Episode 7 - Maaf, Aku Terlambat.


Di suatu tempat.

Disebuah rumah yang bobrok. Pencahayaan disana redup dan suhunya lembab, membuat tempat ini terasa tidak layak untuk di tempati. Tidak banyak perabotan yang tersedia. Dan banyak debu juga sarang laba-laba yang menghiasi pojok-pojok ruangan.

Berdiri tujuh orang pria dengan tampang muram. Mereka semua adalah para pria yang mencoba mengadu nasib ke kota tapi tanpa kemampuan apa-apa, walhasil mereka menjadi pecundang dari kehidupan kota yang keras, lalu menjadi seorang kriminal.

Mulai dari mencopet, membegal sampai merampok sudah pernah mereka jejali.

Mereka tidak memiliki sistem pemimpin. Masing-masing adalah individu yang bebas tapi mereka semua bisa berkumpul bersama berkat Sony. Dia adalah seorang pria dengan tubuh yang kekar dan kepala botak.

Dia adalah orang yang menjemput mereka dari jalanan dan dengan berjalannya waktu, mereka menjadi sahabat.

Beberapa waktu yang lalu saat Sony sedang berjalan di sebuah gang kumuh, dia bertemu dengan seorang pemuda yang terbaring lemah di jalan. Walaupun dia bukan orang baik, tapi dia masih memiliki sisi kemanusiannya. Akhirnya tanpa berpikir panjang dia membawanya ke markasnya. Saat pertama kali pemuda itu terbangun dia terkejut saat melihat dia di kelilingi oleh tujuh orang pria kekar yang menatapnya dengan serius.

Dia langsung panik dan ... menutup pantatnya.

Melihat tingkah pemuda itu, mereka bertujuh tidak tahu harus tertawa atau menangis.

Sony memecah suasana yang aneh itu dengan berdehem lalu bertanya kepada pemuda itu tentang latar belakangnya. Setelah ditanyai Sony beberapa pertanyaan akhirnya mereka tahu tentang pemuda itu. Pemuda itu sama seperti mereka, seorang anak desa yang mencoba mengadu nasib di kota tanpa kemampuan dan akhirnya dia berakhir jatuh di jalan karena terlalu lapar.

Nama pemuda itu adalah Dani. Dia awalnya mengelola pertanian lahan peninggalan ayahnya. Tapi karena sakit ibunya yang semakin parah, dia harus menjual ladangnya untuk biaya berobat ibunya. Setelah ibunya telah kembali sehat dan juga karena dia tidak memiliki lahan pertanian untuk di garap lagi, dia memutuskan untuk pergi ke kota untuk mengadu nasib.

Tapi naas baginya, di hari pertama dia telah tertipu hingga semua bekal yang dia bawa dari desa langsung raib di hari pertama. 

Saat ini, dia tidak memiliki motivasi lagi dan hanya ingin untuk bertahan hidup lalu pulang ke kampung halamannya.

Sony dan yang lainnya setelah mendengar ini tidak mungkin tidak empati padanya. Dia kemudian menyuruh seorang untuk membawa setumpuk makanan dan minuman lalu mulai berpesta untuk menyemangatinya. Dan akhirnya mereka menjadi berteman.

Sangat mudah bagi seorang pria untuk mendapat teman di manapun.

Karena Dani tidak mempunyai biaya untuk pulang ke kampung halaman dan mereka juga tidak memiliki banyak uang, karena Dani pun seperti mereka yang tidak mempunya keahlian apa-apa sehingga Sony menyarankan untuk mencopet.

Selain lebih mudah daripada merampok atau membegal, ini juga pilihan yang paling masuk akal mengingat tubuh Dani yang kurus dan terlihat lemah.

Pada awalnya Dani ragu dan hendak menolak, tapi karena dorongan untuk bisa pulang ke kampung halamannya dan bertemu dengan ibunya, akhirnya dia setuju.

Dia ditugaskan bersama dengan Rudi. Rudi juga baru beberapa minggu bersama Sony dan yang lainnya sehingga dia ditugaskan bersama Dani untuk tugas kecil ini.

Sony dan yang lainnya sudah lama meninggalkan mencopet dari pilihannya. Bagi mereka mencopet sudah tidak layak untuk dilakukan lagi.

Karena dia tidak memiliki pengalaman untuk mencopet dompet di pasar atau tempat ramai, Sony menyarankan untuk menggunakan sepeda motor dan mencari ibu-ibu yang sedang membawa tas lalu mengambilnya.

Menggunakan helm hitam dan jaket kulit yang dipinjam dari Sony. 

Dani siap untuk beraksi. 

Mengendarai sebuah motor bebek sembari memboncengi Rudi, Dani berkeliling mencari korban. Melihat sekeliling di kota yang terlihat indah ini, Dani tidak bisa terpesona, karena dia akhirnya tahu betapa kerasnya realita hidup di kota. Tanpa kemampuan atau bakat, dia pasti akan tersingkir dari lajunya persaingan.

Setelah sekian lama berputar-putar menikmati angin yang bertiup sepoi-sepoi, akhirnya mereka menemukan mangsa empuk. Seorang ibu-ibu sedang berjalan di jalanan sepi sendirian.

Dilihat dari banyaknya perhiasan yang dia kenakan, Dani bisa tahu bahwa dia adalah orang kaya.

Namun, Dani tidak mau ceroboh. Dia mengendarai sepeda motor dengan pelan dan setelah jarak mereka cukup dekat, Dani mulai mengendarai motor sedikit ke bahu jalan. Setelah tepat di samping ibu-ibu tersebut, Rudi yang berada di belakang Dani langsung merebut tas dari ibu-ibu tersebut lalu cepat memberi kode ke Dani untuk cepat kabur.

“COPET! TOLONG... ITU COPET!”

Teriak ibu-ibu tersebut, namun tidak membuat laju sepeda motor yang dikendarai Dani melambat, justru karena teriakan itu Dani langsung panik dan mempercepat laju sepeda motornya.

Tapi tiba-tiba ada benda keras yang menghantam helm yang dipakai Dani dan membuat Dani kehilangan keseimbangan lalu jatuh terjerembab ke semak-semak. Tidak lama kemudian ada langkah kaki yang mendekat ke arah Dani.

Dani masih linglung karena terjatuh, tapi tiba-tiba ada seseorang yang mengunci pergerakannya.

Rudi yang cepat sadar segera berlari dengan panik. Tapi, sebelum dia pergi terlalu jauh dia menoleh ke belakang untuk melihat Dani yang tidak bisa melarikan diri. Dia ingin menyelamatkan Dani.

Perasaan Rudi kini seperti kapal kecil di tengah samudra yang sedang mengamuk. Tidak stabil dan kapan saja bisa terbalik terkena ombak-ombak yang menghantamnya. Membuat kapal itu berderit dan membawa kapal itu ke ambang kehancuran. Berakhir sudah...

Wajah Rudi menjadi pucat. Kakinya masih berlari tapi pikirannya kosong. Dia bahkan tidak tahu apa yang sedang dilakukannya.

Tiba-tiba dia medengar suara sirene polisi.

Saat suara itu melintas ke telinganya, kaki Rudi memacu lebih cepat dan matanya mulai lembab, dia menangis.

Bukannya dia tidak mau menyelamatkan Dani, tapi dia benar-benar tidak mampu.

Setelah berlari sekian lama, akhirnya Rudi sampai ke tempat Sony dan yang lainnya.

Dengan mata yang lembab karena air mata, Rudi menjelaskan semuanya pada Sony dan yang lainnya. Setelah mendengar cerita dari Rudi, tidak ada yang menyalahkan Rudi. Itu bukan kesalahan dia, jika mereka ada di posisi Rudi, mungkin akan berlari juga.

Kriminal memang pengecut.

Tapi bukan berarti mereka akan melupakan Dani begitu saja, walaupun waktu yang Dani habiskan bersama mereka singkat, tapi Dani tetap teman mereka. Dan sebagai teman, mereka tentu saja akan balas dendam.

Rudi masih ingat dengan jelas wajah orang yang mengunci gerakan Dani, dan Rudi bersumpah, pemuda tersebut akan merasakan pahitnya kepalan tangannya.


**


Setelah mendengar begitu banyak rumor tentang anak baru dari Alice. Aku sebenarnya agak penasaran dan menantikan seperti apa anak baru itu.

Pagi-pagi aku setelah sarapan, segera pamit ke ibuku lalu berangkat ke sekolah.

Seperti halnya aku, banyak anak-anak sekelasku yang juga penasaran. Gosip utama pagi ini adalah tentang dia. Banyak yang takut, banyak yang menganggap itu Cuma omong kosong, dan ada juga yang tidak peduli.

“Hei, kita tukaran kursi ya!” ucap salah satu gadis ke temannya.

Gadis itu duduk di samping kursi kosong yang telah di siapkan untuk anak baru tersebut.

“Gak mau,” balas temannya cepat.

“Ayo dong.” Gadis itu memohon dan memasang wajah memelas, mengharapkan temannya untuk bisa terbuai dan mau untuk bertukar kursi.

Temannya tetap diam tapi hatinya sedikit gelisah, dia tahu, temannya itu adalah gadis yang penakut. Dan seiring dengan beredarnya rumor itu, bahkan tanpa bertemu dia sudah takut.

Rumor memang sangat menakutkan.

“Please, aku traktir makan satu minggu deh.” Ucap gadis itu memohon lebih memelas lagi.

Temannya menghela napas lalu mengacungkan dua jari.

“Dua minggu.” Katanya sambil tersenyum kecut.

“Yeay!!!” teriak gadis itu sembari memeluk temannya.

Sedangkan untuk seorang pemuda yang duduk di depan meja yang telah disiapkan untuk anak baru itu juga mencoba untuk bertukar kursi dengan sahabatnya yang duduk di depannya.

“Bro, kita tukaran kursi ya,” ucap pemuda itu.

“Gak.” Balas sahabatnya dengan tegas.

“Please, aku takut banget sama anak baru itu,” ucap pemuda itu memelas.

“Memangnya Cuma kau saja, aku juga takut,” balas sahabatnya ketus.

Tidak kehabisan akal, pemuda tersebut mencoba mempraktekkan trik yang digunakan gadis tadi.

“Bro, gimana kalau aku traktir makan selama satu minggu, tidak, dua minggu.” Ucap pemuda tersebut sambil mengacungkan dua jari.

“Berisik, tidak ya tidak,” bentak sahabatnya.

Terdiam beberapa saat karena shock akibat di bentak sahabatnya sendiri, pemuda itu mengerutkan kening lalu berteriak pada sahabatnya itu, “Mulai sekarang kita bukan teman lagi, camkan itu!!!” 

Melihat semua drama ini, aku bisa menyimpulkan, datangnya anak baru ini dapat mempererat persahabatan dan juga menghancurkan persahabatan. Bahkan sebelum mucnul di kelas dia sudah membuat kelas menjadi berantakan, anak baru ini sangat mengerikan.

Bel masuk sudah berbunyi, namun masih belum ada tanda datangnya anak baru tersebut. Apakah dia akan bolos di hari pertamanya? Jika iya ... dia pasti tidak cocok masuk militer.

Berbeda dengan aku yang menantikan kedatangan anak baru tersebut, banyak yang menghela napas, merasa lega, karena anak baru itu tidak datang. Begitu juga guru yang mengajar pada jam pertama.

“Dan, menurutmu kenapa anak baru itu tidak datang?” ucapku pelan, karena aku takut orang lain akan mendengarnya.

“Entahlah, apa peduliku,” jawab Dan malas.

“Kau ini...” ucapku geram.

Bel tanda istirahat berbunyi.

Aku berjalan menuju kantin bersama Rito untuk ... tentu saja makan.

Kantin di sekolah ini cukup lebar dan kebersihannya juga terjamin. Di sini juga banyak makanan yang tersedia, favoritku adalah sate ayam.

Rasanya sangat khas, daging ayam yang di panggang dengan bumbu khusus rasanya sangat enak dan gurih. Juga, saus kacang yang digunakan juga sangat enak, membuat aku tidak pernah bosan untuk memakannya lagi dan lagi.

Setelah makan, aku dan Rito kembali ke kelas masing-masing.

Bel tanda masuk berbunyi.

Bu Mellinda, guru matematika yang juga salah satu guru paling ‘WOW’ di sekolah ini masuk. Tubuhnya yang layaknya gitar Spanyol membuat mata para pemuda bersinar dan membuat para gadis tidak bisa tidak iri padanya. Dia adalah wanita dewasa yang ideal.

“Anak baru itu belum datang?” ucap Bu Mellinda sembari melihat ke sekeliling.

Tiba-tiba ada deru langkah kaki, seseorang berlari lalu mendorong pintu dengan keras dan membuat bunyi ‘BANG’ yang memekakkan gendang telinga.

Aku dan lainnya tertegun lalu melihat ke arah pintu. Disana aku melihat seorang pemuda dengan rambut acak-acakan dan bernapas berat. Tapi bukan itu yang paling mengejutkan, yang paling mengejutkan adalah di baju seragam yang dia kenakan ada bercak noda darah yang terlihat masih segar.

Dia masih bernapas berat, namun tetap mencoba untuk bicara, karena itu dia terdengar agak menakutkan.

“Maaf, aku terlambat,” ucap pemuda itu.