Episode 11 - Tak Apa Kau Mengaku Ganteng



 Suasana sudah berganti malam. Di kamar nan terang yang berukuran 3 x 3 meter dan berdinding warna merah jambu, tampak sesosok makhluk menyebalkan bernama Coklat yang sedang melamun sambil tidur-tiduran di atas kasurnya. Sebagai seorang jomblo dan bujangan, di dalam kamarnya sendiri dia di temani oleh guling kesayangannya itu. Guling yang sudah kusam, butek dan berbau-bau aneh itu selalu setia menemani Coklat tidur. Di samping Coklat tergeletak handphone-nya yang sudah diam saja dan tidak berdaya. Ting tung, terdengar SMS masuk dari handphone-nya itu, entah darimana SMS itu masuk sampai kini masih diselidiki oleh pihak yang berwajib.

 “Wah ada SMS,” ujar Coklat yang melihat SMS itu, terlihat ada pesan dari nomor yang tak dikenalnya. 

 “Malam …,” ujar Coklat membaca pesan itu, “wah pasti ini SMS dari Bu Riny, ternyata si Ival baik hati juga kasih nomor gue ke Bu Riny.”

 “Malam juga.” Coklat membalasnya sambil senyum-senyum.

 Butuh waktu lama untuk Coklat kembali menerima SMS balasannya. Sekitar satu jam lebih satu detik, SMS Coklat pun terbalas. Selama kurun waktu tersebut, Coklat hanya bengong menatap handphone-nya.

 “Lagi apa?”

 Lima detik kemudian, Coklat membalasnya lagi.

 “Lagi tiduran aja nih, kamu sendiri lagi apa?”

 Lima detik kemudian, ada balasan lagi.

 “Kamu tiduran di mana? Aku lagi nonton tivi aja nih sendirian.”

 Lima detik lagi, Coklat membalasnya.

 “Di kuburan eh salah, maksudku tuh tiduran di hati kamu.”

 “Oh so sweet deh kamu, aku boleh nelepon kamu enggak?”

 “Hmmm boleh-boleh.”

 Tampang Coklat yang tadinya kusut kayak benang layangan, kini menjadi cerah kayak cahaya lampu bohlam yang menerangi kamarnya. 

 Ting tung ting tung

 Seperti itulah bunyi telepon masuk dari handphone-nya Coklat. Dengan wajah yang berseri-seri alias imbang, Coklat bersiap mengangkat dan menjawab telepon yang masuk dan gooool!

 “Halooo .…” Coklat menyapanya dengan kata halo yang semanis madu.

 “Iya halo .…”

 Seketika Coklat hening, barusan saja dia mendengar suara laki-laki.

 Masa iya Bu Riny berubah jadi cowok? ujar dalam hati Coklat, “ini siapa ya?” tanya Coklat.

 “Aku Tiar, kamu siapa? Kok Bu Riny suaranya kayak laki-laki sih?”

 “Gue Coklat? Lo ngapain nelepon gue, Tir! Kurang kerjaan banget lo!”

 “Eh lo tuh, lagian mau aja gue telepon, gue kira lo itu Bu Riny.”

 “Bu Riny mana ada yang kayak gue!”

 Akhirnya mereka berdua perang kata-kata. Kata-kata kotor saling mereka lemparkan seperti lumpur, kecap tumpah, saos jatuh, dan lain-lain. Hewan-hewan yang tidak bersalah pun mereka teriakkan, seperti cacing, ayam, kuda dan lain-lain. Sementara diwaktu bersamaan, Ival yang lagi duduk-duduk di atas meja sambil jungkir balik dengan senyum jahatnya membayangkan kemesraan dua temannya itu

 “Akhirnya sebagai teman, gue senang kalau bisa lihat mereka berdua jadian, so sweet banget pastinya.”

 ***

 Ini adalah khayalan Ival tentang jadiannya Coklat dan Tiar. Lempar-lemparan bunga mawar mewarnai perjalanan mereka berdua, Coklat dan Tiar berjalan di atas karpet merah. Semua orang yang ada di sampingnya menyambut riuh suasana ini. Hari jadian mereka berdua itu semeriah pernikahan Kate Midelton dengan Pangeran William. Coklat memakai jas hitam dan celana bahan hitam sementara Tiar dengan cantiknya, padahal dia laki-laki loh. Tiar memakai gaun berwarna putih.

 “Cieee cieee.”

 “Tuh orang nyusahin aja, masa cuma di khayalannya dia kita berdua pakai acara jadian kayak gini,” keluh Coklat.

 “Iya nih, ini gara-gara lo sih.”

 “Lo!”

 “Lo!”

 Dan mereka pun berdua ribut di dalam khayalannya si Ival, enggak dimana-mana ribut mulu kerjaannya.

 ***

 Sekarang pagi sudah kembali menyapa Coklat dan Ival. Pagi ini mereka sudah rapih pakai seragam mau berangkat sekolah, kali ini mereka berangkat enggak naik motor, karena motornya sudah kabur dari rumah gara-gara enggak mau ketularan stress dekat-dekat sama mereka. Tuh kan motor saja tahu kalau mereka berdua suka bikin orang stress. 

 Mereka sekarang lagi jalan kaki berdua menuju sekolah. Ketika seperempat jalan, mereka bertemu dengan Wakamiya di depan rumahnya yang sedang siap-siap berangkat sekolah. Tak lupa mereka menyapa Wakamiya, walau Wakamiya benar-benar enggan disapa sama mereka.

 “Hai,” sapa Coklat dan Ival.

 “Iya hai juga, aduhhh.”

 “Mau kemana nih rapih banget?” tanya Coklat.

 “Mau sekolah lah!”

 “Oh sekolah, kok rapih banget sih, mau mejeng yaaa?” tanya Coklat lagi.

 Mendengar apa yang barusan Coklat katakan, Ival langsung saja menendang kaleng yang ada di depannya, setelah itu dia jongkok sambil tertunduk di bawah pohon rambutan depan rumah Wakamiya.

 “Kamu tega, Miya, ternyata kamu hanya mejeng doang di sekolah, aku tak menyangka!” kata Ival.

 Coklat langsung mendekati Ival sambil mengusap-usap punggungnya, untung saja enggak keluar jin.

 “Sabar ya, Val, dia emang gitu. Tenang aja, dunia ini engga sesempit daun kelor.”

 Sementara Wakamiya hanya bengong melihat keanehan mereka lagi.

 “Ya itulah orang-orang aneh yang kenapa harus hadir dalam kehidupan gue, huft.”

 Ival dan Coklat kembali berdiri dari bawah pohon rambutan itu, kemudian mereka menemui Wakamiya kembali.

 “Kamu benar mau berangkat sekolah?” tanya Ival.

 “Iya, kenapa?”

 “Aku khawatir loh sama kamu.”

 “Khawatir kenapa?”

 “Aku takut kamu kesasar pas berangkat sekolah.”

 Itulah kekhawatiran yang engga perlu disebut, dia kan tiap hari berangkat sekolah, ya enggak mungkin kesasar lah.

 “Ah sudahlah aku mau berangkat, enggak penting kalau ketemu kalian berdua.”

 Wakamiya pun berangkat ke sekolah sendirian. Dia meninggalkan Coklat dan Ival berdua. Angin pun bertiup seiring perasaan mereka yang ditinggalkan. Bunga-bunga dari pepohonan pun berjatuhan satu persatu.

 ***

 Mereka berdua melanjutkan perjalanannya ke sekolah. Sudah separuh perjalanan, mereka berjalan kaki. Kini di hadapan mereka terlihat seorang pria yang mereka kenal memakai baju putih dan celana bahan hitam sedang berdiri sambil berbicara pada tiang listrik. Ketika mereka dekati, ternyata itu rupanya seorang sales yang pernah mereka temui di warung. Coklat dan Ival berdiri tepat di samping pria itu.

 “Val, ada orang gila yang lagi ngomong sama tiang listrik.”

 “Coklat, kamu tahu enggak kalau tiang listrik ini adalah ceweknya yang dikutuk, makanya dia ngomong sendiri.”

 “Ohh.”

 Mendengar suara mereka berdua, pria itu pun menoleh ke mereka.

 “Eh, kalian lagi berdua,” ucap orang itu ketika tahu ada Coklat dan Ival yang mendekatinya. Sementara di dalam hati orang itu ada sebuah rencana busuk. Rencana apakah itu? Diam-diam orang itu akan menculik mereka berdua.

 “Sabar ya, mungkin ini adalah jalan yang terbaik buat, Mas,” ucap Coklat dan si pria itu hanya melongo.

 “Iya sabar aja, mungkin kutukan ini enggak akan lama, dan tiang listrik ini bisa kembali menjadi ceweknya, Mas, saya doakan kok,” terang Ival.

 “Hah? Apa lo kata berdua? Haduh kenapa gue ketemu sama lo lagi ya.”

 “Emang kenapa, Mas? Coba dah cium tiang listriknya siapa tahu jadi cewek lagi,” kata Ival.

 “Dih kayak orang gila saya nyiumin tiang listrik. Saya ini lagi cari kerjaan, tuh lihat ada lowongan.”

 Pria itu pun menunjuk kertas lowongan kerja yang tertempel di tiang listrik. Sesudah diberi tahu, Ival dan Coklat hanya bilang “oh.”

 “Oh jadi, Mas, ini lagi cari kerja toh?” tanya Coklat.

 “Iya betul.”

 “Sayang di daerah sini orang yang namanya kerja itu enggak ada, biasanya orang-orang sini tuh namanya Joko, Sugeng, dan paling keren itu saya, Mas,” ungkap Coklat.

 “Maksud saya itu, saya lagi cari kerja bukan cari orang, ngerti?”

 “Iya, ngerti,” serentak Coklat dan ival.

 Pria itu langsung mengusap-usap dadanya sambil bilang sabar. Seketika pria itu menarik napasnya sejenak sebelum melanjutkan obrolannya sama dua orang rese.

 “Ada lowongan kerjaan enggak buat saya?”

 “Kerjaan mah banyak, Mas,” jawab Coklat.

 “Serius?” ucap pria itu dengan wajah senang.

 “Iya.”

 “Apa?” ucap pria itu wajahnya semakin senang.

 “Nyapuin jalanan itu kerjaan, ngepel aspal itu juga kerjaan, bangunin polisi tidur juga itu kerjaan, banyak loh. Tapi sayang, kerjaan banyak kayak gitu enggak ada yang gaji, Mas.”

 Pria itu lalu tertunduk, wajahnya kusam. Wajah kusam karena asap dan berminyak? Pakai saja pembersih muka cap dua gajah, dijamin bersih. Loh kok malah iklan. Dalam diam-diamnya, orang itu pun lalu mengambil handphone dalam saku celananya.

 “Wih si Abang bawa handphone!” 

 Coklat terkejut melihat handphone, ya begitulah kiranya kalau orang belum pernah melihat handphone dari saku orang.

 “Gimana handphone Abang, keren kan?”

 “Ah biasa aja.”

 “Huhft …,” keluh orang itu, ternyata nih anak berdua emang ngeselin ya, sampai-sampai teman gue enggak bisa nakut-nakutin nih anak, ucap dalam hati orang itu.

 Sayangnya, tanpa diketahui oleh Coklat maupun Ival, orang itu mengirim sebuah SMS kepada temannya untuk datang dan lalu menculik mereka berdua. Dengan cepat jari-jari orang itu membuat kalimat pesan singkat.

 Hmmm sebentar lagi, nih anak berdua akan gue culik, xixixixi, kata orang itu dalam hatinya.

 Pesan pun sudah lengkap ditulis, dan siap untuk dikirim. Orang itu sontak terkejut ketika pesan yang dia kirim tidak terkirim, oh. Kenapa ini bisa terjadi? Setelah menunggu beberapa waktu, ada balasan dari operator seluler yang mengatakan bahwa pulsanya tidak cukup.

 Njir, pulsa gue abis! Gawat! Bisa gagal rancana gue ini! ucap orang itu dalam hati.

 Akhirnya tak ada pilihan bagi orang itu untuk melanjutkan pembicaraannya. 

 “Saya serius, mau cari kerja.”

 “Hmmm … jadi guru TK, mau enggak?” tanya Ival. 

 “Serius nih, saya enggak mau bercanda.”

 “Hahaha, saya dikira bercanda. Tante saya punya loh TK, kali aja mau.”

 “TK apaan?” 

 “Taman kanak-kanak.”

 “Terus?”

 “Iya itu taman yang isinya cuma buat anak-anak. Mas, masih anak-anak?”

 “Saya sudah dewasa, De.”

 “Yah berarti enggak bisa. Mas itu harus kembali lagi ke anak-anak,” ucap Ival merasa tak berdosa.

 Sekali lagi pria itu hanya tertunduk lesu mendengar ocehan yang enggak ada artinya. Akhirnya pria itu berdiri tegak, bersiap mengambil ancang-ancang dan mengeluarkan jutsu ninjanya.

 “Shinra Tensei!”

 Shinra Tensei itu merupakan kemampuan untuk memanipulasi gaya tolakan atau dorongan pada pengguna yang akan mampu untuk mendorong suatu benda, jadi Shinra Tensei itu mirip magnet atau besi berani. Nah yang menjadi pertanyaannya adalah itu besi, berani sama siapa coba? Tapi sudahlah jangan dipikirkan lagian ini bukan ujian negara kok.

 Wusshhh

 Akibatnya Coklat dan Ival terpental jauh karena jurus itu, mereka berdua terpental hingga melayang sampai tepat di depan gerbang sekolahnya. 

 “Makasih, udah ngelempar kita sampai sekolaaaaah!” teriak Ival dan Coklat.

 Kedebug!

 Mereka jatuh di depan gerbang sekolah. Jatuhnya mereka itu kayak film Mr. Bean. Tapi anehnya tulang mereka enggak remuk. Coba saja kalau remuk, pasti sudah dijadikan soto tuh. Pas sampai di sekolah, terlihat para siswa lagi mengantri di depan gerbang sekolah. Coklat dan Ival pun mentoel-toel siswa laki-laki yang ada di urutan belakang antrian, sebut saja namanya Panci.

 “Cuy, ada apa nih kok pada ngantri?” tanya Coklat.

 “Ya nih katanya sih ada razia.”

 “What!? Raziaa?”

 Kemudian, Coklat membisikkan ke telinga Ival.

 “Val,” bisik Coklat.

 “Ya apa?”

 “Kuping lo bau banget, culean ya?”

 “Cule itu temannya Andre, ya?”

 “Itu Sule.”

 Karena enggak sanggup menahan bau culenya Ival, Coklat pun pingsan. Dia berniat dilarikan ke rumah sakit terdekat. Para siswa-siswa pun enggak ada yang mau gotong badannya. Ival menjadi panik.

 “Woy, tolongin apa teman gue pingsan nih!” teriak Ival.

 “Ya udah lariin aja ke rumah sakit!” jawab salah satu siswa.

 “Ya tapi dia enggak mau lari!” kata Ival.

 “Yah dianya aja enggak mau lari, ya udah biarikan saja, nanti juga bangun.”

 “Betul juga sih, biarin aja, lagian siapa sih yang mau culik dia, enggak ada,” tambah Ival.

 Enggak butuh waktu satu menit si Coklat sudah sadar. Tapi pas dia sadar, dia enggak mau bangun. Dia cuma duduk-duduk saja di konblok, sudah seperti anak hilang.

 “Ival.”   

 “Apa?”

 “Bangunin aku.” Coklat mewek sambil mengedipkan matanya.

 “Bangun aja sendiri.”

 “Aah enggak mau, pokoknya bangunin aku, kalau enggak aku nangis nih.”

 Mau enggak mau Ival pun membangungkan si Coklat. Ival mengulurkan tangannya, suasana menjadi penuh dengan air mata ketika dua orang sahabat saling tolong menolong. Oh so sweet. Coklat pun menerima uluran tangan Ival, matanya mengedip-ngedipkan si Ival. Eh enggak tahu mah, Coklat kelilipan. Coklat pun berdiri di depan Ival.

 “Dah, ayo masuk.”

 “Gendong,” kata Coklat dengan suara manja.

 “Ihhh.”

 “Aaaa gendong.”

 Plak! 

 Karena enggak sanggup melihat kelakuan temannya yang menjijikan itu, sebuah tamparan melayang di pipi Coklat. Coklat pun mewek.

 “Kamu jahat,” ucap Coklat berlinang air mata.

 “Maaf.” 

 “Kamu enggak peduli lagi sama persahabatan kita. Baiklah aku akan pergi.”

 Coklat pun pergi dari hadapan Ival. Dia berlari sambil menguraikan air matanya, sementara Ival hanya terdiam sambil menyerukan namanya, sambil berharap Coklat kembali. Dramatis banget nih.

 “Coklaaat!” teriak Ival penuh sesal.

 Owwhh, para siswa lain yang melihatnya terharu sambil bercucuran air mata. Suasana seperti ini mengalahkan kisah sedih Nobata yang ditinggalkan Doraemong. Coklat terus berlari tanpa menghiraukan Ival yang memanggil namanya.

 Ya itulah cerita enggak jelas dari mereka berdua, yang jelas para pembaca pun bingung enggak tahu maksud dari cerita tadi. Coklat pun kembali menemui Ival, dia baru sadar ternyata dia itu harus sekolah. Kini mereka berdua berjalan di dalam antrian yang katanya sedang ada razia. 

 Dag dig dug dag dig dug

 Itulah suara detak jantung mereka ketika melihat ada guru perempuan yang berbadan besar dan berwajah sangar tanpa ada senyuman sedikitpun sedang memeriksa para siswa. Detak jantung mereka berdua semakin kencang ketika sebentar lagi bersua dengan guru itu.

 Dag dig dug dag dig dug, dag dag dag tak tak tak, turututututuuuut turututututuuuut turututututuuuut, jreeeeng jreeeeng jreeeeng tak tak! Asyik mang digoyang lagi, lho kok malah dangdutan?

 Coklat dan Ival sudah tepat berdiri di hadapan guru yang merazia mereka. Wajah guru itu semakin sangar.

 “Pak, periksa rambutnya, kukunya, dan badannya!” tegas guru itu memerintahkan Pak Satpam untuk memeriksa kondisi badan mereka.

 “Aduh, kita jangan diapa-apain, Pak,” kata Coklat.

 “Iya, Pak,” kata Ival.

 Pak Satpam itu pun memeriksa seluruh bagian tubuh Coklat dan Ival, akhirnya setelah diperiksa semua aman.

 “Aman, Bu!”

 “Sekarang periksa tas mereka, siapa tahu mereka bawa benda-benda tajam.”

 Akhirnya Pak satpam memeriksa tas mereka berdua. Melihat-lihat isi dalam tasnya, dan ternyata dalam tasnya itu penuh sama buku.

 “Aman, Bu!”

 “Ok, kalian boleh masuk!”

 “Bu, tapi?” kata Coklat.

 “Apa?”

 “Saya kan ganteng, seharusnya kena dong razia orang ganteng!”

 “Hah kamu ganteng? Ganteng darimana?”

 “Ibu enggak tahu sih, kemarin pas ada pemilihan siswa terganteng, saya dapat satu suara, itu juga saya yang milih.”

 “Sudah kamu masuk sana!”

 “Bu.”

 “Masuuuuuuuuuk!” 

 Bu Guru itu pun berteriak sekeras-kerasnya. Akibat suaranya yang lantang, kaca-kaca jendela sekolah pun pecah. 

 Plentang! Plentang!

 Tak hanya kaca-kaca sekolah, kaca-kaca mobil juga pecah, kaca-kaca gedung yang ada di Jakarta juga pecah, bahkan sampai ke Amerika, gila kan? Hayo siapa yang gila? Tunjuk tangan.

 ***

 Sementara di lain tempat. Sebuah mobil yang dihuni oleh para teman-teman dari cowoknya Bu Riny masih sabar menunggu pesan.

 “Ini si bos lama banget ya, kok belum SMS?”

 “Enggak tahu, mungkin dia lupa. Coba lo telepon.”

 Ketika temannya itu menelepon orang yang mengaku cowoknya Bu Riny tak bisa menahan kesedihan yang dialami temannya itu. Nada-nada suara kesedihan terdengar ketika ucapan putus asa yang didapat.

 “Maaf, pulsa gue habis tadi pas mau nelepon uh uh uh, gagal deh kita.”

 “Kan lo bisa WA atau BBM kita.”

 “Oh iya ya, gue enggak ingat.”

 “Udah gue kira kalau jadinya kayak gini.”