Episode 55 - Kembali Secepatnya



Suara itu memarahi Bagas, sudah lama setidaknya suara itu terdengar memarahinya. Mungkin karena sikapnya yang telah berubah, suara itu tak lagi dapat menggapainya. Namun, dengan Bagas yang berbeda—yang telah berubah, suara itu sepertinya tak perlu ragu-ragu untuk memarahinya.

“Hahaha, maaf, aku benar-benar tak menyadari kalau waktu sudah berlangsung selama itu.”

Suara di dalam ponsel sebelumnya terdengar marah, tetapi kemudian terdiam. Bagas tak mengerti kenapa mereka—suara selain miliki Rian—tak langsung merespon perkataannya—perilakunya yang tak seperti biasa.

Cuek dan dingin sudah menjadi ciri khas Bagas yang sebelumnya. Tetapi kali itu, permintaan maaf dari suara yang ceria sangat mengejutkan Rian sampai tak dapat membuatnya berbicara.

“Hei, ada apa?”

Melihat perilaku Bagas yang memang, berubah sangat drastis setelah koma membuat orang-orang yang mengenal dan dekat dengannya terkejut. Meskipun, harus ada hal yang sangat penting yang dikorbankan.

Erina memang tak mengetahui seberapa sakitnya kenangan masa lalu Bagas, tetapi yang dia tahu adalah, untuk mempertahankan kebahagiaan yang telah mereka perjuangkan. Dan tentu saja mengganti kenangan buruk mereka dengan kenangan indah yang akan mereka—yang telah mereka mulai.

(“Ah, enggak, jadi, di mana kau sekarang?”)

“Di rumah sakit yang aku tak tahu ada di mana?”

(“Rumah sakit? Apa yang kau lakukan di sana?”)

“Entahlah, aku pergi dari rumah. Naik bus menuju kota, lalu tiba-tiba saja aku sudah berada di sini.”

Bagas mengatakan yang sebenarnya, dan Rian percaya hal itu. Karenanya, Rian tak ingin terlalu mempermasalahkan kepergian Bagas yang tanpa kabar.

(“Jadi, bagaimana keadaanmu sekarang?”)

Rian yang kelihatannya telah mengetahui kondisi Bagas tanpa diberitahu—mengetahui hanya dengan perkataan Bagas sebelumnya, bertanya tentang bagaimana keadaannya.

Bagas ingin mengatakan kalau dia baik-baik saja. Tetapi ada satu hal yang membuatnya khawatir untuk mengatakannya.

“Yah, aku bisa menganggapnya baik-baik saja. Tapi tidak tahu bagaimana pendapat dari orang-orang yang mengecek kondisiku. Kau sendiri, bagaimana?”

(“Di sini, yah, sama sepertimu. Aku bisa menganggap kalau aku baik-baik saja, tapi tidak dengan mereka yang menjengukku.”)

Sejak awal mereka saling berbicara dengan ponsel, Bagas menyadari kalau ada yang salah dari nada bicara Rian. Dia seperti sedang menahan sesuatu yang menyakitkan, dan suaranya juga terdengar sedikit jauh—dalam artian Rian yang berbicara dengan ponsel yang tak terlalu dekat dengan mulutnya.

Bagas mengira kalau ada yang salah dengan salah satu sahabatnya itu. Hanya saja dia tak ingin menambah beban hatinya kalau jawaban yang akan diberikan Rian terdengar buruk dan lebih memilih untuk mengganti topik pembicaraan.

“Begitu ya, jadi sepertinya aku akan menjengukmu sewaktu pulang nanti.”

(“Ya, jangan lupa untuk membawa oleh-oleh kemari.”)

“Hahaha! Kau tak perlu khawatir, ini bulan agustus, mungkin saja mangga di taman desa telah mulai berbuah.”

(“Hei, jangan katakan kalau kau mau memetik beberapa dan membawanya sebagai buah tangan.”)

“Apa itu terlalu berlebihan?”

(“Justru itu terlalu rendah, dasar bodoh!”)

“Hahaha~! Maaf-maaf, aku jadi teringat bagaimana kita mengambilnya beberapa untuk diberikan kepada orang-orang yang mengunjungi desa.”

Pemandangan di mana dua sahabat saling memberikan candaan yang dapat membuat orang lain tertawa karenanya. Pemandangan yang sangat membuat nostalgia, meskipun Erina hanya melihat perilaku mereka yang seperti itu sekali, Erina dapat mengetahui kalau Bagas yang sekarang adalah Bagas yang dapat membuat Rian mengeluarkan sisi buruknya.

Setelah bersenda gurau sesaat—meskipun yang tertawa hanya satu orang—mereka berdua terdiam beberapa saat. Karena mencari topik pembicaraan untuk dua orang lelaki yang berbicara lewat ponsel adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan.

(“Oi!”)

“Hmm!”

Namun, salah satu dari mereka tak ingin terus-terusan seperti itu dan mulai kembali pembicaraannya.

(“Kembalilah secepatnya!”)

Walaupun apa yang dikatakannya berpotensi untuk menutup pembicaraan, Rian tetap mengatakannya. Perkataan yang sangat ingin dia ucapkan kalau dia memiliki kesempatan berbicara kepada Bagas.

“Ya, tentu saja. Memangnya apa yang dapat kalian lakukan tanpa adanya diriku.”

(“Kalau gitu pulanglah sekarang bodoh! Kau pergi dengan menimpakan semua pekerjaan berat itu padaku. Kau pikir bayaran sebesar apa yang bisa kudapat kalau aku bekerja di suatu perusahaan.)

“Muahahaha! Sudah kuduga kau pasti akan mengatakannya. Tapi, kau tetap bersikeras untuk mengurus semuanya bukan. Meskipun itu bukanlah tugas dan kewajibanmu.”

(“TKJ akan berantakan kalau semua dokumen itu menumpuk dan menunggu kepulanganmu.”)

Setelah perbincangan yang suasananya menjadi semakin berat, mereka terdiam kembali. Meratapi kondisi mereka beserta naungan yang mereka pertahankan di dalam sekolah.

“Aku mengerti. Aku akan membayar sepadan atas seluruh bantuanmu.”

(“Pastikan kau membawa sesuatu yang pantas untuk membayarnya di muka.”)

“Ahahaha, tentu saja. Tapi jangan salahkan aku kalau bayaran itu akan membuat wajahmu tergampar.”

(“Lakukan saja semaumu curek!”)

“Jadi, sampai di sini saja dulu.”

“Ya, kita akan lanjutkan setelah kepulanganmu.”

“Ya, terima kasih atas kerja kerasmu.”

Rian tak membalas perkataan Bagas, Bagas juga kelihatan tak menunggu balasan. Dan akhirnya komunikasi mereka terhenti saat teleponnya ditutup.

Bagas pun melanjutkan ke nomor selanjutnya.

“Halo!”

(“Halo, coeg, ke mana aja kau!? Di mana kau sekarang!? Kau baik-baik aja kan!?”)

Bagas baru saja menyambungkan telepon ke sahabat laki-lakinya yang satu lagi. Tetapi hal pertama yang dia dapatkan adalah suara keras dari sisi yang lain.

“Bodoh, kau tidak harus berbicara terlalu keras seperti itu kan.”

(“Ya. tapi kan, kau..”.)

***

Beni baru saja mendapatkan sebuah panggilan dari teman lamanya. Dan itu sudah sangat lama semenjak mereka mulai berbicara kembali. Dia tak tahu harus berkata apa karena kekhawatirannya telah menghilang dan berganti dengan ketenangan.

(“Halo, Ceng, kau masih di sana?”)

Dan itu adalah pertama kalinya semenjak sekian lama Bagas memanggilnya dengan sebutan yang dia berikan sewaktu pertama kali mereka bertemu.

Di dalam kamar lantai dua, duduk menghadap kanvas sambil memegang telepon genggam dia berada. Keberadaannya untuk sesaat tak berada pada tempatnya di saat dia terjebak ruang nostalgia.

“O-oh, iya, aku masih di sini.”

(“Jadi, gimana kabarmu sekarang?”)

“Aku baik-baik aja, kau gimana?”

Dia tak tahu harus memikirkan apa. Yang dia lakukan hanyalah mengikuti irama yang dibuat Bagas untuk berkomunikasi dengannya.

(“Aku, ya, gimana bilangnya. Dibilang baik ya, enggak, di bilang enggak baik ya, baik.”)

“Apaan tuh, rumit banget kedengarannya.”

(“Hahaha, begitulah. Aku juga masih belum mengerti situasi sebenarnya, tapi bagaimana keadaan sekolah di saat aku tidak ada?”)

Di saat pertanyaan Bagas memasuki telinganya, sebuah rangsangan yang membuatnya mengingat kejadian mengerikan yang menimpa laboratorium dan sahabatnya teringat kembali. Membuat kepalanya sakit dan dia terdiam untuk sesaat, mengabaikan Bagas yang masih menunggu jawaban darinya.

(“Woi, kau masih di sana?”)

“Ha, o-oh, iya, bagaimana ya. Seperti katamu tadi, dibilang baik ya, enggak, dibilang enggak baik ya, baik.”

(“E’alah, ya udah, kalau gitu biar aku pastikan sendiri bagaimana keadaannya setelah aku pulang.”)

“O-oke.”

***

Erina yang menunggu selesainya Bagas menelepon mendekat.

 “Bagaimana?”

Bagaimana dengan pembicaraan kalian, sepertinya itulah yang dimaksud oleh Erina. Hanya saja dia tak ingin membuatnya terlalu panjang kalau pada akhirnya Bagas mengerti, namun, berkata seperti itu kedengarannya membuatnya mirip dengan seseorang di masa lalu.

“Yah, entah bagaimana sepertinya aku membuat mereka terkejut. Rian marah, tapi aku tidak tahu bagaimana dengan Beni.”

“Rian marah...?”

Wajah geli yang bercampur dengan rasa menyesal. Erina sudah lama sekali tidak melihat ekspesi lucu seperti itu.

“Dia memarahimu?”

“Yahaha, begitulah. Mungkin karena aku sudah sedikit keterlaluan. Aku jadi merasa takut untuk menemuinya lagi.”

“Hmm...”

“Ada apa, kak?”

“Kalian ini, berteman kan.”

“Tidak.”

“Eh?”

“Kami bersahabat!”

“Aahh!”

“Memangnya kenapa?”

“Kalau begitu kenapa harus takut untuk menemuinya lagi.”

“Soalnya dia seram dan aku sudah membuatnya marah.”

“Apa hanya itu?”

“Eehhh? Aku sama sekali gak ngerti!”

“Uhuhuhu, itu artinya kamu tak perlu takut untuk bertemu dengannya nanti. Karena kalian kan bersahabat. Dan persahabatan takkan begitu mudahnya terputus hanya karena sikap keterlaluan salah satunya.”

“...Hmmm!”

“Tak perlu berpikir terlalu keras seperti itu.” 

“Enggak, aku hanya berpikir pisang jenis apa yang akan kubawakan untuknya sebagai permintaan maaf.”

“Pisang?!”

Dan tidak disangka, setelah sekian lama dia bisa melihat wajah lucu itu untuk yang kedua kalinya.

“Ada apa?”

“Eh, tidak!”

“Hmm...”

“Apa yang sedang kamu pikirkan?”

“Ya, karena aku telah membuatnya marah, setidaknya aku harus membawa satu tandan pisang sebagai per... ada apa?”

Sebelum Bagas menyelesaikan perkataannya, kelihatannya Erina merasakan sesuatu yang lucu dan mulai tertawa dengan mulut yang ditutupi satu tangan. Tawanya tak begitu terlihat jelas dan dia seakan menahannya, Bagas menganggap itu sebagai sebuah pemandangan yang indah, sekaligus membingungkan.

“Tidak, maaf!”

Tidak tahu apa yang salah, Bagas hanya bisa berharap Erina menjelaskan apa yang menjadi hal yang membuatnya bisa tertawa seindah itu.

“Oh iya, apa keadaan di sana baik-baik saja? Kupikir dengan tidak adanya kamu selama tiga bulan ini pasti ada beberapa hal yang terjadi, dan yang mengurus semua itu dan menggantikannya untukmu adalah Rian.”

“Ya, aku juga tak tahu detailnya. Sepertinya memang ada beberapa masalah selama aku tak ada. Karena itu, aku ingin menyelesaikan permasalahan ini dan kembali ke desa.”

Tanpa menjawab dan menunggu jawaban, seharusnya mereka telah mengetahui apa yang harus dilakukan. Karena pada saat itu juga, hati mereka telah menjadi satu.

***

Di kediaman keluarga Hasibuan, yang sepertinya selalu ramai setiap saat. Hal itu dapat terjadi karena keberadaan tiga orang anak kembar yang terlahir sebagai, setidaknya tiga anggota terakhir yang bertambah.

Dua bocah laki-laki yang selalu saja bertengkar dan bercekcok karena suatu hal. Seorang bocah perempuan yang selalu bisa mereda api kemarahan dengan api kemarahannya sendiri. Berusia 9 di tahun itu.

Umur mereka memang telah mendekati kata akhil baligh—telah menginjak usia dewasa, mereka seharusnya telah bisa meringankan beban keluarga. Setidaknya dengan memberikan kedamaian di dalam rumah.

Namun, karena perbedaan pemikiran di antara dua dari tiga orang, membuat beberapa saat menjadi debat panas yang memilih siapa yang perbuatan, perkataan, pengetahuannya lebih unggul.

Meskipun begitu, di antara dua bocah yang hampir setiap saat selalu bertengkar—tak dalam batas memutuskan hubungan persaudaraan—ada satu orang yang selalu saja bisa menengahkan. Dan dia adalah seorang yang memang terlahir lebih dulu dari keduanya.

Hari itu, ayah sedang bekerja, dan ibu pergi untuk membantu pekerjaan seorang tuan rumah yang di rumahnya mengadakan suatu acara. Sudah tugas mereka bertiga, yang seharusnya menjaga rumah di saat kedua orang tuanya tidak ada.

“Assalamualaikum!”

Seperti seseorang yang sedang mengucapkan salam sambil membuka pintu rumah.

“Wa’alaikum salam!”

Salam balik itu mereka ucapkan sedikit berbarengan.

“Kak Euis!”

Panggilan itu mereka ucapkan sedikit berbarengan. Dengan perasaan girang menghampiri mereka bertiga, mereka berlari menuju sosok gadis yang sudah menjadi seperti kakak perempuan tertua mereka.

“Hei kalian bertiga, semangat sekali hari ini. Ada apa?”

“Si serigala tadi menelepon!”

“Ya, dia menelepon!”

Dua bocah laki-laki menjawab pertanyaannya. 

“Serigala?”

“Maksudnya, Bang Bagas!”

Mendengar si gadis menyebutkan nama yang sangat dia rindukan, hatinya menjadi berdebar. Dan dia ingin langsung bergegas mengetahui penjelasan lebih lanjut.

“Lalu apa yang dia katakan?”

“Tidak ada, dia mencari abang untuk diajak bicara.”

Tanpa ingin mendengar penjelasan yang memang kurang jelas dari tiga bocah itu, Euis langsung menerobos mereka dan pergi ke kamar di mana Rian beristirahat.

Tiga orang bocah yang bersamanya, penasaran dengan bagaimana dia bereaksi dan mengikutinya.

Euis telah sampai di depan kamar dari saudara laki-laki dari tiga orang bocah itu. Dia membuka pintu kamar dengan perlahan, berhati-hati kalau si pemilik kamar sedang tertidur. Tetapi kelihatannya tidak, dari bayangannya, sosok itu tengah duduk bersandar di kepala ranjang.

“Hai!”

“Hei, kau sedikit terlambat datang hari ini, ada apa?”

“Tidak, hanya masalah sepele. Bagaimana perasaanmu?”

Euis menanyakan hal itu seakan ada masalah yang terjadi dengan Rian. Meskipun memang ada, Euis seharusnya tak menanyakannya dan menganggap kalau semuanya sudah baik-baik saja.

“Apa kau masih mengkhawatirkannya? Psikologisku?”

“...”

Euis tak menjawab, dan dia hanya menunduk karena dia mengakui perkataan Rian.

Rian mengerti perasaannya—sebelum itu, ada sesuatu yang mengganjal penglihatannya. Tiga orang bocah sedang mengintip dari balik pintu, berharap ada sesuatu yang menarik yang bisa mereka lihat.

Namun, sosok menyeramkan dari saudara laki-laki mereka tak membiarkan mereka berlama-lama melakukannya. Dan hanya beberapa saat dari mereka yang mulai dipandangi dengan tajam, saat itu pula mereka kabur dan melarikan diri.

Rian ingin melanjutkan yang sebelumnya, tetapi Euis menyela pikirannya dengan sebuah pertanyaan membingungkan. Memilih antara dia harus jujur atau tidak?

“Apa tadi, Bagas menelepon?”

Ponsel genggam ada di atas pangkuannya. Ponsel itu takkan ada di situ karena dia takkan bisa menggunakannya dengan keadaannya yang sekarang. Dan hanya akan ada beberapa waktu saja dia menggunakannya, dengan bantuan dari para adiknya tentunya. Seperti telepon dari seseorang misalnya.

“Ya, dia tadi meneleponku setelah sekian lama menghilang.”

Rian membalas pertanyaan lemah Euis dengan perasaan jengkel.

“Lalu, di mana dia sekarang?”

Euis mengangkat wajahnya yang menunduk dan menatap Rian dengan berharap.

“Aku gak tahu pastinya, tapi dia mengatakan rumah sakit. Dan sikapnya juga sedikit berbeda, atau aku bisa katakan, aku seperti sedang berbicara dengan dia yang dulu.”

“Maksudnya...?”

Euis mengira-ngira apa maksud dari perkataan Rian soal Bagas. Meskipun dia tak ingin mengakuinya, Rian tetap menjawab dengan jawaban yang dia anggap pasti.

“Kancil yang Menjengkelkan. Kalau bisa diibaratkan, seperti itulah aku menganggapnya.”

Kancil yang Menjengkelkan. Salah satu dari beberapa julukan yang bisa menggambarkan bagaimana Bagas di masa lalu. Seakan tertarik oleh nuansa nostalgia, Euis merasa kalau jantungnya berdegup lebih kencang dari biasanya.

“Tapi, kamu—Bagas bilang dia sekarang berada di rumah sakit. Memangnya apa yang terjadi dengannya?”

“Itulah yang menjadi pertanyaanku. Mungkin saja seseorang telah memukul kepalanya sampai membuatnya lupa siapa dirinya sebenarnya.”

Pemikiran yang memang sedikit berlebihan, namun, bila menyangkut dengan Bagas yang sikapnya telah berubah, mungkin itu adalah perumpamaan yang pantas yang bisa dikatakan oleh Rian.

“Lalu, kapan dia akan kembali?”

“Secepatnya, begitulah aku menyuruhnya. Meskipun aku gak tahu seberapa cepat dia bisa kembali. Setidaknya, kita sudah tahu dia masih baik-baik saja karena sudah menghubungiku.”

Perasaan rindu yang amat sangat, dirasakan oleh dua orang yang berada di dalam kamar. Meskipun, memang setiap harinya mereka selalu bisa bertemu, tetapi ada kalanya perasaan persahabatan di antara mereka dipertanyakan karena sikap Bagas yang dingin.

Namun, mendengar perkataan yang diucapkan sebelumnya, setidaknya membuat Euis lega kalau mereka dapat bertemu dengan Bagas dan menghilangkan perasaan rindu tersebut.

“Apa dia, mengetahui keadaanmu sekarang?”

Di atas ranjang, duduk bersandar tubuh yang dulunya tegap, gemuk dan berotot milik seorang Riansyah. Tetapi, saat itu tubuh tersebut tak lagi dapat dikatakan seperti itu karena kejadian yang menimpanya tempo hari.

Kedua tangannya seluruhnya terbungkus oleh kain perban. Tak terkecuali sampai ke lengannya. Bahkan leher dan atas dadanya, dipenuhi oleh kain perban. Sosok yang kuat dan selalu bisa menolong semua orang, saat itu tak bisa berbuat apa-apa selain duduk menunggu kesembuhannya.

“Entahlah, tapi dari cara bicaranya. Yang untuk beberapa saat membuatku kesal, sepertinya tidak.”

Perasaan kesal, menyesal, bimbang, atas apakah benar kalau itu tidak apa-apa. Membiarkan sahabatnya tidak mengetahui keadaannya sekarang. Euis tidak tahu harus mengarahkan perasaannya ke arah yang mana.

“Hei...”

Rian memanggil Euis yang untuk kedua kalinya menundukkan kepalanya di hari itu.

“Jangan khawatir. Sudah kukatakan bukan, aku tak ingin terlalu mempermasalahkan kondisiku sekarang.”

Kedua tangan yang memang telah dibalut oleh kain perban, masih mampu untuk menenangkan hati Euis.

Untuk yang kesekian kalinya, kekuatan dari teman masa kecilnya telah mengembalikan semangatnya untuk terus menjalani harinya dengan tenang.