tatap-menatap.

“Apa itu?” respons Fasha ketar-ketir.

Red tiba-tiba terduduk, seolah tak percaya. Mungkinkah? Saat getaran di arena masih berkalut-kalut, sementara Sang musabab justru terkulai syok. Mengherankan memang, tetapi pasti ada alasan konkret.

“Bu-bukan aku,” sahut Red, menengadah ke angkasa, memandang awan yang berarak ke tengah arena. “Musuh kita tidak sendirian.”

Dahi Fasha mengernyit, kentara di balik paras elok khas gadis Eropa. Rasanya agak mengecewakan, saat tahu dampak yang sedemikian besar ini bukan ulah rekan setimnya. Lalu ulah siapa? Sebilah pedang, putih lagi bersinar-sinar memelesat ke langit, sungguh cepat. Semua mata terpaku padanya, terutama pada gagang berkemilau emas itu.

“Dia menciptakan semacam pelindung kuat untuk menangkal Reflect Eyes,” ujar Red seraya bangkit perlahan-lahan. “Apakah indra sensorikmu tidak menyadarinya, Fasha?”

“Ti-tidak, bahkan golem-golem pun tidak terdeteksi lagi.”

“Apa-apaan ini!” ketus Red. “Kita berhadapan dengan musuh yang salah.”

Sejurus dengan tanda tanya besar yang melanda hati setiap kontestan, sebuah portal hitam merebak, meludahkan Roland ke tanah kelabu. Lelaki keras kepala itu akhirnya tumbang, terkapar lemas di tengah sergapan punggawa asrama malam. 

“Dia tidak melawan,” tukas Fasha.

“Sesuai dugaanku. Lucidity-nya sudah habis.” Red menimpali. “Menggunakan skill dan army sekaligus bukan strategi yang bagus. Meskipun cukup merepotkan.”

“Aku mengerti!” Fasha Si gadis Skotlandia terbeliak. “Kau ingin menguncinya di dalam portal menggunakan Reflect Eyes ketika tidak ada golem yang tersisa. Namun, ada pelindung gaib yang tiba-tiba muncul.”

“Kurang lebih seperti itu.”

“Da-dasar Igor tengik! Dia meninggalkanku sendirian!” Roland meracau sementara matanya tinggal segaris.

Satu hama berhasil dibasmi, tinggal menunggu hasil pertempuran di garis depan. Cukup lama semenjak pemberitahuan terakhir mengenai kondisi menara musuh. Dan, pedang yang sempat mengguncang arena pun telah lesap dari pandangan, begitu pun getarannya. 

Apakah situasi akan berangsur membaik? Bagi Red, tiada waktu untuk berlama-lama atau menunggu sambil gigir jari. Dia musti maju, membela tim, hingga akhirnya merubuhkan menara kebanggaan musuh.

“Aku berangkat.”

“Tu-tunggu! Kau mau ke markas musuh?” sergah Fasha.

“Tidak ada pilihan lain. Sebagai ketua asrama malam, aku dituntut mengelola timku sebaik mungkin.” Red menyunggingkan senyum tipis. “Jaga markas baik-baik. Kita akan menang secepatnya.”


~~Para Pengendali Mimpi~~


Pepohonan berderak, kawah-kawah besar menghiasi jalan menuju markas asrama pagi. Dentum nyaring, denting pedang, dan segala macam bebunyian destruktif lainnya mengisi hiruk-pikuk arena kala itu.

“Maju! Maju! JANGAN MUNDUR!” Seorang bocah, sebab ukurannya terbilang kerdil, berteriak memecah huru-hara pertempuran. Kesepuluh jemarinya bertautan, serta-merta menggiring ratusan sulur perak ke arah para penyerbu. “BANTAI HABIS MEREKA!”

Salah satu anggota asrama malam—berbadan gempal lagi jangkung—nyaris terjerat. Untungnya, ia sempat menciutkan tubuh sampai seukuran ranting, lalu meluncur ke tengah pergelutan dahsyat. 

Tujuh melawan empat, asrama malam terbukti kalah jumlah. Belum lagi menyangkut kemampuan setiap petarung yang mungkin jadi kelewat unggul, mereka benar-benar butuh bantuan. Si pemuda ranting menyelip rekan-rekan di depannya, hingga berada di tengah wilayah perseteruan dua kubu. Secepat kilat, ia melebarkan tubuh jangkungnya, lalu mengangkat lengan kanan tinggi-tinggi.

“RAGNAROK!” serunya.   

Sebilah jarum, hampir-hampir menyerupai tusuk gigi melayang-layang di genggaman Si pemuda ranting. Desau angin bekas ledakan misil sempat memaksanya mundur, tetapi sedetik kemudian, orang itu bergerak cepat, mendahului rekan demi rekan, hingga akhirnya kembali ke posisi awal seraya melempar jarum tersebut.

“MUNDUR!”

“LARI! CEPAT!”

“JANGAN LENGAH!”

Bergetar-getar, jarum bernama Ragnarok itu sgeera menancap di tanah. Belum genap langkah para musuh, tiba-tiba jarumnya sudah jadi sebesar menara dan memancarkan sinar kelam. Punggawa asrama malam yang lain spontan bertindak ofensif. Mereka berlarian menyerbu pelindung menara asrama pagi setelah mendapat pasokan energi dari Ragnarok.

“Kita akan menang!” Si pemuda ranting berteriak kegirangan sambil berjingkrak-jingkrak.

Terpukul mundur, asrama pagi berusaha membalik keadaan. Lima orang menyerang dengan segenap kemampuan yang mereka miliki. Weapon, guardian, hingga skill turut dikerahkan demi melindungi menara. Namun, tatkala mendekati Ragnarok, semuanya lesap tak berbekas. Dan, buruknya lagi, kekuatan pungawa asrama malam kian menjadi-jadi.

Ragnarok sudah bagaikan alat pembawa kiamat. Meski tidak menyerang secara terang-terangan, jarum tersebut dianugerahi fungsi yang super berbahaya. Setiap orang yang ditandai Si pemuda ranting sebagai rekan akan mendapat tambahan lucidity, sementara bagi yang didakwa sebagai musuh, lucidity mereka akan diserap apabila berada dalam jangkauan Ragnarok.

“Shota!” seru seorang lelaki berperawakan tegap. Penuh karisma, apabila menilik zirah putih bercahayanya. “Gunakan sulur perakmu untuk meruntuhkan jarumnya!”

“Siap!” Si bocah pengendali sulur perak sebelumnya segera berjongkok di depan menara asrama pagi seraya menyapu telapaknya ke permukaan tanah. “Maju! Maju! JANGAN MUNDUR!”

Sulur-sulur perak merayap pelan mendekati Ragnarok. Shota pikir dirinya akan berhasil, tetapi Si pemuda ranting takkan sudi dikadali oleh bocah sok hebat. Tersenyum lebar, dia mengepalkan tangan kiri kuat-kuat, bersiap melakukan sesuatu.

Tatkala Shota mengira itu adalah serangan fisik, ia spontan menggiring sulur besi ke hadapan Si pemuda ranting. Layaknya ular buas, sulur-sulur itu coba melilit tubuh mangsanya. Kaki, mulanya, lalu ke tangan, hingga tubuh Si pemuda ranting terbebat seutuhnya. Tiada perlawanan, bagaimana bisa?

“Jangan panggil aku Gildur kalau tak mampu mengatasi cacing-cacing kecil ini,” katanya seraya terbahak. 

Sontak saja, tubuh Gildur mengembang jadi dua kali lipat ukuran semula, memutus sulur-sulur perak yang bersikeras melilitnya. Shota terperangah, jelas dia salah memilih lawan. Namun, bocah berambut merah itu enggan menyerah. Berbekal semangat balas dendam, ia melancarkan lebih banyak sulur perak ke arah Gildur.

“Dasar keras kepala!” Lelaki tinggi-besar itu kini mencengkeram salah satu sulur lalu menariknya sekuat mungkin. Layaknya akar pepohonan, sejauh tiga meter ke depan, tanah jadi bengkang akibat sulur Shota yang terangkat ke luar.

“Gawat! Gawat!” Dia berdiri panik sembari merogoh ransel kulit beruang yang disandangnya. “Aku tidak boleh kalah,” ujarnya, gemetaran menabur merica dari botol kecil ke salah satu sulur perak.

Entah apa yang ada di pikiran bocah dua belas tahun itu, yang jelas dia tampak antusias sehabis memasukkan kembali botol mericanya ke dalam ransel. Tak sampai semenit, usaha Shota mulai menampakkan hasil. Gildur tersentak manakala sulur perak yang dipegangnya menyala-nyala. Lebih buruk lagi, telapak tangannya kini dijalari rasa nyeri serta panas. Tentu, dia sepakat membiarkan sulur yang satu itu melarikan diri.

“Dasar bocah licik!” umpatnya seraya mengusap permukaan Ragnarok. Nyerinya langsung sirna. “Aku tak terkalahkan.”

“Ba-bagaimana ini, Kak Bane?” Shota melirik pemuda berzirah yang barusan terpukul mundur oleh tim musuh.

“Jarum itu adalah masalah terbesarnya. Bagaimanapun caranya, kita harus melewati musuh-musuh yang menghadang, lalu menghancurkannya.”

“Rasanya, lucidity-ku tinggal sedikit.” Shota menunduk kecewa. “Pertempurannya terlalu lama.”

“Kau benar. Aku juga demikian.” Bane mendecak kesal. “Tapi, kita tak punya pilihan. Akan kutahan musuh sebisa mungkin. Sementara itu, teruslah berusaha menyerang jarum itu.”

Semuanya terasa menyakitkan bagi Shota. Soal semangat rekan-rekannya, soal kubu musuh yang kelewat hebat, sampai persoalan tentang dirinya sendiri. Dipercaya sebagai pelindung sekaligus penyerang, ia benar-benar bangga. Namun, di balik kebanggaan selalu ada risiko.

“Masa bodoh! Maju! Maju! JANGAN MUNDUR!”