Episode 14 - Rencana Membangun Dusun Kedaton Kidul

Sudah seminggu aku berada di tempat pengungsian dan Cahaya Kecil perlahan-lahan sudah bisa melupakan trauma terhadap gempa. Tapi, ada persoalan lain yang mesti kutanggung. Ketika mata Agam yang sendu dan dalam menembus mataku, aku merasa detak jantungku secepat derap kaki kuda gila. Dan, bayangannya begitu intens menyergap setiap detik pikiranku.

Sederhana saja: aku jatuh cinta.

Persoalannya, Agam mencintai Keumala. Itu terdengar jelas dan tegas pada beberapa kali perbincangan kami. Bahkan, ia pernah mengatakan akan mencukupkan hidupnya dengan satu cinta. Betapa alasan yang cukup, bagiku, untuk menyimpan perasaanku sendiri. Lagi pula, mengungkapkan perasaanku padanya—meski bagiku melegakan—cuma akan menyulitkan posisinya.

Jadi, beginilah akhirnya. Ada perasaan yang ingin merdeka, tapi mesti kuabaikan.

Di kejauhan, ‘kereta manis’ tengah berputar-putar, bersiap untuk kegiatan menggambar. Sementara di sini, aku berusaha terlihat tengah sibuk—atau terlihat tidak begitu saja jatuh pasrah pada cinta. Hanya kulempar pandang pada deret meja lipat, berusaha memastikan jarak masing-masing seimbang, atau pensil sudah diraut, atau penghapus sudah lengkap, atau aku tidak terperangkap dalam situasi yang menyedihkan.

“Selamaaat soreee, Buuu Guuuruuu!”

“Soreeee, cahaya keciiiiil! Hari ini, seperti yang Mbak Laksmi bilang kemarin, kita akan menggambar dan mewarnai dengan tema cita-cita. Nah, masing-masing boleh menggambar apa saja yang berkaitan dengan cita-citanya. Misalnya, Banu yang bercita-cita menjadi dokter, bisa menggambar dirinya sendiri mengenakan seragam dokter, rumah sakit, ambulan, atau apa pun yang berkaitan dengan cita-citanya. Adik-adik pahaaam?”

“Pahaaaaaam!” jawab mereka, kompak.

“Oh, iya. Nanti, selesai gambar dikumpukan, masing-masing harus mengungkapkan cita-citanya di depan, setujuuuuu?”

“Setujuuuuu!”

Segera saja anak-anak berhamburan bagai kumbang hinggap di kembang tawa.

**

Aku baru saja mengalami kejadian yang mengharukan. Sekitar dua jam lalu, anak-anak mengungkapkan cita-citanya masing-masing: Imam ingin menjadi ustad; Andi ingin menjadi astronot; Banu ingin menjadi vokalis band—meski ditertawakan yang lain, ia dengan percaya diri meminta Bung Atma mengiringinya bernyanyi; Ratih ingin menjadi penulis; Siska ingin menjadi guru, katanya, seperti Bu Laksmi.

Aku tak mengira, di tempat yang jauh dari gemerlap kehidupan dan lampu kota, cita-cita begitu terawat. Mendengar bagaimana cita-cita tak berseragam, aku merasa ada cahaya terang menembus gelap kehidupan. Bagiku, penyeragaman idealnya dicukupkan pada tampilan saja, tidak menjangkau cita-cita dan isi kepala. Aku selalu percaya, setiap kelahiran membawa serta gagasan tentang masa depan dan kehidupan.

**

Malam ini, kami—aku, Agam, dan Bung Atma—mendapatkan ‘tamu istimewa’, yaitu Mas Sukri, Baskara, dan Adi. Mas Sukri memang sengaja mengumpulkan kami sebab ingin menceritakan tentang rencana pembangunan Dusun Tahan Gempa oleh ACT, di Dusun Kedaton Kidul. Dusun Tahan Gempa, katanya sekilas, pada sore tadi, merupakan proyek pembangunan kembali rumah-rumah warga dan juga beberapa fasilitas seperti sekolah, tempat ibadah, serta klinik umum dan bidan.

Pembangunan Dusun Tahan Gempa akan dilakukan di atas puing-puing rumah warga—yang masih dalam proses dibersihkan—dengan struktur khusus yang melibatkan relawan ahli.

Peresmian serta peletakan batu pertama pembangunan Dusun Tahan Gempa, rencananya akan dilaksanakan besok lusa, dengan mengundang serta Ketua MPR Hidayat Nurwahid.

Nantinya, Dusun Tahan Gempa sendiri akan menjadi proses recovery ekonomi bagi warga Dusun Kedaton Kidul sebab bahan bangunan—khususnya batu bata—dan tenaga kerja akan diambil dari dusun ini. Di sini, memang terdapat beberapa pengusaha batu bata, buruh pembuat batu bata, dan banyak pekerja bangunan. Maka, lewat pembangunan Dusun Tahan Gempa, diharapkan—setidaknya—dapat menjadi proses kebangkitan awal secara ekonomi bagi sebagian warga. Apalagi, kata Mas Sukri dengan mata berkilat, pembangunan Dusun Tahan Gempa di wilayah lain, nantinya bisa mengambil batu bata hasil produksi dusun ini.

Tapi, pembangunan Dusun Tahan Gempa memiliki sedikit persoalan yang cukup meresahkan Mas Sukri. Pembangunan dibagi beberapa tahap. Untuk tahap awal, akan dibangun 37 rumah tahan gempa serta fasilitas—sekolah, klinik umum dan bidan, serta tempat ibadah. Sebab itulah, ia sedikit resah. Ia kesulitan menentukan 37 keluarga yang paling berhak menempati rumah tersebut.

Untungnya, Mas Sukri sudah sempat menyampaikan keresahannya tersebut kepada beberapa tokoh masyarakat. Rencananya, besok pagi akan ada pertemuan antara perwakilan ACT dan relawan, dengan perwakilan warga, untuk penetapan 37 keluarga yang paling berhak menempati 37 rumah tahap awal. Mas Sukri mengundang kami turut serta dalam pertemuan besok.