Episode 10 - Jangan Terlalu Sering Diam



 Pagi yang cerah, ini suasana sehari setelah Coklat dan Ival kembali ke sekolah. Tampak tak ada wajah-wajah bahagia ketika mereka kembali ke sekolah hari ini, berbeda dengan suasana kemarin ketika Bu Riny di depan kelas mengumumkan bahwa mereka ketinggalan di kampus. Di kelas IPA tujuh, Bu Riny sebagai wali kelas memberikan pengumuman. Wajah Bu Riny tampak lesu dan tidak bersemangat.

 “Anak-anakku tercinta… hari ini ada kabar kurang menyenangkan bagi kita semua.”

 “Kabar apa, Bu?” tanya Sweety.

 “Teman kita, Coklat dan Ival masih tertinggal di kampus.”

 “Horeee!” 

 Mendengar kabar kurang menyenangkan itu, anak-anak IPA tujuh langsung lompat kegirangan.

 “Yes! Akhirnya tuh bocah enggka ada juga, gue harap sih tuh bocah selamanya ketinggalan di kampus, biarin enggak usah pulang sekalian,” ucap senang Sweety.

 “Kok kalian pada senang sih?” tanya Bu Riny.

 “Iya, Bu, soalnya kalau mereka enggak ada, kita akan hidup bahagia selamanya,” ujar Sweety.

 “Iya sih, Ibu juga setuju sama kamu, Ibu juga merdekaaa!” 


 ***


 Saat istirahat hari kemarin tiba. Sweety duduk-duduk sambil tersenyum ditemani Wakamiya di salah satu bangku di kantin. Wajahnya begitu ceria tak seperti hari-hari yang telah dia lalui di sekolah ini.

 “Eh, Miya, kamu tahu enggak kalau Coklat sama Ival sekarang ketinggalan di kampus?”

 “Mereka ketinggalan di kampus?”

 “Iya serius.”

 “Horeee!”

 Wakamiya langsung berdiri di kantin ini dan lalu memberikan kabar berita ini kepada teman-teman satu sekolahnya. Wajah Wakamiya tersenyum lebar.

 “Teman-teman sekalian, ada kabar gembira loh bagi kita semua.”

 “Pasti kulit manggis kini ada ekstraknya ya?” ucap salah satu siswa.

 “Bukan! Sekarang Coklat dan Ival ketinggalan di kampus.”

 “Horeee! Cihuuuy!”

 Seluruh siswa tampak sumringah, mereka lompat-lompatan mendengar kabar gembira itu. Kabar Coklat dan Ival yang ketinggalan di kampus menjadi hot news di kalangan sekolah. Hingga berita ini sampai pada salah satu televisi swasta yang ada di Indonesia dan menjadi hot news juga di dunia pertelevisian. 

 Pihak sekolah pun mengadakan acara syukuran di lapangan sekolah yang disiarkan langsung oleh salah satu televisi nasional selama delapan jam, mulai dari jam sepuluh pagi sampai jam enam petang. Acara syukuran ini nonstop tanpa iklan, acara syukuran ini juga mendapat rating tertinggi di dunia pertelevisian, hingga mampu mengalahkan acara sinetron di TV.

 Ada salah satu wartawan yang mewawancarai salah satu siswa sekolah ini.

 “Bagaimana perasaan Anda mendengar Coklat dan Ival ketinggalan di kampus?” tanya seorang wartawan kepada Sweety.

 “Perasaannya itu tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, yang jelas kami bahagia.”

 “Apa harapan Anda setelah ini?”

 “Harapan saya, mereka berdua enggak usahlah balik lagi ke sini.”

 “Ya itu pemirsa, ini adalah acara yang sangat luar biasa, fantastis. Saya Junaedi melaporkan langsung dari tempat kejadian dan kita kembali ke studio.”

 Acara syukuran itu berlangsung khidmat, mereka semua menangis bahagia. Air mata tak henti-hentinya mengalir di setiap para siswa, sungguh mengharukan. Ya itulah segelintir acara yang enggak jelas di sekolah ini.


 ***


 Namun kegembiraan para siswa hanya sesaat. Di hari ini, Coklat dan Ival telah kembali ke sekolah. Dan keduanya beserta anak-anak IPA tujuh sudah duduk rapih di bangkunya masing-masing. Di jam ketiga ini pelajaran pelajaran sengaja dikosongkan, karena akan ada pemilihan langsung berbagai jenis kategori mulai dari kategori cowok terganteng sampai orang teraneh di kelas ini. Segala kategori tersebut akan dimuat ke dalam buku tahunan sekolah.

 Ketua kelas ini yang bernama Fauzi. Fauzi ini salah satu sosok cowok ganteng di sekolah ini, lihat saja wajahnya yang putih kebule-bulean bak artis Korea dan matanya yang agak sipit, hidungnya mancung dan penampilannya yang selalu rapih membuat para cewek-cewek di sekolah ini klepek-klepek sama dia. Sekarang dia berdiri di depan dengan wakilnya, yaitu Sweety. Kalau dilihat-lihat mereka berdua itu serasi ya, kayak bukan sepasang pengantin.

 “Teman-teman, saya berdiri di sini tentu kalian sudah pada tahu kan sebelumnya?” 

 Fauzi berbicara di depan dengan kewibawaan yang dia miliki sebagai seorang ketua kelas, beda sama dua orang aneh itu. 

 “Ya tahuuu!”

 “Ya hari ini itu, eh cocok enggak sih gue sama dia? Cocok kan, hehehe,” ucap Fauzi melirik Sweety.

 Plak! 

 Entah itu suara apa, yang jelas Sweety geram habis mendengar apa yang diucapkan oleh Fauzi. Haduh, dikira ketua kelasnya benar-benar berwibawa ternyata sama saja.

 “Aduh sakit,” ucap Fauzi sambil memegangi kepalanya yang sakit.

 “Apa lo bilang! Enak aja lo, walau lo itu ketua kelas dan banyak dikagumi oleh cewek-cewek di kelas ini, tetap aja gue enggak mau sama lo, titik!”

 “Enak aja lo, Zi, cewek gue lo akuin segala!” seru Coklat.

 “Argghht, Coklaaat!”

 Plak! Baght bight bught!

 Entahlah, yang jelas suasana menjadi kacau dengan benjolan yang ada di kepala Coklat.

 ***

 Suasana kembali tenang, Fauzi kembali mulai menjelaskan aturan-aturan dan deskripsi tentang pemilihan ini. Sementara Sweety menulis kategori-kategori pemilihan di papan tulis. Ada kategori cowok terganteng, cewek tercantik, cowok ter-cool, cewek termanis, siswa tergokil, siswa teramai, siswa terkalem, dan siswa teraneh.

 “Ya, di sini ada cowok terganteng dan ter-cool teman-teman, ya pasti semua sudah tahu kalau kategori ini saya lah pemenangnya, hahaha.”

 Suasana hening, anak-anak IPA tujuh hanya melongo apa yang barusan dikatakan Fauzi. Kasihan amat ya Fauzi, dikacangin.

 “Bisa saya lanjutkan, jadi kalian tulis semua kategori ini di kertas lembar lalu tulislah satu nama siswa di depan kategori tersebut, paham kan?”

 “Ditulisnya pakai pulpen?” tanya Coklat sambil mengancungkan telunjuknya.

 “Iya pakai pulpen, ada lagi yang mau ditanyakan?”

 “Pakai pulpen sendiri apa boleh minjem?” tanya Ival sambil mengancungkan telunjuknya.

 “Terserah itu mah.” Wajah Fauzi mulai lesu.

 “Enggak bisa gitu dong! Kita ini butuh kejelasan!” Ival ngotot.

 “Pakai pulpen sendiri!”

 “Nah, kalau yang enggak punya pulpen gimana tuh?” tanya Coklat. 

 “Ya pinjam lah!”

 “Lah, tadi katanya pakai pulpen sendiri, gimana sih nih ketua kelas?” tanya Coklat.

 Kali ini wajah Fauzi mulai benar-benar lesu menanggapi pertanyaan-pertanyaan yang enggak penting macam mereka berdua.

 “Iya pinjam juga boleh, udah kan enggak ada yang tanya lagi?”

 “Masih ada,” ujar Coklat.

 “Apa?” tanya Fauzi benar-benar lesu.

 “Ini ditulis nama siswa sekolah ini apa nama siswa dari sekolah lain?” tanya Coklat.

 “Nama siswa sekolah ini aja, enggak usah siswa sekolah lain, ngerti?”

 “Ya ngerti. Ditulisnya nama asli apa nama samaran? Terus nama orangtuanya ditulis juga enggak?”

 “Aaaarrrgggttt, udah jangan nanya mulu! Cepat tulis sekaraaang!” teriak Fauzi.


 ***


 Akhirnya Sweety dan Fauzi membagikan selembar kertas kepada anak-anak IPA tujuh. Mereka mulai membagiakn dari meja kanan yang paling depan hingga meja kiri yang paling belakang. Seusai membagikan kertasnya, lalu mereka berdiri dan menunggu anak-anak yang sedang mem-voting pemilihan ini.

 Akhirnya voting selesai, dan satu persatu anak-anak IPA tujuh mengumpulkan kembali kertas di meja depan. Penghitungan suara pun dimulai, Fauzi yang membacakan hasil voting sementara Sweety yang menulis hasilnya di papan tulis. Memasuki penghitungan tiga puluh siswa dari semuanya tiga puluh delapan.

 “Cowok terganteng, Fauzi … cowok ter-cool, Fauzi … cewek termanis, Sweety … cewek tercantik, Sweety … siswa tergokil, Tiar … siswa teramai, Ival … siswa terkalem, Ucup ... siswa teraneh, Coklat.”

 Melihat hasil voting sementara, untuk kategori cowok terganteng dan ter-cool ternyata Fauzi menang mutlak. Dia mengungguli lawan-lawannya dengan memperoleh tiga puluh suara. Sementara untuk cewek termanis dan tercantik, Sweety bernasib sama seperti Fauzi. Begitu pula dengan kategori lainnya, para siswa yang tadi disebutkan Fauzi unggul mutlak oleh lawan-lawannya.

 Memasuki penghitungan ketiga puluh satu, Fauzi kembali menyebut nama siswa sesuai dengan kategorinya masing-masing.

 “Cowok terganteng ….” 

 Sejenak Fauzi terdiam melihat sebuah nama di kertas yang dia pegang.

 Ini mata gue yang siwer apa emang tulisannya kayak begini ya? 

 “Cowok ganteng … Coklat,” ujar Fauzi dengan berat hati.

 Mendengar apa yang barusan dikatakan oleh Fauzi, Coklat langsung berdiri dari tempat duduknya. Wajahnya penuh keceriaan sambil tertawa terbahak-bahak, ketawanya senang banget sudah kayak orang menang diacara tujuh belasan.

 “Hahaha, tuh dengar enggak teman-teman? Ternyata ada orang yang pilih gue jadi cowok terganteng. Yes!”

 “Itu bukannya lo yang milih sendiri?” tanya Ival.

 “Gue kan cuma sadar diri aja, Val.”

 Suasana lalu hening. Kriiik kriiik kriiik, hanya ada suara jangkrik yang berbisik dan hembusan angin yang lewat, wushhh.

 “Dasar, bangga banget padahal dia yang milih sendiri, lagian juga baru ngumpulin satu suara juga. Senangnya bukan main,” keluh Fauzi.

 Kemudian, Fauzi kembali melanjutkan pembacaan dari hasil voting ini.

 “Cowok ter-cool … Coklat.” 

 Huft, pasti dia milih diri sendiri lagi aja, ujar dalam hati Sweety.

 “Hahaha tuh, Zi, gue juga bisa bersaing sama lo. Emang lo aja yang ganteng sama cool, gue juga!” teriak Coklat dengan bangganya.

 “Iya deh, apa kata lo aja.”

 Fauzi kembali membacakan untuk kategori cewek tercantik. Sejenak dia diam melihat nama yang enggak dia kenal. Ya namanya terasa asing ditelinga dia.

 “Cewek tercantik … Irma … siapa nih Irma?”

 “Oh, dia itu nyokap gue, Zi,” jawab Coklat.

 “Apa? Nyokap lo? Kan yang jadi nominasi itu anak-anak yang ada di sekolah ini, Coklaaaat!”

 “Lo belum tahu, Zi, dulu nyokap gue sekolah di sini juga.”

 “Itu kan dulu bukan sekarang! Ini kan pemilihannya sekarang!”

 “Ah, lo enggak ngomong dari awal.”

 “Kenapa lo enggak tanya?!”

 “Kan enggak boleh tanya lagi sama lo.”

 “Au ah, pokoknya cewek tercantik ini enggak sah, enggak masuk hitungan suara!”

 Daripada lama-lama lihat mereka naik darah gara-gara menghitung suara, ceritanya pun dipercepat. Di papan tulis sudah tertera para pemenang pada setiap kategori untuk kelas IPA tujuh, ya tujuan untuk diadakan ini adalah sebagai salah satu kenangan di buku tahunan sekolah. Pemenang untuk kategori cowok terganteng dan ter-cool dimenangkan oleh Fauzi.

 Wajar jika Fauzi yang memenangkan kategori ini sebab dia memang terlihat ganteng dan cool. Para cewek sekolah ini selalu dibuat terpanah oleh ketampanan yang dia miliki. Itu terbukti ketika pertama kali para cewek melihat kedatangan dia saat sampai di sekolah. Kedatangan dia disambut bak pahlawan. Karpet merah sudah selalu siap ketika dia turun dari motornya di parkiran. Teriakan-teriakan histeris membuat suasana ramai seperti menyambut aktor papan atas.

 “Fauziii! I love youuu!”

 “I love you semua,” jawab Fauzi dengan senyum dan gaya cool-nya.

 Akibat kegantengan dan ke-cool-an Fauzi, banyak siswa cowok yang jomblo di sekolah ini. Hampir semuanya jomblo karena para cewek sudah terpikat dengan Fauzi. Namun dengan demikian para jomblo di sekolah ini bisa terselamatkan dari kepunahannya, soalnya masih banyak spesies-spesies dari manusia dengan tipe seperti itu bertebaran di sekolah ini.

 Untuk cewek termanis dan tercantik dimenangkan oleh Sweety. Tokoh yang satu ini memang dikenal sangat manis, bahkan ketika beberapa waktu lalu saat dia ada di kantin duduk bersama Coklat.

 “Kamu manis banget sih, Sweety,” kata Coklat.

 “Ah masa sih?” 

 “Iya, benar, aku enggak bohong kok.”

 “Ah kamu, kan aku malu.”

 “Iya benar, itu buktinya di bibir kamu banyak banget semutnya.”

 “Kurang aseeem!”

 Untuk siswa tergokil dimenangkan oleh Ival, siswa teramai dimenangkan oleh Tiar, dan siswa teraneh dimenangkan oleh Coklat. Kalau mereka bertiga rasanya enggak perlu diceritakan kembali, semua siswa di sekolah ini sudah pada tahu semua kelakuan mereka.

 Untuk siswa terkalem dimenangkan oleh Ucup. Ya, Ucup memang kalem. Dia sangat pendiam sekali. Pernah dia duduk bersama teman-temannya di kantin. Kalau teman-temannya pada ketawa-ketiwi, eh Ucup hanya diam. Diam-diam Ucup itu ternyata kentut di antara mereka.

 “Busyet bau kentut siapa nih?” tanya seorang siswa entah siapa namanya.

 Seluruh siswa pada kabur menjauhi Ucup, sementara Ucup masih aja diam. Ya dia diam-diam eh ternyata kentut sambil mengeluarkan ampas-ampasnya, itu akibat kebanyakan diam. Hati-hati dengan orang yang diam, diam-diam dia bisa kentut, makanya hati-hati.