Episode 13 - Cahaya Kecil dan Malam yang Penuh Blablabla

Malam ini, aku kesulitan tidur. Bukan karena alas yang keras atau dingin yang seenaknya merayapi tubuhku. Tapi, karena beberapa jam lalu, perkataan Bung Atma seolah menyederai keyakinanku sendiri. Betapa indah dan puitisnya ia memandang kematian. Baginya, kematian bagai celah cahaya terang-santun yang tidak sanggup melukai matanya meski terbiasa menangkap gelap.

Sering kali, kematian, bagi sebagian orang, seperti harapan. Sebab di sana kita tak lagi tersiksa menduga nasib yang tak tertib. Atau bagi Bung Atma, kematian adalah harapan, sebab ia meyakini setelahnya, ia akan bersatu kembali dengan istrinya. Pun jika di alam yang lain itu mereka tak lagi saling mengenal, setidaknya tak perlu ada yang menunggu atau merasa ditunggu.

Duh, kepalaku sedikit sakit memikirkannya.

**

Beberapa hari di tempat pengungsian, aku merasakan pagi yang menerbitkan kebahagiaan. Bersama senyum Cahaya Kecil, aku semakin menyadari bahwa kebahagiaan memang begitu sederhana. Ia—kebahagiaan—tampil dengan bersahaja tanpa terkurung kerumitan; tanpa dibuat-buat.

Kebahagiaan begitu dekat, tapi aku sering kali berpikir bahwa ia tak mungkin mudah dicapai. Sehingga, ia menjadi terlalu jauh, seolah mesti ditempuh dengan cara-cara yang rumit dan berbelit-belit. Tapi, di sini, ia hanya menjadi jawaban atas panggilan yang menyeru dari palung diriku sendiri.

Rencananya, sore nanti, kami akan memulai kegiatan menggambar dan mewarnai. Aku sedikit tak sabar. Meski sejujurnya aku sedikit kecewa karena tak bisa melihat Agam dikerjai Bung Atma. Melihat bagaimana kerelaannya bertingkah memalukan demi senyum anak-anak, membuatnya terlihat memikat. Maksudku, jauh lebih memikat. Sebab dengan bahunya yang kuat, matanya yang sendu-dalam, tulang kaki dan hidungnya yang tinggi, serta rambutnya yang berombak, ia sudah lebih dari cukup untuk sekadar dikategorikan sebagai lelaki memikat.

Tapi ia, dengan segala laku jantannya—bagiku, berani bertindak memalukan demi sesuatu yang bernilai adalah laku jantan—menjadikannya istimewa.

Bersama Bu Sri, aku mengupas bawang di dapur umum. Aku semakin mahir mengupas bawang. Kata Adi, mengupas bawang merah seperti mengupas lapis demi lapis tangis sendiri. Ya, sebuah filosofi tentang bawang merah. Cuma kebetulan, diucapkan lelaki yang lebih sering beli makanan jadi.

Berkilogram tubuh bawang yang sudah telanjang bertumpuk tanpa memakan waktu berjam-jam. Pasti aku menjadi cukup mahir karena aku melakukannya secara berulang-ulang.

“Doooorrrr!”

Suara itu membuat pisau di tanganku terlempar dan tergeletak di alas tenda dapur umum.

“Iiiiih, Agam! Untung pisaunya ndak nancep ke pahaku!” kataku, sedikit jengkel.

“Maaf, maaf. Aku diminta Mas Sukri untuk ngetes kesehatan jantung relawan,” jawabnya, sambil mengacak-acak rambutku.

Sementara wajahku ditekuk, wajah Bu Sri terlihat cerah dengan senyum kecil di bibirnya. Barangkali, adegan tadi, baginya, adalah bagian dari kemesraan kecil cinta remaja.

Agam semakin mendekat. Entah mengapa, wajahku terasa panas.

“Mi, bantu aku nyiapin peralatan kegiatan menggambar mau, nggak?”

“Ummm,” aku sedikit menunduk untuk menyembunyikan wajah merahku, berusaha terlihat sibuk mengupas kembali bawang merah. “Memang Bung Atma ke mana? Bawangnya masih banyak soalnya, nih, Gam.”

“Ndak apa-apa, Mbak Laksmi. Biar Bu Sri saja. Lagian Mbak Wening dan Mbak Sulastri kayaknya mau bantu di sini. Katanya, wis bosen turu ning tenda,” kata Bu Sri.

“Beneran, Bu Sri? Youwis, aku bantu Agam dulu, ya.”

Sampai di lokasi kegiatan dongeng, aku terkejut melihat lima meja lipat, satu alas busa ukuran besar, bantal, alat tulis, pensil warna, serta buku gambar telah tersedia. Kata Agam, sumbangan dari salah satu komunitas peduli anak di Jogjakarta. Mendengarnya, angin menjadi semakin sejuk. Betapa menenteramkan menyadari bahwa nasib sial bisa jatuh secara acak, hidup tak terpetakan, namun cinta manusia terhadap manusia tampil begitu pasti.

Segera kususun meja lipat, dan kupastikan jarak antara satu meja dengan meja lainnya sudah tepat, sehingga Cahaya Kecil bisa nyaman berkegiatan. Sementara Agam terlihat begitu serius memastikan runcing pensil warna sudah sempurna.

“Eh, Gam, kamu mending jemput anak-anak. Ini biar aku saja yang lanjutkan.”

“Oke, Mi. Aku jemput anak-anak dulu, ya,” katanya, sambil matanya mengedip kepadaku.

“Sip. Cepat ya, Gam. Kertas gambar sepertinya sudah ndak sabar!”

“Siap, Bu Guru!”

Agam terlihat berlari kecil, lalu aku melanjutkan persiapan peralatan kegiatan. Kuserut satu per satu pensil gambar dan pensil warna, kemudian kususun di atas meja lipat bersama penghapus dan kertas gambar. Tak butuh waktu lama, hanya sekitar 15 menit, sebab Agam sudah melakukan separuh pekerjaannya.

Sambil menunggu Cahaya Kecil datang, aku hanya duduk dan sesekali meninjau ulang kesiapan perlengkapan.

Tak lama berselang, terlihat Agam bersama rombongan Cahaya Kecil di kejauhan. Berbaris dan bergerak lincah, bagai kereta dengan gerak girang. Di depan, sang Masinis terlihat kesulitan sebab Siska—gerbong mungil dan lincah—selalu ingin mendahului yang lain. Sedangkan gerbong dengan muatan paling ‘penuh’—Banu—sedikit kesulitan mengimbangi kecepatan rombongan.

Sederet gerbong manis itu berputar-putar, melewati dapur umum untuk sekadar menularkan tawa. Lalu, dari kejauhan, gerbong paling tua, Bung Atma, berjalan sambil menggenjreng gitar dengan lantang. Ia ikut bergabung, membuat Banu tak lagi menjadi gerbong paling belakang. Dalam posisi sekitar tiga puluh meter dariku, mereka melingkar rapat seperti hendak menyusun siasat. Beberapa menit kemudian, gerbong manis itu berlari serempak ke arahku.

“Seeelaaamaaat soooreee, Buuu Guuuruuu!” sapa mereka, kompak. Ah, pasti ini siasat romantis yang dipelopori sang Masinis dan Gerbong Paling Tua. Dipanggil ‘Bu Guru’, aku sungguh terharu. Dan, sementara aku menanggung haru, Bung Atma menggenjreng bangga gitarnya. Menggodaku. Membuat perasaan yang halus ini bernada cerah.

Setelah berhasil mengendalikan diri, aku menarik napas dalam, lalu menyapa, “Selamat sore, cahaya keciiiiiiiiil! Hari ini, karena Bung Atma kehabisan dongeng, kegiatan kita adalah menggambar dan mewarnai. Setuju, nggaaaaak?”

“Setujuuuuuuu!” jawab mereka, serempak.

“Oke. Kalau begitu, sekarang kalian bisa menempati meja masing-masing. Untuk gambar dan warna, dibebaskan ya, adik-adiiiiiik! Selamat menggambaaaaaaar!”

Anak-anak berhamburan. Agam mengatur mereka agar tidak berebut meja. Tak butuh waktu lama, mereka langsung asyik dengan imajinasi masing-masing. Agam dan Bung Atma tersenyum bahagia, aku membalas senyum mereka.

**

Sementara Bung Atma mengantar anak-anak ke tenda, aku, Agam, dan Mas Sukri melihat satu per satu gambar anak-anak yang telah dikumpulkan. Rupanya, menurut pengamatan sekilas Mas Sukri, keceriaan yang lebih dari satu jam lalu kami lihat, tidak mewakili sepenuh diri mereka. Bayang-bayang gempa masih terlihat jelas dan tegas pada kertas-kertas gambar.

“Gam,” aku meletakkan kertas-kertas gambar, “mudah-mudahan apa yang kita lakukan untuk anak-anak bisa membawa hasil, ya ...”

“Pasti ... pasti, Mi.”

Lalu, Agam meraih bahuku, mengusapnya dengan bagian bawah ibu jarinya.

“Eh, Gam, nanti malam kita kumpul ndak?”

“Nggak tahu, nih, Mi. Kayaknya sih nggak, Bung Atma, katanya, mau pergi keluar dengan Mas Sukri.”

“Oh, youwis kalau gitu.”

**

Malam bangkit, tapi kantukku belum. Celakanya, aku begitu mengharapkan Agam datang menjemputku meski ia sudah mengatakan malam ini tidak ada pertemuan. Apakah aku jatuh cinta pada Agam? Ah, rasanya cinta tak cuma sedalam duga.

Maka, kukenakan sweater, sebab mungkin angin malam bisa mengusir pikiran-pikiran ganjil semacam tadi.

Aku tak tahu ini pukul berapa. Mungkin sudah terlalu malam, sehingga tak kutemui arus balik para pengungsi dari musala. Hanya ketika melewati dapur umum, kulihat sekumpulan mahasiswa tengah menikmati hangat kopi dan manis percakapan.

Langkahku mogok, tak punya tujuan. Aku menarik napas dalam, kemudian melangkahkan bimbangku. Entah ke mana.

Akhirnya, aku memutuskan untuk ke tempat di mana kami biasa berkumpul sebab tak juga punya tujuan. Sejujurnya, aku sedikit ngeri harus menembus rimbun gelap menjauhi tenda.

Semakin jauh berjalan, cahaya tempat pengungsian semakin redup dan keriuhan dapur umum terdengar seolah berbisik. Duh, padahal ini jalan yang selama dua malam aku lewati. Tak ada beda. Kecuali, kali ini, kulalui seorang diri.

Ketika menembus pohon-pohon yang jangkung serupa tirai, di kejauhan, di atas batu cantik yang tergapai cahaya bulan, kulihat Agam duduk memunggungiku. Aku menyembunyikan diri di balik pohon. Lalu, terdengar permainan harmonikanya yang—sejujurnya—lebih mirip tiupan terompet tahun baru seharga lima ribuan. Tapi, dari parau suara harmonikanya, aku bisa merasakan kehangatan.

Duh, bagaimana caraku menghampirinya? Aku harus menyusun alasan agar tidak terkesan membuntutinya.

Hai, Gam! Kebetulan aku belum bisa tidur dan mendengar suara harmonikamu yang merdu! Duh, terlalu norak. Bahkan ia juga menyadari betapa payah permainan harmonikanya.

Hai, Gam! Kebetulan aku terbangun karena lapar, dan tersesat ketika mencari McDonald’s.

Atau ... hai, Gam! Boleh pinjam korek meski aku tidak merokok?

Tapi, aku menghapus seluruh alasan tersebut karena, akhirnya, aku memberanikan diri menghampirinya tanpa menyiapkan satu pun alasan.

“Hai, Gam! Kamu sendirian?” Oh, tentu tidak, Laksmi. Aku bersama 1.000 hantu dusun yang kebetulan tidak bisa kamu lihat. Pasti itu yang dijawab Agam, dalam hatinya.

“Tadinya. Eh, sekarang berdua kamu, Mi,” jawab Agam, ramah.

Dipersilakannya aku duduk di sampingnya.

“Eh, Mi, kayaknya mau hujan, deh,” ia menengadah, “gerimis, nih.”

Aku mengulurkan tangan, membolak-balikkannya, memastikan cuaca mendukung keinginanku. Ternyata, gerimis memang sedikit egois. Mereka memilih jatuh. Tak peduli seorang perempuan masih ingin lebih lama dengan seorang lelaki di sampingnya.

“Iya, Gam. Gerimis, nih,” aku berusaha menyembunyikan kecewa, “kamu mau pulang ke tenda?”

“Ummm, sebenarnya nggak, sih. Tapi kalau kamu mau ke tenda, aku antar, yuk.”

“Ndak, Gam. Lagi pula,” aku mencoba meraba alasan, “lagi pula, aku belum bisa tidur juga.”

“Oh, yasudah.”

Kemudian, hujan jatuh. Deras dan tiba-tiba. Memaksa kami untuk berteduh di bawah pohon. Namun, hujan yang jauh lebih lebat daripada rimbun daun, membuat Agam merelakan jaketnya mengatapi kami.

“Mi ...,” katanya. Suaranya terdengar lebih pelan di bawah serbuan derap kaki hujan di rimbun daun dan tebal jaketnya.

“Ya, Gam?”

“Menurutmu, apa salah kalau aku nggak membuka diri untuk orang lain setelah kepergia__”

“Keumala?”

Ia mengangguk, wajahnya sendu.

“Ndak kok, Gam. Buat apa membuka diri, kalau toh kamu ndak membiarkan siapa pun masuk?”

“Ya, sejujurnya,” ia berusaha membenarkan posisi jaketnya, “aku masih mengharapkan Keumala kembali. Aneh.”

“Gam ...,” kataku, “Keumala ndak pernah pergi, kok. Dia selalu ada di sana,” kataku, sambil menyentuh dada Agam dengan ujung telunjuk kananku.

Di bawah derap hujan, aku ingat perkataan Adi. Terkadang, kita cuma butuh rasa sakit untuk menunjukkan di mana letak cinta. Cinta dan rasa sakit, dua-duanya memang abstrak, tapi jika berdampingan, salah satunya melogiskan yang satu lagi.

Hujan jatuh semakin keras. Setiap pecahannya terasa menusuk di dadaku. Mendemamkan perasaanku. Malam ini, aku seolah belajar merelakan sesuatu yang tak sempat aku miliki. Sebuah pelajaran yang terlalu berat, untuk seseorang yang—mungkin—pertama kali jatuh cinta.