Episode 12 - Risiko Orang Ganteng Itu Bisa Membuat Cewek-Cewek Histeris



 Di dalam kelas IPA tujuh. Suasana sudah ramai sebelum bel masuk berbunyi. Para siswa berkumpul sesuai dengan gengnya, ada geng kapak merah, ada geng jomblo, ada geng cewek-cewek imut, dan ada geng orang-orang aneh.

 Geng kapak merah adalah geng yang dihuni oleh para siswa cowok yang suka dengan taruhan entah itu taruhan sepakbola atau taruhan yang lainnya. Anggota mereka itu licik, apalagi yang bernama Coklat, Tiar dan Ival. Ya mereka salah satu pemimpin di geng ini. Biasanya sehari sebelum ada pertandingan sepakbola bigmatch, mereka sudah siap dengan uang-uang taruhannya. Di selembar kertas mereka tulis nama klub yang bertanding beserta nama anak yang taruhan dengan skornya masing-masing.

 Pernah ketika ada pertandingan Liga Champion antara Liverpool dengan Madrid yang dimenangkan oleh Madrid dengan skor 3-0. Ucup yang saat itu menebak Madrid dengan keunggulan 3-0 dan dia menang. Keesokan paginya, karena Ucup ini enggak terlalu update dengan pertandingan sepakbola akhirnya dia gagal menang.

 “Eh, semalam berapa-berapa skornya?” tanya Ucup pada Coklat.

 “3-0 buat Madrid.”

 “Wah, aku menang, aku kan benar tebak 3-0.”

 “Ah, masa sih?”

 “Iya, coba lihat dah kertasnya.”

 “Yah, Cup, kertasnya hilang.”

 “What!” Ucup kaget bukan kepalang.

 “Karena kertasnya hilang maka enggak ada yang menang.”

 Begini ceritanya, sebelum Ucup datang. Coklat, Tiar dan Ival yang tahu Ucup menang langsung membuang kertas taruhannya.

 “Eh, semalam Madrid menang tuh 3-0,” ucap Ival.

 “Iya, si Ucup yang menang,” kata Coklat.

 “Gimana kalau kertasnya kita buang aja,” ujar Tiar.

 “Jangan!” tegas Coklat.

 “Kenapa?” serentak Ival dan Tiar.

 “Jangan ditunda-tunda, buang aja kertasnya.”

 Mereka bertiga pun membuang kertas taruhannya itu, dasar licik.

 ***

 Yang kedua geng jomblo, geng jomblo ini adalah geng para cowok-cowok yang enggak punya pacar, ya hampir semua enggak punya pacar. Kenapa enggak punya pacar? Karena cewek-cewek IPA tujuh pada tergila-gila dengan yang namanya Fauzi. Geng jomblo ini adalah satu geng yang mempunyai prestasi, bahkan Kementrian Budaya dan Pariwisata memberikan penghargaan kepada mereka dikarenakan dengan adanya mereka, para spesies jomblo masih dibudidayakan dan terselamatkan di muka bumi ini.

 Yang Ketiga, geng cewek imut. Geng cewek imut ini adalah geng yang semuanya berisi para cewek-cewek yang mengaku imut-imut, yang kerjanya tiap hari cuma mejeng doang sama gosipin artis-artis idola mereka.

 Keempat, geng orang-orang aneh. Geng orang-orang aneh merupakan geng langka yang berisikan manusia-manusia aneh yang ada di permukaan bumi. Mereka itu aneh, mulai dari tingkah lakunya sampai gayanya yang sebakul. Coklat, Ival dan Tiar termasuk di dalamnya.

 ***

 Pagi ini di dalam kelas, geng aneh berkumpul dengan membentuk suatu kelompok diskusi. Mereka membicarakan akan kemana setelah lulus nanti, namun bel masuk kelas berbunyi akhirnya diskusi itu pun batal. 

 Jam pertama mereka adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Guru pada bidang pelajaran itu bernama Bu Ima. Wajahnya manis semanis permen karet, badannya agak kecil, dan kulitnya seperti sawo mateng. Bu Ima masuk ke dalam kelas sambil membawa banyak buku. Di tangan kanannya ada lima buah buku paket, di tangan kirinya ada enam buah buku paket, belum lagi di dalam tasnya kira-kira ada sekitar dua belas buku paket. 

 Dia masuk ke dalam kelas dengan senyumannya yang khas yaitu melebar ke kiri sepanjang satu cm dan ke kanan satu cm. Ketika Bu Ima duduk di bangku depan. Brug! Bu Ima langsung membanting bukunya di meja begitu saja. Akibat getaran bantingan buku Bu Ima, para siswa IPA tujuh sedikit terpental dari bangkunya masing-masing. 

 “Busyet dah apaan nih?” tanya Coklat yang kaget.

 “Ada gempa bumi kali,” jawab Ival.

 “Bu, banyak banget bawa bukunya?” tanya Coklat saat melihat sumber suara tersebut dari meja guru.

 “Lah yang bilang sedikit siapa?”

 “Enggak ada, Bu.” Coklat lalu menundukkan kepalanya.

 Bu Ima kemudian berdiri di depan kelas ini.

 “Anak-anak, kalian tahu kenapa Ibu bawa banyak buku?”

 “Enggak tahu, emang kenapa?” serentak anak-anak.

 “Karena Ibu tidak membawa sedikit buku, makanya bukunya banyak.”

 “Oh iya, enggak kepikiran loh sama kita. Ibu pintar ya,” serentak anak-anak.

 Bu Ima pun memulai materinya pagi ini, dia lalu mengambil satu buku dari meja guru dengan tangan kanan. Sambil memegangi buku pelajaran Bahasa Indonesia, dia kembali bertanya.

 “Anak-anak, kenapa Ibu pegang bukunya dengan tangan kanan?”

 “Karena tangan kanan itu lebih baik dari tangan kiri!” jawab Coklat.

 “Bukan, tidak tepat jawaban kamu. Ada yang tahu?”

 “Karena tangan kiri biasanya dipakai buat nyebok, Bu!” jawab Ival.

 “Bukan juga, ngaco kamu.”

 “Karena kalau untuk kebaikan sebaiknya menggunakan tangan kanan, Bu!” jawab Sweety.

 “Bukan juga, ada yang tahu?”

 “Kami nyerah, Buuu!”

 “Kenapa Ibu memegangi buku ini dengan tangan kanan? Karena tangan kiri Ibu tidak memegangi buku ini, makanya tangan kanan yang megang.”

 Gubrak! Jawabannya enggak berbobot banget.

 Sebelum memulai materi, Bu Ima mengetes para anak IPA tujuh dalam hal baca-membaca.

 “Ok, sebelum kita memasuki pelajaran. Ibu mau tes kalian membaca terlebih dahulu.”

 “Iya, Buuuu!” serentak anak IPA tujuh.

 “Em a ma... ka a ka... en, jadinya?”

 “Makaaan!”

 “Salah.”

 “Loh kok salah, Bu?”

 “Em a ma ka a ka en jadinya kenyang, betul tidak kalau kita makan jadinya kenyang?”

 “Betuuul”

 Haduh-haduh, Bu Ima ini pintar banget ngelesnya. Emang sih betul kalau makan jadinya kenyang. Karena Bu Ima tidak puas dengan jawaban anak-anak IPA tujuh, Bu Ima kembali mengetes mereka.

 “Lagi ya. el a la er i ri, dibacanya?”

 “Cape, Bu!” serentak siswa.

 “Salah.”

 “Loh kok salah?”

 “El a la er i ri dibacanya lari.”

 “Hah?”

 “Coba pahami kata-kata Bu Guru, ini kan dibacanya bukan jadinya, paham?”

 “Pahaaam.”

 ***

 Setelah mengetes kemampuan para siswanya dalam hal memahami suatu kata dan maksud, Bu Ima pun membahas materi yang akan diberikan.

 “Anak-anak, hari ini kita belajar puisi. Sebelum belajar tentang puisi, kalian harus tahu apa itu puisi, ada yang tahu apa itu puisi?”

 “Puisi itu orang yang kerjaannya nangkep-nangkepin penjahat, Bu!” jawab Coklat.

 “Itu polisi.”

 “Bu! Puisi itu keadaan dimana kita ingin minum!” jawab Ival.

 “Itu haus, Val, jauh banget. Ada yang tahu apa itu puisi?”

 “Enggak, Buuu!” serentak anak ipa tujuh.

 “Yah, kalian enggak tahu,” ucap Bu Ima bersuara lemas.

 “Kenapa, Bu?”

 “Padahal Ibu nanya loh, eh kalian semua enggak pada tahu. Ya udah enggak jadi, percuma Ibu nanya sama kalian.”

 Ternyata Bu Ima sendiri juga enggak tahu. Lalu Bu Ima berniat memberikan sebuah contoh apa itu puisi, seperti apa itu puisi. Namun sebelum memberikan contoh seperti apa itu puisi, dia kembali bertanya kepada anak-anak IPA tujuh.

 “Anak-anak, ada yang tahu puisi itu seperti apa?”

 “Saya, Bu!” Coklat mengancung telunjuknya.

 “Ya seperti apa, Coklat?”

 “Puisi itu mempunyai badan tegap, mata sipit, hidungnya mancung, rambutnya klimis, Bu.”

 “Weleh, yang ditanyain ciri-ciri puisi bukan ciri-ciri orang.”

 “Oh, salah ya, Bu,” ucap Coklat merasa tak berdosa.

 “Ya iyalah salah.”

 Bu Ima kemudian berjalan perlahan ke arah Ival, langkahnya pun berhenti di hadapan Ival. Sebelum Bu Ima menanyakan pada Ival, dia sejenak berucap dalam hati.

 Ah pasti jawaban anak ini ngaco, mending enggak usah ditanya deh.

 Kemudian dia memutuskan untuk berjalan menuju Fauzi yang duduk di belakang Ival.

 “Fauzi, kamu tahu ciri-ciri puisi?”

 “Yang saya tahu puisi itu adalah ungkapan hati, kalimatnya bisa berupa kiasan ya kan, Bu? Terus, dalam satu bait dia itu tidak terikat, bebas mau berapa baris.”

 Bu Ima tersenyum oleh jawaban yang diberikan oleh Fauzi. Dia lalu memberikan jempolnya kepada Fauzi, dikarenakan dia memberi jempolnya sama Fauzi, bisa ditebak sekarang Bu Ima enggak punya jempol.

 ***

 Tok … tok … tok 

 Terdengar suara orang mengetuk pintu kelas ini. Oh, rupanya itu petugas TU sekolah yang siap-siap menagih uang bayaran kepada setiap siswa yang masih menunggak.

 “Masuk,” ucap Bu Ima.

 “Iya, terima kasih,” ucap petugas TU itu.

 Satu langkah saat petugas TU itu masuk, mata setiap anak-anak cewek kelas ini terus melotot tanpa berkedip sedetik pun. Dua langkah saat petugas TU itu masuk, suasana menjadi hening. Tiga langkah saat petugas TU itu masuk, para siswa perempuan mulai bersiap gemes. Empat langkah ketika seluruh badan dan rupanya petugas TU masuk, anak-anak cewek pada berteriak histeris melihat ketampanan petugas TU itu yang sangat luar biasa.

 “Aaaa bapaaak!”

 “Bapaaak, I love youuu!”

 Tampang petugas TU itu mirip Ariel Noah. Ketampanan petugas TU itu mampu mengalahkan ketampanan yang dimiliki Fauzi atau guru olahraga di sekolah ini. Karena ketampanan yang dia miliki, para siswa perempuan sekolah ini pada rajin-rajin bayar SPP tiap bulannya. 

 “Bapaaak, tembak aku dooong!”

 Nama petugas TU yang tampan itu adalah Niki. Mungkin pembacanya juga pada iri tapi mau diapakan lagi? Karena itulah kenyataan yang ada. Pak Niki berdiri di kelas IPA tujuh sambil membawa beberapa lembar kertas yang berisi orang-orang buronan di sekolah ini. Dia tersenyum sambil bersiap berbicara di depan kelas.

 “Echmm,”

 “Pak Nikiii! I love Youuu!” teriak anak-anak perempuan.

 “Bapaaak, tolong culik akuuu!” teriak Sweety.

 Sementara Coklat dan Ival memasang wajah manyun.

 “Haduh, ada lagi orang ganteng di sekolah ini. Bisa-bisa jomblo kayak kita awet di sekolah ini,” keluh Coklat.

 “Iya, kenapa sih nih sekolah enggak abis-abis stok orang gantengnya,” keluh Ival.

 Pak Niki kembali bersiap untuk berbicara di depan, “ok, harap tenang se .…”

 “Bapaaak! Ganteng banget sih, Paaak!” teriak histeris anak perempuan.

 Ya itulah kelebihan ganteng yang dimiliki oleh bapak Niki. Risikonya sangat berbahaya, berbicara satu kalimat pun, siswa perempuan sudah histerisnya bukan main. Karena suasana tak kondusif ketika Pak Niki berbicara di depan kelas, maka dia meminta kepada Bu Ima untuk membacakan siapa-siapa saja yang belum membayar SPP. Jadi sekarang Bu Ima yang berbicara di depan kelas, sementara Pak Niki berdiri di samping Bu Ima.

 “Sekarang ini Ibu akan membacakan buronan-buronan yang menunggak SPP. Dengarkan ya baik-baik.”

 “Iya,” ucap suara lemas anak IPA tujuh.

 Ditagih uang SPP adalah momok menakutkan bagi para siswa cowok. Bahkan momok ini lebih menakutkan daripada ditolak mentah-mentah sama cewek. Rata-rata siswa cowok di sekolah ini memang dikenal suka menunggak bayaran tiap bulannya. Alasan para siswa cowok pada menunggak bayaran sih sederhana karena mereka takut kelihatan jeleknya saat ada di dekat Pak Niki. Ok, sekarang kita dengar siapa saja yang menunggak SPP.

 “Ok, yang nunggak SPP di kelas ini adalah…”

 Anak-anak IPA tujuh pada masang muka tegang. Jantung mereka pada dag dig dug semua, ya iyalah pada dag dig dug semua, kalau enggak mah mati dong. Keringat dari wajah mereka mulai bercucuran. Mereka semua pada tegang, ketegangan mereka itu sudah seperti cowok yang bakal ditolak sama gebetannya.

 “… adalah seluruh anak laki-laki IPA tujuh.”

 “Horeee!” teriak Coklat, Ival dan Tiar.

 “Heh, kalian bertiga kenapa?”

 “Kita senang, nama kita enggak termasuk ke dalam orang yang nunggak,” ujar Coklat.

 “Iya itu artinya kita rajin bayaran, Bu,” lanjut Ival.

 “Iya, betul banget,” tambah Tiar.

 “Itu seluruh anak laki-laki, jadi kalian juga termasuk.”

 “Yaaaah,” serentak mereka lesu.

 “Dan bagi siapa yang masih nunggak, dia tidak diperbolehkan mengikuti ujian.”

 “Haaah?”

 Serentak semua siswa terkejut mendengar hal menakutkan ini, enggak boleh ikut ujian. Parah kan. Wajah mereka yang masih memiliki tunggakan pun pucat pasi kayak orang yang habis pingsan.

 “Jadi kita enggak boleh ikut ujian, Bu?” tanya Coklat.

 “Ya betul.”

 “Emangnya si ujian mau pergi kemana sampai-sampai kita enggak boleh ikut?”

 “Entahlah, Nak, Ibu juga tidak tahu dia pergi kemana?”

 “Kasihan ya, orangtuanya pasti khawatir dengan dia.”

 “Betul, mungkin sekarang dia sedang kesepian di suatu tempat yang jauh dari rumah dan jauh dari ayah dan ibunya.”

 “Uh uh uh, kita semua enggak sanggup mendengar cerita dari Ibu, sedih.”

 “Ibu juga enggak sanggup, uh uh uh.”

 Ya itulah mereka, awalnya membahas tentang ujian eh jadi kemana tahu ceritanya.

 “Bagi mereka yang masih nunggak bayar SPP, kita akan tetapkan sebagai buronan dan sekarang pihak sekolah sudah bekerja sama dengan FBI,” ujar Bu Ima.

 “What!” terkejut anak-anak IPA tujuh yang masih nunggak bayaran.

 Akhirnya setelah memberi pengumuman siapa saja yang masih punya tunggakan SPP, Pak Niki pun bersiap keluar dari kelas ini. Sebelum dia keluar, dia berpamitan kepada seluruh anak IPA tujuh.

 “Bapak .…”

 “Bapaaak! Jangan tinggalin kitaaa!” teriak histeris anak perempuan.

 “Tapi kan bapak .…”

 “Paaak! Culik kitaaa!” 

 “Bapak harus .…”

 “Jangan, Paaak! Jangan tinggalin kitaaa!”

 Akhirnya Pak Niki tidak bisa keluar dari kelas ini dan dia menjadi pajangan di dalam kelas buat para anak-anak perempuan. 

 Kembali ke pelajaran, Bu Ima tadi sudah membahas sedikit tentang apa itu puisi, dan sekarang dia memberi tugas kepada seluruh anak IPA tujuh untuk membuat puisi.

 “Anak-anak, sekarang Ibu tugaskan kalian untuk membuat sebuah puisi.” 

 “Sekarang, Bu?” tanya Coklat.

 “Iyalah sekarang.”

 “Bu, buat puisinya pakai apa?”

 “Pakai telur tiga butir, mentega, pakai susu segelas, dan jangan lupa tepung terigu satu kilo.”

 “Emang bisa?”

 “Bisa lah.”

 “Bisa apa, Bu?”

 “Bisa jadi kue! Cepat kerjakan, nanya mulu kamu!”

 Mereka diberi waktu sepuluh menit membuat puisi dan membacanya di depan kelas. Sepuluh menit telah berlalu, kini Bu Ima bersiap memanggil siswanya untuk maju membacakan puisi di depan kelas.

 “Coklat, maju.”

 Coklat pun maju, dengan badan tegap dan tatapan serius, dia bersiap membacakan hasil karya puisinya.

 “Hening … karya Coklat.”

 Di depan kelas Coklat hanya diam sambil melihat buku yang dipegangnya, suasana pun hening hanya terdengar suara angin lewat, wuushh.

 “Udah, Bu.”

 “Bagus sekali puisinya yang berjudul hening ini sampai-sampai ibu menitikan air mata karena enggak ngerti sama sekali maksud puisi kamu, hebat kamu bikin semua orang terhening. Selanjutnya Ival.”

 Ival pun maju, dengan tegap dia bersiap membaca puisinya.

 “Aku … karya Ival … aku adalah aku … aku bukan kamu … aku ya aku … kamu ya kamu … kamu siapa? Kok malah nanya aku? Kamu aja enggak tahu … apalagi aku … nah kamu bingung ya … sama dong kayak aku … aku siapa? Aku ya aku … aku bukan kamu … terus kamu siapa? Lah malah nanya lagi … aku tetap aku … kamu jangan ikuti aku … kenapa jangan ikuti aku? Karena kamu bukan aku … aku bukan kamu … aku dan kamu bukan siapa-siapa … apalagi pacar. Selesai.”

 Prok … prok … prok

  Seluruh anak-anak IPA tujuh memberi aplaus kepada mereka berdua yang sudah maju.

 Teeet 

 Bunyi tanda pelajaran pun berbunyi, lagi-lagi Bu Ima memberikan sebuah pertanyaan kepada anak-anak IPA tujuh.

 “Anak-anak itu bunyi apa?”

 “Itu bunyi bel tanda pergantian pelajaran, Buuu,” serentak anak IPA tujuh.

 “Salah.”

 “Hah kok salah?”

 “Itu bunyi bel yang kedengaran.”

 Jawabannya sama sekali enggak berbobot sama kayak awal-awal perjumpaan di kelas ini.

 ***

 Sementara di ruang guru, tampak wajah Bu Riny yang berseri-seri melihat ada sebuah kertas yang bertuliskan puisi indah. Kata-kata indah dari puisi itu membuat hati Bu Riny berbunga-bunga.

 “Ternyata kamu bisa romantis juga ya? Aku pikir kamu itu emang cemburuan banget orangnya,” ucap Bu Riny berseri-seri, “aku ingin kamu seperti yang dulu lagi, yang tak berlebihan mencemburui ketika aku dekat dengan yang lain,” lanjut Bu Riny sambil mengingat pertengkaran terakhir yang dia alami bersama kekasihnya itu.

 Flashback on

 Bu Riny kembali mengingat kejadian itu. Tepatnya seusai acara wisuda, Bu Riny harus menerima kemarahan dari kekasihnya. Ketika itu kekasihnya tahu Bu Riny berangkat wisuda dengan seorang cowok.

 “Kamu kenapa tadi berangkat sama cowok lain?!” tanya cowoknya dengan wajah kesal. 

 “Aku enggak punya pilihan, aku nunggu kamu tapi kamu enggak datang, terpaksa .…”

 “Aku enggak suka itu! Aku enggak suka kamu dekat-dekat sama cowok lain.”

 “Tapi aku berangkat sama ayahku sendiri, kamu harusnya .…”

 “Ah sudahlah!” 

 Cowok Bu Riny langsung pergi begitu saja dengan menyisakan luka dan cemburu dalam hatinya. Itulah kisah singkat Bu Riny dengan cowoknya yang cemburuan.

 Flashback off

 Dalam bait-bait terakhir, tertera sebuah nama yang mengirimkan puisi untuknya. Dan Bu Riny sontak terkejut dengan nama itu.

 “Coklat?”

 Ya betul nama yang mengirimin puisinya itu Coklat, sabar ya.

 “Hah Coklat yang kirim? Haduh.”