Episode 32 - Asrama Pagi VS Asrama Malam



Asrama siang berhasil memenangkan pertandingan jalur menara. Sebuah prestasi yang membanggakan, terutama bagi Ruhai dan Arya, sebab merekalah dua orang yang mati-matian meraih kemenangan tim.

Semenjak pertarungan melawan Samael, Ruhai benar-benar sadar di mana batas kemampuannya. Ada celah besar yang menganga lebar, siap menelan dirinya kapan pun jika bertindak di luar batas. 

Meski berhasil mendominasi pertarungan, nyatanya Ruhai belum mahir betul mengendalikan lucidity miliknya. Seperti kala itu—saat Gergasi Petir muncul dan membantai Samael—ia kehabisan tenaga hingga akhirnya pingsan.

“Sudah baikan?” Arya berdiri di ambang pintu, menyaksikan rekannya terbaring lemah.

“Ya, sedikit.” Ruhai tersenyum.

“Aku tidak tahu apa yang terjadi di garis belakang, tapi sepertinya ada pertarungan besar. Saat aku kembali untuk memeriksa keadaan, cukup kaget mendapati kalian terkapar dan pilarnya agak retak,” tutur Arya sembari duduk di sisi kasur. “Tapi kita menang. Sekarang, hanya perlu menunggu untuk lawan berikutnya.

“Siapa menurutmu?” Ruhai merespons. “Asrama malam atau pagi?” Ia tampak antusias.

“Malam, kurasa. Ada Sarasvati di sana.” Jemari Arya sibuk memilin bibirnya, isyarat berpikir. “Selain itu, anak didik Frog juga ada di sana. Dia terlihat tangguh.”

“Ada didik Frog?” Saking penasarannya, Ruhai sampai bangkit dari tempat tidur. “Bukankah Frog itu duta Pandora nomor dua? Kalau begitu, pemenangnya sudah ditentukan.”

“Ya, setidaknya kita sudah tahu akan menghadapi siapa di final nanti. Musuh yang kuat, takkan ada ampun.”

Jalur menara memang ajang yang menarik. Selain mengutamakan strategi, pertandingan tersebut juga memaksa para lucid dreamer untuk bekerja sama. Tidak ada perseteruan sesama tim, dan tidak boleh ada belas kasihan terhadap tim lawan.

Sebagai orang yang sukses meruntuhkan pilar musuh, Arya tahu betul bagaimana atmosfer di tengah arena. Kesuramannya, ketegangannya, adrenalin yang meningkat, ia takkan mampu melupakan hal-hal itu. Terlebih, perasaan terancam ketika sebilah pedang tertempel di leher.

Si orang gila dari neraka, siapakah dia sebenarnya? Satu-satunya orang yang lolos dari kewaspadaan Ruhai, mengawasi pertarungan dari kegelapan. Kala memikirkannya, Arya sampai bergidik ngeri. Kendati sangat ingin membagikan kisah tersebut, ia tahu saat ini bukanlah waktu yag tepat. Apalagi, ada sebuah perjanjian yang mereka berdua telanjur sepakati.


~~Para Pengendali Mimpi~~


“Jalur Menara adalah pertandingan yang menarik. Ada intrik, konflik, dan kemelut di dalamnya. Inilah mengapa aku suka saat tim-tim itu saling diadu.” Frog bertengger di atas kursi putar, menyaksikan pertandingan anak didiknya dari layar besar.

“Anak didikmu cukup mendominasi, terutama skill-nya itu. Reflect Eyes, bukan?” Orang yang duduk di kursi samping menimpali. Dia Crow, bersedekap sambil mengamati jalannya pertandingan lamat-lamat. “Anak didikku baru saja dikalahkan.”

“Si pemilik Gloom Eye? Wajar sih, menurutku. Si anak didik duta Pandora ilegal itu bukan lucid dreamer sembarangan. Sama seperti Sarasvati, lucidity-nya sangat besar.” Frog terkikik geli. “Lagi pula, skill anak didikmu itu konyol. Untuk apa melumpuhkan sendi musuh bila yang berbahaya adalah lucidity-nya?”

“Harus kuakui kau benar. Namun, mata itu bukan hanya melumpuhkan sendi. Tiap kali sukses menumbangkan lawan, maka sepuluh persen lucidity musuh akan berpindah ke tubuhnya.”

“Menarik juga.”

Perbincang berakhir, keduanya kembali fokus pada tempo pertandingan yang kian meningkat. Di sana, Red tampak selesai menghabisi satu anggota asrama pagi tanpa kendala. Musuhnya terkapar tak berdaya, sementara dua anggota asrama malam bergegas merangsek ke garis pertahanan lawan. 

Selain punya kemampuan hebat, para punggawa asrama malam juga punya ahli strategi yang cerdas. Dia salah satu anak didik duta Pandora—Octopus—peringkat ketiga. Terdengar cukup meyakinkan, sehingga dirinya sangat diandalkan tim.

“Ada musuh yang mendekat dari arah barat!” serunya sambil duduk bersila di samping pilar putih.

Sarasvati yang ditugasi sebagai pelindung pilar segera menyiagakan diri. Bertindak ofensif, asrama malam hanya meninggalkan dua orang di garis belakang. Namun, merekalah yang kemampuannya patut diwaspadai.

Puluhan tombak memelesat dari kegelapan hutan, beriringan menuju Sarasvati. Itu sebuah kesalahan besar, jika ia mengira akan menang dengan cepat. Sebab, tak sampai sedetik, tombak-tombak besi tersebut sudah dalam kendali Si gadis India. 

ZRASH!

Meluncur begitu cepat, meski tidak tahu posisi yang tepat, hasilnya akan tetap sama saat puluhan tombak berbalik arah dan menghujani seisi hutan. Pohon-pohon berderak, sesemakan berguncang, semuanya menggila akibat daya telekinesis yang kelewat besar.

“Eh!” Sang ahli strategi tercengang. “Dia berpindah tem—”

“Gwahaha … ternyata kalian sangat ceroboh.” Dengan tangan kekar dan tubuh besarnya, lelaki itu mencekik leher Sang pengatur strategi asrama malam. “Kau bahkan tidak sadar kalau tombak-tombak itu cuma pengalih perhatian.” Ia menatap Sarasvati, terkesan mengejek.

Enggan menggubris, segenap tombak yang tadinya berhamburan seketika terangkat ke angkasa, berputar-putar di atas Sarasvati. Sekali ayunan tangan, semuanya langsung memelesat ke arah target. Seakan menebaknya, Si lelaki besar dengan sigap menghentak kaki, sehingga dinding batu setinggi dua meter menjulang mantap.

TING! TING!

Sebagian tombak berguguran tatkala menghantam dinding tersebut, sebagian lagi menancap begitu kuatnya. Namun, tiada satu pun yahg sukses melesak masuk. Kali ini kondisi tampak aman-aman saja bagi punggawa asrama pagi yang satu itu.

“Le-lepaskan aku!” Sang pengatur strategi coba berontak, tetapi segera diam sesaat cekikan musuhnya kian erat.

“Cih! Kau kira aku tidak tahu seberapa kuat dirimu, Sarasvati?” ujarnya sok hebat. “Namaku Roland, Sang pengendali benda padat. Kuharap kau mengingatnya sebagai satu-satunya orang yang berhasil mengalahkanmu. Gwahaha ….”

Mata Sarasvati terpejam, tetapi kedua lengannya bergerak lincah. Sedikit demi sedikit berusaha menerobos mode pertahanan lawan. Karena daya telekinesis yang amat besar, gadis itu mampu mengendalikan bernda terkecil sekali pun, termasuk kerikil bekas perisai milik Roland.

SYUTT!

Bagaikan timah panas, kerikil-kerikil tersebut beterbangan ke atas, melintasi kepala Sang musuh, hingga tiba-tiba menukik tajam.

“Sial!” Roland mendecak, serta-merta mengangkut dinding baru dari dalam tanah. Perisainya lebih tinggi, sekitar tiga meter, dan meliuk sehingga sukses melindungi sisi atas. “Bagaimana caramu mengatasinya, Sarasvati?”

Dinding di depan Roland seketika beredebuk, sungguh keras. Dia enggan mengintip, sebab khawatir bila yang tengah menyerang di depan sana terlalu kuat. Alih-alih menuntaskan rasa penasarannya, lelaki besar itu lebih memilih membentuk sepasang tinju besi yang membungkus kesepuluh jemarinya.

“Diam di sini!” Borgol batu membelenggu kaki Si pengatur strategi, memberikan Roland waktu untuk bersiap akan pertarungan besar. “Aku akan menang!”

Berbekal tekad sekuat baja, ia melompat ke sisi kiri, berusaha menghindari benda yang acap kali menghantam dinding batunya. Ternyata benar, serangan berasal dari Sarasvati. Gadis itu mengangkat sejumlah pohon cemara dan melentingkanya ke dinding milik Roland.

“Sial! Nekat juga kau, ya.” Secepat kilat, Roland berlari menuju musuhnya. Kedua tinju berbalut besi itu sudah siap menggebuk siapa pun. “RASAKAN INI!” Ia melompat seraya mengayunkan kepalan kiri.

“Ganesha!” Sejurus ucapan Sarasvati, Sang gajah bergada pun muncul untuk menghalau kepalan kiri Roland. Dentang nyaring merebak. Embusan angin sukses menyeret Roland ke belakang.

“Masih belum!” Lelaki itu berseru, lalu kembali mengulangi aksinya. 

Adu tenaga tak terelakkan. Desau angin menerpa seisi arena manakala tinju Roland dan gada emas Ganesha beradu. Keduanya tiada mau mengalah. Bahkan, Roland sempat membentuk sejumlah tombak besi baru guna menghujam musuhnya. Namun, berkat kecepatannya, Ganesha masih bisa berkelit.

“KURANG AJAR!”

Tinjunya datang bertubi-tubi, bersikeras menerobos kerasnya gada Ganesha. Roland melompat, mengerahkan kepalan kiri dari sisi berbeda, tepat arah jam dua belas. Sang gajah putih sadar, lekas-lekas beralih ke depan sembari menunggu musuhnya berada di jarak yang mumpuni untuk dibantai. 

Entah bagaimana caranya, Roland tiba-tiba tertarik ke belakang, tepatnya ke sisi buta Ganesha. Tinju kirinya sudah kelewat siap menghantam, dan akhirnya berayun sepenuh tenaga.

“Mati kau, Keparat!”

BRAK!

Berhasil! Ganesha terpental ke depan sesaat tinju Roland menubruk punggungnya. Lelaki itu menarik napas sejenak, sebelum datang bersama tinju kanan yang lebih kuat. Tatkala Sarasvati mengerahkan sebatang pohon untuk menghambat pergerakannya, tahu-tahu Roland sudah sampai di depan Ganesha dan sekali lagi memberikan tinju paling sakit sepanjang pertandingan. Buktinya, guardian itu sampai terlempar jauh ke dalam hutan.

“Percuma saja,” ujarnya menyeringai. “Gwahaha … akulah kelemahanmu, Sarasvati!”

Roland kuat, cepat, dan sigap. Telekinesis Sarasvati memang hebat, tetapi belum sanggup membendung lawannya yang bergerak bak mesin pembunuh. Apakah ini akan jadi akhir bagi lucid dreamer terkuat di asrama malam? Tak ada yang tahu, sampai pilar di antara kedua tim ada yang ambruk.

“MATILAH!” Roland kembali melucur, berbekal tinju kanan berbalut besi.

Sarasvati bersiap, sebisa mungkin membawa bebatuan besar demi mempertahan diri. Namun, kerasnya tinju Roland mampu memecahkan batu-batu tersebut menjadi bongkahan kecil. Alhasil, ia terus meluncur, tidak peduli pada lima tombak yang kini melaju ke arahnya.

“Ganesha!” Sarasvati melaung.

Belum sempat buku-buku jemari Roland menyentuh targetnya, gajah putih itu langsung terbang dan menghadangnya dari depan bersama gada emas. Lagi-lagi, adu kekuatan tercipta. Kali ini lebih dahsyat, sampai-sampai Sarasvati mengambil langkah mundur.

Tanpa ampun, Roland melimpahkan seluruh tenaganya ke kedua tangan yang tiada berhenti menoyor gada Ganesha. Hingga, secara tak terduga, benda keemasan itu bergemertak. Sungguh mengerikan! Kekuatan Roland berkali-kali lipat lebih seram daripada penampilannya.

“Mundur!” Seruan Sarasvati berbalas anggukan dari guardian-nya. Meski berat, Ganesha memilih lenyap dari pandangan. 

“Sekarang apa rencanamu, Sarasvati?” Roland mendelik kejam. “Akulah tombak terkuat asrama pagi.”

Meluapkan segala penghinaan yang dipendamnya, Sarasvati mengulurkan tangan kirinya. Raut gadis India itu masih sama tenangnya, tetapi badannya bergetar membendung emosi. Roland yakin tidak lama lagi akan terjadi dual besar-besaran. Seisi arena akan berguncang, pikirnya.

“Bersiaplah.” Cukup aneh mendengarnya, saat Sarasvati berucap setenang itu. Yang jelas, tangan kirinya dalam posisi siap menjentik.

Melihat ancang-ancang demikian, Roland sontak terbahak. Menurutnya, Sarasvati telah kehabisan upaya melawan, sehingga nekat melakukan pose terlampau konyol. Saking gelinya, ia lupa kalau keadaan bisa berbalik kapan pun, tergantung kecerdikan kedua belah pihak.

Suaranya tak terdengar jelas, tetapi desaunya sanggup membabat deret pohon cemara, dan tentunya membawa Roland terbang puluhan meter ke belakang. Tanah berhamburan, begitu pun dinding batu yang membelenggu Si pengatur strategi.

Seolah tanpa batas, jentikan Sarasvati menyebakan angin ribut yang berdesau-desau ke seluruh penjuru. Di sisi lain, Roland masih berusaha bebas dari dorongan yang membuatnya membentur sejumlah pohon cemara.

“Sialan!” umpatnya. “Tordo, bantu aku!” Sedetik berlalu, tubuh Roland lantas tersedot ke dalam portal gelap.

ZRINGG~

Ia muncul tepat di belakang Sarasvati, bersiap memberikan tinju terkuat. Si pengatur strategi yang sadar segera meneriaki rekannya, tetapi cukup lamban dibandingkan gerakan Roland. Sarasvati menoleh seiring tinju besi yang kian mendekatinya.

“MATILAH!”