Episode 160 - Makna



“Srak...” 

Seorang perempuan dewasa muda mendarat di semak-semak. Pendaratan yang seharusnya dapat dengan mudah dilakukan, justru hampir membuat dirinya jatuh tersungkur. Sepenuh tenaga ia berupaya untuk menjaga keseimbangan tubuh. 

Ia kemudian berlari secepat mungkin membelah pepohonan. Hutan lebat dimanfaatkan sebagai perlindungan. Napas terengah-engah, ia berhenti sejenak. Wajahnya sungguh cantik jelita, andai saja rambutnya tidak acak-acakan dan kotoran tak menodai wajahnya. Tambahan lagi, kekhawatiran yang mendalam mengubah air mukanya menjadi sendu. 

Ia menyeka keringat di dahi, sebelum meneruskan berlari. Tangan kirinya menahan perut yang senak dan perih. Tangan kanannya menggendong semacam buntelan di balik jubah berwarna ungu. Berat sekali baginya untuk terus melangkah... Akan tetapi, mengabaikan rasa sakit, ia memaksa diri demi terus berlari sekuat tenaga. 

Jauh tinggi di udara, seorang lelaki dewasa melayang tenang. Dari kejauhan, ia hanya mengamati perempuan dewasa muda tersebut mendarat dan berlari dengan susah payah. Simpul senyum menghias sudut bibirnya. 

Kelelahan membuat perempuan dewasa muda bersandar di balik sebatang pohon besar. Napas masih terengah, tenaga tiada lagi banyak tersisa. Ia menyela jubah, sedikit melirik ke dalam. Sebuah senyum lembut menghias raut wajahnya. 

“Serahkan anak itu dan aku akan melepaskan dirimu...,” ujar lelaki dewasa yang melayang tinggi di udara. 

Perempuan dewasa muda menengadah perlahan. Raut wajahnya tak sedikit pun mencerminkan rasa takut. Akan tetapi, ia tak bisa menahan cemas ketika mendengar lelaki dewasa tersebut meminta untuk menyerahkan sang anak. 

Meski istirahat yang berlangsung sejenak jauh dari cukup, perempuan dewasa muda itu kembali berlari. Ia bergerak di antara pepohonan lebat. Sesekali menoleh ke atas, langkah kakinya terasa semakin berat. 

Perempuan dewasa muda itu sudah sedari tadi menyadari akan darah yang mengalir di pangkal pahanya. Ia mencari tempat untuk berlindung, lalu segera berhenti. Perlahan ia mengambil posisi duduk, berharap pendarahan dapat segera berhenti. 

“Menyerahlah baik-baik...,” lelaki dewasa masih melayang tinggi di udara. “Tubuhmu terluka berat... dan dirimu belum lama melalui persalinan. Tiada mungkin dapat berlari lebih jauh lagi.”

Perempuan dewasa muda itu menyibak jubah perlahan. Sepasang payudara besar sehat menyembul. Akan tetapi, payudara sebelah kanan menempel erat pada buntelan yang masih ia gendong di tangan kanan.

“Putriku, minumlah sepuasnya... dan beristirahatlah dengan tenang. Mama tak akan membiarkan sesiapa pun merampasmu....” Suara perempuan dewasa muda itu terdengar demikian tulus. 

“Tirta Kahyangan... tidakkah dirimu mendengar kata-kataku...?” Lelaki dewasa meyilangkan lengan di depan dada. Sepertinya ia sangat menikmati perburuan kali ini. *

“Serahkan anak itu, dan aku akan membunuhmu dengan cepat...,” sambung lelaki dewasa itu. 

Perempuan dewasa muda yang kini diketahui bernama Tirta Kahyangan, menurunkan dan meletakkan buntelan yang selama ini ia gendong perlahan di atas tumpukan dedaunan kering. Berhati-hati sekali gerakannya. Bila diperhatikan dengan seksama, buntelan tersebut terbuat dari kain bermotif batik, yang berwarna ungu. 

Tirta Kahyangan lalu membuka buntelan. Jemarinya gemulai dan raut wajahnya berseri. Di dalam buntelan itu, seorang bayi kecil mungil baru saja tertidur pulas. Dapat diperkirakan bahwa ia baru saja melahap susu badan demi memuaskan dahaga. Demikian damai raut wajah bayi tanpa cela, serta tanpa noda... 

“Embun Kahyangan putriku...,” Tirta Kahyangan berbisik pelan. “Apakah dahagamu sudah terpenuhi...? Maafkan bila mama tiada dapat lebih lama menemani....” 

Menatap si bayi, Tirta Kahyangan melontar senyum penuh kasih. Kemudian, perempuan dewasa muda itu terlihat mulai merapal jurus. 

“Nawa Kabut Kahyangan, Bentuk Ketujuh...” **

Sebuah gerbang dimensi tetiba berpendar. Akan tetapi, gerbang dimensi ini sangat berbeda dengan gerbang dimensi kebanyakan. Gerbang dimensi yang biasa digunakan oleh banyak ahli merupakan lorong ruang, yang umumnya berfungsi untuk memindahkan sesuatu dari satu tempat ke tempat lain, atau membuka dimensi ruang. Sedangkan gerbang dimensi yang kali ini berpendar, merupakan lorong waktu. Dengan kata lain, lorong waktu dapat memindahkan sesuatu menembus dimensi waktu, ke masa depan atau pun masa lalu!

Demikian, sisa tenaga dalam yang tak banyak, dimanfaatkan oleh Tirta Kahyangan untuk membuka dimensi waktu. Perlahan, ia kemudian mendorong bayi perempuan yang sedang tertidur lelap... untuk menembus lorong waktu. Di saat yang sama, ia juga menyelipkan secarik kertas di antara lipatan kain batik berwarna ungu. 

“Perempuan jalang!” hardik lelaki dewasa yang melayang tinggi di udara.

Menyadari kehadiran gerbang dimensi, lelaki dewasa itu segera melesat turun. Akan menyulitkan baginya bilamana perempuan buruannya itu menghilang. Meski demikian, dengan kecepatan ahli Kasta Bumi, lelaki dewasa itu cukup percaya diri. Semestinya, tiada diperlukan waktu yang panjang bagi dirinya untuk membekap sasaran... 

Tirta Kahyangan bangkit berdiri. Tubuhnya bergetar lemah karena cedera luar. Keadaan diperparah karena kelelahan dan pendarahan pasca persalinan yang turut mendera. Kendatipun demikian, tak terlihat sedikit pun keraguan pada raut wajahnya. 

“Embun Kahyangan putriku...,” Tirta Kahyangan berbisik lembut ke arah bayi yang sebentar lagi menghilang ke dalam lorong waktu. “Bawalah Selendang Batik Kahyangan... Hiduplah engkau di masa depan... Temukanlah ‘makna’ dari hidupmu...” 

Sebulir air mata mengalir di pipi kotor Tirta Kahyangan. Bibirnya bergetar tiada dapat ditahan. 

Usai menyampaikan kata-kata perpisahan, ia pun melompat maju tanpa ragu. Sisa hidupnya akan dimanfaatkan sebaik mungkin untuk memberi kesempatan agar sang bayi yang baru lahir... dapat dengan aman menembus lorong waktu. 


===


“Maha Guru Kesatu...” Terdengar suara seorang gadis belia lembut menyapa. 

Wajahnya memang mewakili seorang gadis belia. Akan tetapi, bentuk tubuhnya berkata lain. Sepasang payudara bulat menyembul sempurna, dengan ukuran di atas rata-rata, serta kelembutan yang begitu menggoda. Pinggangnya ramping, bertolak belakang dengan pinggul lebar menggairahkan. 


“Muridku... usia diri ini tak akan bertahan lama lagi...” 

Suara ini datang dari seorang perempuan dewasa yang duduk di tepi telaga nan dingin, dimana kabut terlihat bergumpal tebal. Perempuan tersebut mempertahankan pesona muda, meski dari pembawaannya terbias kesan yang demikian lanjut usia. 

“Maha Guru Kesatu... kumohon untuk tak berkata demikian,” tanggap Embun Kahyangan.

“Hm...,” perempuan dewasa itu tersenyum ramah. “Kasta Emas Tingkat 9, adalah batas kemampuan diri ini. Tiada mampu menembus Kasta Bumi.”

“Kasta Bumi...?” Embun Kahyangan penasaran. 

“Bakat dan kemampuanku jauh berada di bawah kakak kandungku. Beliau merupakan seorang perempuan yang dipenuhi dengan semangat hidup. Semangat yang menggelora... yang bahkan mampu memutarbalikkan ombak pasang samudera.”

“Kakak...?” Embun Kahyangan terlihat semakin bingung. 

“Embun Kahyangan muridku. Selama ini aku telah banyak berdusta kepadamu....”

“Maha Guru Kesatu telah memungut murid yatim dan piatu ini. Kemudian membesarkan, dan mengajarkan persilatan dan kesaktian… tak terbilang betapa besar anugerah yang telah murid terima,” tanggap Embun Kahyangan. “Bagaimana mungkin Maha Guru Kesatu banyak berdusta...?” 

“Kisah itu tidaklah sepenuhnya benar, wahai muridku.” Maha Guru Kesatu terdiam sejenak. “Aku tiada memungutmu. Kehadiranmu sudah kuperhitungkan selama ratusan tahun... karena kakak kandungku mengirim dirimu yang masih bayi menembus lorong waktu.”

“Kakak...? Lorong waktu...?” 

“Kau adalah putri dari kakak kandungku. Ratusan tahun silam, ia adalah salah satu dari Sembilan Jenderal Bhayangkara...”

Embun Kahyangan tak lagi bertanya-tanya dalam hati. Ia memutuskan untuk menyimak dengan segenap hati. 

“Di tangan salah satu Raja Angkara ia gugur. Akan tetapi, sebelum menghembuskan napas terakhir, ia mengirimkan dirimu bersama dengan Selendang Batik Kahyangan....” 

Wajah Maha Guru Kesatu sejenak berubah kusut. Ia terjepit di antara emosi senang dan pilu. Meski demikian, ia wajib menyampaikan pengetahuan yang ia miliki sebelum tutup usia. 

“Aku mendirikan Padepokan Kabut dan mengajarkan jurus Panca Kabut Mahameru. Akan tetapi, jurus tersebut bukanlah jurus asli, bukan pula ia sebuah jurus yang lengkap.” Benak Maha Guru Kesatu melayang sejenak.

“Keterbatasan bakat dan kemampuan... hanya mampu membawa diri ini menguasai lima bentuk dari sembilan bentuk dalam jurus aslinya.”

“Maksud Maha Guru...?”

“Jurus Panca Kabut Mahameru, sesungguhnya hanya merupakan bagian dari jurus Nawa Kabut Kahyangan.” 

“Nawa Kabut Kahyangan...?” gumam Embun Kahyangan. 

“Hanya kakakku seorang, ibundamu, yang menguasai Nawa Kabut Kahyangan secara lengkap dan utuh, untuk dikerahkan bersama-sama dengan Selendang Batik Kahyangan.” 

Embun Kahyangan berusaha keras mencerna informasi yang ia peroleh. Ibunda, Sembilan Jenderal Bhayangkara, Raja Angkara, Nawa Kabut Kahyangan...? Semua ini adalah sesuatu yang benar-benar baru bagi dirinya. 

“Aku mempersiapkanmu... melatih persilatan dan kesaktian, bukan tanpa alasan. Dendam atas kematian ibundamu, kakak kandungku, harus dibayar lunas. Salah satu Raja Angkara adalah pelakunya!” 

Embun Kahyangan menganggukkan kepala. Sebuah tugas, siap ia emban. 

“Akan tetapi, demi mencapai tujuan tersebut, terlebih dahulu dirimu harus mempelajari jurus Nawa Kabut Kahyangan.” Maha Guru Kesatu kemudian menyerahkan secarik kertas kepada Embun Kahyangan. 

“Itu adalah peta tempat dimana ibundamu menyimpan Kitab Kahyangan. Akan tetapi, untuk masuk ke sana, engkau memerlukan bantuan dari seorang Balaputera...”

“Paman Balaputera...?” 

“Ambil Kitab Kahyangan, dan pelajarilah. Setelah itu, bilamana engkau bertemu dengan Raja Angkara, maka sebutkan nama... Tirta Kahyangan.”

“Tirta Kahyangan...?”

“Nama kakakku... ibundamu... oh... beliau akan lebih senang bila disapa sebagai mama...”

“Mama Tirta Kahyangan...?” gumam Embun Kahyangan. “Maha Guru, dari Lima Raja Angkara, yang manakah yang menjadi sasaran?”

“Perhatikan reaksi lawan di kala mendengar nama tersebut.” 


===


“Khikhikhi...”

Terlihat melangkah seorang remaja berkulit gelap, yang mengenakan seutas tanjak melingkari dahi. Ia kemudian menancapkan sebilah keris besar ke tanah. 

“Sampai kapankah kau hendak mengulangi kegiatan gila ini...?”

Ia meneruskan langkah. Tak lama, ia tiba di ujung sebuah tebing. Tiada seberkas pun keraguan yang terpancar dari sorot matanya.

“Pyar!” 

Gelombang lahar panas berwarna kuning tersibak kental ketika remaja tersebut melompat ke dalam kawah gunung berapi! Selang beberapa detik, remaja tersebut menyeruak keluar. 

Kendatipun demikian, ketika berendam di dalam lahar nan panas, tubuhnya tiada banyak melepuh. Hanya beberapa bagian saja yang mengalami luka bakar. Jika diperhatikan dengan seksama, maka hal tersebut dimungkinkan karena perlindungan asap tipis yang membalut sekujur tubuhnya. Aroma kemenyan menyibak kental ke semerata penjuru. 

Usai melompat keluar dari dalam lahar panas, Hang Jebat melangkah gontai di pinggir kawah. Sebuah kolam buatan berukuran sumur kecil terlihat dipenuhi air berwarna hijau. Aroma berbagai jenis ramuan bercampur baur dengan asap kemenyan. Suasana berubah angker. 

“Hrarggh...” Hang Jebat melolong tak karuan di saat menceburkan diri ke dalam kolam ramuan tersebut. Rasa perih yang ia rasakan tiada terperi. 

“Kami pastikan... bila cara ini terus kau tempuh, maka tak lama lagi kau akan mati konyol,” keluh kesadaran Tameng, dari dalam keris besar Tameng Sari yang tertancap di tanah tak jauh dari kolam. 

Demikianlah cara menempa diri nan tak lazim ala Hang Jebat. Ia berusaha semampunya melindungi diri menggandalkan lapisan unsur kesaktian asap saat menceburkan diri ke dalam kawah lahar panas. Setelah itu, ia berendam di dalam berbagai jenis ramuan penyembuh dan penguat tubuh. 

Pola menempa diri ini dilakukan selang tiga hari sekali. Tujuan dirinya adalah bertahan selama mungkin di dalam kawah lahar panas. Setelah itu, ia akan berendam di dalam ramuan selama sehari semalam. Keesokan hari, barulah ia akan melatih kemampuan persilatan dan kesaktian sebagaimana kebanyakan ahli. 

Demikian, adalah menjadi siklus rutinitas si Raja Angkara Durhaka selama beberapa purnama.

Berkat cara ini pula, peringkat keahliannya bertumbuh pesat. Dari Kasta Perak Tingkat 1 beberapa bulan lalu, kini Hang Jebat sudah berada pada Kasta Perak Tingkat 5!

Sebagai catatan, cara menempa diri serupa juga pernah diterapkan oleh Super Guru Komodo Nagaradja terhadap Super Murid Bintang Tenggara di Pulau Bunga. Kala itu, Komodo Nagaradja memerintahkan Bintang Tenggara berendam di setiap satu Telaga Tiga Pesona secara bergantian. Telaga Merah yang menjalar panas, Telaga Biru merambah dingin, serta Telaga Hijau meruak racun. 

“Wahai! Apakah kau mendengar kata-kata kami!?” hardik kesadaran Tameng. 

Hang Jebat yang kelelahan karena berkonsentrasi menebar mata hati serta mengerahkan tenaga dalam, bersandar diam di dalam kolam kecil... 

“Keluarlah... Sampai kapan kau hendak menonton...?” tetiba Hang Jebat bergumam. 

“Oh... maafkan... maafkan..., diri ini hanyalah kebetulan melintas....” Terdengar balasan dari atas sebuah pohon di kejauhan. Seorang lelaki dewasa muda dengan balutan perban di sekujur tubuh sedang duduk santai di dahan pohon besar. 

“Aku mengenali dirimu... kau adalah salah seorang Maha Guru di Kota Ahli...”

“Benar. Diriku adalah seorang Maha Guru, namun bukan berasal dari Perguruan Maha Patih. Diriku berasal dari Sanggar Sarana Sakti....” Sangara Santang melangkah mendekati Hang Jebat. 

Lagi-lagi, gerbang dimensi alami di pusat Alas Roban berbuat ulah. Bintang Tenggara berpapasan dengan Kum Kecho, Lintang Tenggara dan Lampir Marapi tiba di dalam wilayah Pulau Satu Garang. Terakhir, di tempat ini, Sangara Santang bertemu dengan Hang Jebat si Raja Angkara Durhaka!

“Apakah itu Pedang Patah yang kabarnya menghilang dari Kota Ahli...?”

“Janganlah berpura-pura bodoh...,” gelak Hang Jebat. 

Meski Sangara Santang berada pada Kasta Emas Tingkat 1, Hang Jebat tiada khawatir. Bilamana pertarungan berlangsung, mungkin akan sangat sulit baginya meraih kemenangan. Akan tetapi, berbekal Kasta Perak Tingkat 5 dan anugerah kekuatan tubuh Kasta Emas dari keris Tameng Sari, Hang Jebat pastilah mampu bertahan dalam pertarungan satu lawan satu. 

“Wajah dan tubuh Tuan berbeda dari saat berkunjung ke Kota Ahli, wahai Raja Angkara Durhaka....” Sangara Santang tentu menyadari bahwa tak mungkin baginya mengelabui lawan bicara kali ini. 

Hang Jebat menoleh pelan. Ia tak merasa ada ahli yang mengamati keberadaan dirinya di Kota Ahli saat Kejuaraan Antar Perguruan berlangsung. Hang Jebat tentunya tak menyadari bahwa Sangara Santang mengintai di saat dirinya hendak merasuk Bintang Tenggara. 

“Sepertinya kau tiada berdusta saat mengatakan hanya kebetulan melintas di tempat ini....” Hang Jebat mengalihkan pembicaraan. Dirinya masih berendam di kolam kecil. Tameng Sari hanya terpaut beberapa langkah. 

“Memanglah demikian adanya. Akan tetapi, setiap pertemuan pastilah ada maknanya... Tinggal kita tentukan ke arah mana ‘makna’ tersebut akan dibawa,” balas Sangara Santang tenang. Ia lalu duduk di atas sebongkah batu besar tak jauh dari Hang Jebat. 

“Mendekatlah... Khikhikhi... ceriterakanlah kisahmu....” tanggap Hang Jebat. 

“Akan lebih baik bila Tuan Raja Angkara Durhaka menyelesaikan rendaman terlebih dahulu...,” sahut Sangara Santang. “Agak janggal rasanya berbincang-bincang dengan seorang lelaki yang tak berbusana....” Sebulir keringat mengalir di pelipis Sangara Santang. 



Catatan: 

*) Tirta Kahyangan pernah dibahas sepintas dalam Episode 113.

**) ‘Nawa’, bahasa Sanskerta yang berarti: ‘sembilan’.


Jangan lupa bantu klik iklan... Haha...