Episode 2 - Kedua


Jalu terbangun dengan pikiran masih dihantui serpihan tubuh Sibli. Jalu tak habis pikir, dirinya bisa tersedot ke masa yang diceritakan penjaga motel. Sebagian akal sehatnya menduga ini hanya berupa mimpi buruk, setelah begitu larut dalam cerita. Sebagian lagi, ingin percaya dirinya sedang mengalami peristiwa buruk.

Pikirannya semakin kalut, begitu menangkap keganjilan lain yang menghinggapi jiwanya. Tubuh tempat ia bersemayam bukan lagi harimau raksasa, juga Uak Giroh….

*****

 Pos ronda, lampu obor, seorang lelaki berselimut sarung sedang menyeruput kopi. Lalu mencomot singkong rebus sambil membicarakan sesuatu. Dalam kebingungannya, Jalu mengintip lewat bola mata seseorang yang kini ia tempati. Siapa kira-kira pemilik tubuh ini dan di mana ia berada? Jalu mencoba menenangkan dirinya.

 “Mudah-mudahan Uak Giroh tak mengaji malam ini.”

 “Sejak kematian Junjungan Sibli, kampung kita jadi mencekam.”

 Lelaki berselimut sarung itu menyebut nama Uak Giroh. Jalu kembali teringat pesan penjaga motel. Jangan sampai kau dengar suara Uak Giroh mengaji, kalau tak ingin mengalami hal buruk. Sementara orang yang tubuhnya ditempati Jalu, mengatakan kalau Sibli sudah mati. Berarti malam ini telah melewati peristiwa di surau waktu itu dan sekarang masih di Bulak Tonjong.

Hanya Jalu masih belum tahu, telah berapa lama pastinya malam ini berlalu dari peristiwa kematian Sibli. Pikirannya semakin dipenuhi pertanyaan yang membuatnya mual. Tambah lagi, tubuh lelaki yang kini ia tempati bau sekali.

 Saat Jalu kembali mencoba mengintip, dilihatnya seorang lain lagi berlari dengan tergopoh mendekati pos ronda.

 “Kang Somad, Kang, istrimu mau melahirkan!”

 Seseorang yang dipanggil Kang Somad segera bangkit dari pos ronda. Jalu terguling ketika pemilik tubuh yang ia tempati sontak berdiri. Jalu sempat memaki dirinya yang tak bisa berbuat apa-apa karena tak memiliki jasad, tapi ia segera tahu pemilik tubuh bau ini bernama Kang Somad dan istrinya mau melahirkan.

 Rekannya yang berselimut sarung pun tak kalah sigap. Ia memukul kentongan tanda bahaya, disusul oleh suara kentongan dari tempat lain sebagai tanda menerima pesan. Terus begitu saling bersautan suara kentongan, membangunkan malam yang mencekam.

 Kang Somad ditemani orang yang tadi memanggilnya telah melesat pulang. Di tengah larinya ia selalu berdoa agar malam ini tak ada suara Uak Giroh mengaji, karena akan mengancam jiwa istri dan bayinya. Jalu sendiri bisa merasakan ketakutan yang hebat dalam tubuh Kang Somad. Uak Giroh ternyata benar-benar menjadi momok bagi warga Bulak Tonjong.

 Ketika tiba, rumah Kang Somad sudah dipenuhi warga yang berkerumun. Mereka serentak membantu mengamankan istrinya yang sedang meringis kencang di kamar. Kaum pria memenuhi halaman luar, lengkap dengan obor dan parang atau bambu runcing. Sedangkan kaum hawa memenuhi bagian dalam dan bersiap membantu persalinan.

 Kang Somad menyeruak ke dalam kamar dan segera memegangi tangan istrinya yang tergolek sambil mengelus perutnya yang buncit. Dukun beranak menungguinya dengan mulut komat-kamit merapalkan doa.

 “Kang, sakit Kang. Ratmi nggak tahan.”

 “Sabar Neng. Kamu kuat, demi anak kita.”

 Jalu yang mengintip lewat bola mata Kang Somad, bergidik melihat perawakan dukun beranak itu. Seorang nenek peyot yang rambutnya panjang menjuntai hingga lantai. Berwarna keperakan. Bibir monyongnya bergincu tebal. Merah menyala. Tak henti mengunyah sirih seraya menyela obrolan suami istri itu.

 “Sebentar lagi Ratmi.”

 Baru selesai dukun peyot itu bicara, tak lama Ratmi berteriak panjang. Setengah melolong. Telapak tangan Kang Somad digenggam erat. Ia membalas genggaman Ratmi seraya ikut komat-kamit. Sementara si dukun beranak telah berpindah ke selangkangan Ratmi. Dua kaki Ratmi di lebarkan, lalu ia mulai mengobok-obok lubang tempat munculnya si jabang bayi.

 “Tekan, Ratmi. Yang kuat!”

 Erangan Ratmi semakin membuncah Bulak Tonjong. Jalu pun ikut berdegup menanti proses kelahiran. Sejujurnya ia belum pernah melihat langsung proses kelahiran dan cukup membuat dirinya jeri. Hal yang sama pun dirasakan oleh Kang Somad. Berulang kali ia menenangkan istrinya meski dirinya sendiri dihinggapi rasa cemas.

*****

 Tepat pukul 03.00 dini hari, diawali lengkingan panjang, isi perut Ratmi berhasil dikeluarkan oleh dukun beranak. Jalu sempoyongan melihat begitu banyak genangan darah di lantai. Kang Somad yang berada dalam puncak kecemasan, hampir tertawa bahagia ketika dalam waktu yang bersamaan terdengar suara ramai kentongan di luar.

 Kang Somad teringat Uak Giroh. Jalu terigat Uak Giroh. Suara kentongan yang semakin riuh itu hanya bergema sesaat. Kemudian kembali hening usai terdengar alunan ayat suci. Kang Somad yang berada di kamar segera bergegas keluar rumah, namun ia mendapati kaum lelaki yang tadi memukul kentongan sudah bergeletakan dengan tubuh penuh cabikan. Jalu dirayapi ketakutan. Bahaya sedang menyusup ke kamar Ratmi.

 Suara Uak Giroh bertambah nyaring. Kang Somad yang mulai oleng berusaha kembali ke kamar dengan mencoba terus memukul kentongan sekeras-kerasnya. Dia tak ingin anak dan istrinya mendengar alunan ayat suci. Di dalam rumah, satu per satu para wanita berjatuhan. Kang Somad berhasil menerobos kamar sebelum terjerembab.

Lewat mata Kang Somad, Jalu melihat dukun beranak sudah berhasil mengeluarkan isi perut Ratmi, meski kini tubuhnya sudah tergolek. Di tangannya, tergenggam puluhan ular yang sempat mendesis pelan sebelum akhirnya satu per satu mati mengeluarkan asap.

 “Ratmi, anakku…..”

 Teriakan Kang Somad sudah tak lagi nyaring. Jalu pun perlahan ikut terkulai lemah.

*****

Kesadaran Jalu kembali muncul usai mencium bau amis yang menyengat. Kemudian terlonjak kaget. Di hadapannya tengah duduk seekor kucing dengan sorot mata tajam. Jalu Menatap lewat mata mungil dengan postur yang juga lebih kecil dari Kang Somad. Serta lebih wangi...