Episode 159 - Lintasan Saujana Jiwa


Lima murid dari Perguruan Gunung Agung berdiri di depan sebuah mulut goa. Tak jauh dari mereka, telah bersiaga pula Putra dan Putri Perguruan Anantawikramottunggadewa. Lamalera berdiri menatap tajam ke arah liang goa. 

“Selamat datang Putra dan Putri Perguruan Anantawikramottunggadewa serta Putra dan Putri Perguruan Gunung Agung.” Resi Gentayu kembali memberi sambutan. Sepertinya lelaki setengah baya satu ini sangat senang menjadi pusat perhatian. 

Putra dan Putri dari Perguruan Anantawikramottunggadewa dan Perguruan Gunung Agung membungkukkan tubuh di depan tokoh nan perkasa. Ralat: Putri dari Perguruan Anantawikramottunggadewa hanya melengos. Sungguh tak sedikit pun rasa hormat yang diberikan Lamalera kepada ayah angkatnya itu. 

“Apa yang kalian ketahui tentang mustika dan mata hati?” Resi Gentayu hendak menguji. 

“Indera keenam, atau biasa dikenal sebagai mata hati, berguna untuk membantu pengaturan tenaga, merasakan kehadiran ahli-ahli lain, mempelajari jurus-jurus silat dan sakti, serta masih banyak lagi. Mata hati pada dasarnya adalah kemampuan ‘merasakan’; bukan hanya melihat, mendengar, mengendus, meraba, atau mengecap seperti menggunakan panca indera,” sahut Aji Pamungkas cepat. Matanya melirik ke arah Lamalera. 

“Mustika merupakan wadah penyimpanan inti sari tenaga. Ia terletak di ulu hati, berbentuk kristal. Meski demikian, sifatnya hanya bayangan, ilusi, tidak berbentuk fisik sebagaimana terlihat. Kemampuan mustika menampung tenaga dalam kemudian digolongkan ke dalam Kasta dan Tingkat.” 

Jawaban terdengar dari salah satu remaja lelaki dari Perguruan Anantawikramottunggadewa. Ia adalah si perapal segel yang sempat dijerat Maha Jurus Beulut Darat. Seusai memberi jawaban, ia pun membalas pandangan mata Aji Pamungkas. 

Aji Pamungkas bergidik. 

“Apakah persamaan mustika dan mata hati...?” lanjut Resi Gentayu. 

Sepuluh remaja terdiam. Mustika dan mata hati adalah dua hal yang berbeda. Keduanya saling berhubungan bilamana seorang ahli hendak menyerap tenaga alam atau melancarkan jurus. Akan tetapi, tiada kesamaan antara keduanya, seperti otak dan jantung. Tiada kesamaan baik dari struktur maupun fungsi, walaupun keduanya saling mendukung. 

Resi Gentayu melontar pandang kepada setiap satu murid-murid muda yang berada di hadapannya. Ia menarik napas panjang, dan menjaga keadaan hening hingga semakin khusyuk. Sungguh ia menikmati suasana ini. 

“Heh...? sepertinya aku mengenal bocah ini....” Komodo Nagaradja mengacu kepada Resi Gentayu. “Ia adalah salah seorang teman sepermainan si Cebong Cebol.”

“Super Guru, apakah jawaban atas pertanyaannya...?” Bintang Tenggara menebar mata hati.

“Pertanyaan sepele.... Jawab saja keduanya memiliki Kasta dan Tingkat.”

Resi Gentayu memejamkan mata. Bukan menunggu jawaban, bukan. Ia menanti saat yang tepat untuk membuka mata anak-anak remaja yang berdiri di hadapan. Seumur hidup mereka, anak-anak remaja ini akan mengenang dirinya sebagai ahli yang membuka wawasan dan berjasa besar. Demikian, meski pembawaannya tenang berwibawa, dalam batin Resi Gentayu sangatlah girang.

“Mata hati dan mustika memiliki Kasta dan Tingkat,” celetuk Bintang Tenggara. 

“Ha!” Batin Resi Gentayu terguncang. Ia melotot ke arah Bintang Tenggara. Cih! Putra Mayang Tenggara! Mengapa kalian satu keluarga senang merusak kehidupan ahli lain. Masa remajaku berantakan karena si ibu, jangan sampai masa tuaku juga dirusak oleh si anak. Resi Gentayu mengumpat-umpat dalam hati. 

“Tebakanmu benar sekali anak muda!” Resi Gentayu berupaya mengambil alih kendali. 

“Maksudnya...?” Canting Emas tak dapat menahan diri. 

“Maksudnya, sebagaimana mustika wadah tenaga dalam yang daya tampungnya digolongkan dalam Kasta dan Tingkat, kemampuan mata hati juga dapat digolongkan ke dalam Kasta dan Tingkat,” sahut Resi Gentayu cepat. 

“Benarkah...?” Aji Pamungkas, yang diketahui memiliki kemampuan mata hati terbaik dibuat terpana. “Bintang Tenggara, dari mana kau dapatkan pengetahuan ini? Mengapa tak pernah kau sampaikan kepadaku?” bisik Aji Pamungkas. 

“Aku hanya menebak,” jawab Bintang Tenggara. 

“Yang Terhormat Pendiri Perguruan Anantawikramottunggadewa, mungkinkah mata hati dapat dikembangkan lebih jauh lagi?” Aji Pamungkas terlihat penuh semangat. 

“Benar sekali, anak muda! Dan kemampuan melatih mata hati merupakan salah satu rahasia dari Perguruan Anantawikramottunggadewa!” Resi Gentayu membentangkan tangan. 

“Biasanya, hanya ahli Kasta Perak dari Perguruan Anantawikramottunggadewa yang berhak untuk menjalani proses ini. Akan tetapi, berkat diriku yang berhati mulia ini, maka kalian akan memperoleh kesempatan untuk memasuki... Lintasan Saujana Jiwa!” *

Resi Gentayu memutar tubuh. Tangannya menunjuk lurus arah liang goa. Sang petapa lalu melanjutkan dengan uraian bahwa goa tersebut merupakan sarana untuk melatih kemampuan mata hati secara cepat dan tepat. Semakin jauh seorang ahli dapat melangkah ke dalam goa, maka akan semakin tinggi Kasta dan Tingkat mata hati ahli tersebut. 

“Satu nasehat dariku sebelum kalian melangkah masuk,” bisik Resi Gentayu penuh misteri. “Jangan memaksakan diri!” tetiba suaranya bergema, mengagetkan semua yang mendengar. 

“Bilamana kalian tak lagi dapat meneruskan langkah, maka pecahkan biji karet ini,” lanjut Resi Gentayu. Sepuluh biji karet sebesar ibu jari kemudian melayang ke setiap satu murid yang berada di hadapannya

“Hm... mengapa aku merasa ada yang berbeda dengan Lintasan Saujana Jiwa kali ini...?” gumam Komodo Nagaradja pelan. 

“Super Guru...?”

“Hm... mungkin hanya perasaanku saja...” 


Sepuluh remaja melangkah ke arah liang goa. Tiada perlu melangkah ke dalam satu persatu. Karena, menurut Resi Gentayu, siapa pun yang memasuki Lintasan Saujana Jiwa, akan melangkah seorang sendiri. Situasi yang akan dilalui di dalam adalah sama adanya, namun setiap ahli akan menempuh jalur masing-masing.

Dengan kata lain, Lintasan Saujana Jiwa merupakan dimensi ruang tersendiri. 

Sembilan murid telah melangkah masuk. Memperoleh pengetahuan baru akan kemungkinan meningkatkan kemampuan mata hati, murid mana yang tak akan bersemangat...? Sebagai ahli, indera keenam alias mata hati, merupakan salah satu faktor penentu yang utama dalam menentukan masa depan mereka nanti.

Bintang Tenggara masih berdiri tepat di mulut goa. Ia sedikit sanksi. Super Guru Komodo Nagaradja mengatakan bahwa ada yang ‘berbeda’ dari Lintasan Saujana Jiwa. Firasat Super Guru tak bisa dipandang sebelah mata, karena telah beberapa kali berakhir benar. 

“Masuklah, wahai putra Mayang Tenggara.” Resi Gentayu tiba di sisi Bintang Tenggara. 

Hah! Dari mana tokoh sekelas Pendiri Perguruan ternama mengenal Bunda Mayang!? batin Bintang Tenggara. Ia menatap curiga. 

“Kau tiada perlu khawatir. Sebagai Pendiri Perguruan, diriku adalah seorang lelaki berhati mulia.” Resi Gentayu menyibak senyum. 

Bintang Tenggara semakin curiga. Mana ada maling yang mengaku maling. 

“Sudahlah... cepat masuk ke dalam. Apa pun rencananya, Lintasan Saujana Jiwa akan bermanfaat bagimu.” Komodo Nagaradja berujar. 

Bintang Tenggara segera melangkah masuk. Apa pun itu, dirinya memiliki tingkat kepercayaan yang sangat tinggi atas Super Guru Komodo Nagaradja. 

Keadaan di dalam goa demikian gelap dan hampa. Akan tetapi, tak ada bau lembab khas goa dan angin pun terasa bertiup sepoi-sepoi. Bintang Tenggara melangkah perlahan. Selangkah demi selangkah. Ia tak hendak terburu-buru.

Tetiba, titik-titik cahaya temaram perlahan menerangi dinding kanan goa. Cahaya temaram tersebut berjejer rapi ke dalam goa, sampai sejauh mata memandang. Pemandangan ini seolah membuat dinding pada sisi kanan goa memiliki deretan jendela yang membiaskan cahaya ke dalam goa. 

Akibat penerangan seadanya itu, terlihat jalan setapak yang membentang lurus ke depan. 

Bintang Tenggara kembali melangkah perlahan. Pada deretan pertama cahaya temaram, ia menoleh pelan ke kanan, dan mendapati sebuah bingkai kayu. Anak remaja itu berhenti dan memerhatikan dengan seksama. Di dalam bingkai kayu tersebut, terlihat lukisan hitam-putih. 

Bintang Tenggara mencermati lukisan di dalam bingkai. Lukisan sebuah pohon besar dengan dahan dan ranting tanpa daun yang menjalar ke segala penjuru. Tak ada daun, dan seolah pohon tersebut telah lama mati. 

“Super Guru, apakah maksud dari lukisan pohon hitam-putih ini...?” aju Bintang Tenggara. 

“Aku pun tak tahu. Teruskan sajalah engkau melangkah ke dalam.” 

Demikian, Bintang Tenggara kembali menelusuri jalan setapak. Sekira lima langkah kemudian, ia kembali berhenti. Pada dinding kanan goa, terpajang lagi sebuah bingkai dengan lukisan hitam dan putih di dalamnya. Kali ini, lukisan menggambarkan patung kepala manusia berwarna putih yang telah pecah dan tergeletak di atas tanah. Sebagaimana halnya lukisan sebelum ini, warna hitam dan putih terlihat kontras.

Bintang Tenggara masih tak mengerti makna lukisan. Tiada guna bertanya kepada Super Guru, oleh karena itu ia pun meneruskan langkah menelusuri jalan setapak di dalam goa. Lukisan ketiga menggambarkan sebuah sendal mewah namun hanya bagian kanan, lukisan keempat merupakan puing-puing yang dilatarbelakangi gelombang pantai, sementara lukisan kelima merupakan deretan genteng yang diapit tanah retak merekah.  

Lukisan keenam terlihat kabur. Bintang Tenggara menebar mata hati untuk mencermati dengan seksama. Perlu beberapa waktu baginya untuk mendapatkan lukisan reruntuhan yang tersebar luas. 

Mata hati kembali harus dikerahkan untuk mencermati lukisan ketujuh. Diperlukan waktu yang lebih lama bagi Bintang Tenggara untuk mendapati lukisan sebuah kapal yang terdampar di tengah jalanan. Kali ini, ia juga merasakan sedikit tekanan terhadap mata hatinya.

Kepala Bintang Tenggara pusing ketika hendak mengamati lukisan kedelapan. Ia pun memutuskan untuk mengabaikan lukisan tersebut. Akan tetapi, tak kuasa dirinya melangkah maju. Sepertinya, syarat untuk terus melangkah adalah bilamana dapat melihat lukisan dengan seksama.

“Kau tahu bagaimana caranya seorang pawang memperkuat ikatan mata hati dengan binatang siluman...?” aju Super Guru Komodo Nagaradja pelan. 

“Dengan mengerahkan tenaga dalam saat menebar mata hati,” jawab Bintang Tenggara cepat. Pengetahuan ini ia peroleh saat mengikuti salah satu seminar dasar dalam Muktamar Pawang di Pulau Sabana. 

Demikian, Bintang Tenggara mengerahkan tenaga dalam saat menebar mata hati. Selang beberapa waktu, baru dapat dirinya menyaksikan lukisan seorang lelaki di atas kuda. 

Pada lukisan kesembilan, Bintang Tenggara berupaya sekuat tenaga mengerahkan tenaga dalam dan menebar mata hati. Tekanan terhadap mata hatinya sendiri menyebabkan rasa pening yang tak tertahan sampai harus bertekuk lutut. Pada akhirnya, dengan susah payah, ia mendapati sebuah lukisan bangunan megah yang telah termakan usia. 

Bintang Tenggara bertumpu pada satu lutut di hadapan lukisan kesepuluh. Sungguh, rasa pening yang dirasa bahkan sampai melemahkan tubuh. Ia harus menebar mata hati yang diperkuat tenaga dalam hanya untuk bertahan, karena tak mampu ia menatap lukisan di sisi goa. 

Menggeretakkan gigi, Bintang Tenggara memaksakan diri untuk merangkak mendekati lukisan tersebut. 

Di tengah tekanan yang mendera, hal pertama yang dapat anak remaja tersebut saksikan adalah... bingkai kayu pada lukisan kali ini berbeda. Selain terlihat lebih besar dan kokoh, bingkai tersebut juga dipenuhi oleh berbagai jenis ukiran. Motif yang paling kentara adalah ukiran ular, lesung dan tongkat. 

Meski dapat melihat bingkai kayu dan segala ukirannya, Bintang Tenggara belum juga dapat mencermati isi lukisan. Meski tak henti menebar mata hati yang telah diperkuat oleh tenaga dalam, ia terus merasa sesak. Kepala seperti dihimpit sepasang batu karang dan tubuh seolah ditindih gajah. Perlahan, ia merasakan cairan mengalir dari hidung, lalu telinga... Tak kuasa ia menyeka darah yang menetes keluar. 

Ingin rasanya Bintang Tenggara memecahkan biji karet untuk segera keluar dari Lintasan Saujana Jiwa ini!

Akan tetapi, di saat berada dekat dengan lukisan, Bintang Tenggara merasakan sebuah kejanggalan. Dengan segenap tenaga, anak remaja tersebut bangkit berdiri. Tangan kanannya terlihat gemetar saat diangkat perlahan. Perjuangan untuk melawan tekanan yang mendera sangatlah berat. Akan tetapi, dirinya wajib membenahi kejanggalan ini! 

“Srek!” Jemari Bintang Tenggara menyentuh, lalu menggeser bingkai sedikit ke kiri. Tindakan ini dilakukan dengan segenap kekuatan yang tersisa. 

“Hei! Ini bukan saatnya kau membetulkan posisi bingkai yang miring!” hardik Super Guru Komodo Nagaradja. 

Bintang Tenggara kemudian jatuh tergeletak.... 

...


“Hah!” Bintang Tenggara tersentak bangun. Sekujur tubuhnya terasa panas dan ia berkeringat dingin. 

“Anakku, kau sudah siuman...” Wajah perempuan dewasa nan cantik itu demikian khawatir. 

“Bunda Mayang...?” 

Bintang Tenggara merasakan kepalanya masih pening. Ia memaksa diri untuk menyapu pandang, dan mulai menyadari bahwa sedang berada di dalam sebuah kamar. 

Gubuk ini? batin Bintang Tenggara. Ia pun segera menebak bahwa dirinya berada di salah satu gubuk di Dusun Peledang Paus. Tempat ini adalah dimana ia hidup bersama dengan Bunda Mayang. 

“Apakah yang terjadi...?” 

“Anakku, dirimu berupaya menyelamatkan Lamalera... namun perahu yang dikau tumpangi dihantam ekor Paus Surai Naga,” sahut Mayang Tenggara lega. 

Bintang Tenggara mengingat betul kejadian kala itu. Lamalera yang jatuh pingsan di dalam perahu hanyut, berada di jalur Paus Surai Naga yang merangsek cepat. Gadis tersebut menjadi sasaran empuk. Akan tetapi, setelah menyelamatkan Lamalera, bukankah semestinya ia terdampar di Pulau Bunga, lalu bertemu Super Guru Komodo Nagaradja...?

Bintang Tenggara bangkit berdiri. Ia hendak menebar mata hati namun tiada bisa. Ia hendak mengerahkan tenaga dalam namun tiada mustika. 

Kebingungan, Bintang Tenggara spontan bangkit dan melangkah keluar dari dalam gubuk. Tepat di atas dipan, terlihat seorang lelaki setengah baya dan gadis belia menanti cemas. 

“Bintang Tenggara, apakah kau baik-baik saja...? Kakek Kepala Dusun Peledang Paus berujar. 

“Bintang....” Lamalera tak dapat menahan matanya yang sembab untuk mengalirkan airmata di kedua belah pipi. 

“Apakah yang terjadi!?” sergah Bintang Tenggara. Ingatan terakhir adalah dirinya berupaya sekuat tenaga menahan tekanan mata hati di Lintasan Saujana Jiwa. 

“Kau beruntung tak terkena sapuan ekor Paus Surai Naga.... Namun arus deras yang disebabkan binatang siluman tersebut sempat menenggelamkan dirimu...,” sahut Lembata Keraf sang Kepala Dusun. 

“Bukan... Bukan itu....” Bintang Tenggara berujar kepada diri sendiri. 

“Dikau menderita demam dan tak sadarkan diri selama sehari semalam...,” ungkap Bunda Mayang yang menyusul keluar. “Tak heran bila dikau mengalami mimpi buruk...” 

“Mimpi buruk...?” Bintang Tenggara menoleh ke kiri dan kanan. Di saat yang sama, ia meraba tubuhnya sendiri. Nyata adanya. 

“Kembalilah beristirahat...,” ujar Lamalera pelan. 

“Tidak mungkin...” Bintang Tenggara tetiba memacu langkah ke arah pantai. 

Sayup-sayup, ia mendengar Bunda Mayang menahan Lamalera agar tak menyusul. “Biarkan ia pergi... demam tinggi mungkin menyebabkan halusinasi...” 

“Super Guru! Super Guru!” teriak Bintang Tenggara dengan segenap hati. “Super Guru Komodo Nagaradja!” 

Tak ada jawaban. 

“Hampa!” 

“Tinju Super Sakti!”

“Silek Linsang Halimun!”

“Pencak Laksamana Laut!”

“Asana Vajra!”

Bintang Tenggara mencoba merapal jurus-jurus persilatan dan kesaktian yang biasa ia kerahkan dengan mudahnya. Akan tetapi, tiada satu pun yang membuahkan hasil. Ia mengetahui dan memahami teknik berikut runtutan merapal jurus. Akan tetapi, sebagaimana sebelumnya, anak remaja tersebut tak dapat menebar mata hati, maupun merasakan keberadaan mustika tenaga dalam. 

Bintang Tenggara termenung. Mungkinkah semua kejadian yang berlangsung sejauh ini benar-benar sebuah mimpi? Bagaimana dengan petualangan selama ini? Teman-teman yang ditemui dalam perjalanan? Tempat-tempat yang dikunjungi? Tantangan yang dihadapi?

Benarkah semua itu hanyalah mimpi belaka...? Halusinasi...?

Hari beranjak malam. Bintang Tenggara melangkah gontai kembali ke gubuk. 

“Anakku... beristirahatlah,” sambut Bunda Mayang penuh kasih.


(Selesai...)






Catatan: 

*) ‘Lintasan Saujana Jiwa’ merupakan judul pameran fotografi jurnalistik karya Oscar Motuloh. Kegiatan ini berlangsung di Galeri Salihara, Jakarta pada 2-9 Oktober 2009 silam. 

Oscar Motuloh merupakan seorang pewarta foto asal Surabaya. Beliau pernah menjabat sebagai Direktur Biro Foto Antara, dan sekarang merupakan penanggung jawab dan kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara.

saujana/sau·ja·nan, -- mata (memandang) sejauh mata memandang; sepemandangan mata jauhnya.


Selesai sudah Babak Pertama dari Buku Perak. Hahaha...  

?