Episode 11 - Mantra Pemindah Arwah



Langit emas, baru pertama kalinya aku melihat langit berkilau keemasan seperti ini. Matahari yang masih malu-malu menampakkan diri membiarkan sinarnya melukis awan-awan berwarna emas, membentang hingga ke ujung cakrawala. Mataku tak lepas memandangi keindahan yang disuguhkan langit pagi hari ini dari balik kaca jendela bus yang kutumpangi. 

Karena aku tinggal di wilayah Jakarta Selatan, maka perjalanan menuju apartemen Grand Royal di Jakarta Barat memakan waktu cukup lama. Apalagi hari ini adalah hari kerja, kemacetan kota Jakarta tidak perlu di tanya lagi. Karena itu aku berangkat sejak pagi-pagi sekali. Untungnya orang tuaku tidak mempertanyakan kenapa aku berangkat lebih pagi dari biasanya. 

Meskipun mataku tak lepas memandangi keindahan langit berwarna emas, namun pikiranku sama sekali tidak ikut menikmati keindahan tersebut. Aku sibuk merefleksikan betapa luar biasanya kehidupanku selama dua bulan terakhir ini. Semenjak tertimpa nasib sial harus menjadi korban penculikan Sadewo lalu menjadi buruan Sarwo dan komplotannya, dan sekarang didalam tubuhku bersemayam tenaga terkutuk yang mengancam hidupku. Dosa apa yang kulakukan sampai bernasib seperti ini?

Aku menghela nafas pelan sambil terus menatap kosong keluar jendela, pada langit yang mulai hilang warna keemasannya. 

Hampir dua jam kemudian aku sampai di apartemen Grand Royal. Jujur saja, ini pertama kalinya aku datang ke apartemen. Aku cukup terkejut melihat betapa megahnya apartemen yang dimaksud oleh Kinasih. Seperti anak hilang, aku berjalan kesana kemari dan bertanya-tanya dimana adanya tower C. 

Sesampainya di lobi Tower C, ternyata Kinasih telah menungguku disana. Tanpa banyak bicara, dia langsung membawaku menuju unit apartemennya. “Aku baru saja akan pergi, kukira kau tidak akan datang,” gumam Kinasih sambil berjalan cepat di depanku. Saat kulirik jam tanganku, waktu baru menunjukkan pukul 08.34 pagi. Aku langsung menebak Kinasih bukan tipe perempuan yang suka menunggu.

Untungnya Kinasih belum pergi, karena baru kusadari betapa ketatnya pengamanan di apartemen ini. Untuk menggunakan lift, kami harus menggunakan kartu khusus yang hanya bisa mengantarkan kami ke lantai tempat Kinasih tinggal saja. Selain itu, untuk masuk ke dalam unit apartemen, Kinasih harus menggunakan finger print. Dan tentu saja petugas keamanan di lobi juga mencatat kedatanganku terlebih dahulu. 

Rapi dan bersih, itu kesan pertama yang kurasakan ketika memasuki unit apartemen Kinasih. Dan baru kusadari tak ada seorangpun selain kami berdua di tempat itu. 

“Silahkan duduk,” ujar Kinasih sambil menunjuk ke arah sofa.

“Terima kasih.” 

Aku segera duduk di sofa tersebut, kemudian diam menunggu instruksi Kinasih selanjutnya. Kulihat dia duduk membelakangiku di depan meja komputer yang letaknya agak jauh dariku, pandangannya sama sekali tidak lepas dari layar monitor dan tangan kanannya asik menggeser mouse sambil tangan kirinya sesekali mengetik sesuatu. Aku mencuri pandang ke layar komputernya, kulihat dia seperti sedang mem-browsing sesuatu.  

“Kau ingat waktu kita pertama kali bertemu di persembunyian bawah tanah Sekte Pulau Arwah?” Tiba-tiba dia mengajukan pertanyaan pertamanya. 

“Ya, aku ingat. Waktu itu aku sedang bersandar di tembok, lalu kau datang dan bertanya sebentar padaku…” Sontak aku menjawab pertanyaannya. Namun aku sedikit bingung dengan pertanyaan tersebut, kenapa dia bertanya mengenai pertemuan pertama kami? 

“Sebelum bertemu denganku, apa yang terjadi di dalam sana?” Pertanyaan Kinasih selanjutnya segera membuatku paham arah pembicaraan kami. 

“Waktu itu… Sadewo sempat menusuk jantungku.”

“Menusuk jantungmu?” Kinasih menghentikan aktifitasnya di depan komputer, dia memutar tubuh bagian atasnya ke arahku dan menatapku dengan kening berkerut. 

“Ya.” 

“Lalu apa yang terjadi?”

“Aku… sepertinya aku meninggal… Tapi, sebelum itu, Sadewo menyedot seluruh darah yang ada di dalam tubuhku.” 

Kinasih berhenti menanyaiku, kerutannya semakin tebal. Hingga beberapa lama aku menunggu, namun Kinasih sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun. Tak lama kemudian dia berdiri dan berjalan mendekatiku. Lalu duduk di sofa yang ada di hadapanku. 

“Lalu, bagaimana kau bisa hidup kembali?”

“Entahlah, tapi sewaktu aku meninggal, aku mengalami mimpi aneh. Seakan aku berada di dunia yang terbuat dari darah, lalu disana ada iblis raksasa yang menyiksaku terus menerus. Mungkin karena tidak tahan dengan siksaan tersebut, aku hidup kembali….” 

Entah kenapa, aku merasa konyol menceritakan kisah yang tak masuk akal ini. Tapi, memang seperti itulah kejadian yang kutahu. Anehnya, Kinasih sama sekali tidak menganggap ceritaku sebagai lelucon konyol. Bahkan dia mendengarkan seluruh kata-kataku dengan sangat serius, kepalanya sedikit menunduk seakan mencoba mencerna ceritaku barusan. 

“Aku pernah mendengar, dulu sekali, karena sengitnya pertikaian di dunia persilatan, banyak perguruan dan kelompok-kelompok persilatan yang musnah tak bersisa tanpa seorang pewarispun. Untuk menghindari kejadian serupa, ketua ketiga Sekte Pulau Arwah menciptakan ilmu khusus yang mampu memindahkan kesaktian seseorang pada orang lain… Mantra Pemindah Arwah.” Kinasih bergumam pelan, seakan dia sedang bicara pada dirinya sendiri. 

“Jadi, Sadewo memindahkan ilmunya padaku melalui Mantra Pemindah Arwah?” Kini semuanya masuk akal, tenaga mematikan yang ada di dalam tubuhku adalah milik Sadewo. Entah bagaimana caranya, dia telah memindahkan tenaga dalam miliknya ke dalam tubuhku!

“Tapi, proses pemindahan tersebut tak pernah berhasil. Selama ratusan tahun semenjak ilmu itu diciptakan, Sekte Pulau Arwah telah berkali-kali melakukan percobaan. Namun, baik pihak penerima maupun pemberi selalu mengalami kematian.

Ada terlalu banyak faktor yang menyebabkan proses pemindahan itu tak pernah berhasil, mulai dari kemampuan fisik penerima dalam menampung tenaga dalam, kekuatan mental penerima, karakteristik tenaga dalam yang berbeda pada tiap orang, dan lain sebagainya. Akhirnya, ilmu itu terlupakan dari dunia persilatan… Ternyata Sekte Pulau Arwah sama sekali belum meninggalkan harapan dapat menguasai ilmu itu.”

Aku terdiam mendengar kata-kata Kinasih. Jika bukan dari ilmu Mantra Pemindah Arwah, lalu darimana lagi kudapatkan tenaga dalam terkutuk ini. Lagipula, seperti yang dikatakan oleh Kinasih sendiri kemarin, tenaga dalam yang ada didalam diriku memiliki kemiripan dengan tenaga dalam Sekte Pulau Arwah.

“Lalu, darimana asalnya tenaga misterius yang ada dalam diriku?”

Kinasih kembali tak menjawab pertanyaanku, tapi aku tahu dia tak menjawabku bukan karena berlagak menjadi gadis misterius. Tapi karena memang dia sendiri tidak tahu jawabannya. 

“Aku perlu memeriksa dirimu lebih mendalam lagi,” jawab Kinasih akhirnya.

Memeriksa lebih mendalam, bagaimana caranya? Tiba-tiba saja jantungku berdegup semakin kencang. Kulihat Kinasih bangkit dari tempat duduknya, lalu berdiri bagian ruangan yang agak kosong.

“Sini,” panggilnya singkat.

Aku segera bangkit berdiri dan berjalan ke hadapannya. Lalu kulihat Kinasih menengadahkan tangannya seperti orang yang meminta sesuatu. 

“Kemarikan tanganmu.” 

Hah? Cara yang sama seperti kemarin? Hanya dengan menghubungkan kedua tangan saja? Lalu di bagian mana yang namanya pemeriksaan lebih mendalam? Memang sih cara ini sedikit berbeda dengan kemarin yang menyatukan tapak tangan seperti secara vertikal, sekarang dilakukan secara horizontal. Tapi, tetap saja…

Namun aku tidak menyuarakan isi hatiku padanya, telapak tanganku bergerak menutupi telapak tangan Kinasih. 

“Aku ingin kau tetap tenang dan fokus, apapun yang kulakukan nanti, jangan melawan.”

Aku mengangguk setuju. 

Seperti kemarin, aku merasakan ada energi aneh yang menjalar masuk ke dalam tubuhku. Tapi kali ini energi itu seperti bergerak lebih lincah dan berpindah-pindah. Dan seperti kemarin juga, dari dalam tubuhku muncul energi hangat yang mengalir ke seluruh tubuh. Terutama ke wilayah-wilayah dimana energi dari Kinasih menjalar. Kali ini, Kinasih tidak segera melepaskan tangannya, aku merasakan kedua kedua energi itu saling berkelit satu sama lain di dalam tubuhku. Namun sesuai peringatan Kinasih di awal, aku tetap berusaha tenang dan fokus.

Tiba-tiba saja Kinasih melepaskan kedua tangannya, lalu dia menotok ulu hatiku dengan jari telunjuknya. Bersamaan dengan itu, aku merasakan energi besar menyemburat masuk ke dalam tubuhku. Seluruh energi yang menyebar diseluruh tubuhku tiba-tiba saja mengalir deras ke satu titik, ke tempat Kinasih menotok. Aku langsung terbungkuk karena rasa sakit yang amat sangat di ulu hatiku.

“Tahan!” ucap Kinasih.

Enak saja Kinasih memintaku bertahan, seandainya dia tahu betapa sakitnya ulu hatiku. Namun tetap saja aku menuruti kata-katanya. Sambil menggigit bibir, aku berusaha menahan rasa sakit itu. Sekejap kemudian, Kinasih bergerak lagi, kali ini tangannya bergerak sangat cepat menotok puluhan titik di seluruh tubuhku. Dari tiap titik itu, energi Kinasih menembus masuk ke dalam tubuhku. Dan seperti sebelumnya, rasanya sakit bukan main. Seribu caci maki hilir mudik di dalam hatiku. 

Tak memperdulikan rasa sakit yang kualami, Kinasih kembali meletakkan telapak tangannya di bawah telapak tanganku. Aku tak lagi bisa merasakan aliran energi di dalam tubuhku karena perhatianku telah tersita oleh rasa sakit di sekujur tubuh. 

Sekitar tiga puluh menit kemudian, Kinasih melepaskan telapak tangannya. Bersamaan dengan itu, rasa sakit di dalam tubuhku berangsur menghilang. Saat aku ingin bertanya mengenai apa yang barusan kualami, baru kusadari lelehan darah tipis di sudut bibir Kinasih. Apakah metode pemeriksaan barusan telah menyebabkan Kinasih terluka? 

Tapi tampaknya Kinasih tak perduli dengan luka yang dia alami. Karena setelah menyeka sudut bibirnya, dia langsung berbicara padaku.

“Sepertinya memang benar tenaga di dalam tubuhmu berasal dari Sadewo. Selain masih menyisakan karakteristik Sekte Pulau Arwah, tingkat kesaktiannya juga sama dengan Sadewo, tingkat penyatuan jiwa. Tapi, tenaga itu masih tidak terkendali dan hanya bisa kau gunakan secara tidak sadar.

Saat aku mengalirkan energi ke dalam tubuhmu, tubuhmu mengira ada serangan yang datang dan secara insting melepaskan energi Sadewo untuk melawan. Karena tingkat kesaktian Sadewo yang bersemayam di dalam tubuhmu lebih tinggi dariku, akibatnya aku mengalami luka dalam. Untungnya karena masih belum terkendali, tenaga itu bukan ancaman serius buatku.”

Aku manggut-manggut seolah memahami penjelasan Kinasih. Meskipun pada kenyataannya hanya sedikit sekali yang kumengerti. 

“Tapi aku menemukan sesuatu yang sangat menarik di dalam tubuhmu tadi,” lanjut Kinasih.