Episode 52 - Hetero-Kromium



Erina terus berlari entah ke mana. Yang dia inginkan hanyalah, untuk bisa menghapus kesedihan yang ada dalam hatinya dengan berlari. Tetapi, bukannya menghilang, rasa sakit yang dia terima justru lebih menyakitkan.

Dia terus berlari sampai ke luar bangunan rumah sakit. Berada di halaman belakang yang pada saat itu tak ada siapapun, Erina terhenti di dekat pohon, bersandar dengan satu tangan dan menjatuhkan dirinya dengan duduk ke permukaan tanah.

Berhenti berlari, seketika rasa sakit yang amat sangat di dalam hatinya terbuka setelah terlupakan beberapa saat. Untuk ke sekian kalinya, dia menangisi yang terkasih.

“Erina!”

Dari belakang, Ani yang sangat khawatir dengan keadaannya mendekat.

“Apa yang sebenarnya terjadi?!”

Ani yang telah berada di samping Erina, mencoba mendekap untuk menenangkan. Di dalam dekapan, Erina tak kunjung menghentikan tangisannya. Justru dia semakin mengeratkan pelukan dan secara tak langsung meminta Ani untuk menghapus rasa sedihnya. 

Meskipun begitu, Ani tak tahu apapun tentang keadaan sebelum Erina keluar dari ruangan. Jadi yang hanya bisa dia lakukan adalah terus mendekap Erina dan mencoba menenangkan.

***

“Bagaimana keadaanmu?”

Elang masuk ke dalam, dan sama sekali tak menghilangkan nada mengancam dari perkataannya. 

Bagas mundur dan duduk di atas ranjang sebelum menjawab.

“Entahlah, aku tak yakin.”

“Apa maksudmu?”

Elang datang mendekat selagi Bagas memandangi tangan dan tubuhnya.

“Aku tak yakin, karena aku tak tahu apa yang bisa membuatku begini.”

“Dengan kata lain...”

“Aku tak bisa mengingatnya.”

“Lalu, kenapa kak Eruin malah lari keluar ruangan dengan menangis.”

“Eruin?”

Seketika bulu kuduk Elang bergetar karena saking terkejutnya. Mengetahui kalau Bagas seperti tak mengetahui siapa seseorang yang dia sebutkan sebelumnya.

Saat itu, pandangan mereka berdua bertemu. Elang dengan wajah yang penuh dengan emosi, dan Bagas masih tak tahu respon apa yang harus dia berikan.

“Kau... jangan bercanda!”

Elang yang telah tak tahan dengan perilaku Bagas, mendekat dan mengangkat tubuh Bagas lewat baju. Wajahnya telah memerlihatkan amarah yang memuncak. Dan bisa saja Elang akan memukul atau melakukan sesuatu yang buruk kepada Bagas.

Bagas masih tak tahu respon seperti apa yang harus diberikan. Karena dia baru saja terbangun dari tidurnya dan tak mendapati ingatan tentang kejadian yang membuatnya tertidur.

“Lepaskan.”

Cengkraman Elang pada kerah baju Bagas, dan saat dia sedikit mengangkat tubuhnya benar-benar tak main-main. Meskipun begitu, Elang tak ingin terlalu terlarut akan emosi dan membiarkan ketenangan menguasai dirinya.

Dia melepaskan Bagas dengan cukup memberikan tekanan. Sehingga membuat Bagas sedikit sulit untuk menyeimbangkan tubuh.

“Apa kau benar-benar tak ingat dengan seseorang yang bernama Eruin?”

“Ya, aku tak ingat apapun. Apa itu adalah nama perempuan pirang sebelumnya?”

Elang berada pada titik di mana dia benar-benar ingin memukul Bagas karena ketidaktahuannya. Tetapi, hal itu akan percuma, dan justru akan menambah masalah yang akan datang. Karena itu dia menahan emosi untuk yang kesekian kalinya pada Bagas.

“Ya, dia adalah perempuan pirang yang sebelumnya berlari keluar.”

“Jadi, apa hubungannya denganku?”

Meskipun bersama dengan seseorang yang emosinya memuncak, Bagas benar-benar tak ingin terlalu menanggapinya dengan serius. 

Dia pun kembali duduk di pinggir ranjang karena tubuhnya sedang tak stabil untuk terus berdiri.

“Tidak ada. Tapi, apa kau mengenali seseorang dengan nama Erina?”

Seketika ingatan tentang seseorang yang dulu pernah dia temui, dan dia panggil dengan sebutan seperti itu memasuki kepalanya. Akibatnya, kepalanya menjadi cukup sakit. Seperti ada sesuatu yang ingin mendobrak keluar.

“Apa kau mengingatnya?”

“Ya.”

“Nama sebenarnya adalah Eruin Leina Lesmana. Dia dipanggil Eruin karena seorang bocah kecil yang dulu pernah dia temui menyingkat namanya dan memanggilnya begitu.”

“Eruin? Lalu, ada apa hubungannya denganku?!”

Karena mendapati rasa sakit di kepalanya, emosinya menjadi cukup tak stabil. Dan dia menggunakan nada mengancam yang sama seperti dilakukan Elang.

“Elang, tunggu!”

Saat perseteruan mereka hampir berada pada puncaknya, seseorang datang dan menghentikan konflik yang terjadi antara mereka.

Itu adalah Ani yang datang dengan seorang dokter dan seorang perawat.

Mereka berdua mengerti keadannya dan menghentikan sikap keras kepala. 

Bagas bergantian berhadapan dengan seorang dokter. Sedangkan Elang datang kepada Ani.

“Di mana dia?”

“Dia... berada di taman.”


Duduk di kursi taman seorang wanita berambut pirang. Aura di sekitarnya benar-benar menyedihkan. Bahkan serangga-serangga berjenis Lepidoptera yang biasanya berada di taman saat itu tak ingin sama sekali mendekati Erina.

Seperti itulah yang dirasakan oleh Elang saat dia ingin mendekati sang kakak.

“Kak.”

Saat dia telah berada dekat—posisi Elang berada di belakang—dia ingin menyentuh pundak kecil itu. Tetapi sebuah dinding tak mengijinkannya untuk menyentuh. Dia mencari cara lain untuk mendekat, duduk di kursi yang sama dengan perasaan yang tak menentu.

Di sebelahnya, Erina menundukkan kepala. Tak mengijinkan orang lain melihat wajahnya. Seperti ada tombak yang menembus di dada, Elang merasakan sakit yang amat sangat.

“Pasti dia hanya bercanda saat menanyakan siapa dirimu.”

Dia ingin sekali mencairkan suasana. Namun, apa yang dia katakan justru membuat keadaan menjadi semakin buruk.

“Maaf.”

Dia sama sekali tak memiliki cara untuk mengembalikan kondisi Erina seperti sebelumnya. Meskipun begitu...

“Apa itu benar...?

Suara datang dari balik rambut yang menutupi wajah. Suara parau yang menyakitkan hati.

“Ya, sepertinya dia melupakanmu, Kak.”

“Apa hanya, aku...?”

Elang tak tahu harus menjawab apa, karena sebelumnya, dia dan Bagas berbicara seperti biasa mereka lakukan. Perasaannya tak menentu, berpikir kalau dia akan mengatakan yang sejujurnya, pasti akan membuat keadaan Erina menjadi semakin buruk. Tetapi, kalau dia mengatakan kebohongan, dan ketika kebohongan itu terbongkar justru akan membuat keadaannya menjadi lebih buruk.

“Elang.”

“...”

“Apa hanya aku, yang dilupakan...?”

“Ya, sepertinya.”

Dia tak memiliki pilihan lain, selain mengatakan kemungkinan. 

“Apa ada cara, untuk mengembalikan ingatannya...?”

Namun, bukannya menjadi semakin buruk, kondisi Erina malah terdengar seperti dia tak ingin menyerah dengan keadaan.

“Aku, tak tahu.”

Erina menampakkan wajahnya, memerlihatkan ekspresi dari jiwa seorang yang kuat kepada Elang. Elang yang melihatnya justru terpesona akan aura yang dikeluarkan sang kakak.

“Y-ya, tapi, ada kemungkinan kalau itu hanyalah hilang ingatan jangka pendek. Dalam waktu dekat, dia pasti sudah bisa mengingat kakak.”

“Umm, terima kasih.”

“Apanya, aku tak melakukan apapun. Justru akulah yang membuat masalah ini semakin rumit, aha, hahaha!”

Elang yang telah melihat sosok paling memesona dari kakaknya tak bisa megendalikan diri. 

“Kupikir, itu tak sepenuhnya benar.”

“Hm?”

“Karena, kamu sebenarnya telah mempermudah hubungan kami. Jadi seharusnya... tapi aku malah sama sekali belum berterima kasih padamu.”

Menyingkirkan rasa perih dari wajahnya, Erina memberikan senyum yang sangat manis kepada adiknya. Elang yang melihat keindahan itu dibuat sangat terkejut. Dia langsung segera memalingkan matanya—beralasan karena tak ingjn terkena diabetes di usia yang muda.

“Kalian masih di situ!?”

Suara Ani terdengar dari belakang, berjalan mendekati mereka.

“Sayang!”

Elang dan Erina serentak berdiri. Tetapi Erina tak hanya bangkit dari duduk, dia juga langsung mendekat ke Ani. Ani tahu alasan kenapa Erina menjadi sebegitu khawatirnya, meminta Erina tenang sedikit lalu memberikan jawaban.

“Hei, jangan terlalu khawatir, keadaannya baik-baik saja kok.”

“Lalu, apa terjadi sesuatu dengan ingatannya?”

Elang mewakili Erina untuk meminta pernyataan dari keadaan Bagas sebelumnya.

“Yah, aku masih belum tahu. Dokter juga baru akan memeriksanya.”

“Kalau betul dia mengalami hilang ingatan jangka pendek, maka...”

Kemungkinan terburuk Bagas tak mengingat apapun tentang kejadian sebelumnya. Di mana kejadian itu secara tidak langsung mengikat hubungannya dengan Erina.

“E-erina!”

Elang masih terlihat sedang berpikir. Erina yang tak ingin berpikiran terlalu berlebihan hendak pergi ke suatu tempat. 

“Sayang.”

Ani yang hendak menghentikan, dicegat lebih dulu oleh Elang. Meskipun begitu Ani tak mencoba keras kepala untuk meminta Elang melepaskan tangannya, karena dia juga tahu, apa yang dibutuhkan untuk kelancaran hubungan mereka berdua.


Erina masih terus berjalan. Karena dia telah mengetahui ruangan tempat Bagas dirawat. Tetapi langkahnya dihentikan oleh seorang tua yang dia panggil ayah.

“Tunggu, anakku.”

“Ayah, tapi, kenapa?”

“Sebaiknya kamu ikut ayah lebih dulu.”

“Ke mana?”

Sang ayah tak menjawab pertanyaan Erina dan hanya berjalan terus tanpa ingin merespon rasa penasaran Erina.

Erina terus mengikuti langkah kaki sang ayah yang menuju ke ruangan pribadi. Mereka berdua telah berada di dalam, dan sang ayah berjalan ke depan kaca jendela yang transparan.

Memandang keluar yang mana pemandangan saat itu cukup indah, karena lokasi dari rumah sakit yang berada di pinggiran kota dan di sekitarnya lebih banyak pepohonan daripada bangunan-bangunan raksasa.

“Ayah, sebenarnya, ada apa?”

“Setelah mengetahui keadaan dari Bagas ayah menyadari sesuatu...”

Itu baru beberapa saat setelah Bagas terbangun, tetapi ayahnya telah mengetahui keadaan yang sebenarnya. Kalau Bagas telah melupakan sosok Erina, tetapi tidak dengan yang lain.

“Kalau sebenarnya Bagas ingin melarikan diri atau-“

“Itu tak mungkin benar!”

Sang ayah yang memandang keadaan itu dengan sisi negatif membuat Erina sedikit emosi, dan dia dengan cepat menyela perkataan ayahnya.

“Atau sesuatu telah terjadi dengan kepalanya saat dipukul di waktu yang lalu. Dan dari yang ayah perkirakan, kemungkinan kedua adalah hal yang paling logis.”

Namun yang sebenarnya adalah, ayahnya ingin mengemukakan pendapat dari kedua sisi. Erina menjadi tenang sang ayah tak beranggapan buruk tentang apa yang terjadi dengan Bagas.

“Dengan begitu, ayah ingin bertanya sesuatu kepadamu?”

Suasana di dalam ruangan menjadi lebih berat dari sebelumnya, seakan terdapat suatu tekanan yang membuat Erina harus menanggapi pertanyaan ayahnya dengan serius.

“Apa kamu... ingin meneruskan hubungan yang berat sebelah itu?”

Sebelumnya ayah bertanya dengan membelakangi Erina, tetapi saat itu, ayah membalik tubuhnya dan bertanya kepada Erina dengan wajah serius.

Sesaat Erina dibuat ingin mundur dengan tekanan yang diberikan oleh ayah, tetapi mengingat yang terkasih baru saja terbangun dari tidurnya, dan di saat itulah hubungan mereka yang sebenarnya dapat dijalankan, Erina tak boleh mundur.

“Umm.”

Jawabannya singkat, tetapi itu mengandung banyak makna. Ayah yang telah melihat perkembangan Erina dari mulai lahir hingga sekarang, tak menyangka kalau anak perempuannya telah bisa memberikan penolakan keras seperti itu.

Tak hanya Elang, tetapi kali itu juga dilakukan oleh Erina. 

Sebelumnya, Erina lebih sering menggunakan blazer karena dia ingin mengurangi beban ayahnya di perusahaan. Tetapi kali itu, dia lebih memilih pakaian yang melambangkan kefeminiman seorang wanita. 

Baju panjang yang menutupi leher sampai ujung tangan. Rok sedengkul dan ditambah celana panjang ringan. Pakaian seperti itu telah menjadi ciri khas Erina yang baru.

Ayah yang terharu dengan perubahan anaknya, berbalik dan kembali menatap ke luar.

“Pergilah anakku. Ketika kamu telah berhasil, kembalilah dan tunjukkan pada ayah kesuksesanmu.”

Pertanda yang sangat baik yang datang oleh ayah. Erina tak tahu bagaimana harus menanggapi hal tersebut, tetapi tanpa disadari dia telah berlari menuju sang ayah. Ayah yang mengetahui perubahan sikap Erina dengan cepat berbalik, dan sebuah pelukan datang padanya.

“Terima kasih.”

Satu kalimat yang sangat menyentuh. Datang dari Erina yang memeluk erat dan penuh kasih sayang kepada sang ayah.

Tak ingin menyia-nyiakan suasana yang indah, sang ayah juga membalas pelukan Erina. Mereka berpelukan dan saling membagi kebahagiaan dalam waktu yang cukup lama.

Setelah beberapa lama berpelukan, Erina yang lebih dulu melepaskan pelukannya. Diikuti oleh ayah yang perlahan-lahan melepaskan kepergiaan sang anak.

Mereka telah saling melepaskan genggaman terakhir. Erina mundur beberapa langkah ke belakang, menghadap sang ayah, dan dengan anggun dia melakukap sikap perpisahan.

“Adinda pergi dulu, ayahanda.”

“Pergilah dengan keberanian. Kembalilah dengan keberhasilan. Anakku.”

Setelah melakukan salam perpisahan, akhirnya mereka berdua benar-benar memisahkan diri. Erina berbalik dan tak berkeinginan untuk berpaling atau melirik ke belakang. Dengan gigih dia terus menghadap ke depan, membuka pintu dan berjalan keluar.

Di saat pintu telah tertutup, di dalam ruangan terasa sangat sepi. Padahal sebelumnya mereka hanyalah berdua, dan kehilangan satu orang di dalam ruangan saja sudah membuat Huntara merasa sangat kesepian.

“Ah, aku lupa mengatakan kalau mereka harus kembali dengan lebih banyak anggota keluarga. Yah, sudahlah, yang terpenting untuk sekarang adalah...”

Mempersatukan dua insan yang sedang dilanda kegundahan.

Erina kembali berjalan menuju ke ruangan tempat di mana Bagas melakukan pengecekan. Lalu, di depan ruangan, baru saja keluar wanita luar biasa yang telah melahirkan Bagas ke dunia.

“Bu Risak.”

“Walah, Neng Erina. Pas sekali, padahal aku baru saja ingin mencari kamu.”

“A-anu...”

“Dia ada di dalam. Ibu baru saja telah menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, selanjutnya, terserah kamu, calon Menantu.”

Seketika jantung Erina berdegup sangat kencang. Mendengar ibu dari yang terkasih menyebutnya seperti itu benar-benar hal yang sangat mengejutkan.

“Ayo, tunggu apa lagi.”

“E-eh, ah, iya.”

Sesaat dia berada dalam dunianya, dan melupakan kalau masih ada orang yang berdiri di depannya.

Dengan isyarat dari Risak, Erina bergegas masuk ke dalam. Di ruangan itu, sedang menunggu ksatria yang telah menyelamatkannya beberapa kali dari jurang kepedihan. 

Dilihat dari posisinya duduk, dia sedang berpikir dan sepertinya telah mengetahui kehadiran dari Erina.

“Aku, bagaimana mengatakannya, sepertinya telah melupakanmu.”

Berbicara dengan nada yang cukup santai, ditambah pula menggaruk-garuk kepala seperti dia telah melakukan kesalahan. Benar-benar sikap yang tak dapat disangka yang dilakukan oleh Bagas.

Erina yang terkejut dan tak tahu harus berbuat apa, hanya bisa terdiam sambil menunggu apa yang akan Bagas lakukan selanjutnya.

“Dan, maaf atas perlakuanku sebelumnya.”