Episode 54 - Arti Cinta Bagi Mereka



“Apa itu tak cukup menghilangkan rasa ragumu?”

Dengan nada yang sangat halus dan lembut, Erina bertanya pada Bagas dalam posisi yang tak berubah—memeluk dengan penuh kasih sayang.

Keinginan untuk tak ingin melepasnya pergi, tak ingin membiarkannya jauh darimu, tak ingin membuatnya merasa sedih karena tindakanmu. Apa itu yang dinamakan cinta? 

Bagas tak mengerti. Yang dia inginkan hanyalah, dapat merasakan cinta Erina. 

Tangan yang panjang dan besar itu memeluk Erina sangat erat. Seakan takkan pernah membiarkannya pergi. Perasaan cinta yang mendalam, dapat mereka rasakan sembari berjalannya waktu.

Perasaan itu semakin kuat, sehingga membuat mereka sampai lupa dengan apa yang baru saja terjadi pada mereka malam itu.

***

“Apa mereka akan baik-baik saja ya?”

“Maksud kamu dengan baik-baik saja bagaimana?”

“Mereka masih belum keluar dari kamar selama semalaman.”

“Ooh, itwu...”

“Hei, berhentilah berbicara selagi mengunyah makanan.”

“Kamwu jwuga swih... yang ngajakin bicara.”

Di ruang makan rumah sakit, Elang dan Ani sedang menikmati sarapan pagi mereka. 

Ani yang khawatir dengan keadaan Bagas dan Erina mengajak bicara Elang yang masih mengunyah makanan.

“Tenang saja. Mungkin saja, di saat kita akan bertemu mereka, Bagas pasti akan melakukan sesuatu padaku.”

“Misalnya, hmm, Elang awas!”

“Eh-“

Elang menoleh ke arah di mana Ani waspada dengan sesuatu yang akan mengenainya. Namun, kejadian itu terlalu cepat dan bahkan Elang tak dapat menyadari apa yang terjadi. Sampai sebuah plastik berisi air mengenai wajahnya.

“Uhaakk!”

Elang sampai terjatuh ke lantai karena kencangnya laju plastik berisi air yang mengenainya. 

“Elang!”

“Bagas!”

Satu suara terkejut saat sang suami tersungkur ke lantai. Satu suara terkejut saat yang terkasih membawa sebuah plastik berisi air yang tujuannya untuk dilempar ke adiknya.

“Kamu baik-baik saja?”

Ani mencoba membantu Elang untuk bangkit.

“Tuh kan benar.”

Namun kelihatannya, Elang sama sekali tak terlihat keberatan dengan perlakuan yang dia terima barusan.

“Bagas, tunggu!”

Tak jauh dari tempat mereka duduk sebelumnya, datang dengan ekspresi kemarahan seseorang yang tak terima dengan tindakan yang diambil Elang di waktu yang lalu.

“Ahahaha, sepertinya kau sudah mengetahui kebenarannya.”

Elang yang sudah bangkit, berkata seolah dia adalah pihak yang salah dalam kondisi itu.

“Ya, dan berkatmu keadaannya menjadi lebih merepotkan seperti ini.”

Bagas yang telah koma selama hampir tiga bulan. Melupakan kenangan terburuk yang dia miliki, dan berubah menjadi pribadi yang lebih lembut. Meskipun begitu, perilakunya saat berhadapan dengan Elang sama sekali tak berubah.

“Tolong maafkan dia, Bagas.”

“Ya, tentu saja. Tapi aku takkan melupakan apa yang sudah dia perbuat padaku.”

“Eeh, sebegitu buruknya rencanaku untuk mempersatukan kalian ya.”

Ani mencoba meminta maaf untuk suaminya. Bagas sepertinya tak terlalu ingin mempermasalahkan persoalan maaf-memaafkan, meskipun dia tak ingin melupakan apa yang telah dilakukan Elang padanya.

“Y-ya, tapi pada akhirnya semua berakhir dengan baik bukan.”

“Berakhir dari mananya bodoh, justru baru saja akan dimulai.”

“Eh, ahahaha, iya juga!”

Walaupun Bagas telah memaafkan tindakan Elang, suasananya masih terasa berat. Tetapi dialog yang mereka lakukan saat itu membuat segalanya mulai membaik.

 Bagas berjalan ke meja, menarik satu kursi untuk dia duduki. Elang dan Ani melakukan hal yang sama. Tetapi tidak untuk Erina, dia pergi ke meja sajian untuk membawakan dua piring sarapan.

“Ja-jadi, apa kau masih marah?”

Bagas tak menjawab, dan hanya melirik Elang dengan ekspresi tak tenang. Mungkin saja itu adalah sikapnya yang biasa, mungkin saja itu adalah pertanda agar Elang tak perlu banyak berbicara dengannya, mungkin saja dia masih tak ingin untuk mereka berkomunikasi.

Elang tak tahu mana jawaban yang tepat. Dan pilihan yang tepat untuk menghadapi ekspresi itu adalah diam dan tak mempermasalahkannya.

“Bagaimana dengan keadaanmu?”

Saat itu, bergantian Ani yang bertanya kepada Bagas. Namun Bagas tak segera menjawab pertanyaan Ani, dia mengangkat tangannya sampai berada di depan wajahnya. Menggerak-gerakkan jarinya, dan merasakan seluruh sendi serta otot untuk mengidentifikasi keadaannya sendiri.

“Selain rasa lemas dan kurangnya energi, kurasa baik-baik saja.”

“Kalau begitu, yang kamu butuhkan adalah waktu.”

Erina datang dengan dua piring sarapan selagi Bagas dan Ani berbicara. Menaruh dua piring itu ke hadapan Bagas dan untuk dirinya sendiri. 

“Apa kamu baik-baik saja makan sendiri?”

Saat Bagas mengangkat sendok miliknya dengan cukup bergetaran, Erina mengkhawatirkannya dan membuat jarak mereka lebih dekat.

“Aghh!”

Tidak dapat melakukan beberapa hal dengan sendirinya, cukup membuatnya kesal dengan dirinya sendiri.

“Jangan salahkan dirimu. Erina, bantu dia.”

Setelah sehabis sarapan, akhirnya mereka bisa membuka pembicaraan. 

“Hei, bisakah aku bertanya tentang apa yang kalian lakukan malam ini?”

Dimulai dengan Ani lewat rasa penasarannya. Meskipun hal itu cukup tabu untuk ditanyakan, Ani tetap ingin menghilangkan rasa penasarannya.

Namun, yang dia dapat adalah kebisuan. Tak ada satupun di antara dua insan yang ingin menjawab pertanyaan Ani. Aah begitu, pikirnya selagi melihat ke arah respon selain kebisuan. Meskipun bukan hal seperti itu yang sebenarnya terjadi.

“Ada apa?”

“Ennggak, kurasa aku baru saja liat sesuatu lewat di depan jendela.”

“Hii!”

Erina mulai bergetaran dan mengeluarkan pekikan di saat Bagas mengangkat topik soal sesuatu yang hanya bisa dia yang melihatnya.

“Tunggu, apa kakak, takut dengan hantu?”

“Jangan bilang begitu!”

“Wuoh!”

Erina yang tak tahan dengan rasa takut akan sesuatu yang spiritual mendadak melompat ke arah Bagas. Memeluk tubuh Bagas di saat dia menimpanya.

“A-a-a-a-a... k-k-kak Erina?”

“Jangan salahkan aku, kamu yang memulainya!”

Di saat Bagas hampir mencapai batasnya karena perilaku Erina. Erina sendiri tak ingin mengakui perilaku aneh yang dia lakukan. 

“T-t-tadi, bohong! Sungguh, iya, yang lewat cuma ngengat, ngengat!”

Erina bergetar di saat memeluknya, dia juga bergetaran karena tak bisa menahan rasa malu yang dia dapat dari rasa takut Erina.

Dan mereka berakhir dengan tidur di ranjang yang sama dikarenakan Erina tak percaya kalau dia sendirian di tempat yang terbilang cukup seram. 

Meskipun tak ada hal lain selain berbagi ranjang, dengan yang satu merasa takut dan satunya lagi merasa malu yang sangat. Hal itu tak menutup kemungkinan kalau berbagi ranjang yang sama adalah perbuatan yang tak boleh dilakukan oleh dua insan yang masih belum jelas hubungannya.

Bagas terus-terusan mengalihkan arah pandangannya. Erina juga benar-benar terlihat tak pandai untuk menyembunyikan sesuatu.

“Jadi, apa langkah kalian selanjutnya?”

“-Soal itu--!”

“Aku akan membicarakannya dengan kedua orang tua kami.”

“-Itu benar, tapi--!”

“Mm, pastinya begitu.”

“-Hei, dengarkan--!”

“Di mana mereka sekarang?”

“-Hei--!”

“Entahlah. Kupikir kamu akan dapat menemui mereka kalau mencoba untuk mencari.”

Ani dan Bagas terus melanjutkan pembicaraan, selagi seseorang terus berusaha untuk memasuki perbincangan mereka, meskipun keberadaannya seperti diacuhkan.

“Kupikir ayahku sekarang sedang berada di kantornya.”

“Kita ke sana sekarang?”

“-Aku dicuekin.”

“Y-ya, kalau kamu mau.”

“Jangan tanyakan itu padaku.”

“K-kalau begitu, ayo.”

Dengan begitu, Erina dan Bagas pergi untuk membicarakan tentang rencana selanjutnya dengan orang tua mereka.

Ani dan Elang masih berada di kursi. Namun kelihatannya, salah satunya mengutuk situasi barusan yang telah mengacuhkan keberadaannya.

“Aku diacuhkan. Apa yang salah dengan mendengarkanku? Apa semua itu disengaja? Apa semua konflik sebelumnya memang seburuk itu? memangnya apa yang salah dengan ingin mempersatukan seorang yang kau cintai dengan yang dicintainya? Apa rencanaku tak seefektif dugaanku?”

“Hei... hei!”

Di saat Elang terus mengutuk situasi sebelumnya, Ani mencoba menyadarkan dengan menusuk pipinya dengan sebuah garpu.

“Aw-aw! Hei, hentikan!”

Setelah Elang tersadar, Ani menghentikan tindakannya. 

“Kita juga sebaiknya bergerak.”

“Ya, aku tahu.”

“Dan lagi, apa kamu tak ingin memberitahukan kondisi soal laboratorium dan Rian padanya.”

“Hm, kupikir tidak dulu. Karena hal yang harus kita lakukan sekarang adalah untuk mengatasi permasalahan antara Kak Eruin dengan Bagas.”

***

“Mas Bagas!”

Berjalan di lorong rumah sakit, secara tidak sengaja mereka berdua bertemu dengan Risak. Seperti yang dikatakan Ani sebelumnya, kalau mereka berusaha untuk mencari mereka, pasti mereka akan langsung bertemu tanpa kesusahan.

“Bun—ibu!”

“Sebelum kita masuk ke permasalahan utama, ada baiknya kalau kamu mengabari sahabat-sahabatmu yang ada di desa lebih dulu.”

Bagas dan Erina mendekat, Risak memberikan ponsel milik Bagas yang sepertinya memang dibawa untuk tujuan mengabari sahabat-sahabatnya.

Bagas tak langsung menelepon, melihat sejenak ke arah Erina, Erina mengangguk untuk memberi syarat pada Bagas kalau dia harus melakukannya.

Bagas menjauh sedikit untuk memberikan ruang kepada dirinya sendiri saat akan menelepon. Erina yang sedang dekat dengan Risak, tak menyadari kalau sebenarnya calon mertuanya itu akan berbuat iseng padanya.

“Neng Erina!”

“Ya!”

“Apa mas Bagas kasar padamu?”

“E-eh, k-kasar? Maksudnya?”

“Maksud ibu, kalian berada di kamar itu berduaan semalaman bukan!”

“Y-ya, begitulah.”

“Dan apa Mas Bagas tak melakukan sesuatu padamu.”

Bagas melakukan sesuatu padanya, dan itu adalah keisengan yang membuatnya takut setengah mati. Wajahnya memerah, dan dia tak tahu harus menjawab apa.

“Y-ya, i-ini tak seperti yang ibu pikir-!”

“Uhuhu, sepertinya aku tak perlu lagi mengkhawatirkan kalian kalau kupercayakan untuk tinggal berdua di rumah.”

Meskipun keisengan itu tak seberapa, tetap saja membuat Erina sedikit takut setiap kali berhadapan dengan Risak. Karena mungkin saja, tak ada siapapun yang dapat menyimpan rahasia tanpa dia ketahui.


Bagas yang telah mendapat suasana bagus di dalam dirinya, mulai menghidupkan ponsel dan menelepon ke nomor yang telah tersedia sewaktu ponselnya hidup.

Dia menekan tombol telepon dan menaruh ponselnya dekat dengan telinga.

Deringan suara penerimaan terus berbunyi, sampai tak lama kemudian seseorang mengangkat teleponnya.

“Halo~”

Suara seorang anak kecil. Bukan hal yang diharapkan Bagas, tetapi dia tahu pasti siapa yang mengangkat teleponnya.

“Tuan Serigala di sini, siapa yang mengangkat di sana?”

(“Hei, ini si Tuan Serigala!”)

(“Tuan Serigala!”)

(“Mana-mana, aku mau bicara dengannya!”)

(“Tidak boleh! Aku yang mengangkatnya duluan!”)

(“Hei jangan bertengkar!”)

Tiga buah suara yang berbeda, itu pasti mereka, pikir Bagas selagi mengamati suara-suara yang saling berbicara itu.

(“Jangan bertengkar~!”)

Teriakan perempuan kecil, menghentikan pertengkaran dari dua suara laki-laki kecil yang bertengkar karena memperebutkan siapa yang akan berbicara padanya.

(“Berikan!”)

(“B-baik!”)

Suara perempuan kecil itu meminta ponsel yang ada pada mereka dengan sikap yang keras.

(“Halo, Bang Bagas!”)

“Ah, halo, ini Alicia ya?”

(“Ya!”)

“Di mana abang kalian?”

(“Abang, dia ada di kamar. Ah, akan kuberikan ini padanya ya!”)

Suara perempuan kecil itu segera membawa pergi ponsel genggam yang ia pegang. Membawanya ke suatu tempat yang menunjukkan kepada Bagas kalau kerinduan akan sahabat di dekatnya itu ada.

(“Kenapa kalian sangat ribut?!”)

Sebuah suara laki-laki besar yang marah sepertinya berbicara kepada Alicia kecil.

(“Ini!”)

(“Ada telepon? Dari siapa?”)

(“Tuan Serigala!”)

(“Serigala?”)

Awalnya Rian tampak ragu dengan perkataan adiknya. Tetapi setelah memegang ponsel genggam, dia mencoba untuk memanggil seseorang yang menelponnya dengan sebuah dugaan.

 (“Bagas? halo!”)

“Yo, bagaimana kabarmu?”

“...”

Balasan Bagas sepertinya mendiamkan si penelepon yang berganti. 

Itu adalah Rian yang seperti biasa, bernada besar dan kasar, meskipun dia tak bermaksud untuk menunjukkan hal seperti itu kepada orang-orang, tetap saja dia tak dapat menghilangkan kebiasannya itu.

(“Huhh~!”)

Rian terdengar sedang menghela nafas. Lalu melanjutkan berbicara dengan nada yang terkesan marah.

(“Hoi kampret, ke mana saja kau selama tiga bulan ini?!”)