Episode 7 - Paus Surai Naga


Teriakan baleo masih terdengar.

Hampir seluruh anggota dusun berdiri di pesisir pantai. Tua dan muda bersaf menghadap laut. Bagi ibu-ibu dengan anak kecil, mereka hanya melongo dari pintu atau jendela gubuk, tidak berani membawa anak kecil keluar dalam kondisi cuaca berangin seperti ini. Yang pasti, semua orang menunjukkan wajah cemas. Cemas apakah malam ini akan menikmati hidangan paus. Cemas apakah para anggota keluarga akan kembali dengan selamat seusai perburuan.

Jarak pandang mata sangat pendek. Angin yang bertiup mengangkat bulir-bulir air, yang lalu terburai saling berbenturan. Sekira 300 m dari pesisir pantai, samar-samar terlihat bayangan hitam. Kadang ada dan kadang tiada. Sesekali bayangan hitam tersebut menghembuskan air tegak lurus tinggi ke atas. Hembusan air ini lalu pecah disapu angin. Semakin memburamkan pandangan.

Kesimpulan semua orang langsung jatuh kepada Paus Surai Naga. Pertama, gerakan paus yang lambat namun mengalir, timbul dan tenggelam bak naga yang sedang bermain di gumpalan awan di atas langit. Hanya Paus Surai Naga yang bergerak seperti itu.

Kedua, hembusan air yang tegak lurus setinggi mencapai 10 m. Paus lain yang berlabuh di kawasan ini adalah Paus Sperma Hitam, semburannya tidaklah tegak lurus, namun diagonal ke arah depan. Hanya Paus Surai Naga yang memiliki semburan seperti itu.

Ketiga... Tidak perlu alasan ketiga. Dua saja sudah cukup untuk membangun kesimpulan tentang Paus Surai Naga.  

Bintang tiba di pesisir pantai. Pandangannya tak lepas dari sosok paus. Lalu sudut kedua matanya menangkap gerakan peledang. Tidak kurang dari 8 peledang bergerak dari dua sisi menuju ke arah paus. Kedelapan peledang tersebut milik tiga dusun lain di Pulau Paus.

Matahari mulai menjauh semakin ke barat. Awan tipis turut menyembunyikan keberadaannya. Hari sebenarnya masih petang, tapi beberapa orang warga mulai menyalakan obor. Mereka mengantisipasi kehadiran malam.

Pandangan mata Bintang lalu mengarah ke tempat Dusun Peledang Paus menambatkan peledang. Hanya ada satu peledang yang bergerak lambat menuju lokasi paus. Dahulu, Dusun Peledang Paus terkenal akan kecepatan peledang mereka. Bak kilat, menjadi yang terdahulu mendekati paus, memungkinkan para lamafa Dusun Peledang Paus menjadi yang pertama menghujamkan tempuling. Kini, peledang tersebut lebih mirip seorang bayi yang baru hendak belajar merangkak.

Di haluan peledang Kepala Dusun berdiri mengikuti irama gelombang laut. Angin menyibakkan rambut ikalnya yang memutih. Matanyanya menyipit, agar pandangan semakin fokus dan tak terganggu oleh deru angin dan desir air. Tangan kanannya memegang tempuling dengan tegar, setegar hatinya yang mengisyaratkan bahwa kalau ia harus menukar nyawa agar penduduk dusun memperoleh penghidupan yang lebih baik, maka serta-merta akan ia serahkan nyawa itu.

Para matros di belakangnya mendayung semakin cepat. Lamudi, yang mungkin berumur setua Kepala Desa, duduk di buritan peledang meneriakkan aba-aba sambil mengarahkan kendali peledang. Suaranya parau. Pada awalnya gerakan matros kaku, koordinasi mereka lemah, dan perasaan mereka ragu. Namun, setelah beberapa kayuhan, suara lamudi semakin gempar, semangat para matros menggebu dan gerakan pun semakin laju.

Belum satu pun peledang yang mencapai paus. Angin yang bertiup berhasil menghambat laju peledang. Entah apa perasaan mereka yang sedang berada di laut sana. Di pesisir pantai, penduduk dusun semakin gelisah. Tak sabar menantikan tikaman demi tikaman yang akan melemaskan paus.

Kembali sudut mata Bintang, yang saat ini berdiri di atas salah satu batu karang, menangkap sekelebat bayangan di arah kanan. Bentuk tubuh dan gaya berjalan bayangan tersebut sangat ia kenal. Seorang anak perempuan berusia 13 tahun dengan langkah kaki panjang-panjang, berjalan bergegas. Lamalera, gumamnya dalam hati.

Lamalera melangkah menuju lokasi peledang ditambat, di sisi kanan pantai.

“Jangan berpikir yang bukan-bukan,” seru Bintang.

Tanpa menoleh Lamalera menjawab, “Tambatan peledang ayahku sepertinya kurang kencang.... Aku bukan orang gila yang mau nekat ikut perburuan!” kemudian ia mulai berlari kecil.

Tentu Bintang tidak meragukan ucapan Lamalera. Mereka sudah lama saling mengenal dan terlebih lagi sering bermain bersama, sehingga ia paham betul bahwa anak gadis tersebut bukan seorang yang gegabah. Namun, ada perasaan tak enak yang mengganjal di ulu hati. Maka, Bintang terus mengamati Lamalera, tak lagi menyaksikan peledang-peledang yang semakin mendekati Paus Surai Naga.

Ayah Lamalera merupakan salah satu matros yang saat ini bertugas mengantarkan Kepala Dusun menuju buruan mereka. Sehari-hari ia adalah ala tiua, mengolah laut, nelayan. Peledang berukuran sedang yang sering Lamalera mainkan tanpa sepengetahuan ayahnya adalah aset penting keluarga. Ia perlu memastikan peledang tersebut tidak hanyut dibawa ombak saat angin sedang kencang seperti saat ini.

Jarak antara batu tempat Bintang berdiri dan peledang terpisah sekitar 200 m. Bintang terus memandangi Lamalera dari kejauhan. Perasaan tak nyaman masih menyelimuti dirinya. Meski jarak pandang terbatas, setidaknya ia masih dapat melihat dengan jelas gerak-gerik Lamalera.

Peledang ayah Lamalera ditambat berdampingan dengan dua peledang lain. Ketiga peledang tersebut saling berhantaman karena guncangan ombak. Lamalera mencari-cari tali yang menambat peledang ayahnya, lalu berupaya menarik tali tambat tersebut agar peledang ayahnya menjauh dari dua peledang lain. Namun, kekuatan tarikan tangannya tidak memadai. Ia lalu menyentak tali tambat peledang.

"Cetas!" Tidak terduga tali tambat putus dan Lamalera terpental beberapa langkah ke belakang, sebelum terjerembat dan terduduk di pasir.

Pada saat yang sama, penduduk berteriak riuh. Lamafa dari dusun sebelah melompat dan menyarangkan tikaman pertama. Reflek Bintang menoleh ke arah Paus Surai Naga. Lalu, ia kembali melihat Lamalera yang sudah bangun dan berlari ke arah peledang. Karena putusnya tali tambatan, peledang sudah mulai terhuyung dibawa ombak menjauh sekitar 3-4 meter dari pantai.

Setengah tubuh Lamalera kini berada di dalam air. Ia menggapai peledang dan segera merangsek naik.

“Lera! Berhenti!” teriak Bintang sambil melompat dan berjalan cepat menuju arah Lamalera.

Di tengah deru angin dan desir ombak, mana mungkin Lamalera mendengar teriakan Bintang. Kini ia sudah berada di atas peledang, yang sudah berjarak sekitar 5 m dari pantai. Meski angin bertiup cukup deras, ia yakin bahwa membawa kembali aset keluarga tersebut kembali ke pantai adalah perkara mudah.

Lamalera pun meraih dayung dan hendak segera mengayuh kembali ke pantai. Saat upaya meraih itulah, dan karena terburu-buru, dayung menghantam tiang layar peledang. Tak semua peledang memakai layar, namun peledang ayahnya memiliki tiang dan layar, yang tentu saja bertujuan untuk menghemat tenaga bila ayahnya harus melaut sendiri. Maklum, keluarga Lamalera terdiri dari ayah dan ibunya, kakek dan nenek dari ibu yang sudah tua renta, dan adik perempuannya yang baru bisa berjalan. Selama ini, seringkali ayahnya melaut sendiri. Lamalera belum diperbolehkan turut.

Di atas tiang layar, adalah gulungan layar. Dilihat dari sudut pandang Bintang yang sedang berlari mengejar, peledang tersebut seperti memiliki huruf kapital ‘T’ di atasnya. Sisi atas huruf ‘T’ itulah letak gulungan layar yang di dalamnya terdapat sebilah kayu melintang. Jadi, secara tak sengaja, Lamalera melepas tali layar dan menjatuhkan gulungan layar...

“Brak!” kayu gulungan layar jatuh menghantam tepat di kepala Lamalera. Ia pun terhuyung terjerembab di dalam peledang.

“Lera!” teriak Bintang. Teriakannya kalah nyaring dengan sorak-sorai dan tepuk tangan penduduk yang sedang menyaksikan semakin banyak lamafa yang menikamkan tempuling mereka ke arah Paus Surai Naga.

Bintang berlari secepat mungkin. Butiran-butiran pasir melayang setiap kali jemari kakinya melesat dari atas pasir. Ia melepas tambat salah satu peledang di pesisir pantai dan mulai mendayung mengejar peledang Lamalera.

Akibat layar yang kini terkembang, peledang Lamalera melaju dibawa angin semakin menjauh ke arah laut. Sedangkan Lamalera masih terkulai, tak sadarkan diri.

Sambil mendayung Bintang terus berteriak, berharap Lamalera segera sadar. Dengan mengerahkan segenap tenaga, peledang yang ia dayung mulai menyusul meski mereka masih terpisahkan oleh laut sejarak belasan meter. Kekuatan tangan Bintang memang di atas anak seusianya, bahkan mungkin di atas rata-rata orang dewasa. Kebiasaannya berlari membawa beban bambu berisi tanah liat setiap hari dan pengaturan napas yang baik menghasilkan tenaga yang cukup kuat.

Sampai di sini sejumlah penduduk mulai menyadari apa yang terjadi. Tak lagi menghiraukan perburuan paus yang sedang berlangsung, beberapa orang berlarian menuju peledang yang masih ditambatkan.

Jarak antara peledang Bintang dan Lamalera tinggal kurang dari 10 m lagi. Namun perasaan tak enak masih menghantuinya. Tiba-tiba matanya menangkap bayangan hitam dan semburan air tegak lurus tinggi ke atas. Segera Bintang menoleh ke arah Paus Surai Naga yang sedang diburu, kemudian ke arah peledang Lamalera dan kembali ke arah bayangan tersebut.

“Ada dua paus...” gumamnya. Paus kedua dengan cepat menuju paus pertama yang sedang diburu. Tepat di antara paus pertama dan kedua, peledang Lamalera kini mengapung pelan. Dengan kecepatan paus kedua, peledang tersebut akan segera kena hantaman paus kedua.

Seketika itu juga Bintang merangsek ke haluan peledang yang sedang ia naiki, lalu melontarkan diri ke arah peledang Lamalera yang saat itu berjarak sekitar 5-6 m. Saat mendarat di buritan peledang, seraya menekuk lutut guna meredam hentakan pendaratan, ia menggulingkan tubuhnya satu kali ke depan dan kini berada persis ke samping Lamalera yang sedang terkujur pingsan.

Tanpa pikir panjang, diraihnya pinggang Lamalera, ia angkat, lalu ia letakkan tubuh tersebut di pundaknya. Lamalera sudah mulai siuman. Dengan tubuh Lamalera di pundak kanannya, Bintang kemudian berlari ke posisi ia mendarat tadi, lalu kembali melompat ke arah peledang yang ia tumpangi sebelumnya.

“Brak!” peledang Lamalera hancur seketika!

Karena membawa beban, lompatan Bintang kurang jauh adanya. Bila mereka jatuh ke laut, maka sapuan sirip atau ekor Paus Surai Naga dengan kecepatan tinggi dapat membunuh mereka seketika itu juga.

Saat di udara, tangan kanan Bintang yang tadinya merangkul pinggang Lamalera kini berpindah ke posisi tulang panggul, lalu dibantu tangan kiri, mendorong Lamalera ke peledang satunya.

“Bintang!” teriak Lamalera sesaat sebelum mendarat di peledang. Matanya menatap tubuh Bintang yang jatuh ke laut. Lalu disapu oleh ekor Paus Surai Naga yang terus merangsek maju tanpa hambatan.



Catatan:

Terima kasih kepada para pembaca budiman. Jika menikmati ceritera ini, sudi kiranya pembaca meninggalkan sepatah dua kata pada kolom komentar di bawah. Alangkah senangnya hati pengarang bila ada kritik dan saran, yang akan membuat semakin bersemangat menulis. 

Salam,

Pendekar Bayang