Episode 161 - Budak (1)



Sebuah ruangan disinari sebuah lentera yang menggantung rendah. Dari lentera tersebut, menyala api kecil berwarna biru, dan menjadi satu-satunya sumber cahaya. Sebuah meja persegi empat tepat berada di bawah lentera. Api kecil berwarna biru menari bersama lantunan lembut hembusan angin, sehingga bayangan yang dihasilkan pun seolah mengikuti irama angin. 

Karena hanya diterangi oleh lentera kecil, dinding ruangan bahkan tak terlihat. Gelap. Suasana ruangan yang temaram menjadi semakin terasing. 

Empat ahli duduk di balik setiap sisi meja persegi empat. Tiga lelaki dan satu perempuan berpikir dalam diam. Setiap satu dari mereka berada pada Kasta Emas berbagai tingkatan. Serius sekali raut wajah para ahli tersebut.   

“Aku tiada dapat menemukan latar belakang anak itu...?” Ahli pertama memecah keheningan.

“Aneh sungguh... masa lalunya seperti tak ada. Tiada berbekas sama sekali.” Ahli kedua, seorang perempuan, menambahkan. 

“Apa pun itu, kehadirannya menggugat posisi kita, bahkan mengacaukan rencana yang telah tersusun rapi,” sambung ahli ketiga. 

Ahli keempat hanya diam mendengarkan. 

“Tak tanggung-tanggung, si bangsat itu tiba-tiba muncul dan mengancam keluarga besar masing-masing dari kita,” tambah ahli ketiga.

“Ia harus segera disingkirkan...” Ahli kedua berujar, setengah berbisik. 

“Sepakat!” sambut ahli pertama. 

...


Seorang anak remaja melangkah santai. Ia keluar meninggalkan Pustaka Utama. Karena statusnya di dalam perguruan yang demikian tinggi, maka ia memiliki akses ke mana pun ia hendak pergi.

Setiap murid yang berpapasan di jalan, tak seorang pun yang tak mencuri-curi pandang wajah pucat anak remaja itu. Di antara murid-murid tersebut, bahkan ada yang menyapa dengan teramat hormat, ada pula yang memperkenalkan diri. Tentu ada maksud terpendam. Dengan tingkat ‘hubungan darah’ yang sedemikian tinggi, di masa depan anak remaja itu pastilah menjadi tokoh penting di dalam Persaudaraan Batara Wijaya. 

Di lain sisi, Kum Kecho tiada ambil pusing. Jikalau ada yang menyapa, ia akan menganggukkan kepala. Kepada yang memperkenalkan diri, ia pun akan mengangguk ringan. Tak sepatah pun kata yang keluar dari mulutnya. Bukannya sombong atau apa, akan tetapi dirinya tak merasa perlu bersosialisasi dengan banyak ahli. 

Tokoh yang masih setia mengenakan Jubah Hitam Kelam ini sedang berpikir keras. Tujuan dirinya mengunjungi Perpustakaan Utama adalah menelusuri sejarah dan latar belakang Persaudaraan Batara Wijaya. Mau tak mau tindakan ini harus dilakukan, karena perguruan ini dibangun oleh Kakek Arya Wiraraja untuk dirinya. Kebetulan sekali, karena Kum Kecho memang sedang mencari ‘dukungan’.

Secara umum, Persaudaraan Batara Wijaya rupanya ‘dikuasai’ oleh sepuluh keluarga bangsawan. Maksud dari ‘dikuasai’ adalah bangsawan-bangsawan dari keluarga tersebut selalu memiliki Murid Utama di dalam setiap generasi. Sebagai tambahan, perwakilan dari keluarga-keluarga mereka menduduki posisi-posisi strategis di dalam perguruan.

Bukanlah hal yang aneh, batin Kum Kecho. Memiliki darah bangsawan, berarti mereka memiliki peluang sebagai penguasa Negeri Dua Samudera. Jangankan mereka, andai saja ada ahli-ahli lain dari Lima Pulau Utama di Negeri Dua Samudera menguji darah di Prasasti Darah, maka tak tertutup kemungkinan akan munculnya ahli-ahli yang lebih layak menduduki tahta negeri. 

Selama beberapa pekan di dalam Persaudaraan Batara Wijaya, Kum Kecho terus merenungi pesan tentang kebangkitan ‘Sembilan Arya Singa’, sebagaimana disampaikan oleh Kakek Arya Wiraraja. *

Demikian, di Pustaka Utama, Kum Kecho turut menelusuri tentang ‘Sembilan Arya Singa’. Sembilan Arya Singa adalah para pahlawan di masa lampau. Mereka merupakan para pengikut setia yang berjuang bersama Batara Wijaya saat mendirikan Negeri Dua Samudera. Di masa lalu, Kum Kecho hanya mendengar ceritera tentang mereka saja, namun kini sejarah tentang mereka menjadi ketertarikan sendiri. 

Arya Wiraraja diketahui sebagai ahli strategi yang membentuk mereka demi mendukung Batara Wijaya. Kum Kecho telah memperoleh nama-nama dari Sembilan Arya Singa. 

Langkah kaki Kum Kecho membawa dirinya semakin jauh ke dalam wilayah Persaudaraan Batara Wijaya. Wilayah perguruan rupanya teramat sangat luas. Kum Kecho segera mengingat akan Segel Waktu yang dapat melingkupi seluruh wilayah perguruan... 

Di atas perbukitan, sebuah panggung persegi dari tanah liat nan keras terbentang. Ukurannya sama dengan panggung-panggung yang biasa digunakan oleh para ahli untuk menguji kemampuan persilatan dan kesaktian. Puluhan murid terlihat sedang mengelilingi panggung tersebut. 

Kum Kecho ikut bergabung.

“Kasta Perunggu Tingkat 9, menantang siapa saja yang setara dalam pertarungan persahabatan satu lawan satu.” ujar seorang remaja yang telah melompat ke atas panggung, lalu berteriak lantang. “Batu Biduri Dimensi dengan daya tampung lima meter persegi ini menjadi milik lawan yang dapat mengalahkan diriku.”

Bertaruh dalam pertarungan bukanlah hal yang tak biasa. Banyak murid di dalam perguruan yang memancing lawan melalui imbalan tertentu agar dapat menguji kemampuan persilatan dan keahlian yang telah dilatih dengan susah payah. Dengan demikian, alasan untuk melakukan ‘pertarungan persahabatan’ dapat berlangsung. 

“Satu keping emas adalah harga pasaran bagi Batu Biduri Dimensi itu,” tanggap seorang remaja yang menyusul melompat ke atas panggung. Ia juga berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9. 

Kum Kecho menatap dengan seksama. Sebuah kenangan kilas balik mencuat di dalam benaknya. Akan tetapi, segera ia singkirkan kenangan itu, karena saat ini dirinya lebih tertarik menyaksikan pertarungan di atas panggung. Setangguh apakah murid-murid Kasta Perunggu di dalam perguruan ini...? 

Pertarungan di atas panggung baru saja dimulai, ketika sejumlah murid-murid yang berada di dekat Kum Kecho menyingkir. Satu per satu dari mereka bergeser menjauh. Perhatian Kum Kecho dari atas panggung teralihkan. 

Ia pun menoleh dan mendapati seorang remaja berdagu panjang tiba di samping dirinya. Di belakang remaja tersebut, sebuah pedati mewah ditarik oleh beberapa murid bertubuh besar. Tak kurang dari duapuluh ahli lain mengekor di belakang pedati. Sepertinya, ia merupakan pimpinan salah satu gerombolan murid. Lagi-lagi, bukanlah pemandangan baru di dalam sebuah perguruan. 

Remaja berdagu panjang yang baru tiba melirik ke arah Kum Kecho. Sepertinya ia tak senang masih ada murid yang tak membuka jalan. Akan tetapi, sepertinya pula ia telah mendengar kabar berita tentang remaja yang mengenakan jubah serba hitam dan memiliki taraf hubungan darah dengan Sang Maha Patih sampai setinggi 24%. 

“Itu Pangeran Rangga Lawe! Ia telah berhasil menerobos ke Kasta Perak!” 

“Anak itu berani berdiri di samping Pangeran Rangga Lawe...?”

“Ia juga berada pada Kasta Perak Tingkat 1. Lagipula, ia memiliki taraf hubungan darah yang tinggi, tentu ia bernyali...”

Kum Kecho tertegun. Bukan karena di saat tiba di Persaudaraan Batara Wijaya ia sempat melihat remaja tersebut memohon untuk menerobos ke Kasta Perak, dan kini telah benar-benar berada pada Kasta Perak. Bukan. Kum Kecho tertegun karena ia mendengar dengan sangat jelas bahwa nama remaja tersebut adalah Rangga Lawe!

Rangga Lawe merupakan nama dari salah satu Sembilan Arya Singa! 

Mungkinkah maksud dari Kakek Arya Wiraraja bukan membangkitkan Sembilan Arya Singa...? Melainkan, membentuk generasi baru dari Sembilan Arya Singa...? batin Kum Kecho. 

“Jangan mentang-mentang memiliki taraf hubungan darah yang demikian tinggi, engkau dapat berbuat sesuka hati...,” hardik si dagu panjang Rangga Lawe. 

Kum Kecho tak menjawab. Tetiba ia merasakan aura yang tak biasa dari belakang Rangga Lawe. Demikian, pandangan mata Kum Kecho tak lagi fokus pada remaja yang berdiri di sebelah dirinya, melainkan pada pedati di balik tubuh remaja tersebut. Aura yang dapat Kum Kecho rasakan sangatlah lemah. Selain itu, ia juga merasakan aliran tenaga dalam yang carut-marut. 

“Peranakan siluman...,” gumam Kum Kecho pelan. 

Remaja yang diketahui memiliki darah siluman sempurna dari ibunya, lalu melangkah santai ke arah pedati nan mewah, melewati Ranggara Lawe. Biasanya pedati hanyalah gerobak besar yang ditarik oleh seekor kuda. Ada jenis pedati yang terbuka, ada pula jenis pedati diberi dinding dan atap. Pedati di belakang Rangga Lawe ini adalah yang diberi atap dan dinding. Ukiran-ukiran nan indah menghias kayu jati pada setiap sisi. 

“Lancang sekali engkau mengabaikan aku!” Rangga Lawe mulai naik darah. 

Kum Kecho melongok ke dalam pedati. Ia mendapati seorang gadis belia bertubuh bongsor tergeletak tak berdaya. Gadis belia tersebut menatap balik, wajahnya demikian sendu. 

“Bangsat!” sergah Rangga Lawe, bersiap menyerang. 

“Yang Terhormat... Pangeran Rangga Lawe...,” terdengar rintihan gadis belia dari dalam pedati. “Kumohon... tinggalkan saja hamba.”

Langkah Rangga Lawe seketika terhenti... “Seruni Bahadur! Selamanya engkau akan menjadi pengikutku!” jawab Rangga Lawe. Seberkas kegetiran terlintas di balik suaranya. 

Di saat yang sama, pertarungan di atas panggung berlangsung singkat. Tak jelas pihak mana yang meraih kemenangan, karena perhatian sebagian besar penonton terpaku pada kejadian di dekat pedati nan mewah. 

Senyum tipis menghias sudut bibir Kum Kecho. Ia lalu melompat naik ke atas panggung!

Di atas panggung, Kum Kecho mengacungkan jari telunjuk ke arah Rangga Lawe. Ia lalu berujar, “Kasta Perak Tingkat 1, menantang Rangga Lawe dalam pertarungan satu lawan satu!” 

Seluruh murid yang hadir terperangah, Rangga Lawe apalagi. 

“Sebagai taruhan... bila kau meraih kemenangan, maka aku akan menyembuhkan gadis di dalam pedati itu! Sedangkan bila aku yang memenangkan pertarungan, maka serahkan pengikutmu itu untuk menjadi budakku!”

Rangga Lawe seolah tak percaya akan apa yang ditangkap kedua gendang telinganya. Seruni Bahadur yang terbaring tak berdaya di dalam pedati, menjadi lumpuh setelah penyerangan murid-murid dari Perguruan Maha Patih. Sebagai peranakan siluman, gadis bertubuh bongsor itu tak sengaja membangkitkan kekuatan siluman untuk pertama kalinya dalam pertarungan di hari nahas itu. Telah diketahui umum di kalangan ahli, bahwa membangkitkan kekuatan siluman memerlukan pengarahan ahli Kasta Emas. Bilamaa tidak, maka peranakan siluman seperti Seruni Bahadur dipastikan akan menderita kelumpuhan. Masa depannya sebagai ahli… pupus sudah. 

Rangga Lawe menggeretakkan gigi. Perihal Seruni Bahadur, tak seorang pun di dalam Persaudaraan Batara Wijaya berani mengolok-olok keadaan gadis tersebut di hadapannya. Akan tetapi, hari ini seorang remaja tanpa latar belakang yang jelas… berani berkata-kata lancang! 

Kendatipun demikian, mendengar kata-kata Kum Kecho tentang ‘menyembuhkan pengikutmu’, Rangga Lawe sempat diam terpaku. 

Menurut informasi yang si dagu panjang itu dapat dari para beberapa sesepuh perguruan serta buku-buku di pustaka, kemungkinan hanya ada dua tokoh di seantero Negeri Dua Samudera yang mampu menyembuhkan kelumpuhan Seruni Bahadur. Pertama, adalah salah satu dari Sembilan Jenderal Bhayangkara yang dikenal dengan sebutan Maha Maha Tabib Surgawi. Kedua, adalah peneliti gila dari Perguruan Gunung Agung, yang dijuluki sebagai Petaka Perguruan! 

Dua tokoh tersebut sepertinya terlalu jauh untuk dicapai. Yang pertama, statusnya setinggi langit. Atas alasan apakah tokoh nan digdaya sekelas Sembilan Jenderal Bhayangkara bersedia menyembuhkan peranakan siluman tak dikenal. Itu pun bilamana Maha Maha Tabib Surgawi masih hidup adanya. Sudah ratusan tahun tak pernah terdengar kabar berita akan kemunculan tokoh tersebut. 

Tokoh yang kedua... lebih ajaib lagi. Ia dikabarkan melarikan diri dari Perguruan Gunung Agung setelah mengorbankan sesama murid dalam penelitian, kemudian bergabung dengan Partai Iblis! Bagaimana mungkin murid Persaudaraan Batara Wijaya yang memiliki harga diri tinggi sebagai kerabat Sang Maha Patih, menjadi demikian rendah sampai meminta pertolongan kepada anggota Partai Iblis!? Tak dapat dicerna akal!

Rangga Lawe melompat naik ke atas panggung. Dua ahli Kasta Perak saling hadap-hadapan. 

“Aku akan menghajarmu!” sergah Rangga Lawe menerima tantangan. “Pertama, karena engkau menghina pengikutku! Kedua, karena engkau berani berbicara tentang perbudakan. Tak tahukah engkau bahwa Sang Maha Patih junjungan kita, telah menghapus segala bentuk perbudakan!?”

“Cuih!” Kum Kecho meludah ke tanah panggung. Muak sekali ia mendengar puja-puji terhadap Sang Maha Patih, ayah kandungnya.

Hari beranjak siang. Semakin banyak murid-murid Persaudaraan Batara Wijaya yang datang mengelilingi panggung. Bahkan mereka yang kebetulan melintas, bergerombol untuk datang mendekat. Sebuah tontonan menarik dan cuma-cuma akan segera mengemuka. 

Pertarungan antara dua ahli Kasta Perak Tingkat 1 segera dimulai!




Catatan: 

*) “Sembilan Arya Singa” pertama disinggung dalam Episode 151. Diilhami oleh ‘Sembilan Arya Terkemuka dari Singasari’ yang setia membantu Raden Wijaya saat mendirikan Kerajaan Majapahit. Mereka adalah Ranggalawe, Nambi, Sora, Gajah Pagon, Banyak, Kapuk, Pedang, Dangdi, dan Peteng.