Episode 4 - Langkah Awal

Memasuki Minggu yang panas, Badut membuntut langkah Kirana di sebuah gang di wilayah Cikini, yang hanya bisa dilalui satu sepeda motor. Badut suka Cikini. Ada semacam getaran puitik yang mampir ke dadanya tiap kali berada di sini. Namun, jalan sempit yang kini dilaluinya terasa asing dan suram.

Setelah berjalan sejauh lima puluh meter dari mulut gang dan melewati rumah-rumah petak yang murung, Kirana belok ke sebuah rumah bercat merah menyala.

Kirana membuka pintu. Seketika aroma makanan basi bercampur apak tembakau terhirup. Badut bukan orang yang bersih. Namun, aroma rumah kontrakannya tak pernah separah ini. Sembari melangkah masuk, pikiran Badut mulai menyusun bagaimana rupa Bastian, pemilik rumah. Dan, yang sanggup dipikirkannya adalah seorang lelaki kumal dengan deret gigi kuning dan mata merah akibat kurang tidur untuk melakukan hal-hal tak berguna.

Kirana mempersilakan Badut duduk, menawarkan minum. Badut menolak lantaran membayangkan betapa joroknya gelas di rumah ini. Tanpa duduk lebih dulu, Kirana meninggalkan Badut dan naik ke lantai dua.

Tak sampai lima menit, Kirana kembali bersama seorang lelaki. Rupanya, lelaki yang Badut duga Bastian itu jauh dari bayangannya. Wajahnya tampak terawat, dan alur rambut ikalnya tidak terkesan ruwet.

Badut dan lelaki itu berjabat tangan seraya menyebut nama masing-masing. “Bastian,” ucap lelaki itu, sehingga membuat mata Badut sedikit terbelalak. Bagi Badut, lelaki berwajah bersih dengan bagian-bagian mungil itu, seolah tampak asing di rumahnya sendiri.

Bastian memersilakan Badut duduk kembali, kemudian dia dan Kirana mengambil tempat di sofa yang lebih panjang.

Bastian mengambil sebatang rokok, mengisapnya dalam, kemudian melepaskan asapnya secara perlahan. Badut terbatuk tak sengaja, sehingga Bastian punya kesadaran untuk sedikit menolehkan wajah saat mengembus asap.

“Jadi, Mas Badut,” ucap Bastian, “sebelum kita mengobrol lebih jauh, aku pengin tanya. Apa yang Mas Badut ingin sebenarnya; menggagalkan pernikahan mantanmu, atau membuat mantanmu kembali?”

Badut bergeming, sehingga Bastian melanjutkan, “Mas Badut harus tahu dulu, menggagalkan pernikahan mantan dan membuat mantanmu kembali adalah persoalan berbeda.”

Badut mengangguk macam orang dungu. Sebenarnya, yang diinginkan Badut adalah Claudya kembali ke pelukannya. Namun, lidahnya masih sulit diajak bertutur jujur.

“Siapa nama mantan Mas Badut dan calon suaminya?” Sadar Badut belum sanggup menjawab pertanyaannya, Bastian memberikan pertanyaan baru.

“Claudya, dan calon suaminya bernama Daniel.” Badut termenung sepintas. “Sebenarnya, Daniel adalah mantan Claudya. Dulu, waktu kami masih pacaran, kami sering membicarakan Daniel.”

Bastian memutar batang rokoknya layaknya perokok berpengalaman. “Jadi, Mas Badut sedikit banyak tahu soal Daniel?”

Badut mengangguk. “Claudya cerita banyak soal lelaki sialan itu.”

“Apa dari cerita Claudya, Mas Badut bisa menilai kekurangan Daniel dan kelebihan Mas Badut dibandingkan Daniel?”

“Te-tentu saja!” Badut mencoba mengabaikan keraguannya.

“Oke. Sebutkan kekurangan Daniel dan kelebihan Mas Badut.”

Badut berpikir. Agak sulit baginya menemukan kekurangan Daniel, terlebih menemukan kelebihan dirinya. Sejujurnya, dari sisi mana pun, mereka bukan lawan sepadan.

Sementara Badut berpikir, Bastian mengambil buku catatan dan pena dari rak buku di dekat sofa, kemudian duduk bak polisi siap menginterogasi.

Bastian berdeham, memaksa Badut buka mulut.

“Pe-pertama, Daniel sibuk dengan bisnisnya sehingga nggak punya banyak waktu untuk Claudya, sementara saya selalu ada di samping Claudya.”

“Oke. Daniel seorang pebisnis sedangkan Mas Badut adalah pengangguran.” Bastian mengucap kesimpulan di kepalanya seraya menulis di buku catatan tanpa menatap Badut.

“Saya berprofesi sebagai komedian!” Badut sedikit membentak untuk membantah kesimpulan Bastian.

Bastian menatap sebentar wajah Badut, kemudian lanjut menatap buku catatannya. “Daniel seorang pebisnis, Mas Badut seorang komedian yang sepi job.”

Badut menghela napas. Dia tak menyangka, di balik wajah Bastian yang tenang dan menarik, ternyata lelaki itu bermulut pedas dan mudah memberi kesimpulan negatif.

“Yang kedua?” ucap Bastian, memotong perdebatan yang sudah di ujung lidah Badut. Namun, daripada membuang waktu terlibat perdebatan, Badut akhirnya memilih memikirkan poin kedua kekurangan Daniel dan kelebihannya.

“Kedua, Daniel itu lelaki yang cuek. Kata Claudya, waktu mereka pacaran sebelum ini, Daniel sering lebih satu minggu nggak bisa dihubungi. Sementara aku, selama berpacaran dengan Claudya, nggak pernah absen untuk menanyakan kabar atau keadaannya.”

Bastian mengangguk sebentar, kemudian fokus pada buku catatannya. “Oke,” ucap Bastian sembari menulis, “Daniel lelaki sibuk, sedangkan Mas Badut seorang posesif.”

“Kenapa, sih, kamu selalu menyimpulkan negatif perkataanku?!” Badut tak tahan sebab ucapan Bastian. Dibentak, Bastian akhirnya menoleh kepada Badut. Wajahnya datar, sehingga Badut semakin geram.

“Mas Badut,” ucap Bastian, tenang, “apa bisa saya memikirkan hal positif dari seorang lelaki yang nggak bisa merelakan orang yang dicintainya bahagia?”

“Lalu, apa kabar yang kamu lakukan terhadap pernikahan mantan-mantanmu? Apa bedanya kamu dengan aku?” Badut mencoba memberikan perlawanan, sembari menatap Kirana yang dalam perjalanan menceritakan soal tingkah Bastian terhadap barisan mantannya.

“Beda, Mas Badut. Aku menggagalkan pernihahan mereka—mantanku—bukan karena menganggap aku lebih baik daripada calon suami mereka. Dan, satu hal, aku nggak pernah permisif dengan tindakanku sendiri. Aku tetap memandang yang kulakukan sebagai tindakan tidak terpuji.”

Badut hanya bergeming, sementara Bastian mematikan rokoknya, kemudian membakar batang kedua. “Kita ini bisa dibilang orang jahat, Mas Badut. Kita ini ibarat diktator dalam urusan cinta.” Bastian mengembuskan asap, kemudian menajamkan matanya ke arah Badut. “Kita ini Ahmad Dhani dalam Republik Cinta Management.”

Badut melirik heran ke arah Kirana. Namun, perempuan itu hanya tersenyum geli melihat ekspresi wajahnya.

“Boleh aku lanjutkan yang ketiga?” Badut mencoba kembali memfokuskan pembicaraan mereka.

“Nggak perlu, Mas Badut. Dari dua poin saja, saya sudah bisa menyimpulkan bahwa Daniel jauh lebih baik daripada Mas Badut.”

Mendengar ucapan Bastian, kemurungan hinggap di wajah Badut.

“Tapi tenang, Mas Badut. I know you welcome to I am, because the solution is you need.”

“I know you come to me, because you need a solution.” Kirana mencoba preventif memperbaiki ucapan Bastian sebelum Badut bertanya.

“Na!” bentak Bastian, “jangan pernah berani-berani melakukannya lagi atau aku nggak akan mau bantu temanmu!”

Kirana hanya tersenyum sebab paham tabiat temannya.

“Oke, apa yang harus saya lakukan?” tanya Badut.

“Santai, Mas Badut. Is ify!”

Easy.” Kirana menimpali ucapan Bastian sembari melirik Badut.

“Na!” Bastian melotot ke arah Kirana. “Kalau pun aku salah, kamu nggak usah ikut campur memperbaiki. Aku ini memang ditakdirkan jadi orang Indonesia, berbahasa Indonesia, makan, masturbasi, dan mati di Indonesia. Jadi, santai saja, lah, kalau aku salah-salah sedikit, karena toh orang Inggris juga nggak pernah dikritik kalau salah berbahasa Indonesia!” Bastian menatap Badut.

Kirana hanya tersenyum, berusaha tak lebih jauh terlibat perdebatan.

“You do agri with I am, Sir?” Bastian mencoba meraih dukungan Badut.

Badut hanya mengangkat bahu, dan Bastian menangkap itu sebagai tanda setuju.

“Oke, aku lanjutkan, ya, Mas Badut.” Bastian mencoba menyamankan posisi duduknya. “Yang perlu diketahui Mas Badut, setiap orang yang mau menikah itu biasanya selalu mengalami stres berat. Nah, yang harus kita lakukan pertama adalah menambah tingkat stres Claudya dan Daniel, sehingga jika kita susupi masalah sekecil apa pun, mereka akan mudah dipecah belah. Paham?”

“Selama kamu lebih bijak dengan tidak mencoba berbahasa Inggris, saya paham,” ejek Badut.

“Oke, Mas Badut.” Bastian mencoba mengabaikan serangan Badut. “Pertanyaan saya, menurutmu, mereka sudah cetak undangan pernikahan atau belum?”

Badut menggeleng.

“Oke, anggap saja belum, ya, Mas Badut. Tapi nanti kamu harus memastikan dari orang terdekat Claudya.” Bastian mematikan rokoknya yang tak terisap di bibir asbak. “Yang ada di pikiran saya, akan jadi cobaan berat bagi Claudya dan Daniel, kalau undangan mereka salah cetak. Nah, bagaimana supaya hal itu bisa terjadi menurutmu?”

Badut berpikir. “Ki-ki-kita cari tahu vendor cetakan undangannya, kemudian membayar mereka untuk mengubah isi undangan?”

“Dengkul udang!” Bastian membentak. Tak paham dengan ucapan Bastian, Badut melirik Kirana.

“Dengkul udang itu istilah milik Bastian untuk orang yang kelewat tolol. Kalau biasanya, orang menggunakan istilah ‘otak udang’ atau ‘otak di dengkul’ untuk mengatakan orang lain tolol, maka menurut Bastian, yang kelewat tolol diistilahkan sebagai ‘dengkul udang’.”

“Itu istilah penghinaan paling revolusioner,” timpal Bastian.

“Tapi itu jadi istilah gagal karena udang tidak punya dengkul!” ucap Badut, geram.

“Ah, Mas Badut! Orang lebih dulu mengimajinasikan mobil sebelum menciptakan mobil. Segala hal yang revolusioner itu berawal dari imajinasi!”

“Itu lain konteks, Bas. Kamu nggak mungkin menciptakan udang, dan imajinasimu nggak mungkin bisa mendorong udang berevolusi jadi mahluk berdengkul!”

“Ah, sudah, lah! Aku ke toilet sebentar, nanti kita lanjutkan lagi.”

**

Kurang dari setengah jam lalu, Badut menelepon Gigi, sahabat Claudya, dan mengetahui bahwa mantan kekasihnya itu belum mencetak undangan. Badut mulanya gugup, namun Bastian membimbingnya, sehingga Badut bisa mengorek informasi secara natural, tanpa membuat Gigi curiga.

“Oke, sekarang yang perlu kita lakukan adalah membuat Claudya mempercayakan cetakan undangannya kepada kita.”

“Caranya?” tanya Kirana.

“Kita bisa membuat poster jasa desain dan cetak undangan lalu menempelkannya di wilayah dekat rumah Claudya, atau di jalan yang biasa dia lalui. Tapi ini harus cepat, sebelum dia sudah telanjur datang ke tempat cetakan. Gimana, Mas Badut?”

“Oke. Aku setuju saja.”

“Oke. Kalau begitu, aku akan buatkan desain posternya sekarang. Tapi mohon maaf, nih, Mas Badut. Ehem,” Bastian berdeham artifisial, “kalau untuk desain ada biayanya.”

Badut hendak menggerutu, namun mengingat betapa dia tak sanggup kehilangan Claudya, dia cuma bisa mengangguk macam orang dungu.