Episode 12 - Tingkat Tenaga Dalam dan Dunia Persilatan

“Seharusnya tenaga dalam mengalir melalui pembuluh energi murni, namun entah kenapa aku merasakan energi murni Sadewo tidak mengalir di dalam pembuluh energi murnimu. Tapi mengalir di pembuluh darah menyatu dengan darahmu.”

“Apakah itu berbahaya?”

“Aku juga tidak tahu. Ini baru pertama kalinya kulihat kasus seperti ini. Tapi…”

“Tapi apa?”

“Tapi mungkin karena tenaga dalam itu mengalir melalui pembuluh darah, makanya kau tidak tewas saat menerima tenaga dalam Sadewo.”

Perkataan Kinasih mengingatkanku pada iblis darah yang muncul saat kematianku di labirin bawah tanah. Mungkin iblis itu adalah manifestasi peralihan tenaga dalam Sadewo ke dalam pembuluh darahku. Berarti rasa sakit luar biasa yang kualami waktu itu juga ada hubungannya dengan peralihan tersebut.

“Menarik.” Tangan kanan Kinasih bergerak memegang dagunya.

“Berarti, hidupku tidak lagi berada dalam bahaya? Karena tenaga dalam Sadewo kini mengalir di dalam darahku?”

Jawaban yang diberikan Kinasih adalah gelengan kepala. 

“Mungkin sementara ini tidak, tapi belum tentu nanti. Apalagi kuantitas tenaga dalam tingkat penyatuan jiwa sangat besar. Tidak semua orang dapat menampung energi sebesar itu.”

“Lalu, apa yang harus kulakukan?”

Kinasih menghela nafas, “Mungkin kau bisa berlatih pengolahan tenaga luar dan tenaga dalam sehingga kau dapat menjadikan tenaga dalam Sadewo menjadi milikmu,”

Kata-kata Kinasih membuat nafasku tertahan, berlatih pengolahan tenaga dalam? Pikiranku langsung melayang pada pertarungan antara Kinasih dan Sarwo kemarin, hanya ada satu kata yang dapat menggambarkan pertarungan itu. Keren! Tentu saja aku mengabaikan bagian ketika Sarwo dan anak buahnya meregang nyawa satu per satu di tangan Kinasih, bagian yang itu tidak keren.

Jujur saja, sebagai remaja, aku juga punya fantasi petualangan. Jika diberi mempelajari kemampuan semacam Kinasih dan Sarwo, tentu aku tak akan menolaknya.  

“Baiklah, aku mau,” jawabku mantap.

Kinasih mengangguk, “Aku akan mencarikan teknik pengolahan tenaga dalam yang cocok denganmu, selain itu kau juga perlu mempelajari jurus-jurus tenaga luar untuk menunjang peningkatan tenaga luarmu. Untuk sekarang, kau perlu mengetahui dahulu tingkatan-tingkatan kesaktian tenaga dalam di dunia persilatan.”

Kinasih bergerak mundur menjauhiku beberapa langkah, kemudian dia menarik nafas panjang dan mengambil kuda-kuda. Selanjutnya dia memperagakan gerakan-gerakan silat yang gemulai namun tegas. Entah kenapa, melihat Kinasih, aku merasa seperti melihat kabut yang menari-nari di hembus angin di dalam ruangan apartemen yang sempit ini. 

Sambil terus memperagakan jurus-jurusnya, Kinasih mulai memberikan penjelasan padaku. 

“Tenaga dalam memiliki lima tingkatan utama, penyerapan energi, pembentukan dasar, pemusatan tenaga dalam, penyatuan jiwa, dan penyucian jiwa. Tahap penyerapan energi adalah tahap paling dasar dimana tubuh mulai menyerap energi murni alam semesta dan mengalirkannya melalui dua belas pembuluh energi murni, karena itu tahapan ini dikatakan memiliki dua belas tingkatan, setiap satu titik pembuluh energi sama dengan satu tingkatan. Pada tahap ini, kekuatan fisik dan kecepatan seorang pendekar secara perlahan akan melampaui manusia biasa.”

Aku baru menyadari, kenapa gerakan Kinasih tampak seperti kabut yang bergerak gemulai namun tegas di tiap akhir gerakan. Sebenarnya Kinasih bergerak dengan sangat cepat, begitu cepatnya hingga menciptakan afterimage. Seperti velg ban yang berputar begitu cepat sehingga menciptakan ilusi bahwa putaran velg itu tampak lamban. 

Tiba-tiba Kinasih menghentikan gerakannya, menyebabkan hembusan angin kuat yang menerpa tubuhku hingga terhuyung. 

“Tahap kedua adalah tahap pembentukan dasar, saat seluruh energi yang diperlukan tubuh telah berhasil diserap dan memenuhi dua belas titik pembuluh energi, maka selanjutnya adalah mempersiapkan energi murni itu sebagai sebuah pondasi. Ada tiga tingkatan dalam tahap pembentukan dasar, tingkat awal, menengah, dan akhir. Pada tahap ini, seorang pendekar mampu mengatur aliran tenaga dalamnya sesuka hati.”

Kinasih menyatukan kedua telapak tangannya, lalu menggerakkannya ke depan perut sambil tetap merapatkan kedua telapak tangannya secara horizontal. Kulihat kedua telapak tangannya berpendar keputih-putihan. Bersamaan dengan itu, suhu udara di ruangan apartemen ini menurun drastis, persis seperti saat Kinasih bertarung dengan Sarwo. Secara refleks, kakiku melangkah mundur.

“Tahap ketiga adalah tahap pemusatan tenaga dalam. Jika pondasi tenaga dalam telah sempurna, selanjutnya adalah membentuk inti tenaga dalam. Energi yang menyebar di seluruh tubuh di pusatkan dan dipadatkan pada satu titik. Pada tahap ini, seorang pendekar mampu memanipulasi tenaga dalamnya menjadi bentuk fisik.”

Kinasih memisahkan kedua telapak tangannya, diantara kedua telapak tangan itu tampak pusaran putih seperti kabut. Ingatanku segera melayang pada pukulan sakti Kinasih pada waktu itu, jika tidak salah namanya Tapak Awan Es. Perlahan tapi pasti, pusaran putih itu perlahan-lahan menipis hingga akhirnya menghilang. Kinasih menghela nafas panjang lalu menggerakkan kedua tangannya ke samping, kembali pada posisi awalnya yang berdiri biasa. 

Eh, hanya itu saja? Bukankah Kinasih mengatakan ada tahap penyatuan jiwa dan tahap penyucian jiwa? Kenapa penjelasannya berhenti hanya sampai di tahap pemusatan tenaga dalam?

“Lalu, tahap penyatuan jiwa dan tahap penyucian jiwa?” Aku tidak dapat menahan rasa penasaran. Tanpa banyak pikir, aku segera menanyakannya pada Kinasih. 

“Untuk saat ini kau cukup mengetahui hingga tahap pemusatan tenaga dalam saja.”

“Tapi, bukankah kau bilang didalam tubuhku terdapat tenaga dalam setahap penyatuan jiwa. Bagaimana aku mengendalikannya jika aku tidak tahu apa itu tahap penyatuan jiwa?”

Kinasih tersenyum sinis, namun senyum sinis itu segera menghilang diganti dengan senyum geli. “Nanti setelah mulai berlatih pengolahan tenaga dalam kau akan paham sendiri. Tenang saja.”

Meskipun jawaban yang diberikan Kinasih sama sekali tidak memuaskanku, namun kuputuskan tidak mengejar pertanyaan itu lebih lanjut. 

“Baiklah,” ujarku singkat.

“Untuk sekarang, kau boleh pulang.” Kinasih mengarahkan pandangannya ke langit-langit, kemudian kembali melanjutkan kata-katanya, “Esok lusa, kembalilah kemari.” 

“Hah? Pulang? Hanya begitu saja?” seruku dalam hati. Tiba-tiba saja aku merasa serba salah. Kukira aku akan seharian berada disini, tapi pada kenyataannya belum sampai satu jam Kinasih sudah menyuruhku pulang. Tiba-tiba saja aku merasa kedatanganku kemari tak ada gunanya. 

“Tak bisakah kita mulai latihannya hari ini?” tanyaku asal-asalan. 

Kinasih kembali menarik nafas panjang, “Berlatih pengolahan tenaga dalam tidak semudah yang kau kira, perlu teknik yang cocok agar hasil yang diberikan maksimal. Berlatih menggunakan teknik yang salah malah akan berbalik mencelakakanmu. Dan saat ini aku tidak punya teknik yang cocok untuk kau gunakan, karena itu aku perlu mencarinya lebih dahulu.”

“Tapi, mungkin aku tidak bisa datang lagi kemari besok lusa. Aku harus masuk sekolah.” Hari ini aku sudah bolos sekolah. Meskipun kali ini tidak masalah, tapi jika aku harus bolos berkali-kali, maka cepat atau lambat tentu akan menjadi masalah. 

“Oh, aku lupa,” ujar Kinasih sambil menepuk dahinya pelan. “Baiklah, aku akan memberikannya padamu di jalan tempat kita bertemu kemarin, waktu yang sama.”

“Eh… Baiklah,” ujarku sambil menggaruk-garuk kepala. “Oh iya… sebenarnya ada hal lain yang ingin kutanyakan.”

“Silahkan.”

“Kenapa… kenapa kau menolongku?” 

Kulihat Kinasih terdiam selama beberapa saat. “Hanya kebetulan saja…” ucapnya singkat sambil mengangkat bahunya. 

“Hah?” Aku tidak dapat menyembunyikan keterkejutanku. Apa maksud kata-katanya barusan? Dia menolongku sejauh ini hanya karena kebetulan saja? Namun Kinasih tampaknya tak terlalu perduli pada ekspresi wajahku yang terbengong-bengong karena ucapannya, dia berjalan pelan menuju meja komputernya.

Kulihat dia kembali melanjutkan aktivitas browsingnya. Ah, mungkinkah dia enggan menceritakan alasannya padaku? Tapi kenapa? Biarlah, mungkin suatu hari nanti dia akan memberikan jawabannya padaku. 

“Kalau begitu, sebelum aku pulang. Bisakah kau jelaskan padaku tentang dunia persilatan?”

“Yah, kurasa tidak ada salahnya memberitahukan padamu mengenai dunia persilatan. Toh setelah kau berlatih pengolahan tenaga dalam, cepat atau lambat kau pasti akan mengetahui dunia persilatan. Singkatnya, dunia persilatan berisi orang-orang yang berlatih dan menguasai pengolahan tenaga dalam serta jurus-jurus sakti.”

“Seperti perguruan-perguruan silat?”

“Kurang lebih begitu, namun seperti yang kujelaskan sebelumnya, pengolahan tenaga dalam yang kami latih jauh lebih dalam lagi. Mungkin kau pernah mendengar cerita masa lalu tentang orang-orang yang bisa berlari diatas air, menghancurkan batu besar, atau lompat lebih tinggi dari pohon di masa lampau.”

“Ya, aku pernah mendengarnya.”

“Dimasa lalu, mungkin kalian orang-orang awam akan dengan mudah bertemu dengan kami, orang-orang dunia persilatan. Namun seiring dengan waktu dan perkembangan teknologi, kami, orang-orang dunia persilatan, merasa masyarakat modern tidak akan lagi bisa menerima keberadaan kami. Selain itu, sejak zaman dahulu orang-orang dunia persilatan bukanlah orang yang senang dibatasi oleh aturan dan politik. Akhirnya, seiring dengan waktu, kami mulai memisahkan diri dari kehidupan masyarakat umum dan membangun dunia kami sendiri. Kami menyebutnya sama sebagaimana orang-orang jaman dahulu menyebut dunia kami, Dunia Persilatan.”

Aku serius mendengarkan penjelasan Kinasih. 

“Dalam dunia persilatan, terdapat banyak aliran, kelompok, sekte, dan perguruan. Aku sendiri berasal dari kelompok bernama Perkumpulan Angin Utara.” ujar Kinasih meneruskan penjelasannya.

“Jadi, ada banyak orang seperti kalian?” tanyaku.

“Lebih banyak dari yang kau pikir.”

“Tapi jika orang-orang yang ada dalam dunia persilatan ada banyak, bagaimana kalian bisa menyembunyikan diri selama ini.”

“Dengan kemampuan yang kami miliki, kami bisa dengan mudah mengakses posisi-posisi penting di dunia awam. Para pemimpin dunia awam tahu tentang keberadaan kami, tapi mereka tak akan ikut campur urusan dunia persilatan. Kau tentu masih ingat saat kemarin kau dirumah sakit. Pihak kepolisian sudah mengetahui kalau urusanmu adalah urusan dunia persilatan, karena itu mereka tidak ikut campur terlalu mendalam.”

Oh, jadi itu alasannya kenapa polisi dengan begitu mudahnya menerima kesaksianku begitu saja.

“Selain itu, kau juga ingat kemarin, saat aku bertarung dengan Sarwo?”

“Oh! Iya, kenapa waktu itu dunia terlihat begitu redup?”

“Sarwo menggunakan pusaka pemisah alam. Pusaka itu mampu membuat dunia paralel yang terpisah dengan dunia awam. Karena itu sisa-sisa pertarungan para pendekar dunia persilatan tidak akan banyak mempengaruhi dunia awam.”

“Dunia paralel?”

Kinasih mengangguk. 

Dunia persilatan mampu membuat dunia paralel yang terpisah dengan dunia awam, atau dengan kata lain, dunia nyata? Tapi bagaimana mereka melakukannya? Dengan teknologi atau dengan cara lain?

“Tapi, bagaimana kalian bisa membuat dunia paralel itu?”

“Pada tahap penyucian jiwa, kita bisa melakukannya.”