Episode 15 - Pemimpin


“Kita sampai jauh lebih cepat dari dugaan. Tidak terlalu buruk.” ucap Noxa sambil melihat tab yang sedang ia pegang. 

Semua Agen Khusus mulai turun dari pesawat. Sama seperti yang Noxa katakan. Rencananya berubah, yang awalnya menggunakan helikopter dari Jakarta untuk pergi ke New York berganti menggunakan pesawat dari salah satu bandara di Malaysia. Selain perbedaan kecepatan, pesawat tidak perlu istirahat di tengah perjalanan.

Ukuran pesawat yang tidak terlalu besar. Namun, dengan dua puluh orang di dalamnya, masih banyak kursi kosong di dalamnya.

Bandara tempat mereka turun hanya terdapat dua pesawat dengan yang mereka gunakan dan dua helikopter yang terlihat jarang digunakan. Sudah jelas itu bukan bandara umum yang biasa digunakan oleh kebanyakan orang.

“Empat delapan farenheit. Tidak heran karena saat ini sedang musim gugur. Jauh lebih baik dari Indonesia yang sedang kepanasan saat ini.” Setelah selesai mengecek informasi dan mengukur suhu sekitar, Noxa memberikan tab kepada Feya yang berdiri di belakangnya. “Fey, kau ingat kita harus bertemu dengan seseorang, ‘kan?” Noxa meregangkan tubuhnya setelah berjam-jam duduk di kursi.

“Ya, aku ingat.” Gadis yang lebih tinggi dua puluh senti dari Noxa itu memberi jawaban. Ia menengok jam tangannya yang menunjukkan pukul 15: 02. “Kita masih punya waktu satu jam.” 

Berkebalikan dengan Navi yang memakai pakaian sedikit terbuka, Feya mengenakan jaket dan celana panjang tertutup dengan sepatu bot. Termasuk tangannya yang ditutupi oleh sarung. Rambut pendeknya menunjukkan sisi leher, dengan poni yang terpotong rapih.

“Baron, Kazu. Kalian berdua tunggu di sini urus sisanya.” 

Baron, pria tinggi dengan tubuh kekar itu memiliki rambut tipis. Ia mengangguk sambil menatap rendah pada Noxa. 

“Semoga perjalananmu menyenangkan ketua!” Pria yang memiliki tubuh layaknya anak SMA itu memberi senyum santai. “Jaga Noxa, Fey!” ucapnya sambil memberi kesan bahwa tidak perlu khawatir pada apa pun selama mereka berdua di sini.

Baron dan Kazu mendekati komplotan utama. 

“Yah, aku tidak pandai dalam memimpin, tapi terserahlah.” Kazu mengeluh. “Ngomong-ngomong, apa kita perlu beristirahat dulu? Setelah perjalan panjang bukankah semuanya lelah?”

“Kita akan beristirahat setelah sampai di titik tujuan,” jawab Baron dengan suara orang dewasa.

Kazu mengangguk kecil beeberapa kali tanda mengerti. Pria dengan senyum santai itu kembali membuka mulutnya.

“Baron, kau tahu di mana titik tujuan kita?” tanya sekali lagi dengan ekspresi seperti orang bodoh.

“Aku sendiri tidak terlalu yakin. Kita bisa bertanya pada tim empat nanti.” Baron melipat tangan di atas perut. Ia menjawab dengan senang hati.

Saat Kazu ingin mengumumkan informasi, satu kali lagi pertanyaan muncul di kepalanya. “Baron, kita—“

Baron memotong dengan suaranya yang mencapai seluruh penjuru. “Untuk tim delapan dan sembilan, pindahkan semua perlengkapan ke bagasi mobil. Setelah itu kembali berkumpul di depan bandara. Sebelum malam kita harus sudah sampai di titik tujuan.” 

Mendengar ucapan dari salah satu anggota tim dua yang bertanggungjawab, semua agen khusus bergerak secara perlahan sesuai perintah.

“Ooh…” Kazu terkagum. Ia memukul dada Baron beberapa kali, lalu memberinya jempol. “Kerja bagus Baron!”

Noxa memperhatikan keduanya dari jauh. Tidak akan jadi masalah besar meninggalkan semuanya kepada mereka berdua. Mengganti pandangannya, ia melihat Neil yang mematung sambil memandang ke langit.

Telinganya yang peka mendengar beberapa suara-suara kecil entah dari tim delapan atau sembilan. Gumaman apa pun itu, bukanlah sesuatu yang bagus. Sejak awal, tim delapan dan sembilan memang dipaksa untuk melakukan misi tingkat atas. Tidak heran jika mereka bergumam sesuatu yang busuk secara diam-diam. Mungkin mereka merasa terdiskriminasi dengan jika dibandingkan dengan tim empat yang tidak melakukan tugas apa pun. 

Noxa yang tidak bisa menghentikkan hal itu, menghampiri Neil yang sedang sendirian.

Terlihat Neil memandang pesawat dengan tatapan penuh penasaran. Namun, yang dilihat Noxa berbeda jauh dari tampaknya. Entah apa yang sedang ia pikirkan, tapi kedua anggotanya, Navi dan Reina meninggalkan Neil sendirian.

 “Itu adalah pesawat pribadi. Terima kasih karena benda itu kita bisa sampai jauh lebih cepat,” ucap Noxa menarik perhatian Neil.

Neil tidak bisa membuka mulut. Sebagai gantinya, ia membuat ekspresi bahwa dirinya mengerti.

Terdapat logo besar di badan pesawat. Dengan matanya, Noxa menunjuk.

“Sebagai ganti mereka meminjamkan kita pesawat, aku harus menemui mereka. Coba kendalikan suasana di sini sampai aku kembali.” Noxa memberikan Neil sebuah tanggung jawab yang sedikit terlalu besar.

“Aku tidak ikut?”

“Tidak,” jawab Noxa singkat. “Lagipula, kau tidak bisa berbahasa inggris, ‘kan?” senyum kecilnya keluar dengan maksud mengejek.

“Reina mengerti bahasa inggris.” 

Noxa mendekap. Ekspresinya sekali lagi berubah menjadi serius layaknya pemimpin. Saat itu, Navi dan Reina ikut berkumpul.

“Yoo, Noxa… Fey! Apa yang kalian bicarakan?” Navi menyapa. Senyumnya yang lebar membuat suasana jadi lebih tenang. 

Semua pandangan mengarah pada Navi. Feya yang berdiri di samping Noxa, memberi tatapan ancaman pada Navi. 

“Eeh, F-Fey… t-tidak bisakah kau tenang sedikit?” Senyum lebarnya berubah jadi senyum kaku. 

“Reina, Neil bilang kalau kau ini pandai bahasa inggris.” Noxa memandang Reina ke atas karena memiliki perbedaan tinggi.

Reina memandang Neil. Matanya memberikan pertanyaan seolah ia sedang meminta izin. Beberapa detik kemudian, Reina membuka mulut. 

“Mungkin…. Aku memang bisa,” jawab Reina dengan nada tak yakin.

“Hmm…” Noxa terdiam sebentar. Otaknya yang jauh berpikir lebih cerdas dari orang lain sedang mengambil kemungkinan. Jika untuk masa depan, mungkin membawa salah satu tim Neil untuk ikut pilihan yang bagus dan bisa berakibat di saat yang bersamaan. 

“Neil, apa kau tidak keberatan jika aku meminjam salah satu anggotamu sebentar?”

Kejadian yang sama terjadi. Di antara mereka semua, hanya Neil saja yang tidak menunjukkan ekspresi terkejut.

“T-tunggu sebentar!” Feya menyela. “Ah, m-maaf… Tapi, bisa aku minta penjelasannya? Jika itu masalah komunikasi, aku juga bisa.” Feya membuat ekspresi seperti dirinya akan ditinggalkan, tapi mungkin dugaannya benar.

“Aku juga mengerti bahasa inggris, bodoh.” Noxa memberi tatapan datar. “Berhentilah mengekor selama satu hari saja! Lagipula, ada yang harus kulakukan juga.” 

Sebagai sahabat baiknya, Noxa menahan diri untuk tidak terlalu keras.

“M-maksudku… bukankah akan sedikit berbahaya?”

“Bukan berarti nyawa yang akan menjadi taruhannya. Lagipula, selama mereka tidak tahu, tidak akan jadi masalah besar.” Noxa menghela napas, berharap kalau Feya akan berhenti menghalangi jalannya. “Bagaimana Neil?”

Neil, Navi, maupun Reina tidak ada seorang pun mengerti apa yang sedang mereka berdua bicarakan. Terdengar seperti sebuah rencana yang buruk. 

“Tanyakan saja langsung pada orangnya.” Neil memberi kebebasan pada Reina.

Reina sudah mendengarnya dengan jelas. Noxa tidak perlu mengulang pertanyaannya sekali lagi. Suasana hening tercipta. Jawaban singkat yang mereka tunggu.

“Hmm… apa yang harus kulakukan?” Ekspresi bimbang ditunjukkannya.

Jawabannya sudah cukup memuaskan. Noxa menjawab dengan senyuman. “Pertama-tama mulai ikuti aku!”

“Uugh…” 

Karena suatu alasan, Feya merasa kalah. Rasanya sangat menyebalkan ketika seseorang mengambil posisinya sebagai asisten Noxa. Di saat yang sama dirinya hanya bisa melepaskan semuanya begitu saja.

“Ngomong-ngomong, Noxa kau tahu di mana tempat dan waktunya, ‘kan?”

“Feya,” Noxa memanggil code name miliknya dengan lengkap. “Kau pikir aku ini siapa?” Terdengar jelas gadis pendek itu membanggakan dirinya. 

“Maaf, karena suah meragukanmu.” Feya menutup kedua mata. Helaan yang tidak bisa ditahan pun akhirnya keluar.

“Neil, Rem, Baron, dan Kazu… meski tidak ada aku, kau pasti akan baik-baik saja. Berhentilah mengikutiku!” Sebelum mendengar pendapat Feya, Noxa sudah melangkahkan kakinya terlebih dahulu diikuti Reina. “Dengarkan baik-baik, aku akan menjelaskan beberapa hal padamu.” Noxa berbicara pada Reina.

Kurang dari sepuluh detik, meski masih terlihat suaranya tidak terdengar lagi.

“Fey, kau tidak apa-apa?” Neil nampak menghawatirkan gadis yang daritadi pandangannya tidak tergerakkan.

“Yah, tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Daripada itu, akan lebih baik jika kita membantu yang lain. Aku mendengar beberapa orang berbicara sesuatu yang buruk tentang kalian di belakang kalian.”

Neil mengganti perhatiannya. Navi yang berdiri di sebelahnya daritadi hanya terdiam memasang ekspresi yang tidak jelas. Sangat jarang baginya untuk tenang dalam keadaan seperti ini.

“Navi, kau daritadi bengong?”

“Huh? Noxa tidak menyebut namaku saat menyebutkan nama kalian semua. Uh, aku jadi sedikit kecewa.” Daripada kecewa, Navi sedikit merasa kesal pada gadis pendek yang menggunakan wajah sebagai layaknya seorang pemimpin itu. 

“Hanya itu?”

“Yah, tidak juga.” Navi kembali seperti semula. “Aku hampir lupa sesuatu. Aku dan Reina dari tadi tidak melihat Rem sama sekali. Kalian berdua melihatnya?”

Selama Neil ada di pesawat, ia sendiri belum melihat Rem sama sekali. Melihat yang lain sudah bersiap, seharusnya jika orang normal, maka dia akan berada di kerumunun kecil mengikuti yang lain atau pergi ke mobil dan mengecek barang-barang. Namun, jika itu Rem rasanya akan sangat masuk akal jika gadis itu belum turun dari pesawat sama sekali.

Feya yang mengerti, memagang kepala dengan tangan merasa kewalahan. 

“Neil, dia ada di tanganmu, jadi kuserahkan dia padamu.” Feya menghampiri Baron dan Kazu.

“Jangan bilang dia masih tidur di dalam pesawat?” tanya Navi.

“Sepertinya begitu,” jawab Neil.


***


“Dengarkan baik-baik, aku akan menjelaskan beberapa hal padamu.” 

Tanpa memperhatikan langkah berjalan, Reina memasang telinga. Mereka berdua berdekatan agar suara yang dikeluarkan tidak terlalu keras.

“Apa kau tahu logo yang ada di pesawat itu dari perusahaan apa?” 

“Ya,” Reina mengangguk. Dia tahu walaupun tidak terlalu ingat apa yang dilakukan oleh perusahaan. 

“Kita akan bertemu dengan pemiliknya. Atasan OFD amerika juga termasuk dan beberapa petinggi lainnya. Kau lulusan dari SMA dan yang paling pintar di antara tim empat, jadi setidaknya aku yakin kau bisa mengerti apa yang akan kami bicarakan.”

Mendengar hal itu, Reina hanya bisa menebak-nebak masalah serius yang akan didengarkannya nanti. Ia tidak terlalu percaya diri dalam pertemuan semacam rapat seperti ini, tapi karena sudah meng’iya’kan permintaan Noxa, ia tidak punya pilihan.

“Aku mengatakan pada mereka kalau Feya yang akan menemaniku, tapi karena rencananya berubah ada sedikit adaptasi yang harus kau lakukan.” 

Mereka berdua berjalan keluar dari bandara. Ada sebuah mobil mewah yang sudah disiapkan untuk mereka berdua tepat di depan bandara. Melihat hal itu, Noxa menghentikkan langkah kaki. Reina mengikuti.

“Jangan berbicara sedikit pun kecuali kau ditanya. Jangan mengatakan sesuatu dengan jujur. Bukan berarti aku menyuruhmu berbohong. Kau mengerti, maksudku?” 

Hanya untuk memastikan, Noxa bertanya.

“Mengatakan sesuatu sambil menyembunyikan sesuatu.”

“Yah, itu yang kumaksud. Jika bingung, jangan sungkan untuk bertanya padaku. Termasuk meminta bantuanku saat kesulitan menjawab. Jaga sikap dan jangan berbicara sembarangan. Apalagi sampai memancing emosi. Sisanya serahkan padaku.”

“Aku mengerti.” Tidak ada keraguan di matanya, berbeda dengan yang sebelumnya. “Tapi, kenapa sampai mengajakku?”

“Berhentilah bertanya sesuatu yang tidak bisa kujawab. Satu hal lagi, seandainya mereka tidak menyadarinya, aku akan memanggilmu Faye di tempat pertemuan itu.”

Mendengar itu, Reina menutup mulutnya. Tidak perlu ada yang ditanyakan lagi. Rasa penasarannya mungkin tidak akan bisa terpuaskan, tapi Noxa yang merasa bertanggungjawab akan semuanya membuat Reina menjadi sedikit bersalah jika ia harus bertanya lebih.

Mendapatkan tanggung jawab sebanyak itu, semua orang pasti akan kelelahan. 

Reina memutuskan untuk percaya pada keputusan Noxa. Terlebih lagi, ketika Reina mendengar sesuatu tentang yang melibatkan masa depan nanti. Dirinya yang diajak tidak mungkin bukan tanpa alasan.