Episode 16 - S Rank


“Cih, kalau begini kejadiannya, akan lebih baik jika aku tidak datang.” Sambil bersandar di kursi, tidak diragukan lagi Noxa membuat wajah kesal. Matanya terbuka lebar dengan pupilnya yang mengecil.

“T-Tenanglah. Setidaknya, ini sudah lebih dari sejam.” Suaranya mengecil, Reina fokus memperhatikan jalan yang ada di hadapan. 

“Sial, sial, sial, sial…” Noxa menendang pijakan beberapa kali. “Siapa yang tidak kesal jika mereka mengabaikan kita begitu saja! Mereka punya mobil, tapi mereka tidak ingin mengantar kita! Hanya karena mereka tuan rumah, itu namanya tidak sopan! Siiaal…”

Seandainya Noxa membawa senjata saat rapat berlangsung, entah apa yang akan terjadi.

Setelah berjalan selama lebih dari satu jam dari tempat pertemuan, Noxa dan Reina memasuki wilayah terlarang. Beruntung Reina bisa menemukan mobil yang masih bisa digunakan meski harus menghabiskan waktu sekitar setengah jam untuk mengakalinya agar bisa berjalan. 

Dengan kondisi dunia yang seperti ini, wilayah pemukiman menjadi sangat kecil. Keterbatasan anggota militer dengan perlengkapan yang mereka miliki membuat pergerakan terbatasi. Karena hal itu, bahkan meski tidak ada Outsiders sekalipun beberapa kawasan kosong tak berpenghuni.

“Uwaaa…” Noxa sedikit terkejut, tapi tidak mengubah ekspresinya yang masih kesal. “Jangan bilang kau sengaja melakukannya?” Noxa menggeram. Dengan kedua matanya yang tajam, ia membuat Reina semakin gugup.

Jam delapan malam di tempat yang tak berpenghuni. Tidak banyak cahaya yang menerangi jalanan selain cahaya mobil itu sendiri.

“Ugh, maaf…” Dalam kondisi terpakasa, Reina melemaskan kakinya membuat laju mobil semakin pelan. Mungkin saja ada seseorang atau Outsiders di hadapannya yang tiba-tiba muncul. Apa pun bisa terjadi.

“Reina, menurutmu di tempat seperti ini ada Outsiders?” Noxa menempelkan wajahnya pada kaca di pintu tanpa rasa takut akan sesuatu. “Tempat ini seperti… kota yang sudah—“

“Mati?” Reina memotong.

“Tidak, kurang tepat.” Masih ada jumlah cahaya-cahaya kecil yang menerangi keadaan sekitar di berbagai tempat. “Jika dilihat dari keadaan, seharusnya masih ada orang yang tinggal di sini.” Noxa yang duduk di kursi depan masih melihat ke luar jendela. “Rasanya aneh tidak seorang pun muncul saat ada mobil yang lewat seperti ini.”

Tentu saja Reina juga menyadari hal itu. 

“Meski di sini ada Outsiders, pasti hanya Rank C.”

Saat Reina mengatakan itu, artinya tempat yang luasnya seperti sebuah kota atau provinsi akan lebih baik jika diabaikan kondisinya. Satu-satunya yang menjadi masalah dari Outsiders Rank C adalah jumlah mereka yang tidak terhitung, sehingga tidak memungkinkan untuk membasmi semuanya.

“Tugas kita di sini hanya satu saja. Bahkan untuk mengamankan tempat ini mungkin perlu setidaknya dua ratus orang dengan perlengkapan yang bukan main jumlahnya. Belum lagi membangun bangungan hancur dari awal. Yah, ini menjelaskan kenapa tidak semua orang bisa hidup dengan tenang di dunia ini.”

Reina yang mengerti maksudnya, hanya melirik Noxa sekilas saja. Ia tidak ingin mengakuinya, tapi mungkin ucapan Noxa memang benar. 

Noxa menambahkan, “kesenjangan mereka yang punya uang dan yang tidak.” Noxa tersenyum. Namun, yang ditampilkannya bukanlah ekspresi senang atau bercanda, lebih seperti memandang rendah orang-orang. “Baiklah, nona jenius.” Reina yang sedang menyetir sedikit terkejut dengan panggilan barunya.

“Aku tidak sepintar itu.” Reina menyanggah dengan suara datar. 

Reina kehilangan fokus. Walaupun begitu, meski mobilnya menabrak sesuatu tidak akan ada kecelakaan besar yang menimpa mereka berdua dengan lajunya yang tidak terlalu cepat.

“Apa kau percaya kalau kondisi di Jakarta sama dengan di sini? Kau juga membayar pajak setiap bulannya, kan?”

Pikirannya masih sama, mungkin yang dikatakan Noxa benar, tapi mungkin juga tidak. Ia tidak yakin harus menjawab apa.

“Apa aku harus menjawabnya?”

“Yah, meski kau menjawabnya bukan berarti fakta yang sudah ada akan berubah.” Perut Noxa berbunyi entah di timing yang tidak tepat. “Siaaal… aku lapar! Mereka semua menyebalkan sekali. Dasar sampah! Aku tidak mau ke tempat ini lagi.”

“Kita sebentar lagi sampai.”

“Atau mungkin kita bisa mencari makan dulu di sini?” Noxa menghela. 

Reina yang tahu kalau Noxa tidak bercanda, hanya bisa mengabaikannya. Berhenti di tengah perjalanan saat sedang malam hari bukanlah pilihan yang bagus. Terutama jika itu tempat asing.

“Siiiaaal!! Aku bersumpah, seandainya aku bertemu dengan mereka lagi, akan kubunuh mereka semua!”

“Hmm…”

Diam adalah emas, terutama saat ada seseorang yang sedang marah. Setiap kutukan yang diucapkan Noxa terdengar tidak main-main di telinga Reina. Menyuruhnya untuk tenang dan duduk manis di kursi bukanlah hal yang bagus.

Sejak awal mereka berdua memang tidak dekat. Jika harus mengaku, Reina sedikit gugup dan canggung menanggapi Noxa. Berbeda dengan Neil atau Navi.

“Jenius, menurutmu kenapa tempat ini bisa menjadi seperti ini?”

Noxa tanpa ragu membuka topik baru. Dengan kemampuan komunikasinya yang tinggi, gadis pendek itu bisa melakukannya tanpa ragu, meski Reina adalah gadis yang baru-baru ini diajaknya berbicara.

“Aku tidak tahu, jadi tolong berhenti memanggilku jenius.”

“Tidak aneh jika kau tidak tahu,” ucap Noxa sedikit kecewa. “Kejadiannya empat tahun lalu, ini bukan tentang Outsiders yang muncul pertama kali di sini. Empat tahun yang lalu Rank S untuk pertama kalinya muncul di sini.”

Karena suatu alasan, Reina tidak terkejut sedikit pun. Ia muali bisa melihat tempat tujuan mereka dengan jumlah cahaya yang berkumpul di satu tempat. Gadis yang sedang menyetir itu mermpecepat laju mobilnya.

“Jadi, yang ini bukan pertama kalinya?” Reina membuka mulut agar Noxa tidak berbicara sendirian.

“Justru aneh jika ini yang pertama kalinya. Tapi, Sky Chaser sedikit berbeda. Sejak awal Sky Chaser memang hanya Rank A. Dengan ini kurasa jumlah Rank S yang muncul pernah muncul menjadi empat.”

Ada tiga lagi? Reina bertanya-tanya dalam hati. Ini pertama kalinya ia mendengar hal itu.

“Seluruh anggota tim satu dan tim dua tahu. Sisanya hanya ketua tim tiga dan ketua tim empat saja yang tahu. Karena suatu alasan, mereka ingin merahasiakannya. Jika kau bertanya pada Neil, mungkin dia akan memberitahumu.”

Noxa mendekap. Kedua bahu direndahkan mencoba menyantaikan tubuhnya sebisa mungkin.

“Jika dirahasiakan, kenapa memberitahuku?”

“Daripada bertnaya, kau bisa berterimakasih karena aku telah memberitahumu.” Suasana hatinya bertambah buruk. “Daripada itu, aku lebih penasaran kenapa Neil tidak memberitahumu dan Navi.”

Sebelum Reina punya kesempatan untuk menjawab, Noxa kembali melanjutkan ceritanya.

“Outsiders yang menyerang kota ini namanya Belphegor. Aku penasaran, kenapa mereka menggunakan nama iblis seperti itu. Karena ini juga aku jadi teringat seseorang, tapi tidak terlalu penting. Hmm, aku belum selesai bercerita, tapi terserahlah…”

Saat Noxa menyelesaikan kalimatnya, mobil yang dikendarai oleh Reina berhenti. Sambutan kecil dari mereka yang menunggu kedatangan mereka berdua. 

Sebelum mereka berdua keluar, Noxa memberi peringatan tegas pada Reina.

“Reina, kau ada di bawah pimpinan Neil. Rata-rata dari kita sudah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, bahkan Neil. Hanya untuk mengingatkan, jangan beritahu siapa pun tentang apa yang terjadi saat pertemuan tadi sore.”

Tanpa menunggu jawaban Reina, Noxa membuka pintu mobil dan segera keluar. 

“Noxa, apa kau tidak apa-apa?” Orang yang pertama kali berbicara adalah Feya, salah satu dari tim Aster Glass. 

“Ugh, Fey… kau tidak akan percaya apa yang baru saja kulalui seharian ini. Mereka hanya menyuguhkan kami berdua roti dengan air putih. Apa kalian memasak sesuatu? Menyebalkan sekali!” Dengan suasana hati yang buruk, Noxa pergi didampingi oleh anggota timnya.

Reina yang masih di dalam mobil, menaruh kepalanya di atas setir. Ia mengeluarkan napas panjang dari mulut.

Ketukan kecil di kaca menyadarkan gadis yang nampaknya sangat kelelahan itu. Neil dan Navi bisa dilihat oleh matanya melalui kaca yang sedikit kotor itu.

“Reina, kau tidak apa-apa?” 

Reina keluar dari mobil. “Ya, aku tidak apa-apa. Hanya sedikit lapar.”

“Kami menyisakan sedikit makanan untuk kalian.”Navi yang berada di samping Neil, berbicara. “Ada daging juga loh! Air panas juga.” Matanya berbinar-binar.

Neil memperhatikan mobil yang baru saja dikendarai Reina. Entah apa yang terjadi, tapi Neil menahan diri untuk bertanya.

“Mereka hanya mengantar kami setengah jalan, setelah itu kami harus jalan kaki.” Rein menjelaskan. “Beruntung kami bisa menemukan mobil yang masih bisa digunakan.”

“Yah, begitulah cara kerjanya. Keberuntungan akan dikatakan keberuntungan jika terjadi setelah kesialan.” Navi tersenyum santai. “Setelah makan, kau bisa istirahat. Aku akan menemanimu.”

“Untuk yang pertama kalinya, aku akan mengikuti saranmu itu.”

Beberapa orang duduk di lantai mengitari api unggun yang masih menyala. Terdapat alat-alat makan berserakan di sekitar. Dengan masing-masing orang yang mengenakan seragam, suasanya terlihat seperti saat sedang melakukan kemah. Hanya saja tanpa tenda.

“Neil, Noxa memanggilmu.” Faye yang entah dari mana datangnya, tiba-tiba berbicara. “Ini menyangkut tentang misi besok.”

“Hanya aku?”

Meski tidak ada yang aneh jika Neil dipanggil, akan aneh jadinya jika hanya dirinya saja yang dipanggil.

“Ketua tim delapan dan sembilan juga, lalu Rem juga.” Faye terlihat berpikir. “Ini mengingatkanku, kalian berdua melihat Rem? Aku tidak melihatnya dari tadi.”

Karena Reina baru datang, Faye hanya menunjuk Neil dan Navi dalam ucapannya. 

“Mungkin sedang tidur?” Mata Navi menunjuk kea rah bangunan.

Daripada repot-repot membuat kemah di jalan, memanfaatkan bangunan sekitar jauh lebih mudah. Selain itu juga jauh lebih aman dari ancaman dan bahaya. Untuk berjaga-jaga, semua orang bergantian membuka mata sampai pagi.

“Aku akan mengeceknya. Pokoknya, Neil kau harus ikut. Ketua tim delapan dan sembilan seharusnya sudah berkumpul. Hanya tinggal kau dan Rem saja.” 

Faye yang tidak ingin menghabiskan waktunya, berniat mengangkat kaki dengan segera ke arah bangunan yang ditunjuk oleh Navi. 

“Hmm, kalau Rem dipanggil berarti aku boleh ikut juga, ‘kan?” Navi melihat Neil yang terdiam. 

“Hanya aku saja yang dipanggil. Lebih baik kau menemani Reina saja. Aku akan segera kembali. Kalian berdua istirahatlah, terutama kau Reina!” Neil yakin tak perlu mengatakannya dua kali. Ia segera meninggalkan mereka berdua.

Reina memeluk dirinya ketika angin berhembus menabraknya. Tubuhnya yang tidak terbiasa dengan suhu rendah mungkin akan membuatnya sakit jika dia tidak melakukan sesuatu.