Episode 162 - Budak (2)




Kum Kecho dan Rangga Lawe masih saling berhadap-hadapanan di atas panggung. Belum terlihat siapa di antara dua ahli tersebut yang akan membuka serangan. Para penonton menanti dalam hening. Bila saja di saat ini ada jarum yang terjatuh, maka suara yang ditimbulkan mungkin akan terdengar menggema di penjuru bukit. 

Rangga Lawe yang sudah berada pada Kasta Perak Tingkat 1 memperoleh kesempatan untuk menguji diri. Akan tetapi, ia sama sekali tiada mengetahui tentang kemampuan lawan yang sedang ia hadapi tersebut. Kewaspadaannya terhadap Kum Kecho menjadi berlipat ganda. Dengan demikian, dan karena terbiasa bertarung mengandalkan taktik, Rangga Lawe mengamati pergerakan lawan. 

“Srek!” Rangga Lawe tetiba merangsek maju! Ia cukup percaya diri karena sudah berada Kasta Perak Tingkat 1. Apalagi, bila dapat mengalahkan Kum Kecho, maka dirinya akan memperoleh pengakuan yang tinggi dari perguruan. Pertarungan ini dapat berubah menjadi sebuah batu loncatan. Sebagaimana diketahui, terdapat sepuluh keluarga besar yang selalu berlomba-lomba mencari nama di dalam Persaudaraan Batara Wijaya, dimana keluarga Rangga Lawe merupakan salah satunya. 

Kum Kecho berdiri dalam diam. Angin membawa jubah hitamnya terombang-ambing. Rambut yang keluar dari sela-sela tudung kepala ikut dibelai bersamaan. Kedua belah mata Kum Kecho terpejam ketika tinju Rangga Lawe mengincar tubuhnya. 

“Swush!” Tinju tangan kanan Rangga Lawe melibas Jubah Hitam Kelam. 

Akan tetapi, Rangga Lawe tak merasakan bahwa kepalan tinjunya bersentuhan dengan dada Kum Kecho, atau bagian tubuh mana pun. Hanya sebuah jubah berwarna hitam yang ia segera ia sentak, namun tak menemukan tubuh manusia di baliknya. 

Segera setelah itu, Rangga Lawe merasakan keberadaan sebuah bayangan berkelebat di samping, lalu berpindah ke belakang. Rangga Lawe segera memutar tubuh. 

Betapa terkejutnya remaja berdagu panjang tersebut mendapati perpindahan tubuh Kum Kecho! Spontan ia menoleh ke genggaman tangan kanan, yang seharusnya masih menggenggam Jubah Hitam Kelam. Semakin terkejutlah ia mendapati bahwa tak ada jubah di dalam genggaman! 

Rangga Lawe mundur beberapa langkah... 

“Apakah jubah itu senjata pusaka...?” seorang penonton tak dapat menahan rasa penasaran. 

“Pastinya jubah itu memiliki unsur kesaktian!” 

“Dari mana ia memperoleh jubah itu!?” Penonton lain menduga-duga.

Pertanyaan yang sama berkutat di dalam benak Rangga Lawe. Ia salah perhitungan, sehingga menjadi lengah. Siapa yang menyangka bahwa jubah yang dikenakan lawan merupakan senjata pusaka!?

Rangga Lawe kembali menyerang! Kali ini melalui tendangan beruntun, yang ditutup dengan tendangan sapuan mengincar rusuk sebelah kiri. Gerakan remaja tersebut sangatlah lincah adanya. 

Sama seperti tinju sebelumnya, tendangan sapuan Rangga Lawe hanya menyapu Jubah Hitam Kelam. Kemudian, Kum Kecho kembali berkelit ke belakang tubuh Rangga Lawe! 

Rangga Lawe kembali menjaga jarak. Tendangan sapuannya tadi itu dilakukan untuk menguji apakah benar jubah tersebut merupakan senjata pusaka. Segera ia menarik kesimpulan bahwa perkiraan tersebut terbukti benar. 

Kum Kecho hanya berdiri tenang. Benaknya mengingat seorang ahli bertubuh kekar yang dipenuhi dengan berbagai rupa rajah atau tato yang menghias di sekujur tubuh. Seorang guru. Tak terbilang rasa hormat Kum Kecho terhadap tokoh yang berasal dari Pulau Belantara Pusat tersebut. 

“Apakah berkelit menggunakan senjata pusaka adalah batas kemampuanmu!?” hardik Rangga Lawe. 

Simpul senyum menghias sudut bibir Kum Kecho. Kemampuan Jubah Hitam Kelam terbatas pada menyamarkan aura dan sedikit mengubah penampilan wajah. Tiada kelebihan lain dari jubah tersebut. Kemampuan yang Kum Kecho kerahkan dalam berkelit adalah ajaran dari Guru Pangkalima Rajawali. 

Kum Kecho mengingat sosok Pangkalima Rajawali mewakili masyarakat dayak secara umum. Tindak-tanduknya menjadi panutan, dan wataknya menjadi ajaran. Sang pemimpin di Pulau Belantara Pusat ini memiliki pembawaan yang tenang, sabar dan ramah. Sungguh mencerminkan kehidupan masyarakat yang damai dan tenteram, serta diberkahi anugerah dari rimba belantara.

Oleh Pangkalima Rajawali, Kum Kecho memperoleh bekal jurus persilatan khas dari Pulau Belantara Pusat. Jurus persilatan tersebut dikenal dengan nama ‘Kuntau Bangkui’. 

Di kala tradisi kayau masih dipraktekkan di Pulau Belantara Pusat sebagai inisiasi kedewasaan, setiap pemuda dayak wajib menguasai jurus persilatan sebagai bekal untuk merantau, mempertahanan diri, atau berperang. Jurus persilatan tersebut secara khusus diwariskan secara turun temurun. Ada yang memperoleh ajaran melalui garis keluarga, ada pula yang belajar dari guru silat. 

Jurus persilatan Kuntau Bangkui menggunakan tangan kosong dan mengandalkan kelincahan gerakan. Ia didasarkan pada perilaku binatang bangkui, yaitu sejenis beruk yang berekor pendek, dengan dada yang tebal dan bulu berwarna coklat kemerahan.

Gerakan dalam jurus persilatan Kuntau Bangkui tidak hanya luar biasa gesit dan cepat, tetapi merupakan pertahanan yang terencana. Pola di dalam jurus ini adalah menghindar dan mundur, menyerang, kemudian menghindar dan mundur lagi, barulah kembali menyerang. Benar-benar didasarkan pada karakter beruk yang sangat waspada. 

Sejak terlepas dari Segel Sutra Lestari, baru kali ini Kum Kecho melancarkan jurus Kuntau Bangkui. Dirinya tak hendak menodai jurus persilatan yang diwariskan oleh Pangkalima Rajawali… untuk membunuh. Selama ini, Kum Kecho memilih untuk memanfaatkan Kartu Satwa bersama keterampilan khusus sebagai pawang untuk menghabisi lawan. 

Dengan kata lain, Kum Kecho tiada berniat membunuh Rangga Lawe dalam pertarungan hari ini. 

“Jangan diam saja! Kau yang sesumbar menantangku!” sergah Rangga Lawe. Sedikit banyak, harga dirinya tercoreng karena setelah menghindar, lawan tak melancarkan serangan balik. 

Kum Kecho membuka Jubah Hitam Kelam dan menyimpan jubah tersebut ke dalam cincin Batu Biduri Dimensi. Di atas panggung, aura kebangsawanan menyibak perkasa dari dirinya. Para penonton terkesima tiada dapat berkata-kata. Bahkan, karena berada tepat di hadapan Kum Kecho, Rangga Lawe merasakan seolah tubuhnya mengajak untuk bertekuk lutut, lalu mengucapkan sumpah setia! 

Anak remaja tersebut maju selangkah. “Kerahkan seluruh kemampuanmu….” Suara serak dan parau terdengar keluar dari mulutnya. 

Tanggapan yang ringan dari Kum Kecho itu, menggetarkan hati Rangga Lawe. Ia seolah mendapat sebuah titah diraja yang tiada dapat ditentang. Ia selayaknya harus mematuhi tanpa ada keraguan. Ia seperti wajib mengorbankan jiwa dan raga demi menjalankan titah dimaksud. 

Rangga Lawe berupaya menenangkan diri. 

Mirip dengan hawa membunuh, namun tiada dirinya merasa terancam, pikir Rangga Lawe. Kemampuan melesakkan hawa membunuh biasanya merupakan ciri khas dari naluri binatang siluman di saat berburu. Hawa membunuh sudah biasa mencuat dari ahli yang sudah banyak pengalaman hidup dan mati, atau berada pada situasi kejiwaan tertentu. Akan tetapi, yang dirasa bukanlah hawa membunuh, namun aura kebangsawanan yang demikian kental.

“Inikah… inikah aura kebangsawanan…?” seorang penonton pada barisan paling depan sudah bertumpu pada satu lutut. 

“Ahli yang memiliki hubungan darah pada taraf 24%...,” seorang lagi ikut bertumpu pada satu lutut. 

“Kejayaan Persaudaraan Batara Wijaya akan segera menyongsong!” 

Rangga Lawe menggeretakkan gigi. Tinju tangan kanannya terkepal keras, sampai terlihat gemetar. Ia telah memutuskan untuk melepaskan jurus andalan…

“Tinju Super Sakti, Gerakan Pertama: Badak Menghantam Gunung!”

Kedua mata Kum Kecho melotot. Saat pertama menyaksikan jurus Tinju Super Sakti yang dilepaskan Bintang Tenggara, tubuhnya bergetar dan ia terhuyung setengah langkah ke belakang. Emosinya bergejolak. Namun, kali ini ia cukup tenang menyikapi. Serangkaian pertanyaan berkecamuk di dalam benak anak remaja tersebut. Ada berapa banyak ahli yang menguasai jurus persilatan digdaya ini!? Dari mana mereka mempelajari jurus tersebut!? Bukankah Jenderal Ketiga, Sesepuh Komodo Nagaradja tiada sudi mengangkat murid!? 

Kum Kecho memiliki dua pilihan. Sebagaimana pernah ia lakukan saat berhadapan dengan Bintang Tenggara di atas perahu, yaitu menahan dengan Kepik Cegah Tahan. Atau, melepaskan jurus Tapak Suci milik Sang Maha Patih, yang dikatakan kedigdayaannya setara dengan Tinju Super Sakti milik Komodo Nagaradja.  

Belum sempat Kum Kecho memutuskan, Rangga Lawe merangsek mendekat. Kembali Kum Kecho dibuat bingung. Ia pernah menyaksikan langsung Sesepuh Komodo Nagaradja melibas ribuan binatang siluman dalam satu gerakan, ia pun pernah menyaksikan Bintang Tenggara melepas Tinju Super Sakti. Pada dasarnya, ia sedikit memahami tentang gelombang kejut yang tercipta setelah menembus pertahanan suara. Akan tetapi, dari Rangga Lawe, ia hanya mendapati jurus kesaktian unsur api…

“Duar!” Dentuman terdengar menggelegar. 

Tinju Rangga Lawe kembali menyapa angin. Kum Kecho telah mengerahkan jurus persilatan Kuntau Bangkui dalam menghindar. 

“Beliau menghindar dari jurus Tinju Super Sakti milik Rangga Lawe!”

“Bagaimana mungkin jurus digdaya milik Sang Maha Patih dihindari!?” 

“Apakah Rangga Lawe kembali gagal merapal Tinju Super Sakti!?”

Rangga Lawe tertegun di tempat… tak kuasa dirinya bergerak barang selangkah pun. 

“Plok!” Kum Kecho yang sudah berada di belakang Rangga Lawe, menepuk pundak remaja berdagu panjang itu. 

Rangga Lawe sepenuhnya menyadari bahwa pertarungan tiada mungkin dilanjutkan. Harga diri yang tinggi pun, mengisyaratkan untuk tak melanjutkan. Jurus andalannya telah dipatahkan, atau dalam hal ini dihindari dengan mudahnya. Lawan bahkan hanya menepuk pundaknya, tanpa menyarangkan satu pun pukulan sejak awal pertarungan. Ia telah dikalahkan dengan mudah. Kalah telak!

Kum Kecho lalu mengeluarkan dan kembali mengenakan Jubah Hitam Kelam, sebelum melompat turun dari atas panggung pertarungan. Sejumlah murid-murid yang masih terbengong-bengong, segera tersadar dan membuka jalan ke arah pedati. 

Di samping pedati, Melati Dara dan Dahlia Tembang telah menanti sedari tadi. 

“Bawa gerobak itu,” ujar Kum Kecho pelan. 

Demikian, tiga ahli melangkah santai menuju Graha Utama milik Kum Kecho. Di belakang mereka, ditarik oleh jalinan rambut, adalah sebuah pedati berukuran besar. Sepanjang perjalanan, bukan hanya sesama murid, bahkan para Guru Muda, Guru dan Maha Guru yang berpapasan menatap keheranan. 

Kabar berita kemenangan Kum Kecho atas Rangga Lawe menyebar cepat. Seluruh khalayak perguruan mengetahui bahwa dalam pertarungan yang berlangsung singkat, Kum Kecho telah memenangkan taruhan seorang murid perempuan yang lumpuh. 

Hampir seluruh khalayak perguruan mempertanyakan mengapa gadis tersebut dijadikan taruhan… Mengapa Kum Kecho menginginkan gadis nan tiada berguna? Tak satu ahli pun percaya ucapan Kum Kecho yang hendak menyembuhkan gadis tersebut. Mustahil. 

“Apa yang hendak Tuan Guru lakukan pada gadis lumpuh ini…?” Melati Dara hendak memastikan. 

“Tuan Guru, tak ada yang dapat menyembuhkan peranakan siluman yang tak sengaja membuka kemampuan silumannya…,” sambung Dahlia Tembang. 

“Aku dapat menyembuhkan gadis itu bila kita membawanya ke ruang dimensi berlatih di Sastra Wulan,” sahut Kum Kecho pelan. “Kita akan berangkat esok pagi.” 


Matahari pagi bersinar cemerlang. Bias cahayanya menembus di sela-sela ukiran, lalu menerpa wajah seorang gadis yang tiada berdaya. Tiga ahli dan sebuah pedati melangkah meninggalkan pekarangan Graha Utama. 

“Apa… apa yang akan kalian lakukan pada diriku…?” Seruni Bahadur hanya pasrah menerima nasib. 

“Kami akan menjualmu kepada lelaki hidung belang,” seloroh Melati Dara. “Kau tahu, ada saja lelaki di luar sana yang mencari-cari sensasi baru…”

“Kumohon… bunuh saja aku…” isak Seruni Bahadur, yang biasanya memiliki keberanian tiada banding. Keputusasaan telah meyelimuti hatinya. 

“Janganlah khawatir…,” Dahlia Tembang berbisik pelan. Dirinya juga pernah berada dalam keadaan yang mengenaskan, dan terjatuh ke dalam jurang keputusasaan. Akan tetapi, sebagaimana dengan Melati Dara, Tuan Guru Kum Kecho telah memberikan jalan hidup yang baru. Demikian, Dahlia Tembang seratus persen percaya bahwa Tuan Guru tiada sesumbar ketika mengungkapkan akan menyembuhkan Seruni Bahadur. 

“Mau kau bawa ke mana dia!?” Tetiba terdengar suara menyergah. Seorang remaja berdagu panjang, bermata merah dan berpenampilan lusuh, menghentikan langkah rombongan Kum Kecho. 

“Apa urusanmu dengan tujuan kami…? Kau telah kalah secara sah!” hardik Melati Dara. 

Rangga Lawe menggeretakkan gigi. Semalaman ia tiada tidur, dan sedari subuh ia telah berada di hadapan Graha Utama milik Kum Kecho. Apa pun yang terjadi, dirinya telah bertekad untuk tak membiarkan sesuatu yang buruk menimpa Seruni Bahadur nan lumpuh. Jikalaupun harus mengorbankan nyawa, maka biarlah…, pikir Rangga Lawe. 

Lokasi ibukota lama Sastra Wulan memang tak terlalu jauh dari Persaudaraan Batara Wijaya. Hanya selang beberapa jam, rombongan telah berada di dalam ruang dimensi berlatih nan serba putih. Aliran tenaga dalam melimpah-ruah di dalam tempat ini. 

Kum Kecho menggenggam sekepal rambut nan pendek. Seonggok tubuh besar terpaksa ikut tertarik. Anak remaja ini masih suka menjambak. Kini, ia menyeret tubuh Seruni Bahadur ke dalam ruang dimensi. 

Kum Kecho lalu meletakkan telapak yang terbuka di atas ulu hati Seruni Bahadur. Gadis tersebut merasa sangat tak nyaman, namun tak ada yang dapat ia lakukan. 

Bermain ruang waktu di tangannya

Tak bisa dikisahkan

Rahasia mulai berlaku

Bintang runtuh

Kehidupan atau maut

Pemenuhan janji

Cahaya maha cahaya *

Sebagaimana diketahui, Kum Kecho memiliki kesaktian unsur cahaya. Segera setelah merapal jurus, cahaya berpendar dari telapak tangan anak remaja tersebut. Cahaya tersebut kemudian menyerap ke dalam ulu hati Seruni Bahadur, dan mengisi mustika tenaga dalam. 

Perlahan, cahaya lalu merambat keluar dari mustika tenaga melewati pembuluh darah. Proses ini biasa terjadi bila seorang ahli mengerahkan tenaga dalam, dimana ia mengambil tenaga dalam dari mustika lalu menyalurkan ke pembuluh darah menuju bagian tubuh yang dikehendaki. Proses ini dipandu menggunakan mata hati.

Seruni Bahadur merasakan kehangatan yang menenteramkan. Kondisi yang ia alami sesungguhnya adalah penyumbatan tenaga dalam di pembuluh darah. Meski darah dapat mengalir seperti biasa, tenaga dalam tiada bisa. Penyumbatan tenaga dalam inilah yang menjadi penyebab kelumpuhan. 

Perlahan namun pasti, unsur kesaktian cahaya membersihkan penyumbatan tenaga dalam. 

Tiada terasa, tiga hari berlalu cepat. Kum Kecho baru saja rampung membersihkan pembuluh darah Seruni Bahadur dari tenaga dalam yang menyumbat. Akan tetapi, tubuh gadis itu masih terlalu lemah untuk bangkit berdiri.


Catatan: 

*) Disarikan dari puisi bertajuk ‘Cahaya Maha Cahaya’ dari ‘Kumpulan Sajak Cahaya Maha Cahaya’ karya Emha Ainun Nadjib (Cak Nun).

Muhammad Ainun Nadjib atau biasa dikenal Emha Ainun Nadjib atau Cak Nun (lahir di Jombang, Jawa Timur, 27 Mei 1953) adalah seorang sastrawan dan tokoh intelektual nusantara.