Episode 14 - Bagian Kedua (5)

Sejumlah warga Jalan Haji Rohmat meletakkan bangku panjang, pot, dan karung berisi pasir di pintu masuk dan keluar jalan. Berjarak kurang dari seratus meter, awak Orkes Madu Asmara tengah bekerja keras mendirikan panggung. Tak jauh dari sana, Cuplis Monyong berdiri gugup dan mencari kalimat yang tepat buat menyatakan niatnya naik panggung kepada panitia.

Cuplis Monyong memberanikan diri. Ia menghampiri salah seorang panitia dan mengajukan keinginannya. Namun, lelaki itu mengatakan bahwa keputusan ada di Ratu Badak, sehingga Cuplis Monyong mesti bertanya langsung.

Cuplis Monyong berdiri tegang. Ia baru menyadari bahwa rencananya belum sematang puisinya. Bagaimana jika Ratu Badak tak mengizinkannya? Bagaimana jika Ratu Badak ternyata membenci puisi? Bagaimana jika slot acara sudah penuh? Dan seterusnya, dan seterusnya. Daripada terus berpikir negatif, Cuplis Monyong menuju rumah Ganesha.

Di hadapan gurunya, Cuplis Monyong membacakan lagi puisinya berkali-kali. Ia tak ingin satu kata pun terpeleset saat diucapkan. Setiap kata dalam puisi itu, bagi Cuplis Monyong, rata menampung seluruh cinta, pengorbanan, dan permohonan maafnya yang tulus buat Juminten. Setiap kata dan jeda dalam puisinya adalah kesatuan utuh yang tak dapat dipisah.

“Bagus, Plis. Yang penting lu jangan grogi.”

“Siap! Adik Cuplis akan berusaha melakukan yang terbaik buat Bang Ganesha.”

Puas berlatih, Cuplis Monyong pulang ke kosannya.

Antara gugup dan percaya diri, antara khawatir dan tenang, Cuplis Monyong melantunkan langkahnya. Ia melewati panggung, namun rupanya Ratu Badak belum hadir. “Paling sorean, atau abis Magrib,” kata panitia yang ditemuinya. Daripada menunggu, Cuplis Monyong memutuskan ke kosan untuk mandi dan berdandan.

Di tengah jalan, Cuplis Monyong memutuskan pergi dulu ke mini market. Ia khawatir perlengkapan mandinya di kosan sudah habis. Daripada kerja dua kali, lebih baik ia berjaga-jaga. Ia menuju jalan raya, belok kiri sejauh 200 meter, kemudian masuk ke mini market.

Di dalam, Cuplis Monyong segera masuk ke lorong rak berisi perlengkapan mandi. Ia memilih dengan cermat dan hati-hati deodoran. Ia membuka tutup beberapa jenis deodoran, mengolesnya di punggung tangan, dan menciumnya satu per satu. Tak seperti biasa, hari ini ia mau aroma terbaik yang bakal lekat di ketiaknya. Bimbang dan menimbang selama beberapa menit, Cuplis Monyong membeli dua deodoran sekaligus dan berpikir untuk mencampurnya. Ia mengembuskan napas di telapak tangan kanannya. Pantulannya hendak membuatnya pingsan. Ia membeli tiga merek pasta gigi, dua merek obat kumur, dan mengambil karbol meskipun ia tak tahu buat apa. Toh, tak ada kecoa, kelabang, semut, atau hewan yang betah tinggal di kamar kumuhnya.

**

“Ratu, perkenalkan nama saya Cuplis,” sapa Cuplis Monyong kepada Ratu Badak yang duduk di singgasananya di belakang panggung. Kursi besar dengan ukiran kayu berdetail rumit itu menegaskan posisi Ratu Badak dalam kerajaan kecil bernama ‘Orkes Madu Asmara’. Cuplis Monyong gugup tertekan kharisma besar di hadapannya.

“Ya,” Ratu Badak menoleh dengan tatapan mencoba ramah, “ada yang bisa aku bantu, Say?”

“Begini, Ratu, Cuplis ingin meminta izin untuk tampil membacakan puisi di panggung jika Ratu berkenan.”

Ratu Badak berpikir. Pandangannya menyelidik dari ujung kepala hingga kaki milik lelaki kurus di hadapannya. Ia mulai menghitung baik dan buruk apabila ia memberikan izin. Ia tak ingin nama besar orkesnya tercoreng oleh keputusan yang ia ambil dengan ceroboh. Jika menolak, lelaki itu bisa saja menyebarluaskan gosip bahwa Ratu Badak adalah seorang jemawa. Jika menerima, wajah buruk lelaki itu jelas punya potensi mengganggu kenyamanan visual panggungnya.

“Untuk apa kamu baca puisi, sih, Say?” Ratu Badak akhirnya bertanya seraya mengipas wajahnya dengan kipas tangan.

“Maaf, Ratu, Cuplis sekadar ingin menyatakan perasaan Cuplis kepada seorang perempuan yang Cuplis cintai. Perempuan yang senyumnya lebih terang daripada matahari yang pernah dan akan terbit. Yang matanya lebih teduh daripada hujan pagi. Yang hatinya pemaaf namun Cuplis sudah melukainya dengan keterlaluan. Perempuan bernama Juminten; bintang dengan cahaya tenang yang hidup di langit Jakarta.”

Cinta. Cuma kata itu yang didengar Ratu Badak. Sedangkan sisanya menguap begitu saja. Cinta. Empat huruf yang berbaris itu sudah lebih dari cukup untuk melumpuhkan pertanyaan-pertanyaan Ratu Badak soal layak atau tidaknya izin yang mesti ia berikan. Cinta, sesuatu yang selalu ia punya untuk seorang lelaki yang pergi meninggalkannya. Cinta, sesuatu yang membuatnya bertahan diganjar luka akibat mesti mempertahankan mimpinya. Cinta, cinta, cinta. Ratu Badak mengucap getir kata itu dalam hati.

“Boleh aja, sih, Say. Nanti, aku bilang sama Wawan buat nyelipin kamu di rundown acara.”

**

Sial bagi Cuplis Monyong, ia ditempatkan setelah Novika Labamba; kembang paling mekar di Orkes Madu Asmara, penyanyi paling ditunggu-tunggu di panggung. Di belakang panggung, Cuplis Monyong tak henti-henti menenangkan badai di dadanya. Beberapa kali ia mengintip kerumunan di depan panggung, dan tak melihat Juminten di sana. Hanya ada pria hidung belang, dan para ibu yang menjaga suami atau anak lelakinya agar tidak kehilangan kendali. Sementara di atas panggung, Novika Labamba terus menggenjot jantung-jantung manusia yang ada di hadapannya. Lagu Buaya Buntung terlantun sempurna. Nada-nada tinggi dalam lagu yang dipopulerkan Inul Daratista itu mudah ditaklukan dengan bekal pengalaman, gairah, adrenalin, dan kepercayaan diri seorang penyayi profesional.

“Memang dasar kaaau?” tanya Novika Labamba, seraya menyodorkan microphone-nya ke bawah panggung. “Buaya buntung, tuuuung!” jawab penonton.

Lagu Buaya Buntung selesai. Intro lagu Keong Racun aransemen Orkes Madu Asmara membahana. Novika Labamba dan penonton semakin panas disengat raungan gitar Abi Tompel yang teknik permainannya menegaskan sisa-sisa kejayaan era rock klasik. Ia memainkan tremolo gitar Ibanez seri Paul Gilbert putihnya yang sudah berwarna kekuningan. Gitarnya meringkik bagai kuda kesurupan. Vokal Novika Labamba yang disemburkan speaker adu keras dengan suara penonton. Namun, speaker 20.000 watt itu terselamatkan oleh kuat dan jernihnya suara Novika Labamba.

Novika Labamba menuntaskan lagunya dengan sempurna. Ia pamit sambil berbasa-basi memuji Ratu Badak dan orkes pengiringnya. Cuplis Monyong sekarang bersembuyi di sudut panggung. Tegang. Keringat dingin membuat wajahnya semakin amburadul. Sementara penonton berteriak memanggil Novika Labamba, memintanya bernyayi terus hingga pagi.

Novika Labamba turun. Pembawa acara masuk. Lelaki berambut pirang itu mencoba menenangkan penonton. Tetapi, penonton kadung hanyut dalam pesona Novika Labamba. Teriakan nama penyanyi asal Wonosobo itu semakin memekakan telinga, diselingi teriakan minta air, dan bahkan ada oknum yang berteriak minta makan. Akhirnya, teriakan minta makan membuat penonton semakin getol bergurau. Ada yang minta duit, minta pacar, minta jodoh, minta Raisa pindah ke Jalan Haji Rohmat, minta Maia Estianti rujuk dengan Ahmad Dhani, bahkan minta Israel berhenti menyerang Palestina. Teriakan terakhir tersebut membuat kebisingan reda.

Rupanya, teriakan terakhir tersebut milik Haji Mugeni, cucu Haji Rohmat yang namanya diabadikan di jalan ini. Kemudian, di tengah suasana hening, Haji Mugeni kembali buka mulut. “Ente pada nongton dangdut udah pade sholat, belum?!” teriaknya. Mendengar kalimat itu, penonton mulai menepi ke sudut-sudut jalan.

Pembawa acara segera mengambil perhatian. Katanya, “Cinta adalah sesuatu yang diajarkan agama, bukan? Sekarang, kita saksikan bagaimana seorang manusia belajar menyatakan cinta lewat puisi,” lelaki berambut kuning mengambil napas, “kita sambuuuuut ... pujangga dari Jalan Haji Rohmat yang sudah tidak asing lagi ... Cupliiiiiiis!”

Penonton masih bergeming. Haji Mugeni pulang sembari menggerutu, “Merakbal ente, Syaiton Pirang!”

Haji Mugeni sudah cukup jauh dari panggung, namun belum satu orang pun kembali ke posisi awal. Cuplis Monyong berdiri di tengah panggung untuk menyejajarkan posisi mulut dan microphone. “Test,” ucap Cuplis Monyong.

Cuplis Monyong gugup bukan main. Tak ada penonton yang membangkitkan adrenalinnya, serta tak ada Juminten yang jadi alasannya melakukan ini. Ganesha yang menangkap kondisi berat yang dihadapi Cuplis Monyong, tergerak berjalan ke tengah. Namun, tindakan heroik Ganesha tak berhasil memancing penonton.

Melihat Ganesha di depannya, Cuplis Monyong mendapati kembali nyalinya. “Pelajaran Memahami Kenangan.” Cuplis Monyong mengucapkan judul puisinya dengan suara berat dan tenang.

Tak disangka, penoton mulai berdatangan ke tengah panggung. Kepercayaan dirinya bangkit, tetapi rupanya pembawa acara yang berada di belakangnya berdiri sambil mengipas segepok uang pecahan dua puluh ribu. Kemudian, pembawa acara memberikan satu per satu uang kepada tangan-tangan yang mengulur ke panggung. Sialnya, lelaki dalam balutan kemeja bermotif kembang yang telanjur panik itu tak menyadari bahwa setelah uangnya direnggut, penonton bubar.

Kembali, di hadapan panggung menyisakan Ganesha seorang. Badai di dada Cuplis Monyong mengamuk lagi. Ia kecewa menyaksikan kekuatan uang tak terbantahkan di hadapan cintanya yang besar. Tak lama, Cuplis Monyong mencoba melanjutkan puisinya. Namun, baru satu kata, teriakan ‘turun’ pecah di sudut jalan.

Tak lama, suara piano terdengar. Ratu Badak muncul dari sisi kiri panggung sambil menggenggam microphone-nya yang sudah lama dipensiunkan. Usai empat bar permainan piano, terdengar suara merdu menyanyikan lagu Syahdu karya Rhoma Irama. Suara palsu perempuan milik Ratu Badak terkelupas dan berganti suara berat, tegas, dan mengalun. Terdengar seperti suara milik Raja Dangdut hanya saja tak serak.

“Bila kamu, di sisiku, hati rasaaaaa ... syahdu ...” lirik itu membuat suasana jadi syahdu. Penonton larut pada cengkok dan kedalaman emosi lagu itu. Perlahan, satu per satu mulai berjalan membentuk kerumunan. “Satu haaari, tak bertemu, hati rasaaaa .. rindu.” Ratu Badak menghampiri Cuplis Monyong. Tatapan matanya seperti kode agar Cuplis Monyong segera membacakan puisinya.

“Aku ingin menulis puisi

tetapi perasaan ini terlampau longgar

terlampau banyak buat dipilah-pilah

terlampau rumit buat ditimbang-timbang

terlampau merdeka buat diikat aturan

dan terlampau indah buat dipadan-padankan

maka, aku membiarkannya mengalir

seperti waktu yang berhilir di matamu

dan bermuara dalam kesepianku

manisku, kenangan adalah

satuan jarak yang memisahkan kita;

jarak yang selalu gagal kutebak

seberapa jauhnya.

tetapi, aku selalu berhasil meyakinkan

diriku sendiri bahwa aku mencintaimu.

Meskipun kau nanti jadi orang asing,

dan aku lelah memperkenalkan diriku kembali,

meskipun jejak-jejak kita digilas aspal,

dan cinta sudah jadi barang mewah,

aku tak peduli.

Toh, aku sudah belajar mencukupkan diri,

dengan kehilangan.

Ditulis untuk seorang perempuan yang mengajariku bagaimana cara mencintai sebaik-baiknya.”

Cuplis membacakan puisinya dengan tegas dan lantang. Tepuk tangan dan keharuan berhamburan di Jalan Haji Rohmat. Kemudian, suara Ratu Badak kembali bernyanyi Syahdu. Tiupan seruling mengalun, gendang terpukul lembut. Cuplis Monyong mengucapkan terima kasih kepada Ganesha dan Rozak dari atas panggung.

Seorang lelaki berusaha menahan air matanya tak tumpah. Rozak, lelaki itu, membakar kembali rokoknya. Di kejauhan, dua sahabatnya tengah berpeluk haru. Sementara di belakang sebuah pohon besar, seorang perempuan terisak. Juminten, perempuan itu, dilanda perasaan bimbang. Ia telah mencintai lelaki lain, tetapi lelaki yang bernyali membacakannya puisi itu tak juga bisa ia lupakan. Ia menangis hebat. Ia tak pernah merasa dicintai sehebat ini.

**

Cuplis Monyong masih terjaga. Ia sedih, tetapi sekaligus lega. Ia siap menyambut hari baru meskipun di bawah matahari yang masih sama. Di sebelahnya, Ganesha masih lelap. Ia bangkit menuju dapur untuk menyeduh kopi. Belum sampai dapur, terdengar ketukan di pintu. Ia berlari kecil ke arah pintu dan mendapati Rozak berdiri di sana.

Cuplis Monyong langsung berteriak membangunkan Ganesha. Lelaki yang tengah bermimpi indah itu bangun. Ia berjalan menghampiri Cuplis Monyong dengan perasaan jengkel.

Ganesha terkesiap mendapati sahabatnya berdiri di depan pintu.

“Sudah bab berapa, Bung?” tanya Rozak. “Dari mana saja, Bung?” Ganesha malah melempar balik pertanyaan.

“Laptop mahal betul. Keburu mati kalau kita nabung dari hasil ngamen puisi saja.” Rozak mengambil kardus laptop yang disandarkan di tembok dekat pintu. “Selesaikan novelmu,” ucap Rozak seraya menyerahkan kardus itu ke tangan Ganesha. Ganesha tak mau menangis, tetapi ia gagal.