Episode 155 - Berpencar!



Semak belukar dan bebunga liar tumbuh subur secara alami. Meski tak ditata secara khusus, tetumbuhan tersebut malah enak dipandang mata. Bulan purnama menggantung tinggi, cahayanya mencerahkan malam nan gulita dan memperindah belukar serta bebunga liar. Sapuan lembut angin malam membuai dua ayunan yang menggantung di tengah taman. Sepasang lelaki dan perempuan dewasa terlihat sedang bercengkerama. Masing-masing duduk santai di atas ayunan. 

“Apakah ada tanda-tanda dari ‘Pintu Neraka’?” Perempuan dewasa yang duduk di atas salah satu ayunan berujar. *

“Belum ada,” tanggap lelaki dewasa yang duduk di ayunan sebelahnya. 

“Apakah kuncinya masih tersimpan dengan baik…?”

“Kunci Pintu Neraka ada di tangan Sri Baduga Maharaja Silih Wawangi.”

“Kau yakin akan aman menitipkan kunci tersebut?”

“Lebih tak aman lagi bila masih tersimpan di Kerajaan Siluman Gunung Perahu… Tiada akan ada yang menduga kunci tersebut telah dipindahtangankan.”

“Lakukanlah yang menurutmu terbaik. Kunci itu adalah tanggung jawabmu.” Perempuan dewasa mengingatkan. 

“Jadi, kau yang berpapasan dengan Sangara Santang…?” Lelaki dewasa menatap lirih. 

“Lebih tepatnya, ia menanti kedatanganku…” 

“Kau yang menggebukinya sampai setengah mati…?”

“Cebong Cebol… aku hanya menguji dirinya.” 

“Kau membuat heboh Kemaharajaan Pasundan dan Sanggar Sarana Sakti!”

“Apakah kau mengetahui tentang jati dirinya…?” Mayang Tenggara mengabaikan komentar Raja Bangkong IV.

“Sangara Santang merupakan pribadi yang… tak lazim.” 

“Kemungkinan besar adalah reinkarnasi terencana…,” beber Mayang Tenggara.

“Siapa…?” Raja Bangkong IV terlihat mulai penasaran.

“Aku tak tahu siapa… dan aku pun tak mengetahui dari pihak mana. Keadaan sedang genting, dan lelaki itu bisa saja menjadi ancaman di masa depan…” 

Raja Bangkong IV diam merenungi rembulan. 

“Aku seharusnya menghabisi nyawanya saat itu… daripada menduga-duga seperti ini.” 

“Tidak semudah itu membunuh seorang pangeran dari Kemaharajaan Pasundan, yang juga merangkap sebagai Maha Guru di Sanggar Sarana Sakti.”

Mayang tenggara menoleh, satu alisnya mengangkat. 

Raja Bangkong IV merasa sedikit tak nyaman. Ia paham betul pesan yang disampaikan oleh raut wajah perempuan itu. Penguasa Kerajaan Siluman Gunung itu segera meralat kata-katanya. “Iya. Akan sangat mudah bagimu membantai Sangara Santang….”

Mayang Tenggara menatap rembulan. Suasana hening untuk seketika. 

“Sangara Santang merupakan sekutu yang sangat banyak membantu kedamaian di Kerajaan Siluman Gunung Perahu.” Raja Bangkong IV memecah keheningan. 

“Mungkinkah ada udang di balik batu…?”

“Ia memang senang menyusun siasat…,” tanggap Raja Bangkong IV cepat. “Akan tetapi, ia bukanlah pribadi yang jahat.” 

“Kau terlalu mudah dikelabui…” 

“Untuk saat ini, tiada gunanya kau membunuh Sangara Santang. Ia masih sangat berguna bagi Kerajaan Siluman Gunung Perahu. Tambahan lagi… aing tak akan membiarkan kau berlaku sesuka hati…” 

“Cebong Cebol… apakah kau menantangku?”

“Di malam purnama… jurus Daya Tarik Bulan mencapai puncaknya.” Raja Bangkong IV menanggapi santai. “Akan tetapi, aing tak akan mudah takluk…” 

“Kau cukup percaya diri,” ujar Mayang Tenggara pelan. 

“Aing sangat ingin mendengar ceritera tentang seorang sahabat…” Raja Bangkong IV mengalihkan pembicaraan. 

Mayang Tenggara menoleh pelan. 

“Elang Wuruk…,” tambah Raja Bangkong IV. 

“Kau mendengar kabar berita dari Resi Gentayu…?”

“Benar.”

“Ia tak berubah… namun telah sangat berbeda,” gumam Mayang Tenggara, sambil memalingkan wajah. 

Raja Bangkong IV mengangguk. Ia memahami bahwa berkat Segel Kepompong Sutra Lestari, Elang Wuruk terkurung di dalam dimensi ruang dan waktu. Dari sisi raga, usia ahli tersebut tiada bertambah. Keahliannya pun tiada bertumbuh. Tapi, entah mengapa, baru saat ini Elang Wuruk terlepas dari segel tersebut. 

Akan tetapi, Elang Wuruk rupanya memendam dendam kesumat. Adapun alasannya karena sang ibunda, Permaisuri Tritungga Bhuwanadewi, menghembuskan napas terakhir di tangan salah satu Raja Angkara. Sungguh sebuah malapetaka yang tak terhindarkan. Sampai tahap ini, Raja Bangkong IV sudah cukup memahami. 

“Ia sangat lemah untuk dapat membalaskan dendam…,” ujar Raja Bangkong IV pelan. Walau, sepertinya ada kata-kata yang tertahan, dan sengaja tak diutarakan. 

“Kau jangan berpikiran yang bukan-bukan… tiada guna bagimu membantu Elang Wuruk. Belum tentu pula uluran tanganmu akan diterima.”

“Kau mau sahabatmu mati konyol…?” tanggap Raja Bangkong IV. 

“Aku beryukur ia masih hidup, dan tentunya tak menginginkan ia mati sia-sia. Akan tetapi, ia pasti mengetahui batas kemampuan diri. Jikalau berkehendak… ia tentu akan menemukan jalannya sendiri.”

Raja Bangkong IV menanggapi dalam diam. Raut wajahnya sedikit kusut. 

“Bagaimana dengan putraku…?” Kini, Mayang Tenggara yang mengalihkan pembicaraan. 

“Lemah.”

“Hm…” 

“Jikalau jiwa dan kesadaran Mamang Nagaradja tiada menemani, maka ia hanyalah anak remaja biasa yang terlambat memupuk keahlian.” 

“Sesuai perkiraanku…” 

“Akan tetapi… potensi dirinya sangat besar, jikalau…” 

“Jikalau apa…?” Mayang Tenggara penasaran.

“Jikalau kau secara langsung melatihnya…”

Mayang Tenggara terdiam. “Aku telah gagal sekali…,” gumamnya pelan. 

“Putra pertamamu bukanlah sebuah kegagalan… sebagai seorang ahli, adalah wajar bila ia meniti jalannya sendiri.” 

Mayang Tenggara menghela napas panjang. Keindahan rembulan purnama tak dapat meredakan kegundahan di dalam batinnya. 

“Jikalau putra keduamu tak dibimbing dengan benar, maka ia akan berumur pendek. Keberuntungan demi keberuntungan tak akan selamanya berpihak.” 

“Aku telah menugaskan salah satu muridku untuk menguji kemampuannya…,” tutup Mayang Tenggara.


===


“Mundur!” 

Canting Emas dan Aji Pamungkas tetiba menyeruak dari balik pepohonan. Di hadapan mereka, adalah Bintang Tenggara dan Kuau Kakimerah yang sedang bertarung tanpa arah dan tujuan. Pertarungan menghadapi jurus kombinasi yang menghasilkan uap panas masih berlangsung imbang. Tak ada pihak yang dapat mengungguli satu sama lain.

Tanpa pikir panjang, empat remaja dari Perguruan Gunung Agung segera menarik diri. 

“Sialan!” hardik Lamalera yang kemudian menyusul bersama seorang lagi rekannya. “Aku lengah. Di tengah pertarungan, perempuan dada rata itu menggunakan Cangkang Siput untuk membatalkan Segel Pertahanan dan membawa pergi rekannya!” 

“Apakah kita akan mengejar…?” 

“Tidak perlu.”

“Tapi… Tapi, cangkang siput itu akan sangat membahayakan pertahanan kita.” 

“Jangan khawatir, Lamalera telah menghancurkan cangkang siput tersebut,” ujar perapal segel yang sebelumnya berpeluk-pelukan tak mesra dengan Aji Pamungkas. 

“Rekan kita telah memantau situasi benteng mereka dan sedang mengambil jalur memutar. Kita kembali berkumpul terlebih dahulu untuk menyusun rencana.”

“Mereka akan kembali,” Lamalera berujar sambil memutar tubuh. 


“Sialan!” umpat Canting Emas sesampainya di Benteng Selatan. 

“Apakah yang terjadi?” sahut Bintang Tenggara. Apakah mungkin Lamalera berhasil mengalahkan Canting Emas…?

“Lawan cukup tangguh… dan aku terpaksa mengeluarkan senjata simpanan untuk menyelamatkan Aji Pamungkas. Malangnya, cangkang siput yang berfungsi melemahkan Segel Pertahanan berhasil dihancurkan si rambut ijuk itu!”

“Setelah itu, kami masih sempat bertarung sejenak…,” sahut Aji Pamungkas. “Akan tetapi, kombinasi pertahanan segel dan serangan tombak hitam panjang sulit ditembus!” 

“Itu adalah tempuling yang memiliki unsur kesaktian logam dan dikerahkan oleh ahli dengan unsur kesaktian angin!” sergah Canting Emas. 

“Kita berada dalam ancaman bahaya…,” sela Kuau Kakimerah. 

“Benar. Dua remaja lelaki yang kami hadapi memiliki jurus kombinasi untuk menghasilkan uap panas. Jikalau mereka mendatangi benteng ini, kita akan sangat kesulitan dalam bertahan…,” tambah Bintang Tenggara. 

“Uap panas…?” gumam Canting Emas, menyadari bahaya yang akan datang bertandang.

“Mereka pun telah mengirimkan salah satu anggota untuk memantau benteng ini…,” Panglima Segantang, sebaliknya, ingin cepat-cepat bertarung. 

“Kita salah menerapkan strategi…,” lanjut Bintang Tenggara. 

“Maksudmu…?”

“Pada intinya, Pertarungan Benteng adalah pertarungan untuk mengambil bendera lawan, bukan adu kekuatan antar ahli. Pertarungan tentu tak terhindarkan, akan tetapi cara bertarung guna membuka celah adalah yang utama.”

Seluruh anggota regu mendengarkan dalam diam. 

“Pada akhirnya, adalah bagaimana caranya kita terlebih dahulu merampas bendera lawan. Kemudian, membawa pulang bendera tersebut kembali ke benteng sebagai syarat meraih kemenangan.”

“Apa saranmu…?” Canting Emas membuka diri. 

Demikian, regu dari Perguruan Gunung Agung berembuk menyusun rencana. Disadari bahwa waktu tak berpihak bagi mereka, dan rencana awal untuk bertahan bukan lagi pilihan yang bijak. Siapa yang menyerang terlebih dahulu, maka dialah yang memiliki peluang terbesar. Oleh karena itu, telah diputuskan bahwa malam ini juga mereka akan berupaya merampas bendera lawan. 

Bintang Tenggara, Panglima Segantang, Aji Pamungkas dan Kuau Kakimerah melangkah cepat di tengah gelapnya malam. Ditemani cahaya temaram bulan purnama, mereka akan mengambil inisitaif menyerang. 

Hanya Canting Emas yang ditinggal seorang diri dalam bertahan. Ancaman terbesar bagi Benteng Selatan adalah jurus kombinasi uap panas. Canting Emas dengan kesaktian unsur api adalah satu-satunya ahli yang dapat bergerak leluasa mengatasi jurus tersebut. Terlebih, Canting Emas juga memiliki kemampuan persilatan di atas rata-rata. 


Formasi Segel Pertahanan terlihat melingkupi wilayah Benteng Utara. Di dalamnya, lima remaja Perguruan Anantawikramottunggadewa mengelilingi si perapal segel. Dua binatang siluman terlihat berjaga di atas benteng, di dekat tiang bendera. 

Tantangan terbesar dari Segel Pertahanan tersebut bukanlah bagaimana caranya menembus masuk…. Akan tetapi, bila telah sampai di dalam wilayah segel, maka unsur kesaktian tak dapat dikerahkan dengan leluasa. 

Bintang Tenggara telah memperhitungkan perihal formasi Segel Pertahanan tersebut. Bila syarat dan ketentuan tentang unsur kesaktian yang terbatas, maka kondisi yang sama akan mendera regu dari Perguruan Anantawikramottunggadewa. Uap panas tak akan dapat dikerahkan di dalam sana. 

Kedua mata Bintang Tenggara bertemu dengan tatapan tajam seorang gadis. Lamalera hanya melengos. Empat anggota regu dari Perguruan Gunung Agung tak menyembunyikan diri, mereka akan merangsek masuk. 

“Waspada… seorang anggota mereka tak terlihat…,” bisik si perapal segel, mengacu kepada Canting Emas. 

“Kalian pergi dan ambil alih benteng mereka,” ujar Lamalera kepada dua rekannya. “Dengan demikian, si gadis dada rata itu tak akan dapat mengendap-endap di sini.”

Dua remaja lelaki melompat keluar dari dalam formasi Segel Pertahanan, bergerak memutar, kemungkinan mereka akan menyerang Benteng Selatan, dimana Canting Emas berjaga. 

Bintang Tenggara membiarkan mereka pergi. 

“Cembul Manik Astagina!” Panglima Segantang selesai membaca puisi pemanggilan. “Taring Raja Lalim!” 

Terkait Cembul Manik Astagina, terdapat perbedaan mendasar antara Panglima Segantang dengan Bintang Tenggara. Bagi Panglima Segantang, parang besar Taring Raja Lalim merupakan senjata utama, sedangkan Bintang Tenggara menggunakan golok Mustika Pencuri Gesit sebagai senjata simpanan. Yang satu akan mengerahkan sedari awal pertarungan, satunya lagi hanya bilamana terdesak. 

Apa pun itu, keberadaan Dewi Anjani yang tak terlihat bagi ahli lain, akan sangat menguntungkan dua remaja dari Perguruan Gunung Agung.

“Gema Bumi, Bentuk Kedua: Hancur Badan Dikandung Tanah” 

Tanah tempat berpijak melesat dan menempel ke tubuh Panglima Segantang. Tanah membungkus di kedua bahu, sikut dan melingkari pinggang. Di saat yang sama, tanah juga membalut lutut sampai ke tulang kering. Terakhir, tanah melingkupi dada dan pundak Panglima Segantang. 

Massa tanah lalu berubah menjadi batu granit berwarna hitam. Granit pada bagian dada dan bagian bahu. Sebagaimana diketahui, ini adalah harkat jurus kesaktian yang sedemikian tinggi dari jurus Gema Bumi, yaitu pakaian tempur berwujud wajah komodo!

“Hrargh!” teriak Panglima Segantang di saat melompat maju. 

Sebuah formasi segel dirapal ke arahnya, dan berupaya membelenggu tubuh. Namun, formasi segel tersebut tiada berguna di hadapan pakaian tempur komodo. Panglima Segantang merangsek maju seolah tak dapat dibendung. 

Taring Raja Lalim, yang telah mendapat aliran tenaga dalam dan kini berwarna jingga, menebas deras! Tebasan pertama Parang besar tersebut serta-merta mengoyak formasi segel! 

Si perapal segel terlihat terkesima, namun cukup tenang untuk memperbaiki formasi segel. Panglima Segantang tak henti-hentinya menebas membabi buta. Formasi segel pertahanan terkoyak, namun terjalin kembali. Upaya ini cukup menyita tenaga dalam dari sang perapal segel. 

Demikian, tujuan Panglima Segantang sederhana adanya. Ia berniat menghabiskan tenaga dalam si perapal segel. Semua yang berada di wilayah itu menyadari rencana ini. 

“Ia harus dihentikan…,” ujar si plontos dari dalam wilayah Segel Pertahanan. Lalu ia pun terlihat merapal jurus. 

“Wahai kekuatan siluman yang bersemayam di dalam diri… Bangkitlah! Bangkitlah dan beri aku kekuatan menaklukkan musuh!” 

Tetiba aura perkasa mencuat dari tubuh si remaja yang berkepala plontos itu. Aura tersebut berwana hijau dan membungkus tubuhnya. Kemudian aura tersebut perlahan membentuk wujud. Wujud tersebut terlihat seperti seekor… Babun Rambut Hutan!” 

“Peranakan siluman…,” gumam Kuau Kakimerah. 

Rupanya kemampuan inilah yang si kepala plontos simpan saat pertama kali berhadapan dengan Panglima Segantang. Menggenggam gada yang terbuat dari tumbuhan siluman Ulin Aswad, si kepala plontos pun melompat keluar dari dalam formasi segel pertahanan. 

“Duar!”

Bentrokan tak terhindarkan. Panglima Segantang menangkis gada yang diarahkan ke kepalanya. Gada besar lalu bergerak lincah menghantamkan pukulan-pukulan berkekuatan yang memaksa Panglima Segantang untuk mundur. 

Menyadari bahwa Panglima Segantang, yang telah mengenakan pakaian tempur komodo dan menggenggam Taring Raja Lalim dipaksa mundur, Aji Pamungkas dan Kuau Kakimerah tak tinggal diam. Panah-panah unsur angin melesat dan jalinan rotan mengikat. 

“Hya!” Lamalera menebas rotan dan menangkis anak-anak panah menggunakan Tempuling Malam. 

Tetiba, dari arah belakang, Bintang Tenggara merasakan hawa panas. Ia segera memutar tubuh, hanya untuk mendapati gumpalan uap panas menyembul dari balik pepohonan. Rupanya, kedua remaja dengan jurus kombinasi bukan berniat mendatangi Bentang Selatan dan menyerang Canting Emas. Setelah bergerak memutar, mereka kembali dengan niat mengepung lawan!

Regu dari Perguruan Gunung Agung terjepit! 

“Berpencar!” teriak Bintang Tenggara. 

Panglima Segantang dan Bintang Tenggara bergerak ke kanan, sedangkan Kuau Kakimerah bergerak ke kiri. Dengan berpencar, maka serangan uap panas akan kesulitan mencari sasaran yang tepat. Bukan hanya lambat, tapi gumpalan uap panas hanya bisa dikirimkan ke satu adalah. 

Lamalera dan lelaki berkepala plontos mengejar Panglima Segantang dan Bintang Tenggara. Mereka sepenuhnya menyadari bahwa ancaman terbesar datang dari dua ahli tersebut. Berbekal parang besar berwarna jingga, maka remaja bertubuh bongsor dan berambut cepat dapat mengoyak formasi Segel Pertahanan. Tindakan tersebut dapat membuka celah bagi Bintang Tenggara merangsek masuk. 

“Akh!” Tetiba salah seorang remaja yang merapal jurus kombinasi mengerang. Bahu kanannya tergores sebuah anak panah! 

Lamalera menoleh cepat dan mendapati Aji Pamungkas terus-menerus melepaskan tembakan-tembakan ke wilayah dalam barikade uap panas. Kesaktian unsur angin membelah uap panas dengan mudahnya. 

Perhatian Lamalera terpecah!

Di satu sisi, Bintang Tenggara dan Panglima Segantang tak akan mampu dihadapi oleh temannya yang berkepala plontos seorang diri. Walau membuka kemampuan peranakan siluman, tak mungkin ia menghadapi dua ahli sekaligus. Di saat yang sama, dua ekor binatang siluman milik si kepala plontos ditugaskan untuk melindungi perapal segel di dalam formasi Segel Pertahanan. 

Di sisi lain, dua remaja yang merapal jurus kombinasi uap panas, memang tak bisa bergerak bebas. Walau dapat menguasai wilayah dalam radius tertentu, mereka lemah terhadap serangan jarak jauh. Seorang pemanah jitu hanya menunggu waktu sebelum melumpuhkan mereka!

‘Berpencar’ dalam artian sesungguhnya adalah berpisah arah dan tidak berkumpul di satu tempat. Akan tetapi, ‘berpencar’ dalam skema strategi Bintang Tenggara tidak hanya sampai di situ. ‘Berpencar’ bagi regu dari Perguruan Gunung Agung, berarti memisahkan diri… sambil memilih menyerang musuh di saat yang bersamaan!

Keadaan berubah kacau. Lamalera tak punya banyak pilihan. Ia harus memilih antara mendukung si plontos atau membantu kedua perapal jurus kombinasi….

“Panggil binatang silumanmu!” sergah Lamalera kepada si kepala plontos

Perintah Lamalera tersebut segera dijawab dengan kedatangan Harimau Jumawa dan Babun Taring hutan dari dalam formasi Segel Pertahanan. Dengan bantuan dua binatang siluman itu, diharapkan si kepala plontos dapat bertahan sejenak dari gempuran lawan. 

Lamalera lalu bergerak ke arah si pemanah jitu. 

Aji Pamungkas terlihat melompat-lompat girang melepaskan anak-anak panah. Gaya memanahnya aneh-aneh. Ia memanah dari balik punggung, dari kolong selangkangan, sambil kayang, sambil berjingkrak. Akibat gerakan-gerakan lincah ini, si perapal segel kesulitan menyegel tubuh Aji Pamungkas. 

Kini, Aji Pamungkas menampilkan gerakan andalannya sebagaimana sering dipraktekkan dalam pertarungan, yaitu menarik dawai busur menggunakan gigi. 

Gerakan dan perilaku aneh-aneh tersebutlah yang membuat Lamalera enek. Ia harus melumpuhkan pemanah abnormal itu!

“Srek!”

Baru saja Lamalera mengejar, jalinan rotan tetiba menghalangi langkah kakinya. Gadis itu terlupa pada satu lagi anggota regu dari Perguruan Gunung Agung. Kuau Kakimerah telah menetapkan Lamalera sebagai lawan yang harus ditahan!


Catatan:

*) ‘Pintu Neraka’ pernah dibahas dalam Episode 123.


Pesan dari developer: 

Ada beberapa 'bug' saat versi terbaru ceritera.net di-upload. Saat ini sedang dibenahi. Mohon maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan.