Episode 158 - Ibu Mertua



“Selamat malam, Yang Terhormat Bupati Selatan Pulau Lima Dendam!” seorang lelaki setengah baya, yang menjabat sebagai Kepala Kantor Perwakilan Pulau Lima Dendam yang terletak di Pulau Satu Garang menyambut. 

Lintang Tenggara melangkah cepat. Sambil mengibaskan tangan, ia berujar, “Siapkan ‘Kamar Kosong’ untuk tamuku.”

“Baik, Yang Terhormat Bupati Selatan.”

“Segera siagakan gerbang dimensi menuju Pulau Lima Dendam.” 

“Baik, Yang Terhormat Bupati Selatan.”

“Sekarang!”

Lintang Tenggara tergesa-gesa. Ia menyadari bahwa Ibukota Kerajaan Garang adalah tempat paling tak aman bagi Lampir Marapi. Oleh karena itu, malam ini juga ia hendak bergegas meninggalkan kota ini. Agar tidak mencurigakan, maka ia akan membawa Lampir Marapi ke Pulau Lima Dendam terlebih dahulu. Sesampainya di Pulau Lima Dendam, bertolak ke Pulau Dua Pongah adalah perkara mudah. 

“Adik Lampir Marapi, dikau beristirahatlah terlebih dahulu.”

Lintang Tenggara lalu mengeluarkan secarik kertas. Lelaki yang berperawakan dewasa muda itu mulai menulis. Tepat sebelum seorang pelayan menjemput dan mengantarkan si gadis belia ke Kamar Kosong yang telah disiapkan, Lintang Tenggara menyerahkan secarik kertas yang telah ditulis kepada Lampir Marapi.

Setelah itu, Lintang Tenggara Tenggara mengeluarkan dan mengenakan pakaian resmi dari dalam Batu Biduri Bimensi miliknya, dan melangkah ke halaman samping. Ia mengetahui persis bahwa di halaman tersebut adalah dimana gerbang dimensi milik Kantor Perwakilan terletak. 

“Apakah esok hari ada kejadian besar di ibukota,” aju Lintang Tenggara saat berpapasan dengan seorang petugas Kantor Perwakilan. 

“Esok hari...? Yang terhormat Bupati Selatan, esok hari akan berlangsung lelang besar di Balai Lelang Kerajaan,” jawab seorang petugas. 

Lintang Tenggara meneruskan langkah ke halaman samping. Terlihat sejumlah petugas sedang sibuk menyiapkan dan merapal gerbang dimensi. Sebenarnya, akan lebih cepat bilamana ia sendiri turun tangan merapal. Meskipun demikian, di atas sebuah bangku taman yang terbuat dari batu, lelaki tersebut duduk mengawasi dengan tenang. 

Sambil menanti, Lintang Tenggara memandang jauh tinggi ke atas. Rembulan purnama menyinari wajah, sekaligus menemani dirinya. Raut wajah lelaki tersebut perlahan berubah sendu. Entah kenangan apa yang sedang terlintas dalam benaknya di kala memandangi bulan purnama. 

“Tuan Bupati Selatan!” Kepala Kantor Perwakilan bergegas mendatangi Lintang Tenggara. “Putra Mahkota Kerajaan Garang... Putra Mahkota Kerajaan Garang datang berkunjung. Saat ini ia menanti di aula utama!” 

“Lanjutkan merapal gerbang dimensi. Apapun yang terjadi, jangan berhenti...,” ujar Lintang Tenggara sambil melangkah santai ke aula yang dimaksud. Kepala Kantor Perwakilan melangkah gugup di belakangnya.

“Bupati Selatan Pulau Lima Dendam!’” sergah seorang lelaki dewasa muda. Lagaknya petantang-petenteng, seolah tak ada satu pun kekuatan di muka bumi ini yang berani berlaku tak sopan terhadap dirinya. “Sampai hati engkau berkunjung di Ibukota Kerajaan Garang namun tiada memberi kabar.” 

Simpul senyum menghias sudut bibir Lintang Tenggara. “Yang Mulia Putra Mahkota Kerajaan Garang, merangkap Yang Terhormat Gubernur Pulau Satu Garang... hamba baru saja tiba. Hari telah beranjak malam, sehingga hamba tiada berani mengganggu waktu beristirahat Yang Mulia Putra Mahkota.” 

“Bupati Selatan Pulau Lima Dendam... kuyakin engkau tahu pasti bahwa hubunganku dengan Gubernur Pulau Lima Dendam sangatlah baik. Bilamana engkau tiba di Ibukota Kerajaan Garang... subuh, siang, bahkan di tengah malam sekalipun kedatangan engkau akan disambut Istana Utama Kerajaan Garang.” 

“Yang Mulia Putra Mahkota, sungguh sebuah kehormatan besar. Bila demikian, mohon kebesaran hati untuk memaafkan kelalaian hamba.” Pembawaan Lintang Tenggara setenang air sungai yang mengalir dingin dan jernih. 

“Yang Mulia Putra Mahkota... apakah gerangan maksud dan tujuan kedatangan Yang Mulia Putra Mahkota di Kantor Perwakilan di malam hari ini. Tentunya bukanlah semata untuk menyambut ketibaan hamba...” Lintang Tenggara berujar sambil menoleh.

“Oh...” Putra Mahkota Kerajaan Garang, yang juga merangkap sebagai Gubernur Pulau Satu Garang memicingkan mata.

“... dan siapakah gerangan tetamu yang datang bersama dengan Putra Mahkota?” Lintang Tenggara mengacu kepada seorang lelaki berkepala gundul dan seorang remaja kurus kerempeng di belakangnya. 

“Oh... Ini adalah Saudagar Senjata Malin Kumbang. Kebetulan ia sedang datang berkunjung....”

“Salam kenal Bupati Selatan Pulau Lima Dendam,” Malin Kumbang menyapa. “Diriku dan Yang Mulia Putra Mahkota sedang berbincang-bincang tentang kekuatan tempur pulau-pulau di wilayah Partai Iblis. Lalu, Yang Mulia Putra Mahkota berceritera tentang kelebihan Pulau Lima Dendam akan penelitian-penelitian seputar perkembangan dunia keahlian....”

“Hahaha...,” gelak si Putra Mahkota. “Saudagar Senjata Malin Kumbang sempat menyampaikan niat bersua dengan Gubernur Pulau Lima Dendam. Kemudian kami mendengar perihal ketibaan peneliti terbaik di Pulau Lima Dendam....” 

“Oleh karena itu, Yang Mulia Putra Mahkota mengajak diriku untuk segera menemui Anda,” sambung Saudagar Senjata Malin Kumbang. 

Dusta. Putra Mahkota Kerajaan Satu Garang dan Saudagar Senjata ini penuh dengan kebohongan, batin Lintang Tenggara. Tipu muslihat dengan tingkatan yang secetek ini tak akan mungkin dapat mengelabui pengamatan Lintang Tenggara. Jikalau tipu muslihat dapat dibuatkan peringkat layaknya keahlian, maka kedua tokoh di hadapan Lintang Tenggara ini hanyalah berada pada Kasta Perunggu. Sangara Santang jauh lebih tangguh dari dua tokoh ini, dan Sangara Santang pun baru berada pada Kasta Perak dalam hal tipu muslihat. 

“Salam kenal wahai Saudagar Senjata Malin Kumbang. Namaku Lintang Tenggara, Bupati Selatan dari Pulau Lima Dendam....” Lintang Tenggara tersenyum ramah. Aura terpelajar menyibak dari dalam dirinya. 

Di dalam hati, Lintang Tenggara telah mengetahui pasti. Remaja kurus kerempeng yang berdiri di balik tubuh gempal Saudagar Senjata Malin Kumbang, adalah remaja yang berdiri di belakang kereta kuda nan mewah saat dirinya dan Lampir Marapi memasuki ibukota. Saat itu, Lampir Marapi terkesima akan kemewahan kereta kuda, sehingga tak menyadari bahwa remaja kurus kerempeng menatap ke arahnya. Dari tatapan mata si kurus kerempeng, remaja tersebut kemungkinan besar mengenal Lampir Marapi. 

Kendati kejadian tersebut berlangsung sangat singkat, tiadalah mungkin terlewat dari pengamatan Lintang Tenggara yang selalu waspada. Apalagi, di persimpangan jalan, sudah jelas bahwa dirinya membawa Lampir Marapi ke arah Kantor Perwakilan ini. Oleh karena itu, sangat mudah menebak bahwa kehadiran Putra Mahkota Kerajaan Garang yang hendak memastikan akan keberadaan Lampir Marapi!

“Selain itu... diriku penasaran dengan siapakah Bupati Selatan tiba di ibukota ini...?” Sepertinya si Putra Mahkota sudah tak hendak berbasa-basi.

“Hamba tiba seorang diri,” ucap Lintang Tenggara. “Maksud di hati hendak menyaksikan kegiatan di Balai Lelang Kerajaan esok hari.” 

“Oh..?” Putra Mahkota Kerajaan Garang meragukan jawaban Lintang Tenggara. Akan tetapi, ia tiada bisa menyanggah. Sejak tiba ia telah menebar mata hati, namun tiada dapat merasakan aura yang mencurigakan di Kantor Perwakilan Pulau Lima Dendam ini. Para pengawal yang berada pada Kasta Emas, yang ditugaskan menyelidiki di luar, pun tiada mengabari akan hal-hal yang mencurigakan. 

“Hamba pernah mendengar kabar berita...,” sela Saudagar Senjata Malin Kumbang, “tentang salah satu hasil ciptaan dari Pulau Lima Dendam.” 

“Apakah itu...?” tanggap Putra Mahkota Kerajaan Garang. 

“Sebuah kamar yang dapat menyembunyikan aura kasta keahlian... , Jikalau hamba tak salah dengar, Kamar Kosong namanya.” Saudagar Senjata Malin Kumbang memicingkan mata. 

“Oh..?” Lintang Tenggara terlihat sedikit terkejut, walau masih pada batasan yang wajar. “Memang pengetahuan seorang saudagar sangatlah jeli.” 

“Dan jikalau tak salah dengar, adalah Tuan Lintang Tenggara seorang yang menciptakan ‘kamar’ tersebut... yang kemudian tersedia di setiap Kantor Perwakilan Pulau Lima Dendam.” 

Senyuman si Saudagar Senjata membuat Lintang Tenggara sedikit muak. Akan tetapi, ia masih cukup tenang untuk membalas dengan senyuman ringan. “Sungguh Tuan Malin Kumbang terlalu berlebihan. Kegiatan penelitian dilangsungkan bersama-sama dalam kelompok, bukanlah upaya seorang diri.” 

“Segera tunjukkan padaku!” sergah Putra Mahkota Kerajaan Garang. Wajahnya terlihat penuh harap. Mungkinkah Kamar Kosong ini yang menghambat para pengawal yang menelusuri di luar aula? pikirnya dalam hati. 

Sudah berbulan-bulan sejak Kerajaan Garang kehilangan jejak Lampir Marapi. Gadis itu ibarat hilang ditelan bumi. Demikian, ia tak hendak menyia-nyiakan petunjuk tentang keberadaan si Perawan Putih itu. Bahkan informasi yang sumir saja ia telusuri, apalagi informasi yang berkenaan dengan sosok mencurigakan seperti Lintang Tenggara. 

Salah satu dari penelitian Lintang Tenggara, selain menemukan cara memperbaiki mustika retak, adalah Segel Kamar Kosong. Formasi segel ini bukanlah dimensi ruang maupun dimensi waktu. Segel Kamar Kosong merupakan ruangan biasa saja, namun dapat menghapus aura keahlian siapa pun yang masuk ke dalamnya. Segel ini diilhami oleh kalung Untaian Tenaga Suci milik Ibunda Mayang Tenggara. Biasanya, Lintang Tenggara memanfaatkan ruangan ini untuk membaca, atau melakukan penelitian terhadap ahli-ahli tertentu. 

Demikian, Lintang Tenggara memandu Putra Mahkota Kerajaan Garang dan Saudagar Senjata ke lokasi Segel Kamar Kosong yang terletak di wilayah dalam Kantor Perwakilan. Mereka diikuti oleh Kepala Kantor Perwakilan, remaja kurus kerempeng, dan dua pengawal kerajaan yang berada pada Kasta Emas. 

Sebagaimana diketahui, Lampir Marapi disembunyikan di dalam ruangan tersebut. Akan tetapi, tak seberkas kecemasan pun hinggap pada gerak-gerik maupun raut wajah Lintang Tenggara. 

Di depan sebuah pintu, Lintang Tenggara menghentikan langkah. Ia mulai terlihat sedikit ragu. 

“Buka pintunya! Aku hendak menguji kemampuan Kamar Kosong ini!” sergah si Putra Mahkota. 

Lintang Tenggara menganggukkan kepala kepada Kepala Kantor Perwakilan yang masih berdiri di belakang. Tindakan tersebut membuat si lelaki setengah baya itu semakin gugup. Ia mengetahui betul akan pencarian besar-besaran terhadap Lampir Marapi, putri dari Gubernur Pulau Dua Pongah. Bilamana gadis belia tersebut ditemukan di dalam Kantor Perwakilan, maka bukan hanya nyawa Lintang Tenggara yang dapat terancam... nyawanya juga akan menjadi taruhan. 

Kepala Kantor Perwakilan terdiam sejenak di kala memegang gagang pintu. Benaknya berpikir keras. Mungkinkah Lintang Tenggara memang sengaja membawa Lampir Marapi ke Kantor Perwakilan? Mungkinkah Bupati Selatan itu sengaja hendak menyerahkan gadis tersebut kepada Putra Mahkota Kerajaan Garang? Bila demikian adanya, maka hadiah besar menanti di dalam ruangan tersebut. 

“Apa yang kau tunggu!? Buka pintunya!” sergah si Putra Mahkota semakin tak sabar. 

Tak seorang pun di Pulau Lima Dendam dapat menebak jalan pikiran Lintang Tenggara. Bahkan, sang Gubernur pun mewaspadai Bupati Selatan tersebut. Kepala Perwakilan menyadari akan hal ini. 

“Krek!” 

Pintu Kamar Kosong terbuka... Sepasang kursi dan meja segera terlihat di tengah ruangan. Sebuah almari buku berukuran besar terpajang di salah satu sisi dinding, dan lukisan pemandangan alam di dinding yang lain. Keadaan di dalam mirip dengan ruangan kantor kebanyakan. 

Akan tetapi, tak ada Lampir Marapi di dalam sana! Tak ada sesiapa pun. Kepala Kantor Perwakilan tak dapat menyembunyikan keterkejutannya. 

“Periksa ke dalam!” perintah Saudagar Senjata Malin Kumbang kepada anak buahnya, seorang remaja yang berperawakan kurus kerempeng. 

“Tutuplah pintunya,” ujar Lintang Tenggara pelan kepada Kepala Kantor Perwakilan, setelah remaja kurus kerempeng masuk ke dalam. 

Segera setelah pintu ditutup, aura kasta keahlian si kurus kerempeng menghilang begitu saja. Putra Mahkota dan Saudagar Senjata segera memusatkan mata hati mereka. Keduanya tiada dapat merasakan keberadaan si remaja yang sudah berada di dalam. Selain mereka, dua ahli Kasta Emas pun terlihat kebingungan. Formasi segel memang biasa dipasang pada bangunan-bangunan tertentu untuk melindungi dari pantauan mata hati. Akan tetapi, formasi segel biasa dapat ditembus bilamana ahli Kasta Emas mengerahkan pantauan mata hati mereka.

Si kurus kerempeng masih berdiri di dalam ketika Putra Mahkota membuka pintu dan melangkah masuk. Putra Mahkota itu lalu memerintahkan kedua ahli Kasta Emas untuk menggeledah. Mereka memeriksa lantai, mengangkat meja dan kursi. Mereka memeriksa dinding, menggeser almari buku dan lukisan yang menggantung. Tiada ditemukan ruang tersembunyi atau lorong rahasia. Tak ada apa pun yang mencurigakan di dalam ruangan tersebut. 

“Yang Mulia Putra Mahkota!” tertiba seorang pengawal yang bersiaga di luar Kantor Perwakilan melangkah masuk. “Beberapa petugas kerajaan mengatakan bahwa mereka berpapasan dengan sosok gadis berjubah lusuh!” 

“Dimana!?” 

“Di gerbang barat!” 

Tanpa basa-basi, Putra Mahkota itu merangsek pergi. Sebelum mendatangi Kantor Perwakilan Pulau Lima Dendam, ia telah melakukan antisipasi dengan memperkuat penjagaan jalur keluar-masuk ibukota. Bila memang benar Lampir Marapi berada di dalam ibukota, maka tak akan mudah bagi gadis tersebut melarikan diri!

“Lampir Marapi...?” Lintang Tenggara bergumam pelan, seolah-olah tak percaya akan apa yang ia dengar. 

“Tuan,” bisik remaja kurus kerempeng. “Melewati Kantor Perwakilan ini, adalah gerbang timur. Sungguh tiada mungkin gadis tersebut muncul di gerbang barat bilamana hendak meninggalkan ibukota.” 

Remaja kurus kerempeng merupakan mantan serdadu bayaran di Kerajaan Satu Garang, sehingga ia cukup mengenal seluk beluk ibukota. Mendengar pandangan remaja tersebut, Saudagar Senjata Malin Kumbang terdiam sejenak. Kedua matanya masih mencermati gerak-gerik dan raut wajah Lintang Tenggara. Sungguh tiada dapat ditebak. 

“Tuan Bupati Selatan, diriku memohon izin untuk undur diri.”

“Oh...? Sudi kiranya Tuan Saudagar Senjata tinggal sejenak. Tentunya kita dapat bertukar pandangan tentang beberapa hasil penelitian dari Pulau Lima Dendam.” Lintang Tenggara tersenyum ramah. 

“Mungkin di lain kesempatan,” balas Saudagar Senjata Malin Kumbang. “Pada kesempatan ini, diriku hendak memberikan bantuan kepada sang Putra Mahkota.” Lelaki berkepala gundul tersebut tak menyembunyikan kenyataan bahwa ia juga mengincar hadiah tanah dan keping-keping emas.

“Kepala Kantor Perwakilan, bagaimana dengan gerbang dimensi menuju Pulau Lima Dendam?” ujar Lintang Tenggara sesaat setelah Saudagar Senjata dan anak buahnya meninggalkan mereka. 

“Sudah selesai dirapal sejak beberapa waktu lalu, Yang Terhormat Bupati Selatan.”

“Bagus!” Lintang Tenggara menyibak senyum. “Aku hendak keluar sejenak dan mengambil subyek penelitian yang berharga.” 

Demikian, Lintang Tenggara kembali mengenakan jubah nan lusuh dan melangkah meninggalkan Kantor Perwakilan. 

...


Selang beberapa waktu, sebuah gerbang dimensi berpendar di dalam Kamar Kosong. Lampir Marapi melompat keluar dari dalam gerbang dimensi tersebut. Ia menenteng sebuah buku berukuran sedang di tangan kiri. Di tangan kanan, secarik kertas pemberian Lintang Tenggara terlihat memuat sejumlah petunjuk...

1. Ambil buku deretan ke-10 dari kiri, yang terletak di rak kedua dari bawah almari. Buka halaman 98. 

2. Lompat ke dalam gerbang dimensi yang terbuka dari halaman buku tersebut. 

3. Gunakan Sirih Reka Tubuh setelah keluar dari gerbang dimensi. 

4. Kirim Reka Tubuh ke arah barat ibukota. 

5. Bila terjadi keributan, buka halaman 89 dan lompat ke dalam gerbang dimensi yang terbuka.

6. Segera menuju Pulau Lima Dendam menggunakan gerbang dimensi di halaman samping Kantor Perwakilan. Jangan tunggu aku. 

7. Segera hubungi Anjana saat tiba di Graha Bupati. Serahkan catatan ini. Tunggu aku di sana. 


?===


“Kemanakah tujuan kita selanjutnya?” Terdengar suara nyaring dan melengking. 

“Sedang kupertimbangkan....” 

“Apa pula yang hendak kau pertimbangkan...?”

Lelaki dewasa bertubuh tinggi itu membatin. Rambutnya terurai panjang tak terurus. Kumisnya tebal, dan janggutnya lebat panjang. Ia mengenakan pakaian seadanya. Compang-camping. Bila hanya dilihat sepintas, lelaki itu mirip sekali dengan seorang gelandangan. Perawakannya membuat ia terlihat lebih tua dari usia sebenarnya. 

“Kemungkinan besar kita akan mengunjungi Kepulauan Para Raja.” *

“Hm... Banyak ceritera menarik dari wilayah itu.”

“Kancil...,” ujar Balaputera pelan. “Bilamana beliau berkenan, maka aku hendak bersua dengan... ibu mertuaku.” 

 


Catatan: 

*) Di dimensi para ahli baca, ‘Kepulauan Para Raja’ merupakan sebutan dari Kepulauan Maluku. 


Tak terasa, genap setahun sudah Legenda Lamafa mengudara! Jangan lupa klik iklan... Hehe...