Episode 13 - Jurus Iblis Sesat


Seorang pendekar tahap penyucian jiwa memiliki kesaktian yang jauh di luar nalar manusia. Pusaka pemisah alam yang digunakan oleh Sarwo hanya bisa dibuat oleh para pendekar tahap penyucian jiwa. Namun jumlah pendekar tahap itu bisa dihitung jari, bahkan Kinasih sendiri belum pernah bertemu dengan salah seoranpun dari mereka. Ternyata, misteri dunia persilatan jauh lebih dalam dari dugaanku. 

“Ada lagi yang ingin kau tanyakan?” Kinasih menatapku tanpa berkedip. 

“Eh… ya, ada sedikit lagi,” jawabku. 

“Baiklah.” Kinasih masih tak melepaskan pandangan matanya dariku, lalu entah disengaja atau tidak, dia melirik ke arah pintu apartemen. Tapi bagiku, itu adalah isyarat kuat pengusiran diriku. Namun aku secara tak tahu malu tetap mengajukan beberapa pertanyaan lagi pada Kinasih. 

Akhirnya, aku pulang dari apartemen Kinasih pada tengah hari. Ada cukup banyak informasi yang kudapatkan, terutama mengenai dunia persilatan dan Sekte Pulau Arwah. Sekte Pulau Arwah adalah salah satu dari enam kelompok persilatan terkuat di tanah Indonesia. Sayangnya, beberapa waktu yang lalu Sekte Pulau Arwah musnah. Para pengikutnya diburu satu-persatu hingga nyaris tak bersisa.

Pelakunya adalah Istana Teratai Salju, Wangsa Ismaya, Lembah Racun Akhirat, dan Persekutuan Lima Gunung. Mereka termasuk dalam enam kelompok terkuat dunia persilatan, sedangkan yang satunya lagi adalah Perguruan Bratindra. Menurut Kinasih, Perguruan Bratindra tidak ikut andil dalam kemusnahan Sekte Pulau Arwah.  

Sedangkan aku yang tidak tahu apa-apa ikut terseret karena Sadewo yang notabene adalah salah satu tetua Sekte Pulau Arwah menculik diriku dan mewariskan ilmu yang dimilikinya padaku melalui Mantra Pemindah Arwah. Karena itu Sarwo, anggota Lembah Racun Akhirat mengira aku sebagai anggota Sekte Pulau Arwah. 

Namun ada cukup banyak informasi yang tak diungkapkan Kinasih. Seperti alasan kenapa dia menolong diriku, serta kenapa sebagai anggota Istana Teratai Salju dia malah membunuh Sarwo, anggota Lembah Racun Akhirat. Meskipun dia juga tidak mengakui saat kutanyakan apakah dirinya anggota Istana Teratai Salju. Aku menduganya berdasarkan kata-kata Sarwo kemarin. 

Selain itu, menurut Kinasih, hanya Lembah Racun Akhirat yang sanggup mendeteksi karakteristik tenaga dalam dari jauh. Itupun tidak semua anggota mereka bisa melakukannya. Tapi Kinasih menekankan agar aku sangat waspada terhadap kemungkinan keberadaanku tercium kembali oleh orang Lembah Racun Akhirat.

Aku duduk dengan sedikit tertunduk di dalam bis, jujur saja, sekarang aku menjadi sedikit paranoid. Setiap beberapa detik aku melirik ke kiri dan kanan, khawatir kalau-kalau ada anggota Lembah Racun Akhirat yang mengintaiku. Sialnya, sekarang masih belum waktunya pulang sekolah, aku jadi tidak bisa langsung pulang ke rumah. Akhirnya kuputuskan pergi ke tempat dimana aku merasa aman, toko buku. Yap, entah kenapa, aku punya kecenderungan menyendiri. Seringkali aku pergi ke toko buku sendirian dan membaca buku-buku disana seharian penuh. 

Beruntung sebelum pergi dari apartemen Kinasih aku minta diperbolehkan berganti pakaian bebas. Jadi tak perlu khawatir mengundang terlalu banyak perhatian karena pakaian seragam sekolah. Seperti sebelum-sebelumnya, aku menyepi di toko buku mall hingga menjelang sore. Lalu setelah kira-kira jam pulang sekolah, aku segera ke toilet dan mengganti pakaianku dengan seragam sekolah, lalu dengan percaya diri kembali ke rumah seakan baru saja pulang sekolah. 

Dua hari berikutnya kulalui secara normal. Dengan berbekal surat izin palsu yang nekat kukarang sendiri, aku masuk sekolah seperti biasanya. Namun disekolah aku sama sekali tidak bicara kecuali orang lain yang mengajakku bicara lebih dulu. Begitupun saat pulang sekolah, aku langsung melesat menuju rumah tanpa menoleh kiri kanan. Pikiran mudaku masih galau oleh informasi yang diberikan Kinasih di apartemennya.

Akhirnya, sesuai dengan janji Kinasih, dua hari kemudian aku berdiri menunggu di jalanan dekat rumahku. Tempat Sarwo menyergapku tiga hari yang lalu, sebenarnya aku penasaran apa mayat Sarwo dan Udin di dunia pusaka pemisah alam masih ada? Lagipula, aku sedikit khawatir jikalau ada kawan Sarwo melakukan penyelidikan dan mencium apa yang terjadi di tempat ini. Meskipun tampaknya kekhawatiranku berlebihan, kenyataannya semenjak tadi aku berdiri di sudut jalan ini tanpa ada seorangpun yang menggangguku. 

Resah dan gelisah…

Menunggu disini

Di sudut sekolah

Tempat yang kau janjikan

Ingin jumpa denganku

Walau mencuri waktu…

Berdusta pada guru

Malu aku malu, pada semut merah

Yang berbaris di dinding 

Menatapku curiga

Seakan penuh tanya… Sedang apa disini?

Menanti pacar jawabku.

Bah, lirik lagu ‘Kisah kasih di sekolah’ karya Obbie Mesakh yang sering diputar ayah tiba-tiba saja lewat di kepalaku. Lagu yang mengisahkan tentang seseorang yang menunggu kekasihnya di sudut sekolah. Tampaknya situasiku saat ini sedikit banyak agak mirip dengan lirik lagu itu, menuggu… hanya saja yang kutunggu bukan kekasih. 

Kinasih… apa dia sudah punya kekasih?

“Hai… Riki.”

Lamunanku buyar oleh suara sapaan lembut yang segera kukenali sebagai suara Kinasih. Mendengar gadis pucat ini memanggil namaku telah membuat hatiku bergetar. Aku baru sadar Kinasih jarang sekali memanggil namaku, bahkan ketika bertamu di apartemennya selama setengah hari kemarin, dia sama sekali tak memanggil namaku. Yang aku ingat, dia menanyai namaku saat kami pertama kali bertemu di labirin bawah tanah, lalu pergi begitu saja setelah menanyakan keberadaan Sadewo. Kupikir dia sudah melupakan namaku.

“Hai Kinasih,” jawabku segera. 


“Seperti yang kujanjikan, ini teknik pengolahan tenaga dalam yang bisa kau pelajari. Kurasa teknik ini cocok dengan konstitusi tubuhmu.” Tanpa banyak basa-basi, Kinasih langsung ke pokok tujuan pertemuan kami. 

“Ini, buku ini berisi jurus Iblis Sesat. Kurasa jurus ini cocok untukmu.” Tanpa banyak basa-basi, Kinasih langsung menyerahkan sebuah buku bersampul hitam yang cukup tebal padaku. 

“Jurus Iblis Sesat… apakah ini jurus milik golongan hitam?” tanyaku sambil menerima buku yang disodorkan Kinasih. 

Kinasih tampak sedikit tertegun mendengar pertanyaanku, mungkin dia tak mengira aku akan bicara soal golongan hitam. 

“Mungkin saja, kau tidak mau menerimanya kalau ini jurus golongan hitam?”

Aku terdiam selama beberapa saat, tapi pada akhirnya tanganku bergerak membuka halaman demi halaman buku berisi jurus Iblis Sesat ini. 

“Jurus Iblis Sesat diciptakan oleh seorang penganut Siwa pada masa Mataram Kuno. Pada awalnya jurus ini bernama Tarian Dewa Penghancur, seiring dengan waktu, jurus ini mengalami beberapa kali mokdifikasi dan akhirnya berubah nama menjadi Jurus Iblis Sesat, meskipun hanya jurus tingkat inti tenaga dalam, tapi kurasa itu cukup buatmu sekarang. Aku juga menuliskan beberapa catatan untuk mempermudahmu mempelajari jurus-jurus ini.”

Tanpa kuminta, Kinasih berbaik hati memberikan penjelasan singkat mengenai jurus Iblis Sesat. Saat kuperiksa isinya, ternyata tulisan di buku ini menggunakan tulisan latin biasa, bukan tulisan jawa kuno. Sampul dan halamannya juga tidak terlihat terlalu antik. 

“Sudah ya, aku pergi dulu,” ujar Kinasih saat aku sibuk memeriksa isi buku jurus Iblis Sesat. 

“Eh… ah… Tunggu sebentar.” Aku dibuat terkejut setengah mati mendengar Kinasih tiba-tiba mohon diri begitu saja. Berinteraksi dengan Kinasih benar-benar membingungkanku, caranya bersosialisasi benar-benar kaku. Tak bisakah dia berbasa-basi sedikit saja? 

“Boleh minta nomor hapenya?” Permintaan itu meluncur begitu saja dari mulutku. 

“Untuk apa?” Kinasih mengernyitkan keningnya.

“Jika nanti ada yang perlu kutanyakan terkait dengan jurus Iblis Sesat. Bukannya katamu kemarin berlatih pengolahan tenaga dalam tidak bisa dilakukan sembarangan? Aku perlu panduan kan?” Semua yang kukatakan barusan benar-benar jujur. Aku tak mungkin belajar pengolahan tenaga dalam secara otodidak. Bagaimana jika aku salah berlatih dan mencelakakan diri sendiri. 

“Kan aku sudah menulis catatan di dalam buku itu, kau hanya perlu memperhatikan catatan-catatan yang kuberikan. Insya Allah kau akan menguasai jurus itu,” balas Kinasih. 

“Ah…” Aku sampai tak bisa berkata apa-apa lagi. Akhirnya aku hanya bisa mengangguk lemah. Dan Kinasih-pun berjalan cepat meninggalkanku yang hanya bisa memandangi kepergiannya. 

Setelah Kinasih menghilang dari pandanganku, tatapan mataku beralih pada buku jurus Iblis Sesat. Setelah kembali membuka-buka halamannya secara sekilas, aku segera berjalan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, aku segera meletakkan buku tersebut di dalam laci meja belajar. Lalu segera mandi dan beristirahat menenangkan jasad dan pikiran. Selepas makan malam, baru kubuka buku itu dan mulai mempelajarinya. 

Meskipun tak ada instruksi dari Kinasih, tapi aku merasa perlu memastikan jasad dan pikiranku dalam kondisi yang paling fit sebelum mulai mempelajari jurus Iblis Sesat. 

Setelah kubaca dengan seksama, kutemukan buku jurus Iblis Sesat secara garis besar terbagi dalam dua bagian, satu bagian berisi jurus-jurus silat fisik dan bagian yang lain berisi teknik pengolahan tenaga dalam. Meskipun letak bagian-bagian tersebut saling terintegrasi satu sama lain. Misalnya pada halaman awal buku ini menjelaskan mengenai jurus-jurus tertentu dilengkapi dengan teknik tenaga dalam yang menunjang jurus tersebut. 

Namun yang lebih menarik perhatianku adalah catatan-catatan yang diberikan oleh Kinasih. Catatan tersebut ditulis berbagai tempat di buku tersebut, melengkapi penjelasan yang diberikan di dalam buku. Selain itu, terdapat kertas yang sepenuhnya berisi tulisan Kinasih. Tulisan itu menekankan pentingnya pelatihan tenaga luar sebelum berlatih tenaga dalam. Caranya dengan melakukan latihan fisik dan kuda-kuda tertentu. 

Dia juga menuliskan teorinya mengenai tenaga dalam Sadewo didalam tubuhku. Menurutnya, semakin cepat aku berlatih pengolahan tenaga dalam dan menguasai jurus Iblis Sesat, semakin aman diriku dari kejaran orang-orang yang menghendaki kehancuran Sekte Pulau Arwah. Karena asimilasi tenaga Sadewo di dalam darahku telah menghilangkan karakteristik tenaga dalam Sekte Pulau Arwah. Dan jurus Iblis Sesat yang kupelajari akan menyatu dengan tenaga Sekte Pulau Arwah di dalam darahku dan membentuk karakteristik baru. 

Setelah membaca dengan seksama, aku segera mengambil kertas dan membuat jadwal latihan sesuai dengan catatan-catatan Kinasih. Setelah kuperiksa, ternyata berlatih tenaga luar dan tenaga dalam dapat dilakukan secara berbarengan. Kuputuskan untuk melatih keduanya secara simultan.