Episode 154 - Suasana Memanas



Sepasang Kandik Agni digenggam erat di kedua belah tangan. Zirah Rakshasa melindungi dada sampai ke sekujur punggung. Cantik Emas tiba di Benteng Utara hampir bersamaan dengan Lamalera. Walau terpisah jarak, keduanya saling mewaspadai.

Canting Emas tiba-tiba membelalakkan mata. Sungguh kejadian yang bila didengar dari ahli lain, maka tiada akan ada Canting Emas percaya. Di depan kedua matanya, di dalam formasi Segel Pertahanan, Aji Pamungkas sedang mengerahkan Maha Jurus Beulut Darat, atau lebih tepatnya, Aji Pamungkas terlihat sedang bergumul erat dengan seorang remaja lelaki! 

“Apa yang kau lakukan!?” 

“Terpaksa!” ratap Aji Pamungkas. “Bila kulepaskan, maka ia akan menyegel tubuhku!” 

Aji Pamungkas melakukan kesalahan. Ia tadinya berpikir bahwa dengan membuka celah pada Segel Pertahanan lalu melompat masuk, maka dirinya akan dapat mengalahkan lawan dengan mudah. Akan tetapi, sesampainya di dalam, formasi segel yang dirapal lawan memiliki syarat bahwa siapa pun ahli Kasta Perunggu yang berhasil menembus dan masuk ke dalam wilayah Segel Pertahanan, maka akan sulit merapal unsur kesaktian. Dengan demikian, hal ini berarti sebuah Segel Pertahanan ganda, yang memiliki kemampuan bertahan dari serangan luar sekaligus membatasi siapa pun yang berhasil menyelinap ke dalamnya. 

Karena anak-anak panah dilesatkan tanpa unsur kesaktian angin mampu di atasi lawan menggunakan formasi segel lain, serangan Aji Pamungkas menjadi mentah. Oleh karena itu, ia terpaksa merapal jurus yang biasanya hanya akan dikerahkan terhadap lawan-lawan perempuan, khususnya gadis-gadis. Aji Pamungkas benar-benar terpaksa!

Lawan yang terbelit erat terlihat mengerang kesakitan. Namun, karena telah dihina-dina oleh Aji Pamungkas, sepertinya ia memiliki cukup keteguhan hati dan tak hendak mengalah. Walaupun sekujur tulang di tubuhnya dipatah-patahkan, maka selama masih sadar, tak akan ia menyerah. Ini adalah pertarungan daya tahan demi harga diri. 

“Bum!”

Terdengar ledakan di belakang. Bintang Tenggara dan Kuau Kakimerah tertinggal. Mereka tertahan dua Putra Perguruan Anantawikramottunggadewa. Andai saja Canting Emas gagal menyelinap dan melepaskan diri dari sergapan, maka Aji Pamungkas pasti dapat dengan mudahnya dibekuk dan menjadi tawanan lawan. Situasi kurang menguntungkan mendera regu dari Perguruan Gunung Agung.

Canting Emas dan Lamalera saling pandang!

“Aku hendak membuat penawaran kepadamu...,” ujar Canting Emas. “Rekanku akan melepaskan rekanmu. Ijinkan ia keluar dari dalam formasi segel itu, dan kami bersedia menarik diri untuk sementara waktu.”

“Heh!? Bersedia menarik diri? Mengapa kau merasa sedang berada di atas angin...?” tanggap Lamalera ringan. 

“Karena kau bukan lawanku, bukankah itu sudah jelas...?”

“Sesumbar sekali. Apakah karena mengenakan baju zirah kau merasa lebih unggul? Bukankah baju zirah itu hanya untuk menutupi kekuranganmu, hai Dada Rata...?” 

“Oh...? Tadinya aku juga hendak berbaik hati dengan meminjamkan sikat untuk merapikan rambut ijuk yang menempel di batok kepala kosongmu. Akan tetapi, sepertinya aku juga perlu membantu menyikat mulutmu yang kotor dan bau,” balas Canting Emas. 

Skor sementara 1-1. Canting Emas dan Lamalera sama tangguhnya. 

“Hm...? Sungguh aneh rasanya bertukar kata-kata dengan sebatang lidi... aku harus berhati-hati agar tak bersin, karena bisa-bisa tak sengaja mematahkan lidi tersebut...,” gelak Lamalera. 

“Maukah kau ikut denganku sebentar....? Di dekat Benteng Selatan, banyak sekali tahi sapi berserakan, sapu ijuk akan sangat bermanfaat bagi kami,” tanggap Canting Emas.

Aji Pamungkas dan remaja lelaki yang sedang ia peluk, kebingungan. Mereka sama sekali tak memahami makna dari pertukaran kata-kata yang sedang berlangsung. Sapu ijuk? Sapu lidi? Apakah...? 

Walaupun demikian, keduanya dapat dengan jelas merasakan perubahan suhu di wilayah Benteng Utara. Jelas dapat dirasakan, bahwa hanya dari pertukaran kata-kata saja, suasana sudah menjadi semakin memanas! 

...


Bintang Tenggara dan Kuau Kakimerah melompat mundur. Mereka sedang berhadapan dengan dua Putra Perguruan Anantawikramottunggadewa. Lawan kali ini tak mudah dihadapi karena menggunakan jurus kombinasi. Salah satu dari mereka memiliki kesaktian unsur api, sedangkan satunya lagi unsur air. Jurus yang mereka kerahkan secara bersama-sama menghasilkan unsur kesaktian baru, yaitu uap panas! 

Gumpalan uap panas bergerak perlahan, sedangkan jalinan rotan yang ditebar Kuau Kakimerah tiada dapat menahan. Uap panas dengan mudahnya merambat dan menembus di sela-sela rotan, kemudian terus mengincar. Rotan yang dilalui pun seketika mati, atau lebih tepatnya matang seolah dikukus. Demikian, rotan yang matang itu tak bisa dikendalikan lagi.

Bintang Tenggara tiada bisa mendekat karena uap panas mengelilingi kedua lawan. Jurus yang mereka kerahkan sesungguhnya sangatlah sederhana... Api memanaskan air, lalu uap panas membentuk semacam lingkaran barikade dalam radius lima meter dari posisi di mana kedua lawan berdiri. Sesuai kehendak mereka, gumpalan uap panas lalu menggumpal keluar dari barikade. Langkah ini sedikit memperlemah barikade itu sendiri, walau segera kembali normal karena uap panas terus-menerus dihasilkan. 

Sungguh jurus yang hampir sempurna dalam bertahan dan menyerang! 

Walhasil, Bintang Tenggara dan Kuau Kakimerah hanya menghindar. Setidaknya menghindar tidaklah terlalu sulit karena gerakan uap panas tergolong lambat. Pada akhirnya, mereka berpencar. Dengan berpisah arah, keduanya berharap dapat memecah konsentrasi lawan, sekaligus berupaya mencari celah!

Selain uap panas yang lambat, satu lagi kelemahan lawan adalah kedua perapal jurus tak banyak bergerak. Mereka hanya diam di tempat sambil membuat dan mengendalikan uap panas. Bilamana Canting Emas dan Aji Pamungkas telah kembali, maka Bintang Tenggara akan dengan suka hati meninggalkan kedua lawan ini. Dipastikan bahwa mereka tak akan mengejar karena memang bergerak gesit bukanlah kelebihan. 

Di saat yang sama, Bintang Tenggara mengandai-andai. Bilamana kedua ahli ini datang menyerang ke Benteng Selatan, maka regu dari Perguruan Gunung Agung pasti akan kewalahan. Bayangkan saja bila mereka mengelilingi Benteng Selatan dengan uap panas, lalu terus-menerus mengirimkan uap panas ke dalam benteng. Canting Emas mungkin dapat bertahan, namun yang lainnya mau tak mau terpaksa meninggalkan benteng. Akan mudah bagi mereka merampas bendera! 

Terlintas di dalam benak Bintang Tenggara, bahwa bila tak ingin menghadapi masalah besar dalam Pertarungan Benteng, maka kedua lawan ini haruslah dibungkam di tempat ini, saat ini juga!

Bintang Tenggara memberi kode kepada Kuau Kakimerah di kejauhan. Isinya adalah dirinya hendak mencoba menembus barikade uap panas. Ia berharap Kuau Kakimerah dapat memancing perhatian lawan, agar mereka menyerang dengan sebanyak mungkin uap panas, sehingga mempertipis barikade. Kuau Kakimerah mengerti. 

Demikian, Kuau Kakimerah merangsek maju. Jalinan rotan tumbuh tak terkendali dan bergerak mengibas. Gadis itu berharap jalinan rotan dapat berfungsi sebagai kipas yang meniup dan mengurai uap panas. 

Upaya Kuau Kakimerah ini, ditanggapi dengan gumpalan besar uap panas. Di saat yang sama, sesuai perkiraan, lingkaran barikade uap panas menipis. 

Tinju Super Sakti, Bentuk Pertama: Badak!

Bintang Tenggara berharap bahwa gelombang kejut yang tercipta akan dapat mengurai sisa-sisa barikade uap panas. Di saat kesempatan terbuka, nanti ia akan menyerang lawan satu per satu dengan cakar-cakar petir... 

Akan tetapi, di saat ia akan melepaskan jurus nan digdaya, tetiba barikade membuka diri, lalu merangsek dari kiri dan kanan... serta dari atas! 

Lawan telah memperhitungkan rencana naif Bintang Tenggara. Kini, adalah dirinya yang terancam bahaya. Gumpalan uap panas datang dari kedua sisi dan dari arah atas. Satu-satunya ruang gerak adalah mundur ke belakang! 

Bintang Tenggara menggeretakkan gigi. Tak akan ada lagi kesempatan baginya mendaratkan serangan. Selain mundur, sesungguhnya masih ada satu arah lagi yang terbuka... 

Silek Linsang Halimun, Bentuk Ketiga: Kata Berjawab, Gayung Bersambut!

Teleportasi jarak dekat melepaskan tubuh Bintang Tenggara dari ancaman kepungan uap panas. Ia merangsek maju! Seketika itu juga, dirinya tiba di depan… di dekat posisi dimana kedua lawan yang mengerahkan jurus kombinasi berdiri! 

“Bum!” Salah satu lawan mengerahkan jurus unsur kesaktian api untuk menghambat gerak.

“Srash!” Semprotan air mendorong tubuh Bintang Tenggara. Ia terpental mundur. 

Lawan yang terdesar mengubah jurus kombinasi menjadi jurus perorangan. Bintang Tenggara melupakan kemungkinan ini…

“Srek!” tetiba jalinan rotan membelit tubuh kedua lawan. Kuau Kakimerah berhasil mencuri serangan! 

Sejak awal, pertukaran kode di antara kedua murid dari Perguruan Gunung Agung adalah bagi Kuau Kakimerah yang melancarkan serangan penutup. Peran Bintang Tenggara justru yang menarik perhatian. Taktik tipuan bertingkat yang cukup matang untuk megelabui dan menjerat lawan!

“Swush!” Uap panas tetiba menyibak. Jalinan rotan yang membelit tubuh lawan matang seketika. Kuau Kakimerah tak lagi dapat mengendalikan rotan yang sudah mati, sehingga barikade uap panas kembali melingkari posisi lawan!

Pertarungan di antara kedua pasangan kembali ke titik awal. 


“Bagaimana matinya binatang-binatang besar. Dirumuskan oleh gambar kecil di gua-gua terpencil. Orang menatap antariksa, atap terang cakrawala. Menyaksikan konstelasi api dan sabuk kosmis tergantung.

“Sengat ini, sengat juru tenung kesepian. Sekian tahun terkurung asmara seekor duyung. Di teluk jauh yang tak henti dipeluk angin puyuh. Para pengayuh pernah menyangka sepasang matanya, adalah cermin kembar. Di mana yang bersih dan tak-bersih tersapih.

“Batu sulung batu berkantung. Di punggung gunung orang berkabung. Ada yang hilang dan terhalang. Dari rencana berburu dan bencana limbubu.” *

Panglima Segantang menyimpan secarik kertas, yang merupakan catatan puisi pemanggilan Dewi Anjani. Di permukaan tanah, tergeletak sebuah cembul yang sudah tanpa tutup. 

“Cembul Manik Astagina!” teriak Panglima Segantang lantang. 

Sebuah gerbang dimensi membuka di atas tanah. Dari balik gerbang dimensi, Sang dewi dengan tubuh menyeramkan merangkak keluar. Sulit sekali baginya bergiat, karena berbagai gagang senjata menghambat gerak. Pemandangan ini mirip seperti ketika hantu mengerikan merangkak keluar dari dalam sebuah sumur angker. Di saat malam menjelang seperti saat ini, andai saja lawan dapat menyaksikan, maka pastilah ia sudah lari tunggang-langgang. 

“Hoaahhmmm…” 

Dewi Anjani menguap sangat lebar. Lebar sekali. Mungkin waktu tidur cantiknya terganggu, namun ia tetap akan datang bilamana dipanggil. Ia sangat senang setiap kali memperoleh kesempatan meninggalkan gunung. Kini, ia sudah melayang, dengan sebilah parang hitam besar dan gagang golok yang berputar mengitari tubuhnya. 

“Taring Raja Lalim!” panggil Panglima Segantang. 

Aura panas tetiba merambat di udara. Hawa panas tersebut menciptakan kehendak untuk tunduk. Pemandangan yang mengemuka dari menyaksikan sebilah parang besar itu layaknya sedang berhadap-hadapan dengan seorang raja perkasa nan kejam, yang menuntut untuk bertekuk lutut. Perasaan sesak yang tercipta seolah memaksa untuk segera takluk!

Lawan menghentikan langkah. Ia terlihat ragu di saat menyaksikan parang besar yang ketika mendapat aliran tenaga dalam, berubah berwarna jingga dan menyala. Kegelapan jelang malam pun segera dirampok habis. Namun, mengingat dirinya berada pada Kasta Perunggu Tingkat 9, sedangkan Panglima Segantang baru berapa pada Kasta Perunggu Tingkat 8, lawan kembali melangkah maju.

“Hrarrgghhh!” 

Panglima Segantang, Harimau Bara dan Siamang Semenanjung serempak meraung. Mereka segera merangsek maju. Panglima Segantang bukanlah pribadi yang akan bersedia bertahan. Ia akan mengambil inisiatif menyerang. Jikalau dipikirkan matang-matang, maka meninggalkan Panglima Segantang sebagai penjaga benteng adalah sebuah kekeliruan. Kuau Kakimerah akan lebih sesuai, karena lebih sabar dan memiliki kemampuan bertahan terbaik di antara mereka berlima. 

Akan tetapi, bilamana Kuau Kakimerah yang ditinggal dengan tugas menjaga benteng, maka saat ini ia pasti akan sangat kesulitan dalam menghadapi si plontos dan dua ekor binatang siluman miliknya. Jadi, Canting Emas meski keliru menugaskan anggota regu, kali ini beruntung atas kesalahan tersebut. 

“Brak!” 

Harimau Bara berhadapan dengan Harimau Jumawa. Unsur kesaktian api berhadapan dengan angin. Kuku-kuku dan taring Harimau Bara menyala berwarna kuning. Namun, ia sedikit kesulitan menancapkan kuku dan taring ke tubuh lawan. 

Sebaliknya, berbekal kecepatan unsur angin, Harimau Jumawa terus-menerus menjaga jarak. Sepertinya, ia memang ditugaskan untuk mengalihkan perhatian lawan. Kebetulan sekali, andai saja Harimau Jumawa memaksakan diri menyerang, maka bisa fatal akibatnya. Walhasil, kedua harimau terlihat asyik bermain kejar-kejaran. 

Babun Taring Hutan terlihat kewalahan menghadapi Siamang Semenanjung. Bilah-bilah besi yang tersebunyi di balik jalinan rambut lebat di kedua lengan nan panjang, terbukti efektif. Sejak pertukaran pukulan pertama, Babun Taring Hutan sudah tak berdaya karena tak lagi berani beradu pukulan. Oleh karena itu, Siamang Semenanjung kembali melompat ke atas benteng dan menjaga bendera. 

Panglima Segantang menebas dari arah kanan atas, ke kiri bawah. Si kepala plontos menangkis dengan gada kayu besar yang berwarna hitam. Kemungkinan besar gada kayu ini terbuat dari unsur kayu paling keras di seantero Negeri Dua Samudera, yaitu batang tumbuhan siluman Ulin Aswad.** Diketahui bahwa kayu keras berwarna hitam ini berasal dari pohon yang hanya hidup di Pulau Belantara Pusat.

Meskipun demikian, permukaan gada kayu ulin yang digunakan menahan serangan Panglima Segantang terlihat hangus. Panas yang diciptakan oleh parang Taring Raja Lalim perlahan menggerogoti kayu yang dikenal karena ketahanan terhadap unsur api. Kayu Ulin Aswad yang diolah menjadi gada tersebut, kemungkinan masih muda adanya. Demikian parang berwarna jingga terus menggerogoti… 

Kuning, jingga, merah, biru, putih dan hitam… merupakan urutan tingkat panas di dalam skema kesaktian unsur api. Tanyakan saja pada Canting Emas, ia hafal di luar kepala urutan ini. Ahli dengan kesaktian unsur api yang berada pada Kasta Perunggu, biasanya hanya mampu mengeluarkan api berwarna kuning. 

Api berwarna jingga, merah dan biru dapat dikerahkan oleh ahli Kasta Perak. Kesaktian unsur inti dari ahli Kasta Emas, dapat menghasilkan inti api yang berwarna putih. Sedangkan, api paling panas dari segala api, dikatakan yang berwarna hitam. Namun, api hitam diketahui sebagai mitos di dunia persilatan dan keahlian. 

“Brak!” 

Panglima Segantang dengan mudahnya menyarangkan telapak kaki tepat ke dada si kepala plontos. Karena sedang menahan parang Taring Raja Lalim di atas kepala, dadanya terbuka lebar. Lawan itu terdorong mundur hampir sepuluh langkah! 

Si kepala plontos menatap tajam ke arah Panglima Segantang. Ia menimbang-nimbang. Tak diragukan lagi bahwa ia masih memiliki jurus simpanan. Meskipun demikian, lawan tersebut memanggil kedua binatang silumannya dan memutar tubuh. Ia memutuskan untuk menarik diri dari pertarungan ini. Cukup tenang, dan tak hendak terbawa emosi.  

Panglima Segantang hanya mengamati kepergian musuh. Betapa pun ia hendak melanjutkan pertarungan karena menyadari bahwa lawan belum bertarung sepenuh hati, tugas yang ia emban adalah bertahan. Walhasil, Panglima Segantang pun kembali ke pos penjagaannya di atas benteng.  



Catatan:

*) Kutipan puisi-puisi karya Kiki Sulistyo.

**) aswad/as·wad/ Ar n hitam