Episode 53 - The Kind of Love : Erina x Bagas



Bagas berdiri. Erina terkejut karena dia melamun sebelumnya. Dia juga melakukan langkah mundur atas aksi yang akan dilakukan Bagas.

Bagas berbalik dan menghadap ke Erina. Di dalam ruangan yang terbilang masih cukup gelap itu, terbesit pikiran untuk maju dan mundur. Hati yang tak lagi akan bertahan untuk menerima rasa sakit, merasa ingin pergi dari ruangan. Tetapi kalau dia melakukan itu, untuk apa seluruh penantian yang telah dia lakukan.

Bagas maju ke depan, Erina yang tampak ragu-ragu harus merespon apa, hanya bisa terdiam sembari memperhatikan gerak-gerik Bagas, berdiri satu meter di hadapannya, menurunkan tuBuh dan menundukkan kepala, persis seperti seorang ksatria yang tengah melakukan salam penghormatan.

Erina benar-benar tak mengerti apa yang coba Bagas lakukan, namun, saat Bagas terus melakukan itu sampai beberapa lama, akhirnya Erina mengerti apa maksudnya. Bagas mencoba meminta permohonan maaf pada Erina.

Meskipun Erina tak segera menjawab permohonan Bagas, perasaannya mengatakan kalau sebenarnya Bagas tak harus melakukan hal itu. Karena yang paling diinginkan Erina adalah, kembalinya Bagas ke sisinya.

Perasaannya menggebu-gebu, hatinya tak lagi dapat menahan rasa kebahagiaan. Ingin rasanya dia menangis karena momen yang sesaat itu. 

Bagas masih berada dalam posisi yang sama—menunduk layaknya seorang ksatria—Erina yang tak tahan untuk mengeluarkan perasaan bahagianya mendorong dirinya untuk menubruk Bagas.

“Wuoh!”

Bagas yang terkejut dengan apa yang terjadi hanya bisa menerima perilaku Erina yang tiba-tiba. 

Erina berada di atas Bagas, memeluknya dengan erat seakan dia tak ingin melepas pergi. Bagas melihat ke arah Erina yang memendamkan wajahnya ke dada, dia lalu mulai merasakan udara lembab yang datang dari wajah Erina.

Suara yang dikeluarkan saat seseorang menahan tangisan juga dapat dia dengar. 

“Jangan tinggalkan aku... lagi.”

Suara parau terdengar mengucapkan kalimat yang sangat menyentuh hati. Tetapi Bagas tak mengerti maksud dari perkataan itu, karena ingatannya tentang Erina yang baru-baru saja terbentuk benar-benar tak tersisa sedikitpun.

Meskipun begitu, logika yang dapat dia pikirkan dari perkataan Erina barusan memberitahukannya, kalau dia secara tidak langsung telah meninggalkan Erina. Hal yang paling parah dari itu juga, dia pasti telah membuat Erina sangat kesepian dan menunggu dalam waktu yang cukup lama.

“Emmt, maaf.”

Bagas mencoba untuk memperbaiki posisi mereka, masih membiarkan Erina memeluknya, Bagas juga membalas pelukan Erina. Sangat hangat, dan juga kerinduan yang tak dapat dijelaskan lewat logika.

Secara tidak langsung dia pasti pernah merasakannya, meskipun dia tak dapat mengingat, tetapi hati tak dapat berbicara bohong. Dia sangat merindukan wangi, perasaan, dan sosok dari Erina.

Mencoba untuk memuaskan hati, mereka terus berpelukan dalam waktu yang cukup lama. Sampai Erina memiliki sesuatu yang sangat ingin dia katakan.

“Aku.. mencintaimu.”

Setelah sekian lama menunggu, Erina akhirnya dapat menyatakan perasaannya. Perasaan yang telah tertanam selama lebih dari 10 tahun. 

“Terima kasih.”

Namun, jawaban yang dia dapatkan bukanlah seperti yang diharap.

“Aku tahu perasaan ini bukanlah kebohongan, tapi, biarkanlah aku setidaknya mendapatkan waktuku, untuk juga bisa mencintaimu.”

Jawaban yang didapatkan memang tak sesuai ekspetasi, malahan itu melebihi apa yang dipikirkan. Bagas tak begitu mudahnya menerima perasaan yang dia berikan, dia justru juga ingin merasakan hal yang sama sepertinya.

Masih dalam posisi yang sama, mudah saja untuk menyembunyikan wajah bahagia yang telah mengeluarkan air mata kebahagiaan. Tetapi Bagas malah menarik tubuhnya ke belakang, dan dengan begitu saja menatap wajahnya yang bersemu merah dan mata yang berkaca-kaca.

Wajah maskulin yang mungkin saja bisa membuat wanita lain pingsan dibuatnya. Tatapan yang sangat mempesona itu juga tak bisa tak membuat darah naik ke kepala karenanya.

“Aku.. telah melupakan ingatan tentang dirimu yang baru saja terbentuk.”

Seketika rasa penyesalan memenuhi wajahnya. Dia mulai menundukkan wajahnya dan meletakkannya ke bahu Erina. Erina yang tak tahu harus berbuat apa hanya bisa terdiam tak bergerak.

“Tapi.. aku tak melupakan siapa dirimu. Kau adalah salah satu sosok yang bisa membuatku bertahan sampai sejauh ini. Seorang gadis bangsawan yang terus membuatku menunggu akan kehadirannya.”

“Kamu kelihatan kecewa, ada apa?”

“Kak Eruin tak menepati janjinya tahun ini.”

Tiba-tiba saja sebuah rasa bersalah datang dari ingatan yang telah dia buat.

“Kakak bakal datang lagi tahun depan?”

“Ya, desa ini juga merupakan kampung halaman ibu tiriku. Jadi, ada banyak alasan untuk membuatku mengunjungi desa ini.”

“Yeeayy, kalau gitu bakal ku kasih tahu banyak permainan yang bisa kita mainkan. Oh iya, aku juga bakal ajak Rian, Aceng, Euis, dan juga Rini.”

“Apa mereka semua temanmu?”

“Enggak.”

“Eh?”

“Mereka sahabatku.”

Ingatan yang secara tak sengaja dia lupakan begitu saja setelah kejadian yang menimpa keluarganya. Mulai terbentuk kembali dengan rangsangan yang datang setelah Bagas mengucapkan kata kuncinya.

Rasa bersalah sekaligus penyesalan juga datang padanya. Membuatnya ingin mengulang waktu jika bisa, meskipun hanya untuk mengatakan maaf sebentar saja.

***

“Apa itu benar, Bu Risak?”

“Ya, begitulah. Dia selalu menunggu kedatangan Neng Erina sebelum musibah yang menimpa keluarga kami.”

Di luar ruangan, dua orang tua yang menguping pembicaraan anak mereka memulai sebuah pembicaraan.

“Hmm. Ini lebih kompleks dari yang kuperkirakan.”

“Pak Huntara tak usah terlalu memikirkannya. Lagipula sebuah jalan baru telah menunggu untuk mereka tempuh. Jadi apa yang harus kita tunggu?”

“Oh, benar juga. Kalau begitu pesta seperti apa yang harus kita adakan?”

Risak tampak berpikir dengan menyentuh bibirnya dengan jari kelingking sebelum menentukan. 

“Saya lebih memilih yang sederhana, tapi dapat memberikan kesan yang dalam.”

“Hmm, ide yang bagus.”

Di saat mereka dengan asiknya terus membicarakan rencana yang akan datang sambil berjalan ke suatu tempat, mereka berpapasan dengan seorang perwujudan vampir.

“Ayah dan.. Bu Risak.”

***

Di tengah jalan dia berpapasan dengan sang ayah dan seorang hebat dari kampung halamannya. Dia lalu di ajak ikut pergi ke ruangan ayahnya di rumah sakit cabang Lesmana. Sebuah rumah sakit yang dimiliki oleh keluarganya setelah sang pemilik sebelumnya tak bisa lagi merawat dengan baik rumah sakit yang dia bangun.

“Yah, kalau dipikir-pikir lagi, hal seperti itu pasti akan mengundang banyak pertanyaan dari kalangan masyarakat ukan?”

“Jadi kita akan menunda acara besar-besarannya.”

“Ya, tapi kita tak boleh tidak melaksanakan ijab kabulnya.”

“Itu masalah gampang. Yang kita perlu lakukan adalah menunggu mereka selesai dan langsung melaksanakannya.”

“Secepat itu?!”

Dia memang telah mendengarkan perbincangan dua orang tua di hadapannya sejak berpapasan sebelumnya. Tetapi itu tak menutup rasa terkejutnya karena mendengarkan rencana yang akan mereka lakukan untuk membahagiakan anak mereka.

“Apa ada masalah dengan itu?”

“Tidak juga sih. Malah itu lebih baik daripada membiarkan mereka terus seperti itu tanpa hubungan yang jelas.”

Melihat ke arah dua orang tua yang berbicara santai dengan kondisi yang terjadi di dalam ruangan, Elang benar-benar telah berada dalam puncak kesabarannya.

“A-a-ayah.”

“Ada apa, anakku?”

“Apa.. kalian bersungguh-sungguh ingin melakukan hal itu? maksudku, Bagas masih bersekolah, dan hanya tinggal sebentar lagi dia akan menghadapi tes akhir.”

Kekhawatiran yang sangat dari seorang wali kelas. Melihat anak muridnya menikah sewaktu mereka masih bersekolah. Mungkin—pasti itulah yang sedang dirasakan oleh Elang. Karena mengingat, meskipun hubungan mereka—Bagas dengannya—tak terlalu baik, tetap saja kewajiban di antaranya masih berlaku.

“Hahaha... ayah mengerti perasaanmu, anakku. Tapi keadaan Bagas yang sekarang sudah lebih dari cukup untuk meminang Erina. Benarkan, Dik Risak?”

“Ya, begitulah. Sebenarnya, satu bulan yang lalu aku memberikan hak kepemilikan atas tanah kompleks kontrakan pada mas Bagas, dan tak butuh waktu yang lama untuknya menghasilkan uang dari mengurus tanah tersebut.”

“Hahaha, dan tanpa kau sadari hak untukmu tinggal di rumah kontrakan itu telah dipegang oleh Nak Bagas kau tahu. Terlebih lagi, aku mendengar kalau di dalam keluarga Jawara, bagi mereka(anak) yang menikah di bawah umur 20 tahun, maka mereka sudah harus dipastikan dapat masuk ke dalam ruang lingkup ekonomi sekelas kenegaraan.”

Elang benar-benar tak mengerti jalan pikir dua orang hebat yang ada di hadapannya. Tetapi, satu hal yang paling dia mengerti adalah, mereka juga ingin yang terbaik bagi anak mereka.

Meskipun tak cukup untuk membuat dirinya merasa tenang, dia masih dapat percaya kalau mereka pasti akan melakukan yang terbaik bagi kebahagiaan Bagas dan Erina.

***

Malam hari di jam yang tak diketahui.

“Apa menurutmu mereka akan baik-baik saja?”

Di taman masih bersantai dua orang suami-istri untuk menikmati pemandangan langit malam dan suasana yang asri. Meskipun salah satunya merasa takut untuk berlama-lama di situ, tetapi keberadaan jelmaan vampir membuatnya merasa lebih aman.

“Aku, tidak terlalu berharap kalau mereka harus tergesa-gesa seperti itu sih.”

“Maksud kamu, dari pihak orang tua atau anak?”

“Mungkin keduanya. Di saat pihak satunya sangat menginginkan pengganti, secara tidak langsung pihak lainnya menemukan pengganti yang sangat cocok. Fenomena jaring kupu-kupu yang sangat membingungkan.”

“Memang seperti itulah cara kerja alam, Elang. Kau takkan tahu sampai kau benar-benar mengalaminya.”

Berhenti bicara sejenak, mereka menikmati suasana malam indah yang seperti hanya milik mereka berdua. Saling bersandar dan bergandengan tangan, masa muda sebelum memiliki seorang momongan adalah masa yang benar-benar menenangkan.

“Hei...”

“Hmm...”

“Bulannya indah ya.”

Ani melihat ke atas, ke tempat di mana Bulan yang indah yang dikatakan Elang. Namun, itu hanyalah suatu siasat Elang untuk mencari kesempatan.

“A-ah, hei!”

***

Di dalam ruangan yang sama. Terang telah berganti menjadi gelap. Suasana kelam juga telah berganti dengan berseminya kebahagiaan.

“Terima kasih.”

“Kamu yang tak memiliki cukup tenaga bahkan untuk menangkat sendok itu, sedikit manis.”

Erina memang mengatakannya, tetapi yang sebenarnya menjadi manis adalah dirinya sendiri. Bahkan untuk Bagas yang tak pernah lagi merasakan degup jantungnya berdegup kencang, merasa akan terkena serangan jantung karena melihat pesona yang dipancarkan Erina. 

Dia pun memalingkan wajahnya agar jantungnya berdetak dengan normal kembali.

“Ada apa?”

“E-enggak apa-apa!”

Duduk bersila di atas ranjang, adalah posisi yang dia lakukan di saat dia disuapi oleh Erina. Itu adalah perilaku yang dia terima untuk kedua kalinya setelah dia terbangun. Yang pertama dengan ibunya, masih cukup baik-baik saja, tetapi mengingat dia benar-benar tak memiliki ingatan apapun dengan Erina yang sekarang, membuat perasaannya menggebu-gebu.

“Mulai sekarang, jangan enggan untuk meminta bantuan apapun padaku. Oke.”

Jantungnya telah kembali normal untuk sesaat, tetapi senyuman Erina yang saat itu tak bisa tak membuat jantungnya kembali menggebu-gebu membuatnya kembali merasakan sakit.

Kalau seperti ini terus.. aku bisa saja mati! Pikirannya kacau di saat dia mencoba menahan degup jantung kencang yang menyakiti dadanya. 

Erina yang tak memikirkan rasa sakit Bagas berbalik badan, melihat ke luar jendela. Malam indah yang menemani mereka menciptakan rasa bahagia yang tak dapat di ucapkan dengan kata-kata.

Bagas mengikuti arah mata Erina menuju, dan nuansa rumah sakit yang cukup tenang dan, menyeramkan yang bisa dia dapat.

“Entah kenapa, rasa-rasanya cukup seram ya!”

“Hm? Seram, dari mana nya?”

Apa dia tak merasakannya? Padahal ada sesuatu yang lewat di depan jendela tadi. (Dia normal anakku.)