Episode 163 - Kelinci Percobaan


“Bangsaaaat!” 

Di dalam sebuah ruangan temaram, seorang lelaki dewasa bertubuh gempal berteriak sekuat tenaga. Tubuhnya terpasung. Kedua tangan dan kakinya diikat menggunakan borgol. Seberapa pun besar upayanya meronta-ronta, tiada dapat ia melepaskan diri.

“Lepaskan aku!” 

Berteriak dan menyumpah adalah satu-satunya kemampuan yang dimiliki oleh lelaki dewasa itu. 

“Kau tak tahu sedang berurusan dengan siapa! Aku adalah Saudagar Senjata Malin Kumbang!” hardik lelaki berkepala gundul itu.

“Lintang Tenggara! Bangsat! Lepaskan aku!”

...


Beberapa malam sebelumnya... 

“Tuan Bupati Selatan Pulau Lima Dendam... Mengapakah engkau mengikuti diriku...?”

“Ada hal yang hendak diriku bicarakan empat mata,” ucap Lintang Tenggara dengan wajah serius. 

“Perihal apakah gerangan...?” 

Menatap Lintang Tenggara yang memasang wajah serius, Saudagar Senjata Malin Kumbang merasa bahwa ada sesuatu yang teramat penting. Sebagai seorang saudagar, adalah kewajiban dirinya untuk mendengarkan calon pelanggan. Siapa tahu, mungkin ada yang dapat ia bantu... dengan harga yang sepadan sudah barang tentu. 

“Sudikah Tuan Saudagar Senjata mengikuti diriku sejenak...?”

Saudagar Senjata itu pun mengibaskan tangan ke arah anak buahnya. “Kurus Kerempeng... kau pergilah telebih dahulu. Teruskan menelusuri jejak si Perawan Putih. Aku hendak menemani Tuan Bupati Selatan Pulau Lima Dendam.” 

Setelah itu, Malin Kumbang mengikuti langkah Lintang Tenggara. Karena masih berada di dalam wilayah Ibukota Kerajaan Garang, tentunya ia merasa aman dan tiada curiga. Lagipula, ditilik dari peringkat keahlian, dirinya berada pada Kasta Perak Tingkat 9, sedangkan Lintang Tenggara hanya berada pada Kasta Perak Tingkat 1. Walaupun bukan petarung, Malin Kumbang cukup percaya diri dapat mengalahkan Lintang Tenggara dengan mudah dalam adu kekuatan. Jarak yang memisahkan mereka terpaut terlalu jauh. 

Lintang Tenggara membawa Saudagar Senjata Malin Kumbang keluar dari tembok yang mengelilingi Ibukota Kerajaan Garang. Keduanya sudah berada di wilayah perbukitan. Suasana malam demikian sunyi lagi sepi. 

“Apakah perlu sampai sejauh ini...? Apakah yang hendak dibicarakan...?” ujar Saudagar Senjata Malin Kumbang, yang mulai merasa kurang nyaman. 

“Ada yang hendak diriku tunjukkan...,” sahut Lintang Tenggara tanpa menghentikan langkah. “Sedikit saja lagi....” 

Lintang Tenggara lalu telihat celingak-celinguk ke kiri dan kanan. Ia menebar mata hati sejauh mungkin, memastikan tak ada ahli di dekat mereka. Lelaki dewasa muda dengan aura terpelajar itu lalu meletakkan sebuah kotak persegi seukuran dua kepalan tangan ke atas tanah. 

“Segel Kamar Kosong!” ujar Lintang Tenggara. Tangannnya terlihat lincah merapal sebuah formasi segel. 

“Hah!” Saudagar Senjata Malin Kumbang tiada dapat menyembunyikan keterkejutan dirinya. Tetiba dirinya berada di dalam sebuah formasi segel berbentuk persegi yang cukup luas. Setiap satu sisi saja membentang sejauh belasan meter. 

“Ini adalah....” Lelaki dewasa berkepala gundul itu segera melangkah keluar dari wilayah Segel Kamar Kosong. Di luar, ia membelalakkan mata dan menebar mata hati, namun tiada dapat melihat dan merasakan keberadaan Lintang Tenggara! 

Lintang Tenggara lalu membatalkan Segel Kamar Kosong. Posisi ia berdiri tiada berubah sama sekali. Saudagar Senjata Malin Kumbang takjub. 

“Tuan Lintang Tenggara tidak hanya membuat kamar untuk menyembunyikan keberadaan mustika tenaga dalam seperti yang ditunjukkan di Kantor Perwakilan tadi... Akan tetapi, ‘kamar’ tersebut juga dapat dibawa-bawa sesuka hati... Sungguh penemuan yang luar biasa!” 

“Benarkah demikian...? sahut Lintang Tenggara tersipu malu.

“Tentu saja! Bayangkan... sebuah pasukan tempur bilamana dilindungi Segel Kamar Kosong ini, maka mereka tiada akan dapat terdeteksi oleh musuh. Penyerangan pasukan besar dapat dilakukan secara sembunyi-sembunyi!” 

“Oh...? diriku tiada pernah terpikir sampai sejauh itu...” 

“Tunjukkan lagi... Diriku ingin melihat Segel Kamar Kosong itu sekali lagi!” Semangat Saudagar Saudagar Senjata Malin Kumbang menggebu. 

Lintang Tenggara kembali merapal Segel Kamar Kosong memanfaatkan kotak persegi sebagai medium. “Akan tetapi, masih ada beberapa kelemahan dari Segel Kamar Kosong ini...,” ucapnya pelan. 

“Tiada mengapa. Apa pun itu kelemahannya, diriku yakin bahwa Tuan Lintang Tenggara akan dapat menyempurnakan Segel Kamar Kosong ini.” Di dalam benaknya, si Saudagar Senjata sudah mulai membayangkan kepada siapa saja segel tersebut dapat ditawarkan, serta menghitung berapa besar keuntungan yang dapat ia raup! 

Sebuah simpul senyum menghias sudut bibir Lintang Tenggara. Ia kemudian mengangkat kedua tangan, dan membuka telapak tangan ke arah lelaki dewasa di hadapannya. “Bila demikian...” 

Daya Tarik Bumi, Bentuk Pertama: Tangan Menggenggam Tangan!

Saudagar Senjata Malin Kumbang tetiba merasakan sekujur tubuhnya terasa berat sekali. Kedua matanya menangkap sepasang telapak tangan ilusi yang demikian besar menggenggam tubuhnya erat dan menarik paksa ke arah bawah. 

Malin Kumbang terkejut bukan kepalang. “Tuan Lintang Tenggara, apakah maksud dari tindakanmu ini!?” 

Lintang Tenggara bahkan tak merasa perlu menjawab. Cukup sudah basa-basi yang keluar dari mulutnya. Kini, adalah saatnya menangkap seekor kelinci percobaan. 

Aksamala Ganesha!

Sembilan manik-manik dari seutas tasbih yang melingkar di pergelangan tangan kiri melesat terbang. Seketika itu juga, setiap satu manik-manik berubah menjadi sebesar buah semangka. Senjata Pusaka Kasta Emas! 

“Hraghh!” Saudagar Senjata Malin Kumbang meledakkan tenaga dalam. Baginya, tidaklah mungkin jurus unsur kesaktian, walau memiliki wujud, dapat menahan dirinya terlalu lama. Perbedaan mustika tenaga dalam di antara mereka terpaut terlalu jauh! 

“Duar! Duar! Duar! Duar!” 

Manik-manik hitam dan besar bertubi-tubi menghantam tubuh Saudagar Senjata Malin Kumbang! Ia berupaya melindungi bagian vital, namun hantaman yang sambung-menyambung tiada berhenti, membuat ia jatuh berlutut. 

“Duar! Duar! Duar! Duar!” 

Saudagar Senjata Malin Kumbang berada pada Kasta Perak Tingkat 9 karena banyak mengkonsumsi ramuan sakti. Ia tiada mendalami persilatan dan kesaktian sebagaimana banyak ahli. Jikalau saja ia mendalami persilatan dan kesaktian, pastilah ia memahami bahwa kemampuan tempur seorang ahli tidak serta-merta ditentukan oleh kasta dan peringkat. Jenis jurus, senjata, serta pengalaman dan taktik bertarung, adalah penentu utama. Andai saja ia tahu, bahwa tokoh sekelas Sangara Santang yang berada pada Kasta Emas Tingkat 1, sangat berhati-hati terhadap Lintang Tenggara. Meski berada pada Kasta Perak Tingkat 1, putra pertama Balaputera dan Mayang Tenggara tersebut dapat bertarung dengan ahli Kasta Emas! 

“Hentikan tindakanmu ini!” rintih Saudagar Senjata Malin Kumbang. Di saat yang sama, ia mengeluarkan sebuah sebuah cangkang siput dari dalam cincin Batu Biduri Dimensi. Cangkang siput itu lalu membentuk semacam dinding pelindung tak kasatmata yang melingkari tubuhnya. 

“Duar! Duar! Duar! Duar!” 

Hantaman manik-manik tasbih Aksamala Ganesha tertahan dinding transparan. Akan tetapi, Saudagar Senjata Malin Kumbang tahu betul bahwa tembok pelindung tersebut tak akan bertahan lama. Ia menatap tajam ke arah Lintang Tenggara. 

“Apa yang kau inginkan!? Keping-keping emas!?” 

“Duar! Duar! Duar! Duar!” 

Raut wajah Lintang Tenggara datar. Dingin. Berkat Segel Kamar Kosong, tiada akan ada ahli yang menyadari bahwa sedang terjadi pertarungan di batas luar Ibukota Kerajaan Garang. Pandangan, suara dan mustika tenaga dalam diasingkan dari wilayah luar formasi segel. 

“Duar! Duar! Duar! Duar!” 

Aksamala Ganesha terus-menerus dan tanpa henti menghujam dinding transparan yang melindungi Saudagar Senjata Malin Kumbang. Lelaki itu tak memiliki banyak waktu lagi. Ia lalu menyeluarkan sebuah buntelan, dari dalamnya berpendar sebuah... lorong dimensi!

Sebagai ahli yang tiada mendalami persilatan dan kesaktian... sebagai saudagar yang memperdagangkan senjata... tentunya Malin Kumbang membawa bersama dirinya berbagai macam peralatan. Ia hendak melarikan diri menggunakan lorong dimensi ruang. 

“Prang!” 

Belum sempat lorong dimensi rampung, dinding pelindung hancur berantakan. Wajah Saudagar Senjata Maling Kumbang panik bukan kepalang. 

“Duar! Duar! Duar! Duar!” 

Aksamala Ganesha menghujam deras. Kecepatan dan kekuatan hantaman berlipat ganda. Lelaki dewasa bertubuh gempal tertelungkup tiada berdaya. Sekujur tubuhnya memar, beberapa bagian tulang patah, dan ia sudah kehilangan kesadaran akibat rasa sakit yang mendera. 

“Ups....” Lintang Tenggara segera melepas genggaman daya tarik bumi. Ia pun menghentikan hantaman Aksamala Ganesha. “Jangan sampai aku tiada sengaja membunuh kelinci percobaan...,” gumam Lintang Tenggara memeriksa tubuh Saudagar Senjata Malin Kumbang yang tergeletak tiada berdaya. 

Lintang Tenggara lalu mengeluarkan sebuah buku dan membolak-balik halaman. Ia kemudian menendang tubuh tak berdaya Saudagar Senjata Malin Kumbang ke dalam lorong dimensi yang berpendar. 

...


“Oh... kau sudah sadarkan diri rupanya...?” sapa Lintang Tenggara ringan. 

“Bangsat! Kau kira dapat menahan aku berlama-lama...?” Saudagar Senjata Malin Kumbang lalu menebar mata hati dan berupaya mengerahkan unsur kesaktian miliknya...

“Hehe...” Lintang Tenggara tertawa ringan. 

“Apa...? Apakah ini!?” 

“Hehehe... unsur kesaktian usia... makhluk hidup yang kau sentuh dapat menua dengan sangat cepat. Sayang sekali wahai Tuan Saudagar Senjata Malin Kumbang... kebetulan aku memiliki beberapa bongkah Intan Abadi...” 

Sudah sejak lama Lintang Tenggara menyadari keunikan unsur kesaktian milik Saudagar Senjata Malin Kumbang. Lelaki dewasa berkepala gundul itu memiliki kesaktian unsur usia yang teramat langka. Makhluk hidup yang bersentuhan dengan ahli yang memiliki unsur kesaktian ini... akan menua dengan cepat. Sedangkan untuk benda mati, Saudagar Senjata Malin Kumbang perlu mengerahkan unsur kesaktiannya. Benda-benda mati akan menjadi lapuk dan pada akhirnya hilang menjadi debu, lalu lenyap disapu angin. 

Meskipun demikian, kemampuan unsur kesaktian usia, tiada berguna di hadapan Intan Abadi. Sebagaimana diketahui, Lintang Tenggara memiliki beberapa bongkah Intan Abadi yang ia bawa pulang dari Alas Roban.

“Bangsat!” 

“Dahaga untuk meneliti unsur kesaktian usia sudah terasa sejak lama. Siapa nyana, dirimu datang menawarkan diri seperti ini.” Lintang Tenggara terlihat seperti hendak melahap Saudagar Senjata Malin Kumbang. 

“Hentikan tindakanmu ini! Aku bersedia membayar!” Teriakan setengah putus asa mulai terdengar. 

Lintang Tenggara, bila tidak dapat melepaskan diri dari Segel Mustika, hanya memiliki sisa usia beberapa puluh tahun. Dengan demikian, ia sangat hendak meneliti, lalu mengembangkan kemampuan ‘mencuri usia’ milik Saudagar Senjata Malin Kumbang!

“Lepaskan aku!” 

“Kakak Lintang Tenggara...,” tetiba seorang remaja melangkah masuk ke dalam ruang penyekapan. 

“Ada apakah gerangan, Anjana...?”

“Apa yang akan kita lakukan terhadap gadis itu...?” bisik Anjana. 

“Hm... sepertinya diriku harus terlebih dahulu menunaikan janji, sebelum dapat memulai penelitian ini...” 


===


Kum Kecho, Melati Dara, Dahlia Tembang, diikuti seorang gadis bertubuh bongsor dan berambut pendek, baru saja melangkah masuk ke dalam gerbang rusak Persaudaraan Batara Wijaya. 

Puluhan mata menatap ke arah mereka. Lebih tepatnya, puluhan mata menatap ke arah Seruni Bahadur yang melangkah paling belakang. Gadis tersebut tiada lagi lumpuh. Tambahan lagi, yang paling mencengangkan, bahwasanya Seruni Bahadur sudah berada pada Kasta Perak Tingkat 1!” 

Rangga Lawe berlari secepat mungkin menuju kelompok yang baru saja tiba. “Apakah gerangan yang terjadi!?”

Sejumlah Guru dan Maha Guru membalap langkah Rangga Lawe guna mendatangi Kum Kecho. Bagaimana mungkin Seruni Bahadur yang lumpuh karena tak sengaja membuka kemampuan siluman dapat sembuh!? Hanya dalam selang waktu sepekan pula! 

Apakah mereka bertemu dengan Maha Maha Tabib Surgawi!? Apakah mereka mendatangi Petaka Perguruan Gunung Agung di Partai Iblis!? Apa pun itu, harus ditanyakan langsung kemana Kum Kecho dan rombongannya berkunjung selama sepekan terakhir! 

Baru saja sekelompok Guru dan Maha Guru hendak menghampiri Kum Kecho, sebuah suara menggelegar bergema di seantero Persaudaraan Batara Wijaya. Suara tersebut datang dari luar pintu gerbang nan porak-poranda. 

“Kami, para Tetua dari Perguruan Maha Patih di Kota Ahli, memohon kesediaan waktu dari para Tetua di Persaudaraan Batara Wijaya.” 

Perhatian terhadap Kum Kecho dan Seruni Bahadur sirna ketika puluhan ahli dari dalam wilayah Persaudaraan Batara Wijaya melesat tinggi ke udara. Mereka adalah para Sesepuh dan Maha Guru. Para Guru dan Maha Guru yang tadinya mendatangi Kum Kecho pun ikut mengudara, menyadari ada sesuatu yang lebih mendesak. Wajah setiap satu dari mereka menunjukkan kekesalan tiada terperi. Beberapa dari mereka, bahkan siap bertarung! 

“Wahai para Tetua di Persaudaraan Batara Wijaya yang terhormat, kedatangan kami adalah untuk memohon maaf atas tindakan tak bertanggung jawab para murid Kasta Perunggu dari Perguruan Maha Patih. Adalah kelalaian kami yang menyebabkan penyerangan tempo hari!” 

Perwakilan dari Perguruan Maha Patih adalah lima ahli Kasta Emas. Tak diragukan lagi bahwa mereka merupakan ahli-ahli yang mengemban jabatan sebagai Sesepuh dan Maha Guru. Salah satu dari mereka, adalah seorang Ahli Kasta Emas berwajah garang, Maha Guru Kesepuluh Segoro Bayu. 

Perguruan Maha Patih wajib meminta maaf. Kecaman atas peristiwa penyerangan ke Persaudaraan Batara Wijaya banyak berdatangan. Hampir semua pihak mengecam, mulai dari perguruan-perguruan lain, dari Keraton Ayodya Karta yang menaungi Kota Ahli, dari Pemerintah Negeri Dua Samudera, juga dari khalayak umum.

“Enyah kalian!” tetiba terdengar suara serak dan parau dari seorang remaja di depan pintu gerbang.

Seluruh perhatian ahli yang berada wilayah gerbang menatap tajam ke arah... Kum Kecho!

Sejak pertama kali menginjakkan kaki di Persaudaraan Batara Wijaya, Kum Kecho sudah mendengar tentang penyerangan murid-murid Kasta Perunggu dari Perguruan Maha Patih. Menyadari bahwa Persaudaraan Batara Wijaya didirikan sebagai persembahan kepada dirinya, Kum Kecho menilai bahwa tindakan penyerangan tanpa dasar tersebut sangatlah lancang. Ia sudah menganggap Perguruan Maha Patih sebagai musuh yang patut dibinasakan. 

Tambahan lagi... Perguruan Maha Patih... Dari namanya saja Kum Kecho sudah muak sampai hendak memuntahkan darah. Lengkap sudah, kekesalan yang berubah menjadi amarah. 

“Anak muda, kedatangan kami untuk memohon kebesaran hati dari Persaudaraan Batara Wijaya,” ujar Maha Guru Segoro Bayu santun. 

“Aku tiada dapat memahami gonggongan anjing!” tanggap Kum Kecho. 

Suara bergemuruh sontak terdengar dari dalam wilayah Persaudaraan Batara Wijaya. Seperti nyanyian paduan suara yang dikomandoi oleh seorang dirigen, mereka menyambut tanggapan kurang ajar Kum Kecho sebagai sebuah kepatutan. 

Rangga Lawe menatap Kum Kecho. Ia seperti tersihir. Rasa kagum terbersit dari sorot matanya

“Anak muda, kami bersedia menerima hinaan darimu. Kami bersedia memberikan ganti rugi. Kami bersedia melakukan apa saja untuk menebus kesalahan murid-murid Perguruan Maha Patih!” Seorang Sesepuh Perguruan Maha Patih angkat suara. 

“Enyah kalian!” 

“Enyah! Permusuhan di antara kita tak akan lekang dimakan waktu!” 

“Enyahlah dari hadapan kami! Anjing!” 

Teriakan datang bertubi-tubi dari dalam wilayah Persaudaraan Batara Wijaya. Murid-murid Kasta Perunggu yang sempat menjadi bulan-bulanan saat penyerangan, ikut angkat suara. Sangat jarang terjadi, peristiwa dimana ahli Kasta Perunggu menyumpah Ahli Kasta Emas secara blak-blakan. 

“Sahabatku Mahesa Jayanegara,” sapa Maha Guru Segoro Bayu. “Jiwa muda memang sangat mudah tersulut api. Akan tetapi, di antara kita yang lebih dewasa, tentu menginginkan perdamaian di antara kedua perguruan.” 

Maha Guru Mahesa Jayanegara sedang menatap tajam ke arah Kum Kecho. Raut wajahnya menunjukkan ketidaksenangan terhadap anak remaja yang memperoleh dukungan dari dalam perguruan. Ia kemudian menoleh kepada Maha Guru Segoro Bayu. Akan tetapi, tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya. 

Dari dalam wilayah Persaudaraan Batara Wijaya, seorang lelaki tua berambut putih, mengudara perlahan. Suasana menjadi hening ketika sang Pimpinan Persaudaraan Batara Wijaya keluar dari semedinya. Ia lalu menghilang, dan muncul tepat di sebelah... Kum Kecho. 

Kelima Tetua perwakilan dari Perguruan Maha Patih yang berdiri di hadapan gerbang membungkukkan tubuh memberi hormat. 

“Saudara-saudaraku, saat ini bukanlah waktu yang tepat. Pulanglah para Tetua yang terhormat terlebih dahulu. Pada waktunya nanti, kami yang akan datang bertandang...” Pimpinan Persaudaraan Batara Wijaya berujar santun, ditutup dengan senyuman. 

Para Tetua dari Perguruan Maha Patih mengangguk. Meski, benak mereka berkutat antara dua kemungkinan maksud dari ‘datang bertandang’. Apakah dengan niat baik? Ataukah niat buruk...? Meski demikian, mereka sepakat untuk tak memaksa, lalu memohon undur diri. 

“Hari kedatanganku di Perguruan Maha Patih kelak, adalah hari dimana nama perguruan itu dihapus dari Negeri Dua Samudera.” Kum Kecho memutar tubuh, meninggalkan Pimpinan Persaudaraan Batara Wijaya.