Episode 13 - Bagian Kedua (4)

Di dekat tanggul kali, Ganesha duduk ditemani Cuplis Monyong. Satu plastik Inti Sari hampir habis ditenggaknya. Wajahnya merah, tubuhnya tak punya tenaga. Lebih setahun tak mabuk, kesadarannya semakin mudah ditumpas aliran alkohol. Baru beberapa jam setelah Rozak pergi, ia merasa putus asa.

“Bang ...,” Cuplis Monyong mengusap punggung Ganesha, “jangan mabuk, Bang. Adik Cuplis sudah memutuskan berhenti mabuk, tapi justru Abang malah mabuk.” Sejak Juminten menggamparnya dan tak ada kabar, Cuplis Monyong memang memutuskan berhenti mabuk.

“Plis,” Ganesha menenggak Inti Sari di gelas plastik, “persoalan orang mabuk cuma ada dua. Pertama, gimana mereka mabuk tanpa merugikan orang lain. Kedua, gimana mereka nggak merugikan diri sendiri karena memuntahkan apa yang mereka minum.” Ganesha membetulkan punggungnya yang melorot di tanggul. “Sementara orang sadar, Plis,” Ganesha menarik napas, “orang sadar punya lebih banyak persoalan.”

Cuplis membakar sebatang rokok untuk Ganesha, kemudian membakar satu untuk dirinya sendiri.

“Tapi ingat, Plis,” kata Ganesha, “catat! Gua mabuk bukan untuk menghindari kenyataan!”

“Bang, mohon maaf kalau Adik Cuplis lancang. Sepertinya, waktu Adik Cuplis mabuk, Adik Cuplis juga sering bicara seperti Abang.”

“Tai lu, Plis ...” Ganesha tersenyum kecut.

Suasana hening.

“Gimana soal hubungan lu dan Juminten?”

Mendengar nama Juminten, Cuplis Monyong hendak menenggak Inti Sari, namun panas tamparan Juminten yang kembali terasa membatalkan niatnya.

“Baik, Bang.” Cuplis Monyong berbohong. Pikirnya, percuma juga jika ia bercerita saat Ganesha tengah mabuk.

“Syukur deh, Plis. Tapi ingat pesan gua. Jangan sampai cinta membuat lu jadi pecundang kayak gua!”

“Bang,” Cuplis Monyong mengusap lagi punggung Ganesha, “yang paling dihindari pecundang adalah jatuh cinta. Cinta itu cuma buat orang-orang yang berani.”

“Dari mana lu dapat kata-kata itu?”

“Adik Cuplis dapat dari Abang, kan ...”

“Lupain, Plis. Pasti gua ngomong itu waktu lagi mabuk.”

Cuplis Monyong menghela napas. Ternyata, pikirnya, mabuk dan tidak mabuk cuma perkara sudut pandang.

**

Ganesha susah payah membuka kelopak matanya yang ditusuk-tusuk cahaya matahari. Kepalanya berat, badai di dadanya belum reda. Setelah berhasil membuka mata, ia duduk di tepi kasur seraya membenamkan wajahnya di kedua telapak tangan. Semalam, duganya, Cuplis Monyong menuntun langkahnya pulang, membaringkannya di kasur, serta menyelimutinya. Namun, tindakan romantis itu kurang tepat karena kamarnya tak punya kipas atau pendingin ruangan. Alhasil, tubuh Ganesha kuyup dan lemas.

Ganesha keluar kamar. Ia terkejut mendapati sebungkus nasi uduk ada di meja makan. Selang beberapa detik, Cuplis Monyong datang dari arah dapur seraya membawa dua cangkir kopi. “Sarapan dulu, Bang. Adik Cuplis sudah belikan nasi uduk. Setelah itu ngopi biar pusingnya hilang.”

“Makasih, Plis.” Ganesha duduk di kursi meja makan. “Oh, ya, maaf kalau semalam gua ngomong ngelantur.”

“Tidak ada satu pun yang ngelantur atau menyakiti hati Adik Cuplis, Bang.” Cuplis Monyong meletakkan cangkir kopi di meja, kemudian duduk di kursi yang berhadap-hadap dengan Ganesha. “Bang, Adik Cuplis hari ini izin jaga warnet. Mau ikut Abang baca puisi.”

Mendengar perkataan Cuplis Monyong, Ganesha teringat bahwa pagi ini ia telah kehilangan rekan membaca puisinya. Sahabatnya. Orang yang berlayar dalam suka dan duka bersamanya.

**

Ganesha melamun di dekat jendela sebelah kiri belakang metromini, sementara Cuplis Monyong menyeringai menghitung jumlah uang di kantung. Ganesha merogoh ponsel Nokianya, hendak menelepon Rozak, tetapi urung. Hari ini, langit Jakarta mirip dirinya. Tak menangis, namun terlihat jelas dukanya.

“Bang!” suara Cuplis Monyong membuyarkan lamunan Ganesha. “Adik Cuplis yakin Bang Rozak pasti kembali. Abang berdua memang miskin, tapi bukan berarti Bang Rozak siap hidup jadi gelandangan.”

Ganesha tersenyum. Cuplis Monyong tak tahu bahwa Rozak bisa saja sewaktu-waktu menyerahkan diri kembali pada kemewahan keluarganya.

“Bang, Adik Cuplis boleh cerita kepada Abang?”

“Boleh, Plis.”

Cuplis Monyong menceritakan tentang pertengkarannya dengan Juminten. Pujaan hatinya itu menghilang tanpa kabar. Disamper ke pabrik, Satpam mengatakan bahwa Juminten cuti. Disamper ke kosan, Ibu Kos mengatakan bahwa Juminten kerja. Ditelepon tak diangkat, dikasih pesan singkat tak dibalas, dikasih salam di radio, Cuplis Monyong tahu Juminten tak punya radio.

Akhirnya, Cuplis Monyong punya rencana besar untuk rekonsiliasi hubungannya. Tadi pagi, ia melihat poster Rangkaian Mini Konser Menuju Ulang Tahun Ratu Badak ke-41 yang rencananya digelar di Jalan Haji Rohmat. Ia pikir, pasti seluruh warga bakal kumpul. Termasuk Juminten. Maka, ia berencana naik panggung dan membacakan puisi buat Juminten, sekaligus meminta maaf dan meminta balikan. Untuk itu, Cuplis Monyong meminta guru puisinya melatihnya lebih intens agar bisa memanfaatkan momen.

Ganesha mengangguk-angguk, tetapi dadanya tengah berkecamuk antara novelnya untuk Raslene yang tak kunjung selesai dan kepergian sahabatnya.

**

Disadari atau tidak, setiap orang punya kekuatan menggerakkan atau mengubah hidup orang lain. Entah ke arah yang lebih baik, atau sebaliknya. Misalnya, surat Raslene memaksa Ganesha menulis novel. Kehadiran Juminten mengubah Cuplis Monyong jadi penyair Jalan Haji Rohmat, dan tamparannya membuat lelaki itu berhenti mabuk. Pun Miranti, perempuan itu mengubah Rozak yang sangat sinis berubah jadi sinis saja. Dan, suka tidak suka, Rozak mengakuinya.

Di dalam bus, Rozak mengingat seluruh kenangan manis bersama mantan istrinya. Ia sadar, perbuatan-perbuatan buruk Miranti dan keputusannya minggat tak serta merta menggusur kokohnya kenangan manis mereka. Beginilah hidup, pikirnya, selalu ada yang manis untuk dikenang dan ada yang pahit untuk diingat.

Sementara itu, di rumahnya, Ratu Badak terpaku di hadapan cermin. Ada yang terasa berubah di wajahnya, tetapi entah apa.

Ia mengamati dengan teliti. Ia mengamati rahangnya yang kokoh, bibirnya yang bergincu merah, hidungnya yang mungil, alisnya yang tegas, dan matanya. Rupanya, pikir Ratu Badak, matalah yang membuat wajahnya tampak berbeda. Kecantikan bulu mata yang tebal melentik tak juga bisa mengakali kesedihan yang berembun pada sepasang jendela jiwanya.

Ia merasa sepi, sebab hidupnya kehilangan kejutan. Ia bagai nelayan tanpa lautan. Petani tanpa lumpur. Debt collector tanpa caci maki. Alice tanpa Wonderland. Dalam hati kecilnya, ia merasa kehilangan Mahmudi yang hidupnya terombang-ambing dalam nasib yang tak terpetakan, tetapi bahagia. Ia merindukan Mahmudi, juga seorang lelaki yang pernah mengisi hidupnya dulu. Ia melihat ke sudut kamarnya, ke sebuah kotak yang selalu gagal ia sembunyikan dari dirinya sendiri.

**

Kata orang, pertengkaran antara dua lelaki memang sulit didamaikan. Barangkali, ada benarnya. Biasanya, pertengkaran antar lelaki selalu melibatkan ego, prinsip, dan harga diri. Namun, yang terjadi antara Ganesha dan Rozak lebih parah karena melibatkan juga cinta. Harusnya, pertengkaran mereka bisa diakhiri seringan mengangkat bobot Nokia jadul Ganesha, atau Samsung butut Rozak. Namun, yang terjadi Ganesha menempuh cara yang rumit untuk berdamai.

Lebih sepekan, Ganesha mulai mengubah trayek membaca puisinya. Ia berharap bertemu Rozak secara tak sengaja tengah membaca puisi di trayek lain. Tetapi, hasilnya nihil. Beberapa kali ia juga datang ke lapak Bang Togar, tetapi yang ada lelaki itu malah meracuninya untuk membeli baju. Ia juga datang ke beberapa warung makan favorit Rozak, namun masih gagal. Berbagai usaha penuh rasa gengsi itu mau tak mau merampas waktu menulisnya, sehingga kemajuan novelnya jadi tambah lambat. Belum lagi, Cuplis Monyong memilih tinggal di rumahnya agar lebih intens berguru. Hampir setiap detik melihat wajah Cuplis Monyong di rumah dan di warnet membuat Ganesha mengalami writers block.

Di luar ambisi balikannya, diam-diam Cuplis Monyong ikut mencari Rozak. Mengetahui Ganesha gagal menemukan Rozak di transportasi umum, ia punya gagasan lain. Ia mencari Rozak di sarang-sarang gelandangan. Di emperan toko yang tutup, di pabrik yang pensiun, di terminal, bahkan tak jarang di dekat tempat-tempat sampah. Tetapi, ia tak menemukan guru puisinya dalam jurusan kesehatan jasmani tersebut.

Cuplis Monyong sedih atas absennya Rozak. Lebih dari rasa bangga mempecundangi Rozak setiap lari pagi, ia merasa tungkainya tak bertenaga tanpa Rozak. Tubuhnya memang terasa sehat, tetapi jiwanya tidak.

Ada yang ingin disampaikan Cuplis Monyong kepada Rozak; puisi yang ditulisnya untuk menggugat keputusan pergi lelaki itu.

Kau boleh minggat,

sejauh-jauhnya.

Tapi selama jejakmu di aspal hangat,

rinduku bakal menggugat.

Sebab kau mesti pulang

dan aku berhak merasa bahagia.

TKI, 2016

By Cuplis

TKI singkatan Tanggul Kali Indah.

**

Berbekal alamat toko di kartu nama yang dikasih bosnya, Cuplis Monyong berangkat ke Mangga Dua. Salah satu komputer warnet rusak, dan ia mesti menyervisnya. Lelaki kurus itu menelusuri blok demi blok sambil menenteng komputer, dan masih belum menemukan toko yang dituju.

Kehabisan napas dan kelelahan, Cuplis Monyong duduk sambil meneguk es teh manis yang dibelinya dari penjual minuman keliling. Belum tuntas hausnya, Cuplis Monyong melihat seorang lelaki mirip Rozak. Ia mengucek matanya, sebab pakaian lelaki itu keren, dan keren adalah kata asing bagi warga Jalan Haji Rohmat. Terlebih bagi Rozak, pikirnya.

Penasaran, Cuplis Monyong membuntuti lelaki itu dan menepuk pundaknya. Kaget bukan kepalang lelaki monyong itu mendapati Rozak di hadapannya.

“Ba-Ba-Bang Rozak?”

Rozak terkesiap. Bukan karena bibir Cuplis yang tak penah kehilangan daya kejut, melainkan saat ini ia tengah menemani sepupunya membeli laptop, alias lagi jadi orang kaya. Agar aman dari sepupunya yang jauh di belakang, Rozak menarik Cuplis Monyong ke tempat sepi.

“Bang,” panggil Cuplis Monyong, “kalau boleh Adik Cuplis tahu, orang kaya mana yang tempat sampahnya ada baju bagus seperti yang Abang pakai sekarang?”

Sial, pikir Rozak, rupanya Cuplis Monyong mengira ia jadi gelandangan selama pergi. Tetapi paling tidak, ia bersyukur atas dugaan itu. Sejak melarikan diri dari rumah, ia telah merasa sepenuhnya jadi Rozak Jalan Haji Rohmat, dan bukan Rozak anak pengacara papan atas.

“Tai lu, Plis,” jawab Rozak, telat. “Gua lagi kerja sementara jadi supir. Baju ini dipinjemin bos gua.”

“Oooh, gitu.”

Rozak menarik napas lega, tetapi tak mengembuskannya agar tak dicurigai.

Akhirnya, Cuplis Monyong menceritakan niatnya membacakan puisi untuk Juminten dalam panggung Rangkaian Mini Konser Perhelatan Ulang Tahun Ratu Badak ke-41. Rozak mengangguk-angguk, sambil sesekali mewaspadai kehadiran sepupunya.

“Guruku bakal datang, kan?”

Rozak mengiyakan, meskipun tak berjanji. Sebelum berpisah, Cuplis Monyong memohon izin membacakan puisi yang ditulisnya untuk Rozak. Rozak mengiyakan permintaan Cuplis Monyong. Untuk kali pertama, Rozak tak mual mendengar puisi Cuplis Monyong. Dadanya terasa kehilangan berat.

“Pulang, Bang, Adik Cuplis kehilangan teman lari,” pinta Cuplis Monyong, “Bang Ganesha kehilangan sahabat terbaiknya.”