Episode 157 - Sepasang Sosok Berjubah Lusuh



Sebuah taman terbentang sejauh mata memandang. Hijau dan asri, dimbangi warna-warni berbagai tumbuhan bunga nan tertata rapi. Harum semerbak bunga-bunga tersebut seolah menyibak nuansa alami. Di kejauhan, terdengar pula percik suara air mancur, diselingi nyanyian merdu burung-burung pelipur lara di hati. 

Tiada berlebihan bila tempat ini disebut sebagai taman ibarat di surga. 

“Hahaha.... Selamat! Selamat!” 

Di dalam sebuah pendopo mewah di tengah taman, seorang lelaki tua menyambut dengan tawa lebar. Di belakangnya, berdiri lima Putra dan Putri Perguruan Anantawikramottunggadewa. Sejumlah tokoh lain juga terlihat mendampingi lelaki tua tersebut. 

Matahari pagi bersinar cemerlang. Secemerlang aura yang dipancarkan dari sang lelaki tua itu. Pembawaannya demikian berwibawa. Perawakannya menyilaukan sehingga membuat terkesima. 

Semalam sebelumnya, Bintang Tenggara berhasil merampas dan membawa bendera dari Benteng Utara kembali ke Benteng Selatan. Dengan demikian, Putra dan Putri Perguruan Gunung Agung secara sah dan meyakinkan memenangkan Pertarungan Benteng. 

“Namaku Resi Gentayu,” ujar orang tua nan penuh wibawa. “Aku adalah Pendiri Perguruan Anantawikramottunggadewa.” 

Kelima murid Perguruan Gunung Agung spontan membungkukkan tubuh. Sungguh sebuah kehormatan bagi mereka yang berdiri di hadapan seorang tokoh nan digdaya. Bagi Bintang Tenggara, ia bahkan tak pernah bersua Pimpinan Perguruan Gunung Agung, namun kini disambut oleh Pendiri salah satu perguruan terkemuka di Pulau Jumawa Selatan. 

“Kalian selayaknya mendapat pelajaran berarti dari murid-murid Perguruan Gunung Agung,” ujar Resi Gentayu kepada murid-murid Perguruan Anantawikramottunggadewa di belakangnya. Mereka adalah Putra dan Putri Perguruan yang ikut serta dalam Pertarungan Benteng. 

“Bahwasanya... sebuah pertarungan bukanlah berarti pertempuran adu kekuatan antar ahli...,” sambung Resi Gentayu. 

Lamalera memalingkan wajah. Ia belum sepenuhnya menerima kekalahan regu mereka. Baginya, murid-murid Perguruan Gunung Agung melancarkan taktik yang tak layak dengan merampas bendera dan melarikan diri. Pertarungan antar ahli harusnya berlangsung berhadap-hadapan. Terlebih lagi, andai saja si dada rata itu tak menyela, maka pastinya ia akan dapat mengalahkan dan menangkap Bintang Tenggara. Lamalera jelas tak puas. 

“Lamalera, putri angkatku... mengapa dikau seolah tak senang...?” Resi Gentayu menegur. 

Bintang Tenggara terpana. Lamalera adalah putri angkat Pendiri Perguruan Anantawikramottunggadewa... bagaimana mungkin? Apakah orang tua itu yang membawa Lamalera dari Dusun Peledang Paus ke perguruannya? Atas alasan apa? Mengapa Lamalera? 

“Ck!” Lamalera mendecak. “Aku ingin segera beristirahat. Cepat sudahi basa-basi ini!” 

Bintang Tenggara membelalakkan mata. Mengapa kurang ajar sekali Lamalera terhadap tokoh sekelas Pendiri Perguruan!? 

“Hahaha...,” Resi Gentayu tertawa lebar. “Darah muda memanglah dipenuhi gairah.” 

Apakah perilaku kurang ajar Lamalera seperti ini sudah biasa? Menantap Resi Gentayu, Bintang Tenggara merasakan sesuatu yang tak lazim. Terbersit kesan yang berbeda dari tatapan mata Pendiri Perguruan tersebut, seolah mengisyaratkan rasa... takut? Bukan, bukan rasa takut. Lebih seperti lelaki tua itu tak hendak menyinggung perasaan... sungkan, mungkin? Bintang Tenggara bertanya-tanya dalam hati. 

“Beristirahatlah seperlunya.” 

Lamalera melengos pergi. Para Putra Peguruan Anantawikramotuunggadewa membungkukkan tubuh kepada Pendiri Perguruan, sebelum melangkah menyusul Lamalera. 

“Wahai murid-murid Perguruan Gunung Agung, esok kalian akan mengetahui salah satu rahasia dari Perguruan Anantawikramottunggadewa dalam memupuk keahlian murid-muridnya.” Dengan demikian, Resi Gentayu menghilang dari hadapan mereka.

...


“Lera!” seru Bintang Tenggara sumringah. 

Hari jelang petang, dan Lamalera seorang diri datang berkunjung ke penginapan murid-murid Perguruan Gunung Agung.

“Perkenalkan rekan-rekanku. Ini adalah Panglima Segantang, Aji Pamungkas, Kuau Kakimerah... dan Canting Emas,” ujar Bintang Tenggara. “Ini adalah sahabatku dari Dusun Peledang Paus... Lamalera!”

“Salam kenal, Kawan Lamalera!”

“Bintang Tenggara tiada pernah berceritera bahwa ia memiliki sahabat nan jelita. Ijinkan diri ini mengelus tanganmu....”

“Sahabat masa kecil bintang di langit tenggara....” 

“Oh... kau punya nama...? Apa tadi? Lama... dan lara...?” cibir Canting Emas. “Lama menanti dan lara di hati... cocok sekali.” 

“Salam kenal Panglima Segantang, Aji Pamungkas, Kuau Kakimerah... dan ‘Centong Amis’...”

“Hm... beberapa kali pertarungan kita tertunda... beruntung sekali engkau...,” tantang Canting Emas.

“Bagaimana kalau kita selesaikan saat ini saja...?” tanggap Lamalera cepat.

Suasana tetiba memanas.

...


Dalam beberapa kesempatan keduanya berhadapan, Lamalera dan Canting Emas tidak pernah menyelesaikan pertarungan. Konfrontasi pertama mereka adalah di kala Canting Emas mendatangi Benteng Utara untuk menyelamatkan Aji Pamungkas. Saat itu, Canting Emas hanya mengulur-ulur waktu sebelum melemparkan cangkang siput yang membatalkan formasi Segel Pertahanan. Di saat Lamalera menghancurkan cangkang siput tersebut, Canting Emas sudah membawa pergi Aji Pamungkas. 

Konfrontasi kedua terjadi ketika Lamalera mengejar Bintang Tenggara. Sedikit lagi Lamalera hendak membekuk sasarannya itu, Canting Emas datang ibarat pahlawan yang berkilau untuk menggagalkan upaya pengejaran. Pertarungan sempat berlangsung singkat, dimana Canting Emas, lagi-lagi, hanya mengulur-ulur waktu. 

Kekesalan Lamalera terhadap Canting Emas sudah sampai di ubun-ubun! 

Tak lama lagi sang mentari akan kembali ke peraduannya. Lamalera kini berada di taman bernuansa surgawi. Akan tetapi, ia tak bersama Canting Emas untuk melangsungkan pertarungan... 

Merasakan gelagat ketidakcocokan tingkat tinggi antara kedua gadis, serta kemungkinan terjadinya pertarungan tiada berfaedah, Bintang Tenggara segera membawa Lamalera pergi. Kemudian, mereka pun tiba di taman ini. Duduk berdampingan di atas sebuah bangku taman... 

“Lera, bagaimana dikau bisa tiba di Kota Baya-Sura? Menjadi murid perguruan ternama? Sejak kapan? Bagaimana keadaan di Dusun Peledang Paus? Bagaimana kabar Bunda Mayang? Kakek Kepala Dusun? Kakak Panggalih Rantau? Keluargamu?”

Pertanyaan datang bertubi-tubi. Masih banyak lagi pertanyaan yang mendera di dalam benak Bintang Tenggara. Akan tetapi, untuk sementara ini, pertanyaan yang tadi saja dulu. 

Lamalera menoleh, tatapannya sendu. Ia memiliki jawaban atas semua pertanyaan tersebut. Akan tetapi, tidak semua pertanyaan bisa ia jawab saat ini. “Seorang ahli mengangkatku sebagai anak didik dan mengantar ke Kota Baya-Sura. Keadaan di Dusun Peledang Paus baik-baik saja,” jawab gadis itu pelan.

“Sesuai dugaanku!” seru Bintang Tenggara. “Lalu? Bagaimana dikau menjadi anak angkat Pendiri Perguruan?”

“Aku lebih tertarik akan ceriteramu setelah meninggalkan Dusun Peledang Paus...”

Bintang Tenggara terlanjur bersemangat. Ia pun memulai ceritera tentang petualangannya. Sejak pertama meninggalkan Dusun Peledang Paus, berbagai kejadian aneh berlangsung. Ia setengah berbisik di kala mengisahkan tentang Pasukan Telik Sandi, Panggalih Rantau dan Silek Linsang Halimun. Ia berujar lirih tentang Partai Iblis serta seorang tokoh berjubah hitam yang memiliki banyak binatang siluman serangga. Ia berkisah bangga tentang pertemuan dengan Panglima Segantang dan pertarungan antar istana di Kerajaan Parang Batu. 

Lamalera mendengar dengan penuh kesabaran. Ia menanggapi setiap ceritera dengan nada sangat ingin tahu. Walau, terkadang gadis tersebut sedikit melamun, mungkin membayangkan bagaimana jadinya bila dirinya ikut serta dalam setiap petualangan tadi. 

Bintang Tenggara melanjutkan. Kisah di Perguruan Gunung Agung pun tak lepas dari banyak kejadian aneh. Dimulai dari ujian masuk, ketika ia bertemu dengan Canting Emas, Kuau Kakimerah dan Aji Pamungkas. Kemudian, tentang jebakan Guru Muda Anjana dan Lintang Tenggara. Ya, Lintang Tenggara! Penjabaran tentang tokoh satu ini sedikit panjang dan banyak dilebih-lebihkan. Misalnya, Lintang Tenggara disebutkan suka mengikat lalu membedah tubuh ahli menggunakan belati yang mengkilap, dan mulutnya berbisa bak ular. Bahkan, Lintang Tenggara diceriterakan senang memakan otak manusia demi memperoleh ilmu pengetahuan!

Lamalera sedikit memicingkan mata ketika mendengar kisah tentang seorang pembunuh bayangan yang menyelamatkan jiwa Bintang Tenggara... Embun Kahyangan namanya. Cara Bintang Tenggara menjabarkan tentang gadis tersebut terdengar sedikit berbeda. 

Bintang Tenggara juga berceritera tentang Maha Guru Keempat dan salah satu Sapta Nirwana dari Perguruan Gunung Agung yang dikenal sebagai Asana Vajra. Tak lupa penjelajahan ke Pulau Garam dimana ia bertemu Arya Pamekasan. Kemudian, tentang kejuaraan penentu wakil Perguruan Gunung Agung ke Kota Ahli. Ia juga menyisipkan ceritera tentang kunjungan tak sengaja ke Pulau Dua Pongah beserta gadis manja bernama Lampir Marapi. 

Semakin banyak Bintang Tenggara berceritera, semakin lara pula hati Lamalera. Ia sudah tak sepenuhnya mendengarkan dengan seksama. Kedua bola matanya hanya memandangi wajah sahabat masa kecilnya itu, benaknya melayang jauh. 

“Hm... Lera... apakah tujuan dikau memupuk keahlian...? Apa yang hendak dikau capai?”

Pertanyaan Bintang Tenggara memecah lamunan Lamalera. Gadis tersebut tersenyum kecut, kedua matanya sendu. 

“Ada yang hendak kukejar....” Lamalera bergumam setengah tertahan. 

“Kejar...?”

“Sudahlah... malam semakin larut. Kita harus segera kembali.”

Bintang Tenggara hanya diam. Dirinya telah memaparkan hampir semua petualangan yang pernah dijalani, kini seharusnya giliran Lamalera....

Lihatlah jauh di atas sana...,” Lamalera menunjuk. Berkat sinar rembulan, maka terlihat sesuatu yang melayang tinggi di angkasa. 

“Siapakah itu...?”

“Itu adalah si cerewet Resi Gentayu... Ia telah mengawasi kita sedari tadi.” 


===


Dua sosok berjubah lusuh berwarna kusam bergerak di balik bayangan malam. Gerakan mereka ringkas dan tanpa suara. Sesekali mereka berhenti, mengamati situasi, lalu melangkah lagi. Dari cara berjalan, walau pun dilindungi jubah, tak sulit mengetahui bahwa yang berjalan di depan adalah seorang lelaki muda, dan yang mengikuti adalah seorang gadis belia. 

Tak lama, dua sosok tersebut tiba di sudut kota. Kembali mereka mengamati situasi sekeliling, sebelum akhirnya menelusuri gang-gang kecil yang berkelok-kelok. Langkah mereka berhenti di depan sebuah bangunan tak terlalu besar nan reyot. Sebuah penginapan, ditandai dengan tulisan yang tergantung sedikit miring: ‘Losmen Kenangan’. 

“Apakah masih ada kamar kosong...?” terdengar suara lelaki dari balik jubah nan lusuh berujar. 

Di hadapannya, di balik sebuah meja tinggi, seorang lelaki pendek namun kekar memutar tubuh. Tangan besar dan berotot menyeka sudut meja, lalu ia mencondongkan tubuh ke depan. Wajahnya kasar, dan terlihat lebih cocok bekerja sebagai serdadu bayaran, daripada sebagai petugas penerima tamu losmen. 

“Berapa malam...?” Suara kasar terdengar datang dari kerongkongan kering. 

“Satu malam.” 

“Ada...”

“Dua kamar, untukku dan adikku.” Lelaki dari balik jubah berujar. 

“Kau kira aku bodoh...?” lelaki penerima tamu menghardik. “Mengapa setiap pasangan muda-mudi seperti kalian selalu datang dengan kedok yang serupa...?”

“Tolong siapkan dua kamar untuk kami...,” ulang lelaki di balik jubah. 

“Cih! Kakak-adik dengkulmu kopong! Sepasang muda-mudi seperti kalian datang menginap untuk memadu asmara... Semua juga tahu!” 

“Hei!” Lelaki dari balik jubah hendak menyergah. Akan tetapi, sosok di belakang menggapai lalu sedikit menarik jubahnya. Kedua sosok tersebut lalu terlihat berbisik-bisik. 

“Hanya tersisa satu kamar.” Penerima tamu kasar itu sebal karena merasa diabaikan. “Sudahlah, untuk apa ke losmen...? Kalian lampiaskan saja hasrat di balik semak-semak...” 

“Tolong siapkan kamar yang ada....” Pasangan ‘kakak-adik’ memutuskan untuk menginap.

“Satu malam, sepuluh keping perak....” Telapak tangan kasar dan lebar menjulur serta menengadah. 

“Mengapa mahal sekali!?” 

“Kau kira aku senang membersihkan sisa-sisa lendir kalian...!?”

...


“Kau tidurlah di kasur. Aku akan tidur di lantai.”

“Kakak Lintang....” 

“Setelah kota ini, hanya satu kota lagi sebelum kita benar-benar dapat meninggalkan Pulau Satu Garang...,” jawab Lintang Tenggara.

Bintang Tenggara seharusnya bersyukur bahwa saat keluar dari gerbang dimensi alami di pusat Alas Roban, ia berpapasan dengan Kum Kecho di dekat Kota Ahli. Nasib kurang mujur justru mendera Lintang Tenggara dan Lampir Marapi. Oleh gerbang dimensi nan aneh itu, sekira sepekan yang lalu keduanya mendapati diri mereka tiba di dalam wilayah Pulau Satu Garang!

Sebagaimana diketahui, Putra Mahkota Kerajaan Garang di Pulau Satu Garang, ingin mempersunting si Perawan Putih. Karena ayahanda Lampir Marapi, Gubernur Pulau Dua Pongah menolak, Kerajaan Garang berniat menjajah! Armada perang besar pun telah dipersiapkan. Walhasil, gadis nan anggun tersebut diam-diam diungsikan keluar dari wilayah Partai Iblis, untuk dititipkan ke Sanggar Sarana Sakti. 

Dengan ketiadaan Lampir Marapi, sementara waktu ini, ketegangan antara Pulau Satu Garang dan Pulau Dua Pongah berhasil diredam. 

Akan tetapi, hati Lampir Marapi tak tenang ketika berpapasan dengan serdadu bayaran di kaki Gunung Perahu. Mengetahui bahwa para serdadu bayaran berasal dari Pulau Satu Garang, gadis tersebut merasa dirinya menjadi incaran... Padahal, serdadu-serdadu bayaran tersebut diupah oleh Saudagar Senjata Malin Kumbang untuk mengadu domba Kemaharajaan Pasundan dan Kerajaan Siluman Gunung Perahu. 

Singkat kata singkat ceritera, di Alas Roban Lintang Tenggara telah berjanji untuk mengantarkan Lampir Marapi kembali ke Pulau Dua Pongah. Sebagai Bupati Selatan Pulau Lima Dendam, sebenarnya sangat mudah baginya meninggalkan Pulau Satu Garang. Dengan catatan... seorang diri. 

Sebagai pulau yang dikenal sebagai markas serdadu bayaran, sebuah sayembara telah dikumandangkan. Barang siapa yang memiliki informasi tentang keberadaan Lampir Marapi, akan memperoleh tanah yang luas serta keping-keping emas yang melimpah-ruah. Walhasil, gambar wajah Lampir Marapi bertebaran di seantero Pulau Satu Garang. 

Demikian, sejak sepekan terakhir, Lintang Tenggara dan Lampir Marapi mengendap-endap. Mereka berpindah-pindah dari satu kota ke kota berikutnya. Tujuan mereka adalah tempat paling berbahaya, yaitu Ibukota Kerajaan Satu Garang. Di ibukota tersebut, terdapat Kantor Perwakilan Pulau Lima Dendam, yang tentunya memiliki gerbang dimensi sendiri. 

“Kakak Lintang... terima kasih,” bisik Lampir Marapi. 

“Kau janganlah khawatir, aku akan memegang janji.” Aura terpelajar dan bijak mengemuka dari sosok Lintang Tenggara. 

...


Matahari baru hendak terbit ketika Lintang Tenggara dan Lampir Marapi meninggalkan losmen. Terdengar suara penerima tamu semalam yang menyindir tentang ‘permainan’ gaya apa dan dan berapa kali bermain dalam semalam.... Tak hendak menimbulkan keributan, Lintang Tenggara terpaksa mengabaikan saja. 

Hari sudah jelang malam di kala pasangan berjubah lusuh tiba di ibukota Kerajaan Garang. Pengaturan waktu yang sangat tepat, karena ibukota sudah mulai beranjak sepi. Selain itu, suasana temaram akan menyulitkan orang untuk mengenali jati diri mereka. 

Di saat memasuki gerbang ibukota, Lintang Tenggara dan Lampir Marapi melangkah beriringan dengan sebuah kereta kuda nan mewah. Kemewahan kereta kuda menarik perhatian Lampir Marapi, sehingga gadis tersebut serius menatap. Seorang kusir di depan mengendalikan kuda perlahan, namun masih cukup cepat untuk mendahului kedua sosok berjubah lusuh. 

Di saat itulah wajah Lampir Marapi terlihat oleh remaja kurus kerempeng yang berdiri di belakang kereta kuda. Remaja tersebut segera mengenali Lampir Marapi sebagai salah satu anggota Regu Perdamaian, yang pernah menyelamatkan dirinya saat menghindar dari seekor Babi Taring Hutan di atas pohon.*

Rombongan kereta kuda nan mewah berhenti di depan sebuah bangunan besar dan megah. ‘Balai Kota’ adalah tulisan besar yang terpampang di atas bangunan tersebut. Dari dalam kereta kuda, lalu turun seorang lelaki setengah baya bertubuh gempal dan berkepala botak licin. Remaja kurus kerempeng ikut turun mengikuti tuannya, namun seketika berhenti sambil mengamati papan pengumuman nan besar. 

“Lampir... Marapi...?” gumamnya sambil memperhatikan gambar seorang gadis yang besar terpampang di tengah-tengah papan pengumuman. 

“Kurus Kerempeng! Apa yang kau lakukan!? Segera masuk!” sergah Saudagar Senjata Malin Kumbang. “Aku telah memiliki janji temu muka dengan Putra Mahkota Kerajaan Satu Garang di tempat ini!” 

Mengabaikan tuannya, remaja kurus kerempeng melempar pandang ke belakang. Ia menyaksikan sepasang sosok berjubah lusuh berbelok di persimpangan jalan. 

“Hei!” hardik Malin Kumbang. 

“Tuan, diriku tadi melihat... Lampir Marapi!” 

“Apa!?” 



Catatan: 

*) Episode 122


Selamat tahun baru! 

Mohon kesedian para ahli baca nan budiman untuk meng-klik iklan. Akan sangat membantu developer dalam menjaga kelangsungan ceritera.net. Terima kasih.