Episode 34 - Strategi Untuk Final



Seekor naga putih mendarat di beranda asrama. Itu Dion, lengkap dengan segulung pesan di mulutnya. Sebuah perkamen, barangkali. Namun, tiada yang tahu sampai ada yang membukanya.

Begitu ekor berbulu usai mengibas-ngibas—menerbangkan sejumlah perdu di dinding-dinding asrama—naga tersebut meraung, serta-merta menimbulkan kegaduhan di sekelilingnya. Kala itu, Arya cepat-cepat menengok dari jendela. Dan, tatkala melihat Dion, ia pun bergegas membuka pintu.

Taki beserta Vida menyusul, berdiri heran di samping Si raut datar, menyaksikan Sang naga menjatuhkan gulungan besar. Berkisar setengah meter, perkamen itu terbentang sampai menyentuh undakan pintu asrama. Ada sekian baris kalimat, ditulis dengan indah dengan huruf meliuk-liuk.

“Aku tidak bisa membacanya,” ujar Arya. “Bahasa apa ini?” Ia menengok Dion, Sang naga perkasa.

“Bukan tulisan Jepang. Aku juga tidak bisa membacanya,” komentar Taki.

“Aku juga, kok,” timpal Vida mesem-mesem.

Enggan bersuara, Dion lebih setuju melebarkan kedua sayapnya, menimpa bangunan asrama dengan bayangan besar, sehingga lucid dreamer yang masih di dalam terpancing keluar.

Tak sampai satu menit, De Santos muncul, memberengut di depan pintu. Rupanya pebasket jangkung itu sedang malas bertatap muka dengan siapa pun, termasuk naga yang mungkin saja membawa berita penting.

“Kau rupanya, Dion.” Seorang pemuda, mengenakan jaket kulit cokelat dan celana tekstil selutut menyapa. “Kuharap ada berita penting.” Mata galaknya menyipit, tampak tajam di balik kacamata kotak. 

“Diamlah, Light! Kalau kau terus meracau, naga itu tak bisa beritahukan kabar apa pun kepada kita,” sanggah De Santos, bersandar di dinding seraya bersedekap.

Tiada yang datang lagi setelah itu. Semuanya bungkam, siap menyimak sepatah-dua patah kata yang keluar dari mulut Dion. Bahkan, sebelum ia mulai bicara.

“Mekanisme jalur menara babak final telah diumumkan.” Naga itu buka mulut. “Dua tim yang lolos babak sebelumnya akan bertanding dalam satu arena. Berbeda dari jalur menara di tes seleksi, arena kali ini terdiri atas tiga jalur yang masing-masingnya mengarah ke markas musuh. Selain itu, pada babak final, hanya lima lucid dreamer yang diizinkan ikut, sedangkan sisanya harus jadi penonton.”

Setiap asrama punya delapan anggota. Itu artinya, harus ada tiga orang yang kelewat rela untuk duduk santai dan menonton rekan-rekannya berjuang. Juga, arena yang punya tiga jalur terdengar berbahaya dari babak sebelumnya. Lima orang harus memilih satu, dua, atau justru ketiga-tiganya untuk sampai ke wilayah musuh. Strategi matang, jelas semua tim musti punya itu.

“Aku ikut bertanding,” tandas De Santos. “Aku berhasil mengalahkan dua orang di babak sebelumnya.”

“Tapi kau akhirnya kalah juga, bukan?” sahut Taki sok sibuk.

“Kau bahkan cuma bermain-main seperti bocah dengan teleportasimu itu.” Si pebasket jalanan menatap sengit.

“Sudahlah!” tukas Light, membiarkan rambut klimisnya mengilap diterpa kemilau mata Dion. “Menurutku, saat ini kerja sama kita diuji. Ego, percaya diri berlebihan, sombong, semua itu yang ingin dilihat para petinggi turnamen. Mereka ingin kita kacau, saling berdebat satu sama lain.”

Detik itu ketegangan beranjak kondusif. Taki berhenti mengganggu De Santos dngan argument-argumen sinisnya. Begitu pun sebaliknya, De Santos urung membiarkan cemooh-cemooh ringannya menjadi masalah besar.

“Terus, apa yang harus kita lakuin?” Vida memecah sunyi, memancing fokus yang lain ke arah Light.

“Jujur, aku belum tahu pasti.” Pemuda berbadan bangsai itu mendengus pasrah.

“Kita bisa tanya pada Ruhai,” celetuk Arya. “Dia ketua kita.”

“Heh? Maksudmu Si rambut kelabu itu? Dia tidak pandai mengatur strategi. Kau belum sadar, ya? Orang itu cuma main-main dengan turnamen ini.” De Santos protes. Bibir tebalnya menggeliat. “Buang-buang waktu saja.”

“Kau salah! Ruhai telah berjuang keras, lebih keras dari usahaku untuk menang. Dia mengorbakan segalanya demi kejayaan tim. Asrama siang! Bukankah kau lihat sendiri bagaimana gelegar dahsyat di seantero arena merebak? Seandainya Ruhai tidak bersikeras melindungi markas, mungkin aku takkan punya waktu untuk menghancurkan menara musuh.” Mata Arya berkilat-kilat, membendung emosi kelewat besar.

Babak final ada di depan mata, menghasut siapa pun untuk mengedepankan ego serta hasrat, meruntuhkan solidaritas juga toleransi. Tentu, mereka ingin menang. Apalagi, sudah ada ketentuan bahwa akan ada penghargaan buat lucid dreamer peringkat paling tinggi dan sanksi bagi lucid dreamer peringkat terbawah. Bukan hanya antar asrama, tetapi juga antar anggotanya.

“Kalau tidak salah, kau pernah bilang kalau para naga selalu mengawasi perkembangan kami. Jadi, bukankah kau seharusnya tahu siapa yang paling unggul di babak sebelumnya?” Taki melirik Dion, masih setenang yang lalu-lalu.

“Ah! Itu benar. Naga ini pasti tahu.” De Santos kegirangan.

“Anda sekalian benar-benar ingin tahu?” Satu kalimat, sarat akan makna dari mulut bergeligi Dion. “Saya mungkin akan memperburuk keadaan.”

“Tidak apa-apa. Kami bisa menerimanya.” Arya menimpali. “Setidaknya, akan ada gambaran mengenai orang-orang yang pantas bertanding di final.”

“Baiklah, jika Anda memaksa.” Dion agak merendahkan kepala, menyejajarkan pandangan kepada lima orang di depannya. “Peringkat pertama diraih Ruhai—”

“Tu-tunggu! Kau serius? Kenapa orang itu jadi yang pertama?” De Santos menyela, sedikit marah-marah. Namun, yang lain segera memberi isyarat diam. Mereka enggan memperpanjang masalah.

“Peringkat kedua diraih De Santos. Peringkat ketiga diraih Light Meyer. Peringkat keempat diraih Aretta Yunic. Peringkat kelima diraih Kagami Taki. Peringkat keenam diraih Arya Kusuma. Peringkat ketujuh diraih Avetta Yunic. Peringkat kedelapan diraih Vida.”

Jantungnya berdebar, sebab ada banyak kejutan di setiap kata yang diutarakan Dion. Ada banyak, bahkan Arya tak bisa sebutkan satu per satu. Yang jelas, ia terperangah sesaat tahu dirinya tersingkir dari peringkat lima besar. 

“Ini sulit,” ujar Light. “Informasi ini terkesan bohong.”

“Apa maksudmu?” respons De Santos, bersungut-sungut. “Kau meragukan naga asrama kita sendiri?”

“Tidak. Aku hanya penasaran soal referensi penilaian yang diambil. Mengapa orang yang menghancurkan menara bisa ada di peringkat enam? Kurasa, aku tidak pantas berada di atasnya.”

“Mengapa tidak Anda tanyakan langsung kepada yang bersangkutan?” Dion memandang Arya, serta-merta melempar sorot benderang.

Kala itu, Arya benar-benar tahu rasanya dipojokkan. Meski, ada segelintir orang yang membelanya. Namun, ada juga yang menatap sinis sekaan ragu dirinya mampu. Kalimat-kalimat Ruhai bergaung di kepalanya. Soal semangat, pantang menyerah, pembuktian diri sebagai murid Jackal. Arya telah lakukan itu, dan ia melakukannya dengan sepenuh hati. Lantas, mengapa dirinya tidak mampu menang mutlak?

“Arya, kau menghancurkan menara musuh sendirian, bukan?” Light bersuara.

“I-iya, kurasa.”

“Apa-apaan itu?” cekal De Santos. “Aku mendengar keraguan. Banyak keraguan!”

“A-aku … a-aku … aku menang berkat bantuan kalian, terlebih Ruhai yang bekerja keras untuk asrama kita.”

Ternyata sulit. Entah akan didakwa sebagai pengkhianat atau tidak, Arya sama sekali bingung. Waktu itu—saat pedang menempel di lehernya dan sebuah kisah keramat diceritakan—ada sebuah janji yang terselip di tengah-tengah penuturannya. Ya, sewaktu kisahnya sampai pada lonceng kota berdentang nyaring, seorang anak pendendam—mengutuk pembunuh ayahnya—mengayun pemukul lonceng untuk menyambut tamu yang datang, tiba-tiba ia berhenti bicara.  

Orang gila dari neraka, pengkhianat kelas kakap, pembohong besar. Namun, mengapa harus Arya yang terjerat di dalam lingkaran hasutnya? Jika Dion sudi menempatkan Sang penghancur menarat musuh di peringkat keenam, berarti dia sudah tahu janji tersebut. Percaya atau tidak, akan terjadi gerakan bawah tanah, gerakan super rahasia dari pembelot agung. Dan, Arya telanjur berjanji menyukseskan gerakan tersebut.

“Hoy, Arya! Jangan bercanda! Kami ingin dengar jawaban jujur,” ketus De Santos.

“Maaf, hanya itu yang kutahu. Tidak ada alasan lain, kecuali Dion tahu sesuatu yang tidak kutahu.” 

“Jika dia tidak tahu, maka saya juga tidak tahu. Akan tetapi, saya takkan memberi nilai tanpa pertimbangan.” Dion seketika menjawab. “Cukup sampai di sini. Babak final akan dimulai dalam waktu dekat. Mohon persiapkan strategi sematang mungkin.” Naga itu melebarkan sayapnya, lalu mengepak, menciptakan desau kencang. Sebelum mengudara, ia kembali menggigit perkamen besar, meninggalkan anggota asrama siang dengan sejuta kebimbangan.

“Gimana sekarang?” ucap Vida.

“Entahlah.” Light menghela napas, menengadah ke langit biru. “Kau sendiri, mengapa bisa ada di peringkat akhir?”

“Waktu musuh-musuh kita datang, aku jadi panik. Atribut-atributku nggak yang yang hebat, kecuali Chavo. Sementara, Chavo hanya bisa dipanggil dalam keadaan tenang. Jadi, mungkin saja, karena nggak sempat manggil Chavo, aku nggak bisa kasih banyak bantuan.” Kesepuluh kemari Vida bertautan, canggung mengutarakan kata.

“Sayang juga, sih. Padahal, kalau super guardian-mu datang, kita mungkin sukses melindungi markas.” Light menimpali.

“Lima peringkat teratas, mereka berhak ikut bertanding,” kata Arya, pasrah. “Biarkan kami menyaksikan kerja keras kalian.”

“Bagus-bagus. Aku setuju!” De Santos menyerengeh.

“Aretta Yunic, dia bukan orang yang mudah diajak bekerja sama.” Taki mengikuti obrolan. “Aku menjaga markas bagian timur bersamanya, dan kami kalah telak. Bukan karena lemah, tetapi karena Aretta Yunic lebih memilih tidur daripada bertarung.”

“Avetta Yunic juga sama. Aku harus bertarung sendirian, sementara ia asyik mendengkur.” Light menguatkan opini Taki.

“Mereka saudara kembar, kan? Dua gadis yang selalu memakai piyama berkerah tinggi. Saat persiapan babak sebelumnya pun, mereka tidak ikut.” Arya akhirnya buka mulut. “Pantas saja markas kita mudah ditembus.”

“Asrama kita benar-benar harus dibenahi.”


~~Para Pengendali Mimpi~~


“Di mana, di mana golemnya?” Red menyiagakan pandangan.

“Arah jam enam!” Fasha berseru.

“Reflect Eyes!”

Lagi dan lagi, seakan tiada habisnya, para punggawa asrama malam mati-matian membekuk pergerakan Roland yang bersikukuh hendak merangsek keluar. Pun demikian, golem-golem mungkin terus saja merepotkan musuh-musuhnya. Meski berpuluh-puluh kali dihentikan dengan Reflect Eyes, mereka selalu berhasil lolos.

“Arah jam tiga, jam tujuh, jam satu!” Segelintir info dari pengatur strategi, direspons Sarasvati dengan merubuhkan pohon-pohon, sehingga para golem jadi panik. “Arah jam sepuluh!”

“Reflect Eyes!”

Fred masih terkapar di tanah, tak kuasa bangkit akibat tubrukan Roland yang kelewat keras. Alhasil, pada pertandingan kali ini, tidak ada dua pilihan. Mereka musti bertahan—melupakan hasrat menjadi lucid dreamer teratas—dan menyerahkan sisanya pada para penyerbu garis depan. 

“Kita tidak akan kalah.” Red menyemangati. “Satu tiket ke babak final adalah milik kita!”