Episode 14 - Janganlah Kau Berlebihan Merayakan Kegembiraan


Enam bulan kemudian.

Jam setengah tujuh pagi, anak-anak IPA tujuh sudah duduk rapih. Mereka bersiap menyambut kedatangan Bu Riny, sebagai guru idola mereka. Langkah gontai Bu Riny dari ruangan kantor menuju kelas mampu menghipnotiskan seluruh suasana. Siapa saja yang melihatnya tak bisa mengedipkan mata sekali saja, mulai dari Pak Niki yang sedang berdiri di depan ruang TU sampai tukang es kemong yang lagi jualan. Tunggu-tunggu! Tuh tukang es kemong kenapa lagi ada di sekolah? Terus kenapa lagi pagi-pagi jualan es?

 “Hey tukang es kemong! Ngapain kamu jualan di sini?” tanya Pak Niki.

 “Haduh! Saya salah tempat mangkal nih, maaf-maaf, Pak.”

Padahal suasana indah udah dapat tuh, eh ada tukang es kemong, buyar dah suasana indah pagi hari di sekolah.

Bu Riny pun sampai di depan pintu kelas IPA tujuh. Ketika pintu dia buka perlahan-lahan. Tebak hayo, apa yang akan terjadi?

 a. Ibu Riny kepleset

 b. Ibu Riny pingsan

 c. Ibu Riny kabur

 d. Ibu Riny cuma bengong

 Dan Bu Riny membuka pintunya … daaar door daaar!

 “Happy birthday, Buuuu!” serentak anak IPA tujuh.

 Air mata menetes dari wajah Bu Riny, dia terharu dengan apa yang dilakukan anak-anak IPA tujuh.

 “Anak-anak.”

 “Iya, Bu?”

 “Siapa yang ulang tahun ya?” tanya Bu Riny bengong.

 “Enggak ada.”

 “Terus kenapa dirayain kayak begini?”

 “Ya Ibu, kitakan manusia terlanjur kaya semua, Bu. Bosen punya banyak duit. Anggap aja kita buang-buang duit,” kata Coklat.

 ***


 Sebelum memulai pelajaran, terlihat tampak sedih wajah Bu Riny di hadapan anak IPA tujuh. Tak lama lagi, mereka akan lulus dari sekolah ini dan itu membuat Ibu Riny merasa kesepian. Di depan kelas Bu Riny bertanya kepada anak-anak IPA tujuh tentang mau kemana mereka setelah lulus nanti.

 “Anak-anak, sebentar lagi kalian kan lulus nih. Ibu mau bertanya.”

 “Bu! Emang Ibu nyasar pakai tanya-tanya segala?” sahut Coklat.

 “Ibu enggak nyasar, buktinya Ibu ada di sini.”

 “Yah kirain Ibu nyasar, nyasar di hati akuuu.”

 “Wooooo.” 

 Mulailah si Coklat aneh-aneh segala. Masa gurunya digombalin. Ibu Riny pun melanjutkan pembicaraannya di depan kelas.

 “Ibu mau bertanya, jika kalian lulus dari sini kalian mau lanjut kemana? Kerja atau kuliah?”

 “Bu, saya habis lulus itu kalau enggak pulang ke rumah ya coret-coretan baju!” teriak Ival.

 “Terus yang lain?”

 “Saya tidur!” teriak Coklat.

 “Ada lagi jawaban yang aneh?”

 Suasana kemudian menjadi hening.

 “Namun Ibu bangga punya murid seperti kalian, walaupun kalian-kalian ini aneh, ngeselin dan suka bikin gondok, setidaknya kalian tidak suka bolos sekolah, tidak suka memakai narkoba dan tidak suka tawuran.”

 “Gimana mau tawuran, tetangga sekolah yang dekat aja SD,” celetuk Coklat.

 Bagaimana jadinya ya kalau Coklat sama anak-anak satu kelasnya tawuran sama anak SD? Hmmmm … misalkan itu benar terjadi. Bisa jadi kayak begini ceritanya.

 ***


 Siang itu tiga cowok yang mengaku ganteng, sudahlah biarkan saja mereka mengaku ganteng, kan kasihan enggak ada yang mengakui mereka ganteng kecuali diri mereka sendiri. Coklat, Ival dan Tiar sedang nongkrong di warung dekat SD 06 Pagi.

 “Sial banget nih anak sekolahan ini, bisanya cari gara-gara sama sekolah kita!” kesal Coklat.

 “Iya tuh, mereka itu harus dikasih pelajaran biar kapok!” kesal Ival.

 “Iya benar banget, sekali-kali kasih mereka pelajaran Kimia, Fisika sama Mtk, dijamin muntah-muntah dah mereka. Kita aja yang udah SMA kadang-kadang enggak ngerti, apalagi mereka yang masih bau kencur!” ujar kesal Tiar.

 Tepat jam dua belas siang, anak-anak SD itu keluar. Ada tiga anak SD kelas 1 sedang berjalan di hadapan mereka bertiga. Ya, si anak SD ini enggak begitu tahu siapa makhluk-makhluk yang ada di warung dekat sekolah dan anak SD ini jalan terus tanpa permisi.

 “Woy, nyelonong aja lo! Permisi kek sama kita-kita!” tegas Coklat.

 Dan bisa ditebak, tuh anak SD yang masih bau kencur, kejer nangis. Mereka bertiga pun terbahak-bahak bahagia sekali. Ya ampun jelaslah lawannya anak SD.

 “Tuhkan mereka itu enggak ada apa-apanya cuma digituin aja nangis,” ucap Coklat.

 “Hahaha, kalau begini mah sekolah kita bisa ditakutin sama anak sekolah SD lainnya,” ujar Ival.

 Itu tadi anak kelas 1 SD, sekarang ada anak kelas 2 jalan melewati mereka bertiga. Kelas dua ini levelnya di atas kelas 1, jadi jangan dianggap remeh. Anak kelas dua itu juga jalan terus tanpa permisi di hadapan mereka bertiga.

 “Woy!” teriak Ival

 Rupanya anak kelas dua itu tidak mendengar apa yang barusan diucapkan Ival. Si bocah kelas dua itu tetap berjalan seperti biasanya, seakan-akan tidak ada seorang yang menegurnya. Ival pun frustasi, wajahnya muram tak bersemangat.

 “Gue gagal uh uh uh.” Ival kemudian jongkok di hadapan Tiar dan Coklat, dia hanya memandangi tanah di bawahnya. Air matanya menetes membasahi tanah ini.

 “Udahlah, Val, kita pulang aja yuk,” ujar Coklat.

 “Enggak! Enggak mau, gue kecewa sama diri gue sendiri.”

 Akhirnya Ival terus dilanda frustasi yang begitu besar. Dia menjadi tidak nafsu makan di rumahnya karena memang enggak ada makanan di rumah, ibunya enggak masak. Selain tidak nafsu makan, kini Ival pun makannya hanya jarang-jarang, ya paling cuma tiga kali dalam sehari. Ya itulah kisah enggak jelas dari mereka bertiga, mungkin pembaca bertanya-tanya di dalam hati sendiri, kenapa ini bisa terjadi?

 ***


 Kembali ke kelas, Ibu Riny masih membahas soal kemana mereka setelah lulus nanti. Ibu Riny kini mengajukan saran kepada anak-anak IPA tujuh.

 “Apa kalian tidak ada yang berniat kuliah sambil kerja?”

 “Ribet kuliah sambil kerja. Kita kuliah nih di kelas, terus sambil kerja gitu, gimana belajarnya? Ya enggak konsenlah, Bu!” ujar Coklat.

 “Maksud Ibu tuh, kalian membagi waktu mana kuliah mana kerja, gitu?”

 “Bu, cukuplah cinta Ibu yang dibagikan kepada saya, jangan ada lagi yang dibagikan, saya cemburu loh.”

 “Ngomong apa sih kamu, Klat Klat”

 “Bu, saya! Saya sih pengin kuliah di jurusan pendidikan terus nantikan bisa ngajar sama kayak Ibu,” ucap Sweety.

 “Oh, bagus kalau begitu. Ibu doakan ya supaya kamu sukses, ada lagi yang mau menjadi seperti Sweety?”

 “Saya enggak mau, Bu, jadi kayak Sweety, Sweety kan perempuan. Masa saya dijadiin perempuan!” tegas Ival sambil ngotot.

 Bu Riny kemudian mengambil mic yang ada di meja guru. 

 “Bel bunyiin dong, udah enggak kuat saya ada di kelas ini. Pliiiis!” ucap Bu Riny.

 Teeeeet, bel tanda pergantian jam pun berbunyi. Pelajaran Bu Riny selesai sampai di sini.

 ***


 Malam harinya, anak-anak IPA tujuh sudah berkumpul di lapangan samping sekolah. Mereka semua membawa obor, namun ada yang terlihat berbeda. Ketika semua orang memegang batang obor, si Coklat membawa lilin.

 “Eh lo kok malah bawa lilin?” tanya Ival di sampingnya.

 “Mata lo siwer, Val. Lo lihat ini apa?”

 “Itu lilin.”

 “Salah, ini itu obor tapi dia masih kecil makanya bentuknya sama kayak lilin.”

 “Oh, jadi itu obor yang masih kecil?”

 “Bukan, lo salah lagi.”

 “Terus apa?”

 “Ini lilin.”

 Bletak! Nyuuut-nyuuuutan tuh kepalanya si Coklat abis dijitak sama si Ival

 Malam ini anak-anak IPA tujuh pada siap untuk pawai obor keliling. Mereka berjalan keliling mulai dari Aceh sampai Papua, gempor-gempor tuh kaki. Fauzi sebagai ketua kelas memberi arahan terlebih dahulu di depan anak-anak IPA tujuh.

 “Malam, Teman-teman,” sapa Fauzi.

 “Diiih, emang kita-kita ini teman lo apa, Zi?” sahut Coklat.

 Fauzi langsung tertunduk sambil mewek mau nangis.

 “Jadi selama ini aku bukan teman-teman kalian? Kalian jahat!” 

 Fauzi berlari menitikan air matanya, suasana menjadi hening. Fauzi berlari meninggalkan mereka sampai ke rumahnya. Dia langsung membuka pintu rumahnya tanpa salam dan melepaskan sendalnya begitu saja. Dia pun memasuki kamarnya, dan langsung menjatuhkan dirinya di atas kasur. Sesak rasanya, itu yang dirasakan Fauzi, dia menangis sambil memegangi gulingnya.

 “Kalian tega … uh … uh … enggak anggap aku sebagai teman kalian.”

 *** 

 Kita kembali ke lapangan untuk melihat anak-anak IPA tujuh pawai obor meski tanpa kehadiran sosok Fauzi. Kini Sweety yang mengambil alih kekuasaan IPA tujuh. Di hadapan anak-anak IPA tujuh, dia mula berbicara.

 “Hah dasar ketua kelas cengeng! Ok teman-teman, kita langsung mulai saja ya pawai obornya, kalian sudah tahu kan rute yang harus dilewati?”

 “Beluuum.”

 “Ya ampun. Rute kita itu, akan dimulai dari Aceh dan berakhir di Papua, setuju?”

 “Enggaaak!”

 ***


 Anak-anak IPA tujuh pun memulai perjalanan dari lapangan sekolah hingga berakhir di rumah Coklat yang jaraknya tidak jauh dari sekolah. Wajah-wajah bahagia terhias saat mereka jalan bersama-sama, namun ketika pawai obor itu berlangsung tanpa mereka ketahuai ada penyusup. Siapa lagi kalau bukan Vanila. Diam-diam Vanila menyamar jadi salah satu siswa kelas IPA tujuh. Dikarenakan suasana sudah larut malam, anak-anak IPA tujuh tidak ada yang mengetahui akan hal itu, ini berbahaya. Setelah menempuh waktu enam jam dari lapangan sekolah, mereka akhirnya sampai di depan rumah Coklat. Loh lama amat ya kok enam jam? Ternyata mereka itu keliling dulu ke bunderan HI terus ke Monas dan balik lagi ke lapangan sekolah menuju rumah Coklat. Sampainya di depan rumah Coklat, Vanila langsung berbisik di telinga Coklat.

 “Biar lebih ramai, gimana kalau kita bakar rumah ini, setuju kan?”

 “Ok, gue setuju.”

 Rupanya rencana Vanila dalam mempengaruhi Coklat berhasil.

 “Teman-teman, sekarang kita sudah sampai nih di rumah gueee!” teriak Coklat bersemangat.

 “Iyaaaa!”

 “Mau lebih ramai lagi enggaaak?!”

 “Mauuu!”

 Di depan anak-anak IPA tujuh, Coklat berdiri di depan mereka semua. Dia seorang diri mengomandai mereka.

 “Sekaraaaang!”

 “Iyaaaaa!”

 “Kita bakar rumah iniii!” teriak Coklat bersemangat.

 “Setujuuu!” sorak yang lain sambil mengangkat tangan masing-masing.

 Tuing … tuing … tuing.

 Obor mereka lemparkan ke rumah Coklat. Alhasil rumah Coklat pun terbakar. Mereka semua pada senang, tak terkecuali Coklat. Api mulai menjalar membakar rumah Coklat.

 “Horeeeee!” teriak kegirangan anak IPA tujuh.

 “Yeaaahh, habis ini kita bakar rumah Ivaaal!” sorak Coklat.

 “Setujuuuu!”

 Seusai mereka senang habis melemparkan obor ke rumah Coklat. Mereka satu persatu jalan beriringan ke rumah Ival, meninggalkan Coklat yang hanya berdiri diam sambil melihat rumahnya terbakar. Coklat mulai kelihatan kayak orang bingung, ya dia bingung mau pulang kemana. 

 Tik tuk tik tuk, suara dalam otaknya.

 “Ini kan rumah gue ya?” Coklat pun mulai tersadar.

 “Hah? Kampreeet ini kan rumah gue? Kenapa rumah gue yang kebakar! Dasar bocah stress semua!”

 Dari jarak jauh, Vanila memantau keadaan Coklat yang masih berdiri di depan rumahnya. Ada rasa bahagia dari dalam seorang Vanila.

 “Sukurin lo, mau tinggal dimana lo nanti. Pasti kalau orang tua lo tahu, bakal abis diomelin lo. Terus lo diusir dari rumah dan jadi gelandangan. Yang paling menyedihkan lo enggak akan bisa sekolah dan ketemu sama Bu Riny lagi, muehehehe.” Vanila ketawa jahat.

 ***

 Coklat hanya bisa menatap rumahnya yang sudah hangus terbakar. Disaat bersamaan Bapak dan Ibunya pun baru pulang turun dari taksi di depan rumahnya. Ya orangtuanya Coklat habis liburan ke Jepang.

 “Bang, berapa?” tanya Bapaknya Coklat ke sopir taksi.

 “Dua ratus ribu, Pak.”

 “Busyet mahal amat, gue aja yang naik ojek dari bandara ke sini cuma bayar lima puluh ribu.”

 “Itukan ojek, Pak.”

 “Ya udah saya ngutang dulu boleh kan? Nanti kalau ketemu lagi lunas deh.”

 “Berarti kalau ketemu lagi, bapak bayar biar lunas.”

 “Ya enggak gitu, maksudnya tuh kita ketemu lagi eh langsung lunas tanpa gue bayar.”

 “Terserah bapak aja deh.”

 Tuh sopir taksi pasrah amat penumpangnya enggak bayar, sudahlah biarkan itu urusan mereka. Ketika Bapak dan Ibunya tiba di depan rumah, mereka terkejut melihat rumah mereka yang sudah hangus terbakar. 

 “Coklat, rumah kita kok bisa begini?” kata Ibunya Coklat terkejut.

 “Maaf, Mak, tadi sengaja bakar rumah,” jawab Coklat.

 “Sengajaaaa!”

 “Tenang, Mah, dah biarin aja,” kata Bapaknya Coklat.

 “Tenang gimana?! Kita enggak punya tempat tinggal kok dibilang tenang!”

 “Mamah enggak tahu sih, tadi ya pas di Jepang, papah sengaja nyolong kantong ajaibnya Doraemong, muehehehe.”

 “Terus?”

 Layaknya Doraemong yang mengeluarkan benda ajaib dari kantongnya, Bapaknya Coklat pun bergaya sama saat mengeluarkan benda ajaib dari kantong yang dicurinya dari Doraemong.

 “Biji pembuat rumaaaah!” seru Bapaknya Coklat mengeluarkan bijinya.

 “Biji apa tuh, Pah? Kok kecil?” 

 “Jangan lihat bijinya, Mah, tapi lihat hasilnya.”

 “Masa?”

 “Lah ini emak sama babeh ngomongin apaan sih?” tanya Coklat.

 Dengan santai, Bapaknya Coklat berjalan lima langkah dari tempatnya berdiri. Sampai tempat yang dituju, dia langsung menggali tanah sedalam 5 cm lalu menaruh biji pembuat rumah di dalamnya. Tak sampai 5 detik, tiba-tiba muncul rumah dari tanah yang ditanami biji tadi.

 “Woooow, bijinya bener-bener bikin Mamah terkesima, Pah.”

 “Ya kan, Mah, sekarang kita punya rumah baru.”

 “Asiiik rumah baru!” seru Coklat. 

 ***


 Vanila yang masih bersama rombongan pawai obor sengaja menoleh ke arah rumah Coklat. Sontak dia terkejut melihat ada rumah baru tepat berada di tempat rumahnya Coklat yang terbakar barusan.

 “Hah! itu rumah darimana? Tadi kan udah dibakar, masa tiba-tiba sudah nongol rumah yang baru, gila, enggak bisa dimasukin akal sehat nih cerita. Hadeh,” keluh Vanila.

 ***


 Di sisi lain, anak-anak IPA tujuh masih meneruskan pawai obornya. Kini mereka berangkat menuju kediaman Ival. Dirasa kurang puas membakar rumah Coklat, sekarang rumah Ival yang akan menjadi sasarannya. Dalam perjalanan rumah Ival, mereka pun berteriak.

 “Bakar! Bakar! Bakar!” 

 Itulah semangat 45 anak-anak IPA tujuh sedang berjalan menuju rumah Ival. Mereka berjalan sambil nyanyi-nyanyi.

 “Bakar apa? Bakar apa? Bakar apa sekarang? Sekarang bakar rumah Ival, bakar rumah Ival, bakar rumah Ival sekarang.”

 Anak IPA tujuh berhenti di depan rumah yang berwarna biru muda. Ival yang sedang senangnya luar biasa mengomandai mereka semua.

 “Teman-teman! Kita sudah sampai di rumah Ival. Kalian sudah siap membakar rumahnyaaa?!” 

 “Siaaaap!”

 “Bakaaar!”

 Tuing tuing tuing

 Lemparan obor yang tersisa membakar rumah Ival yang terbuat dari kayu dan bata. Nyala api semakin membesar. Asap bertiup dari atap rumahnya. Anak IPA tujuh berteriak kegirangan begitu pula Ival.

 “Horreeee!”

 Setelah obor mereka habis dan rasa lelah menyekap tubuh masing-masing, anak IPA tujuh kembali pulang ke rumah. Sementara Ival hanya bengong.

 “Ini kan rumah gue ya? Kenapa gue nyuruh mereka ngebakar rumah gue? Terus gue bakal tinggal dimana?”

 Itulah akibat mereka terlalu senang hingga lupa diri. Makanya anak-anak kalau kalian sedang bahagia jangan keterlaluan, mereka itu contohnya. Nah sekarangkan udah malam, baiknya anak-anak semua tidur ya, dongengnya sudah selesai. Hayo sebelum tidur, kalian jangan lupa untuk menyikat gigi dan cuci kaki serta jangan lupa berdoa sebelum tidur. Paman pamit dulu ya anak-anak, sampai ketemu besok pagi, dadah.

 ***


 Keesokan paginya, rumah Fauzi kebanjiran akibat dia terus menangis di dalam kamar semalaman. Barang-barang rumahnya pun hanyut terbawa air. Tivi, kulkas, DVD, laptop, komputer, sepeda motor, bahkan mobil juga terhanyut. Parah banget kan banjirnya sampai-sampai rumahnya jadi danau. Sekarang Fauzi beserta keluarganya lagi pada naik perahu.

 “Ini gara-gara kamu, Zi, nangis dari semalaman begini akibatnya,” keluh papanya Fauzi.

 “Maaf, Pak,” ucap Fauzi seakan bersalah.

 “Dih, emangnya aku ini papah kamu apa?”

 “Jadi papah ini bukan papah Fauzi?”

 “Bukan lah!”

 Mendengar hal itu Fauzi pun menyeburkan ke dalam danau, dia menuju dalam rumahnya. Mengingat dia enggak bisa berenang, dia kembali lagi ke atas perahu.

 “Oh iya, aku enggak bisa berenang ya. Naik lagi ah ke perahu.”