Episode 33 - Asrama Pagi VS Asrama Malam (2)



“MATILAH!”

Tinjunya kian membulat, menerobos dedebuan bekas amukan Sarasvati. Tidak perlu berpikir terlalu jauh—soal kepala atau leher—seandainya berhasil menoyor punggung saja, maka Roland dapat dipastikan unggul. Tinjunya itu bukan sembarang tinju, melainkan gumpalan besi terkuat.

Si pengatur strategi termangu, bingung harus berbuat apa. Andai ia beritahu pun, rasanya sudah kelewat telat. Sebab, jarak tinjunya tinggal sejengkal. Detik-detik terakhir, menjelang kehancuran, mendekati kekalahan, akhir bagi tameng terkuat asrama malam.

“Reflect Eyes!” Secepat kilat, Red muncul dan menatap Roland sebelum sukses menyentuh Sarasvati.

BRAK!

Lelaki kekar itu mengerang tatkala dirinya terlempar sepuluh meter dengan luka lebam di mata kiri. Apa yang terjadi? Kejadiannya sunggu cepat, juga aneh. Yang jelas, kini Red bersama satu anggota asrama malam datang untuk membantu garis pertahanan mereka.

“Kalian tidak apa-apa?” ujarnya.

“Hampir saja kalah,” timpal si pengatur strategi. “Orang itu benar-benar kuat.”

“Ternyata benar,” ucap Red. “Angin bekas pertarungan kalian sampai menerpa seisi arena. Karena itulah, kami memutuskan mundur.”

“AWAS!” Sarasvati berseru.

Portal gelap menyeruak, tepat di hadapan Red. Sedetik, dan tiba-tiba saja Roland loncat keluar. Ia melancarkan sekepal tinju seraya berteriak-teriak emosi. Layaknya selongsong peluru, daya serang lelaki itu patut diwaspadai.

Red melompat mundur, kurang jauh, sehingga tinju Roland sempat menghantam bibirnya. Anak didik Frog terpental, menggilas wajahnya sendiri ke tanah. Namun, Sarasvati dengan sigap menolong. Sejumlah pohon cemara dilemparnya ke arah Roland, berharap bisa menghambat pergerakan mesin pembunuh yang tiada penat menyerbu.

Seharusnya itu menjadi langkah yang tepat, ya, setidaknya sebelum Roland lenyap tanpa bekas. Lagi-lagi, mereka dikibuli oleh musuh yang cara bertarungnya abnormal. Mulanya membati buta, tetapi saat sudah tersudut, ia malah lesap, entah bagaimana caranya.

“Teleportasi,” gagas seorang pemuda, rambut hitamnya sepunnggung, memikul pedang besar. “Pasti itu skill-nya.”

“Bukan!” sanggah Sarasvati. “Menciptakan benda padat adalah skill-nya.”

“Lalu apa? Mungkinkah guardian?”

“Bisa jadi, Fred.” Si pengatur strategi angkat bicara. “Di seleksi asrama, kita telah melihat seseorang yang mampu berteleportasi dengan guardian-nya.”

“Kagami Taki, aku ingat betul orang itu,” sahut Fred, menghempas pedangnya ke tanah, bersiaga terhadap agresi dadakan. “Tapi, mereka berbeda.”

Sekali lagi, portal hitam meliuk di angkasa, menjatuhkan Roland dalam posisi siap menubruk. Kali ini, ia mengincar Fred. Cukup cerdas, bilamana menilik kesilapan musuhnya. Karena yakin Roland akan menyerang secara frontal, Fred sengaja menurunkan pedangnya yang berbobot lebih dari dua puluh kilogram. Berat, dan di sanalah Roland coba mengambil untung.

“MATILAH!” 

Sarasvati sadar, lekas-lekas memadatkan tekstur udara di sekitar musuh guna menghambat pergerakannya. Sial, Roland terus saja menukik, melupakan pipinya yang tergores setengah. 

“LARI, FRED!” pekik Si pengatur strategi. 

“Tidak!” Fred mengerling tajam ke atas. “Masih ada cara lain.”

Tak diduga, seutas tali raksasa menjerat perut Roland. Tali tambang hitam, menjuntai dari angkasa, dan berakhir pada mangsa yang kini terhenti pergerakannya. 

Selaras dengan ucapannya, Fred telah membuktikan bahwa punggawa asrama malam bukan lucid dreamer rendahan. Mereka dipilih berdasarkan kualitas, baik fisik maupun mental.

“Apa-apaan ini?” Roland coba memberontak. Terang saja, badannya serasa dililit ular besar, semakin erat jika dia bergerak terus-menerus.

“Jerat semua yang ada di sini, Rope!” Pemuda jangkung itu memberi perintah.

Sejumlah tali besar kembali menjulur dari langit, serta-merta menjerat Sarasvati, Si pengatur strategi, juga Red yang terkulai lemas. Pula, ternyata ada satu target lagi yang sukses terjerat. 

“Itu dia!” tandas Fred manakala seekor golem mungil kepayahan melepas ikatan tali. “Guardian yang menjadi media teleportasinya.”

“Jangan banyak bicara!” protes Roland. “Kau masih amatir, tahu!” Sepatah kalimat, sebelum lelaki berambut cepak itu lenyap untuk kesekian kalinya.

Fred terperanjat, tak habis pikir bagaimana semua keganjilan ini terjadi. Golemnya masih terjerat, panik seperti tikus pengecut. Selain itu, ia tahu pasti kemampuan Rope, guardian miliknya, yakni membatasi lucidity musuh sampai enam puluh persen. Sehingga, mustahil Roland sanggup menyerang secara membabi buta lagi. 

“Ta-tapi, kenapa yang terjadi malah sebaliknya?”

Portal kelam muncul, memuntahkan Roland, tepat di atas Fred. Serangan langsung, dan Fred kehabisan upaya. Dia bukan lucid dreamer yang punya banyak tenaga untuk berhura-hura melawan musuh. Jujur, Rope adalah atribut andalannya. Akan tetapi, sekarang sudah tak berarti.

DRASH!

“Reflect Eyes!” 

Debu ledakan merebak luas, menyelubungi garis pertahanan asrama malam. Sampai saat ini belum ada perberitahuan kalau pilar asrama pagi dalam bahaya. Padahal, ada empat pernyeran yang diutus menyerbu. Sebaliknya, satu penyerang dari asrama pagi sudah sebegitu merepotkannya bagi pelindung pilar asrama malam. Ini ironis!

Debu tinggal selapis, mulai menampilkan siluet-siluet lucid dreamer yang berhasil bertahan. Red bungkam, terombang-ambing ditiup angin, sebab dirinya masih menggelantung. Senasib, Sarasvati dan Si pengatur strategi juga terikat jauh-jauh dari tanah. Kini, tinggal kondisi Fred yang perlu dipertanyakan. Karena Rope belum lenyap, maka kemungkinan besar dirinya selamat. Namun, apakah dia masih sanggup melawan?

“Sial!” maki Roland, tertatih, baru saja memuntahkan darah. “Dari awal, skill itu memang merepotkan.” Ia menatap Red, sengit.

“Be-berhasil?” Red sontak terperangah.

Drastis, terjadi begitu saja. Fred memang takluk di hadapan musuh, tetapi Roland juga tidak menang-menang amat. Berkat Reflect Eyes, sebagian daya tinjunya berbalik arah, dan melukai dirinya sendiri. Senjata makan tuan, kesempatan emas terbuka lebar bagi punggawa asrama malam.

“Sarasvati!” Red seketika memberi kode.   

Enam puluh persen lucidity terbelenggu, Si gadis India hanya bisa bertelekinesis seadanya. Sisa-sisa tameng Roland, entah itu kerikil atau bongkahan batu, Sarasvati menggiring semuanya ke satu tempat. Remuk, ia terus meremukkan bebatuan tersebut, hingga menjadi butiran pasir, cukup tajam.

Roland tersungkur, tak sadar segugusan peluru tengah mengincarnya. Namun, manakala serangan Sarasvati menderanya, lelaki itu terkesan kebal. Lihat saja! Pasir-pasirnya yang malah berhamburan ke mana-mana, memantul sesaat menghantam tubuh Roland. Benar! Ia pasrah bukannya tanpa alasan. 

“Untuk apa lari jika musuh yang kuhadapi lebih tidak berdaya daripada diriku,” lirihnya menyeringai bengis. 

Kulit Roland sepenuhnya tertutupi besi, tepat sebelum serangan musuh sampai. Ia cerdas, selain tangkas dan kuat. Red sampai ketar-ketir, tak terkecuali Fred yang kian melemah.

“Kau monster!” dakwa Si pengatur strategi.

“Monster buas, tepatnya.” Roland berdiri tegap, menghampiri Sarasvati yang baru kali ini wajahnya tampak panik. “Bagaimana, Sarasvati? Apa kau masih menyombongkan kekuatanmu itu?”

“Menjauhlah darinya, Sampah!” tegas Red.

“Sampah?” Satu-dua langkah, Roland berehat di depan orang yang nekat memakinya. “Ini baru namanya sampah!” Satu tinju besi mendarat di hidung Red, membuatnya pening sejenak.

“Jangan sakiti dia! Kau telah mengalahkan kami. Sekarang, hancurkanlah pilarnya. Kau menang.” Si pengatur strategi spontan menceletuk.

“Ah, benar juga.” Roland terkikik girang. “Saatnya merusak reputasi asrama malam.” Mengelus buku-buku jari, ia menyiapkan sejumlah tenaga guna merubuhkan pilar asrama malam.

Satu tinju bersiaga, menghimpun tenaga paling besar, siap menjatuhkan pilarnya dalam sekali serang. Kala itu, pihak musuh benar-benar pasrah. Sarasvati bungkam, Si pengatur strategi memejamkan mata, Fred tidak berdaya, dan Red sama sekali tak kuasa berupaya. Inilah akhirnya.

“Ya, inilah akhir—”

Menara asrama pagi diserang!” Pemberitahuan muncul.

“Hah? Hebat juga mereka,” komentar Roland, kembali menghadap pilar. “Tapi, ini akan segera berakhir. REMUKLAH!” Ia meluncurkan tinju.

“Reflect Eyes!”

BRAK!

Roland terhuyung, sementara pilarnya bergetar. Sengit, Red rupanya masih sempat memberi perlawanan di detik-detik terakhir. Akan tetapi, Si tubuh besi belum takluk. Sekali lagi, ia mengayun tinju terkuat.

“Reflect Eyes!”

Roland terseret ke belakang, dan pilarnya mulai retak. Akibat lilitan Rope, Reflect Eyes milik Red jadi terbatas. Hanya empat puluh persen, ia gunakan untuk membagi dua kekuatan Roland.

“HANCURLAH!” Keduanya, kepalan tangan Roland meluncur.

“Reflect Eyes!”

Dorongan kuat tercipta, membawa Roland terlempar cukup jauh, sekitar tiga meter. Nahas, pilarnya juga bernasib buruk. Miring ke kiri, semuanya tahu harapan mereka kian menipis.

“Lepaskan kami, Red!”

Fred sontak mengangkat telunjuk, disusul tertariknya Rope ke angkasa, hilang dalam bayang-bayang kabut. Red, Sarasvati, Si pengatur strategi, bahkan golem mungil, kini leluasa bergerak.

“Fasha, lacak siapa saja yang ada di sini.” Red menoleh pada pengatur strategi andalan asrama malam. Namanya Fasha, Si gadis sensorik.

Fasha duduk bersila, menyapu kedua telapak tangannya ke tanah, serta-merta memejamkan mata. Satu, dua, ada banyak golem, pikirnya. Mengapa baru terlacak sekarang? 

“Astaga! Media teleportasinya bukan guardian, tetapi army.” 

“Ternyata benar.” Red mendengus puas. “Golem-golem itu dari bawah tanah, kurasa. Karena itulah tidak bisa dilacak, dan Rope tidak sanggup membelit semuanya.”

“Wah-wah! Ketahuan, ya.” Roland bangkit, menyeka sedikit darah di ujung bibirnya. “Tapi kalian bisa apa?” Lelaki itu lesap begitu saja.

“Di mana? Di mana golem yang bereaksi?” Red menatap Fasha.

“Sebelah barat, arah jam dua.”

“Reflect Eyes!” Dia memandang gelapnya hutan lekat-lekat.

Golem yang ditatap sontak kelabakan, seolah ada sesuatu yang tertahan. Entah dapat ilham dari mana, yang jelas tindakan Red sungguh brilian. Ia memanfaatkan Reflect Eyes untuk membekuk pergerakan golem yang dijadikan Roland alat teleportasi agar portal menyebalkan itu berhenti muncul. 

Reflect Eyes, mata yang memantulkan segalanya. Apabila putih, maka pantulannya hitam. Seandainya baik, maka yang dipantulkan jahat. Dan, jika sedari tadi Roland begitu gesit dengan portal-portalnya, maka sekarang dia akan jadi musuh paling lamban.

“Di mana lagi, Fasha?”

“Arah jam dua belas!”

“Reflect Eyes!” Pandangan Luke beralih sesuai arahan Fasha. Lagi-lagi, golem yang terkena Reflect Eyes gelagapan.

“Ke mana lagi?”

“Arah jam tiga.”

“Reflect Eyes!”

Roland benar-benar terdesak, tidak bisa keluar dari portalnya sendiri. Selagi Red bersikeras membelenggu musuh, Sarasvati berinisiatif mengusir sejumlah golem dengan ayunan pohon cemara. Meski berpotensi besar, golem-golem ini sebenarnya penakut. Mereka menggali, masuk ke dalam tanah, ketar-ketir menunggu serangan berakhir.

Dari pengamatan Fasha, mulanya ada sepuluh sampai lima belas golem, dan kini tersisa tujuh. Red berpacu dengan detik, sebab Roland makin gencar mengubah media teleportasinya.

“Arah jam satu.”

“Reflect Eyes!”

“Arah jam enam!”

“Reflect Eyes!”

“Arah jam sepuluh.”

“Reflect Eyes!”

Pada akhirnya mereka kewalahan, nyaris tak sanggup memperpanjang aksi. Di saat-saat seperti ini, semuanya serasa mustahil, terlebih bagi Fasha yang jelas-jelas menyaksikan bagaimana para golem itu keluar-masuk tanah sebegitu mudahnya.

“Apakah kita sanggup memenangkan pertarunganya?”

“Tidak, kita tidak perlu menang,” sahut Red.

“Ta-tapi, kenapa?”

“Kita hanya perlu bertahan sampai pilar musuh diruntuhkan.”

Kendati cukup lega, sejujurnya Fasha masih cemas. Bertahan mungkin mudah, tetapi menyerbu markas musuh yang dikawal tujuh orang hebat, itu bukan perihal gampang. Empat melawan tujuh, mungkinkah berhasil?

“Jangan terlalu dipikirkan. Itu tugas teman-teman kita di depan, memikirkan cara menyerbu markas musuh. Tugas kita adalah menghalau setiap penggangu yang sok hebat.” Red meregangkan otot-otot lehernya. “Lagi pula, lucidity-ku telah mencapai batas maksimal.”