Episode 156 - Seni Melarikan Diri



Keadaan semakin kacau! 

Panglima Segantang dan Bintang Tenggara berhadapan dengan remaja berkepala plontos. Remaja ini merupakan peranakan siluman, atau berdarah siluman. Ia telah membuka kemampuan silumannya, terlihat dari aura yang membungkus sekujur tubuhnya. Aura tersebut berbentuk seperti binatang siluman Babun Rambut Hutan. Sekedar mengingatkan, peranakan siluman merupakan manusia yang memiliki darah siluman. Biasanya, keadaan ini terjadi bilamana buyut, kakek-nenek atau ayah-ibu, menikah dengan siluman sempurna. 

Remaja berkepala plontos sungguh pelik. Ia merupakan keturunan siluman sempurna Babun Rambut Hutan, namun mengapa pula kepalanya botak licin? Terlepas dari itu, kekuatan tubuh remaja tersebut berlipat ganda, sehingga dengan mudahnya ia mengayunkan gada yang terbuat dari kayu Ulin Aswad. Sebagai tambahan, ia juga dibantu oleh binatang siluman Harimau Jumawa dan Babun Rambut Hutan. 

Panglima Segantang terdorong mundur bahkan di saat ia mengenakan wujud kesaktian unsur tanah, yaitu pakaian tempur komodo. Parang besar Taring Raja Lalim pun dengan mudah ditepis dan ditangkis oleh gada hitam besar. Di lain sisi, Bintang Tenggara dibuat kewalahan oleh terkaman cepat Harimau Jumawa dan sapuan lengan Babun Rambut Hutan. 

Kaki kanan Aji Pamungkas tersegel. Ia lengah ketika si perapal segel yang masih melindungi wilayah Benteng Utara melemparkan Segel Kerangkeng. Demikian, meski masih dapat melesatkan anak-anak panah, Aji Pamungkas tak lagi bisa bergerak leluasa. Ia terlihat seperti orang pincang yang menyeret kaki kanannya. 

Meskipun demikian, Aji Pamungkas masih cukup cepat menghindar dari gumpalan tipis uap panas. Ia terus melepaskan anak-anak panah bermuatan unsur kesaktian angin. Tindakan ini sangat menghambat proses menghasilkan uap panas oleh jurus kombinasi, karena kedua lawan yang berlindung di balik barikade uap panas dipaksa untuk terus bergerak menghindar. 

Lamalera pun tak dapat bergerak leluasa. Setiap jalinan rotan yang ia tebas, akan tumbuh berkali-kali lipat. Bahkan, dengan kesaktian unsur logam dari Tempuling Malam, ia terlihat kesulitan melepaskan diri dari belukar rotan. 

Lamalera kemudian melenting tinggi ke udara, berupaya melepaskan diri dari belukar rotan. Rotan-rotan tak merambat tinggi menyusul, melainkan menanti di bawah. Oleh karena itu, di kala mendarat, Lamalera kembali terjerat dalam jalinan rotan! Tujuan Kuau Kakimerah memanglah hanya menahan lawan, bukan bertujuan mengalahkan lawan. 

“Brak!” 

Panglima Segantang terlontar ke samping. Hantaman gada berkekuatan binatang siluman tiada dapat terbentung. Kendatipun demikian, ada yang aneh dari arah terjatuhnya Panglima Segantang. Tubuhnya menghantam formasi segel, dan di saat itu pula ia memutar tubuh dan menebaskan Taring Raja Lalim. Dengan mudahnya ia mengoyak formasi Segel Pertahanan. 

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!

Memperoleh kesempatan yang dinanti-nanti, Bintang Tenggara melakukan teleportasi jarak dekat. Seketika itu juga ia meninggalkan Harimau Jumawa dan Babun Rambut Hutan. Kini, Bintang Tenggara tiba di samping Panglima Segantang dan melompat masuk ke dalam formasi Segel Pertahanan! 

“Lamalera!” teriak si perapal segel setengah tak berdaya. Ia hanya dapat menyaksikan Bintang Tenggara berlari kencah kea rah benteng. Meski tanpa mengerahkan kesaktian unsur petir, anak remaja tersebut cukup tangkas dalam berlari. 

“Cih!” Lamalera mendecak di saat mendapati Bintang Tenggara… hanya beberapa langkah dari Benteng Utara!

Gadis tersebut menggeretakkan gigi. Ia memutar tubuh secepat mungkin sambil mengerahkan Tempuling Malam. Jeruji yang mencuat segera menebas jalinan rotan membabi buta. Di saat yang sama, ia pun merapal Bentuk Pertama: Menabur Angin, Menuai Badai dari jurus kesaktian Angin Monsun Barat. 

Jalinan rotan yang tumbuh tersapu deras dan Lamalera membebaskan diri. Ia pun segera merangsek ke arah benteng. 

“Gema Bumi, Bentuk Pertama: Kuat Akar Karena Tanah!” teriak Panglima Segantang sambil menghentakkan kaki. 

Seketika itu juga, tembok tanah mencuat perkasa di depan Panglima Segantang. Si kepala plontos dan kedua binatang silumannya terpana. Bukan karena mereka tak bisa melompati tembok tanah atau bergerak memutar, namun karena mereka menyadari bahwa di balik tembok tersebut telah menanti lawan dengan parang besarnya!

“Duar!” Serpihan tembok tanah berhamburan kemana-mana. Si kepala plontos menghantamkan gada besarnya ke tembok tanah, dengan demikian membuat Panglima Segantang mundur menghindar dari serpihan tembok tanah. 

Lamalera melesat melewati si kepala plontos yang terlibat dalam pertarungan satu lawan satu menghadapi Panglima Segantang. Formasi segel sudah tak lagi dirapal, sehingga Lamalera bersama Harimau Jumawa dan Babun Rambut Hutan leluasa mengejar Bintang Tenggara. 

Bintang Tenggara tak sedikit pun menoleh ke belakang ketika ia berlari sekuat tenaga. Kini, ia telah melompat ke atas benteng… Akan tetapi, segera ia sadari bahwa sebuah formasi Segel Kerangkeng telah membungkus bendera bersama dengan tiangnya. Si perapal segel sigap melindungi bendera mereka!

Tak diketahui berapa lama waktu bagi Bintang Tenggara untuk mengurai formasi segel tersebut! 

Sudut mata Bintang Tenggara mendapati Lamalera bersama dua ekor binatang siluman datang semakin mendekat. Tak ada pilihan lain, Bintang Tenggara segera merentangkan lengan kanannya jauh ke samping, lalu ia bergerak menebas ke depan… 

“Mustika Pencuri Gesit!” 

Teriakan anak remaja tersebut segera ditanggapi oleh Dewi Anjani yang memang bersiaga di dekat Panglima Segantang. Tiada lagi perlu mengulang puisi pemanggilan, karena sang dewi memang sudah bersiaga. Di saat itu juga, gagang golok yang melayang di dekat Dewi Anjani melecut dan tiba di dalam genggaman tangan… Setelah menerima aliran tenaga dalam, bilah angin pun menebas deras membelah formasi segel berikut tiang bendera itu sendiri!

Formasi segel yang dibuat oleh ahli Kasta Perunggu Tingkat 9 sama sekali tiada berarti di hadapan parang besar Taring Raja Lalim dan golok Mustika Pencuri Gesit. Baik Panglima Segantang dan Bintang Tenggara, keduanya mampu menebas formasi segel semudah mengiris bawang. 

Akan tetapi, gerakan menebas Bintang Tenggara tiada berhenti setelah membelah formasi Segel Kerangkeng dan tiang bendera. Sudah kepalang tanggung membuang tenaga dalam, maka di atas benteng ia memutar tubuh untuk terus menebas ke arah Lamalera dan kedua binatang siluman! 

“Hah!” 

Lamalera segera menyadari kehadiran senjata pusaka dengan kesaktian unsur angin yang demikian digdaya. Ia pun melihat datangnya bilah angin yang membeku. Gadis yang tadinya mengejar ke arah benteng, serta merta berhenti dan melompat mundur. Berbekal naluri binatang siluman, Harimau Jumawa dan Babun Rambut Hutan pun ikut melompat menghindar. Tebasan yang datang dari posisi atas benteng, melibas tanah di depan Lamalera. Tanah terbelah dan menyeruak berhamburan ke semerata penjuru! 

Pandangan mata Lamalera terhalang tanah yang menyeruak. Ia lalu melesat tak memperdulikan gumpalan-gumpalan tanah yang menghujani tubuh. Perlu beberapa waktu sebelum kedua matanya mendapati Bintang Tenggara yang sudah meraih bendera dan melompat turun dari atas benteng. 

Tanpa pikir panjang, Lamalera meninggalkan teman-teman satu regunya untuk segera mengejar. Ia cukup percaya diri bahwa dengan kecepatan langkah unsur angin, maka pastilah ia dapat menyusul Bintang Tenggara. 

Inilah dia rangkaian dari strategi Bintang Tenggara dalam meraih kemenangan dalam Pertarungan Benteng. Pertama, membuat kekacauan di wilayah Benteng Utara. Di kala kesempatan terbuka, mengoyak formasi segel dan merangsek masuk untuk merampas bendera. Terakhir, melarikan diri secepat mungkin! 

Gumpalan kain bendera berwarna merah di henyakkan ke dalam tas punggung. Bendera tersebut harus segera tiba di Benteng Selatan agar regu dari Perguruan Gunung Agung dapat meraih kemenangan. 

Bintang Tenggara memacu langkah. Sebentar lagi ia akan memasuki wilayah hutan di kaki bukit. 

Di belakang, seorang gadis berwajah geram menempel ketat. Akan tetapi, gadis tersebut belum juga dapat menyusul… Bahkan, perlahan namun pasti, jarak yang memisahkan mereka semakin lebar adanya. Lamalera salah perhitungan. Ia tiada menyangka bahwa Bintang Tenggara memiliki sabuk hitam dalam hal… melarikan diri!

“Angin Monsun Barat: Angin Berputar, Ombak Bersabung!” 

Tetiba angin berputar deras di kedua kaki Lamalera. Langkah larinya berubah menjadi seperti meluncur, dan ia terlihat sedikit melayang di atas permukaan tanah. Sekali ia melangkah, maka setara dengan lima atau enam langkah lari sebelumnya. Kecepatan mengejar Lamalera bertambah signifikan, dan ia segera terlihat menyusul Bintang Tenggara! 

Bintang Tenggara menoleh cepat. Ia mendapati Lamalera memperpendek jarak. Akibat teleportasi jarak dekat Silek Linsang Halimun dan tebasan Mustika Pencuri Gesit, cadangan tenaga dalam Bintang Tenggara terbatas adanya. Jikalau memaksakan diri untuk mengerahkan jurus unsur petir Asana Vajra, maka ia hanya dapat merapal jurus dalam waktu yang singkat. Sangat singkat. 

Lamalera semakin mendekat. Pertarungan dalam kondisi tenaga dalam yang terbatas hanya akan berakhir sia-sia. Bintang Tenggara kemungkinan besar akan dapat dikalahkan dengan telak oleh Lamalera.  

“Zzztt…!”

Tubuh Lamalera tersengat unsur kesaktian petir. Akibat langkah jurus kesaktian unsur angin yang membuat tubuhnya meluncur cepat, gadis itu tak sempat menghindar dari Segel Petir yang telah ditebar oleh perampas bendera di depan. 

“Kembalikan bendera itu!” Spontan Lamalera berteriak saat tubuhnya kembali dapat bergerak. 

Sungguh teriakan yang tiada berguna. Inti dari Pertarungan Benteng adalah mengambil bendera. Mana mungkin Bintang Tenggara menanggapi dan dengan sukarela mengembalikan bendera itu. Demi merampas bendera, pengorbanan regu dalam menciptakan kekacauan cukup berat. Pertarungan yang saat ini dijalani Panglima Segantang, Kuau Kakimerah serta Aji Pamungkas pastilah berat sebelah. Mereka bertugas menahan agar keempat lawan, beserta dua binatang siluman, tidak membantu Lamalera dalam pengejaran. 

Bintang Tenggara tak memiliki waktu sedetik pun untuk berhenti dan membuka jurus Delapan Penjuru Mata Angin. Sebagaimana diketahui, jurus tersebut mewajibkan perapalnya berdiam diri sambil berkonsentrasi membangun emosi hampa, agar alam bersimpati dan mencurahkan tenaga ke dalam mustika tenaga dalam. 

Meski sempat terhenti akibat sengatan petir, Lamalera kembali mengejar cepat. Ia lebih waspada. Beberapa Segel Petir yang dilempar tiada lagi berguna. Lamalera meluncur ke kiri dan kanan menghindar. Akan tetapi, gerakan menghindar Lamalera sesunggunghnya sudah lebih dari cukup. Setidaknya, lintasan meluncur Lamalera sedikit terhambat, sehingga jarak yang terpaut antara pengejar dan yang dikejar dapat terjaga. 

“Srash!” Lamalera melempar Tempuling Malam ibarat melempar lembing!

“Awas…,” gerutu Komodo Nagaradja malas. Ia memang tak pernah begitu suka jurus melarikan diri yang biasa dikerahkan anak didiknya. 

Tak banyak ahli yang memiliki pendamping. Meski pendamping ini jauh dari ideal, tak dapat dipungkiri bahwa sudah seringkali Super Guru menyelamatkan jiwa Bintang Tenggara. 

Mendapat peringatan, Bintang Tenggara segera memutar tubuh sambil mengeluarkan Tempuling Raja Naga. Ia lalu menahan bilah Tempuling Malam, dan memanfaatkan tenaga dorongan tempuling lawan untuk melontarkan diri jauh ke depan. 

Lamalera mendecakkan lidah. Upaya dirinya menghambat langkah lawan justru dimanfaatkan untuk menjaga jarak yang memisahkan mereka. Demikian, gadis itu terus meluncur mengejar, bahkan tidak memungut Tempuling Malam yang tergeletak di atas tanah… karena memang tiada perlu. Di saat Lamalera melintas di samping senjata pusaka yang diketahui memiliki unsur logam itu, Tempuling Malam mengurai diri menjadi berbagai jenis berhiasan dan melesat ke tubuh gadis berambut ikal panjang itu. 

Lamalera kembali memperpendek jarak. 

“Pengecut!” hardik Lamalera. “Hadapi aku dalam pertarungan satu lawan satu!” 

Bintang Tenggara bahkan tak merasa perlu untuk sekedar menoleh. Ia terus berlari lincah di antara pepohonan, serta membelah semak belukar. 

“Ayo! Satu lawan satu! Jangan jadi pengecut!”

Bintang Tenggara tetap tak peduli. Baginya, melarikan diri bukanlah perkara keberanian. Di dalam dunia persilatan dan kesaktian, melarikan diri adalah suatu keterampilan tersendiri. Dibutuhkan taktik yang matang untuk dapat menjaga jarak dengan pengejar, serta kesabaran menunggu kesempatan melancarkan serangan balik. Tidak semua ahli dapat melarikan diri dengan baik. Demikian, melarikan diri merupakan ‘seni’ bertarung yang sahih. Catat itu!

Di saat jarak semakin pendek, Lamalera segera menebaskan Tempuling Malam ke arah Bintang Tenggara. Ia tak menikam, karena tak mau tenaga tikaman dimanfaatkan untuk kembali memisahkan jarak. 

Asana Vajra, Bentuk Pertama: Utkatasana!

Kilatan petir membungkus kedua kaki Bintang Tenggara. Ia melesat cepat tak beraturan. Perbedaan antara kecepatan ahli yang memiliki kesaktian unsur angin dengan ahli yang memiliki kesaktian unsur petir, adalah lintasannya ini. Lamalera meluncur lurus dalam lintasan yang teratur. Di saat menghindar pun, lintasannya dapat mudah ditebak. Sebaliknya, Bintang Tenggara melesat tak beraturan ke kiri dan kanan, terkadang selangkah, dua langkah atau bahkan tiga langkah. Tak ada keteraturan dalam unsur petir. 

Sedangkan, dalam hal kecepatan di antara angin dan petir, yang membedakan adalah jenis jurus dan konsumsi tenaga dalam saja. Semakin canggih jurus dan semakin banyak tenaga dalam yang dikerahkan, maka semakin tinggi kecepatan yang dihasilkan. 

Lamalera sedikit frustasi. Mengapa ia belum juga dapat menyusul si pengecut itu!? 

Sebaliknya, Bintang Tenggara telah menggunakan sisa tenaga dalam untuk mengerahkan jurus kesaktian unsur petir tadi. Hanya menunggu waktu bagi Lamalera untuk pada akhirnya berhasil menyusul. Akan tetapi, berbekal pengalaman dalam seni melarikan diri, Bintang Tenggara masih cukup tenang. 

Mereka menuruni lereng bukit. Hanya sedikit lagi jarak yang perlu ditempuh. Meski demikian, Lamalera sudah memperpendek jarak yang memisahkan mereka. Gadis itu menunggu waktu yang tepat untuk menyergap!

Setelah lereng bukit, adalah padang rumput terbuka, kemudian hutan, barulah Benteng Selatan akan terlihat. Bintang Tenggara berlari melesat membelah padang rumput. Jikalau dapat memasuki hutan, maka ia akan memperoleh perlindungan dari sergapan di sela pepohonan dan semak belukar. 

Sekarang atau tidak, pikir Lamalera. Jikalau Bintang Tenggara berhasil masuk ke dalam hutan, maka akan semakin sulit menyusul kesaktian unsur petir yang tak beraturan lintasannya. 

“Hya!” Lamalera menerjang ke depan! 

Bintang Tenggara sudah hampir kehabisan tenaga dalam. Ia tiada lagi dapat mengerahkan Asana Vajra, apalagi Pencak Laksamana Laut dan Silek Linsang Halimun yang lebih boros tenaga dalam… 

“Brak!” 

Sedikit lagi tendangan kaki kanan Lamalera mendarat di punggung Bintang Tenggara, sesosok bayangan telah melesat cepat dari sela pepohonan. Sosok tersebut kemudian menangkis tendangan dengan tendangan sapuan! 

Lamalera terdorong beberapa langkah ke belakang! 

“Ijuk… mari kita lanjutkan pertarungan yang tertunda…” Canting Emas tersenyum manis. Sepasang lesung pipit menghias wajahnya. 

Lamalera dan Canting Emas berdiri hadap-hadapan. Kendatipun demikian, kedua mata Lamalera menatap lurus, melewati Canting Emas, untuk fokus kepada anak remaja yang terus berlari bahkan tak menoleh sedikit pun. 

Lamalera terenyuh pilu. Ia hanya dapat menatap pundak teman masa kecil yang terus menjauh, lalu menghilang di balik lebat pepohonan. Sebuah kilas balik suasana damai di Dusun Peledang Paus hinggap di relung hati.