Episode 153 - Lamafa vs Lamafa



Seluruh pernak-pernik logam yang tadinya melekat di tubuh Lamalera sebagai perhiasan, kini telah menyatu dan berubah menjadi Tempuling Malam! Sungguh unik. Sebanyak itukah perhiasan sampai bisa merangkai menjadi sebilah tempuling...?

Sepintas, entah mengapa, ingatan Bintang Tenggara kembali ke salah satu kamar sebuah gubuk di Dusun Peledang Paus. Di kamar Bunda Mayang, terdapat sebuah peti kecil berbentuk persegi yang diletakkan di atas sebuah meja rias kecil. Bentuknya mirip sebuah kotak perhiasan, dengan ukiran-ukiran bulan dan bintang, layaknya suasana malam. Mungkinkah pertemuan dengan Lamalera mengingatkan dirinya akan gubuk di dusun? *

“Srak!” 

Bintang Tenggara menghindar dari tikaman Tempuling Malam. Bukan hanya menghindar, tapi menghindar sejauh mungkin. Karena bila hanya menghindar namun masih berada dalam jangkauan jeruji yang mencuat, maka anak remaja itu akan menderita luka yang dapat berakibat fatal. 

Bilamana benar bahwa Lamalera menguasai unsur kesaktian logam, maka lawan kali ini akan cukup sulit diatasi. Logam adalah pengantar listrik. Dengan kata lain, unsur kesaktian petir hanya akan mengalir melalui tubuh gadis tersebut, tanpa mencederainya. Setidaknya, demikianlah menurut pengetahuan dasar dari skema kemampuan unsur kesaktian. 

“Mari kita sudahi permainan ini...,” ujar Bintang Tenggara di kejauhan. 

“Hm... aku memiliki tugas untuk mengujimu... Jadi, tak semudah itu kau dapat menghindar dari pertarungan.” 

“Aku mengerti bahwa Perguruan... ehem... Perguruanmu, memberikan tugas. Akan tetapi...” 

“Oh...? Tugasku bukan datang dari perguruan....”

Bintang Tenggara sigap melompat mundur ketika Lamalera kembali merangsek dan menyerang. Darimana lagi datangnya tugas Lamalera bila tak datang dari perguruannya sendiri? Oh... Mungkinkah tugas Lamalera dalam hal menguji datang dari... Perguruan Gunung Agung!? Mungkin saja, pikir Bintang Tenggara. Bisa jadi. 

Secara umum, Bintang Tenggara adalah petarung jarak dekat bila menggunakan tangan kosong, dan petarung jarak menengah bilamana bersenjatakan tempuling. Akan tetapi, baru kali ini dirinya berhadapan dengan sesama lamafa, juru tikam paus, yang bersenjatakan tempuling juga. Terlebih, entah mengapa, ia merasa bahwa Lamalera lebih baik dalam menggunakan tempuling!

Bintang Tenggara hanya dapat menghindar, menghindar lagi, dan menghindar terus. Tak diragukan, anak remaja ini sedang mengincar waktu yang tepat untuk menjalankan salah satu Taktik Tempur versi Komodo Nagaradja. Meski mampu bergerak cepat dan lincah, pola serangan Lamalera pun sudah mulai dapat terbaca. 

Bintang Tenggara kembali menjaga jarak. Anehnya, Lamalera tetiba terlihat berdiam diri di tempat. Ia tidak melancarkan serangan susulan. Padahal, Bintang Tenggara baru saja menemukan saat yang tepat untuk melancarkan Taktik Tempur No. 61, yaitu ‘bagai harimau menyembunyikan kuku’.

“Apakah kau mencoba membaca pola seranganku dengan terus menghindar…?” 

Tertangkap basah. Bintang Tenggara berpura-pura tenang. Walau, reaksi tubuhnya, dimana sebulir keringat mengalir pelan di pelipis, tak dapat membohongi. Lamalera terlalu peka untuk dapat dijebak dengan mudah. 

Sedalam apakah pengalaman bertarung Lamalera sampai-sampai gadis tersebut dapat memberikan tekanan yang demikian menyulitkan? Tetiba pertanyaan ini mencuat di dalam benak Bintang Tenggara. Bagi dirinya, yang sudah cukup banyak menjalani pertarungan hidup dan mati, adalah wajar bila membangun naluri bertarung yang cukup baik. Sungguh, uraian Canting Emas tentang kemampuan perguruan di Kota Baya-Sura menumbuhkan keahlian murid-muridnya bukanlah isapan jempol belaka, batin Bintang Tenggara. 

Matahari sebentar lagi tenggelam. Bintang Tenggara belum sepenuhnya menyelesaikan tugas membongkar kotoran sapi, lalu memindahkan Ranjau Ledak. Masih ada beberapa yang tersisa. Kini, ia menghabiskan waktu berhadapan dalam pertarungan cukup sulit menghadapi Lamalera. Canting Emas tak akan senang. 

Jurus Delapan Penjuru Mata Angin sedang dibuka. Karena terpaksa, tadi Bintang Tenggara sempat melakukan teleportasi jarak dekat untuk menghindar dari Tempuling Malam dan kesaktian unsur logam. Oleh karena itu, dirinya perlu mengisi amunisi terlebih dahulu. 

Lamalera hanya mengamati. Sepertinya ia pun menanti saat yang tepat untuk kembali melancarkan serangan. 

Sejurus setelah mengisi mustika tenaga dalam, Bintang Tenggara merangsek maju. Ia sudah tak memiliki banyak waktu buat bermain-main. Dengan beberapa Segel Penempatan yang telah tersedia, ia melompat dan melenting tinggi di udara. 

Pencak Laksamana Laut, Gerakan Kedua: Esa Hilang Dua Terbilang!

Kecepatan tubuh Bintang Tenggara berlipat ganda. Lamalera menghunus Tempuling Malam…. 

“Zap!”  

Bintang Tenggara menghindar di udara menggunakan teleportasi jarak dekat dari Silek Linsang Halimun. Dalam satu kedipan mata, ia sudah berada tepat di sebelah tubuh Lamalera yang sudah terlanjur menghunus senjata. Tempuling Raja Naga bergerak deras menebas! 

“Srek!”

Bintang Tenggara dengan gesit berkelit dari jeruji yang mencuat di bilah Tempuling Malam. Hal ini dapat dilakukan karena sedang berada dalam pengaruh Gerakan Kedua Pencak Laksamana Laut. Meski tak bisa memperkirakan dari bagian mana jeruji akan mencuat, setidaknya waktu dimana jeruji akan menikam dapat diperkirakan, dalam kesempatan ini adalah saat Lamalera merasa paling terancam.  

Tempuling Raja Naga masih menyapu kencang ke arah lawan…

“Angin Monsun Barat, Bentuk Pertama: Menabur Angin Menuai Badai!” **

Angin dingin dan lembab tetiba terasa berhembus. Sebuah dinding yang terbuat dari angin, tetiba mencuat dan membentengi tubuh Lamalera dari hantaman Tempuling Raja Naga. Bukan hanya hantaman cepat tempuling terbendung seketika, Bintang Tenggara juga merasakan kekuatan dorongan yang membuat tubuhnya mundur belasan langkah. 

Kesempatan yang tersedia memberikan ruang bagi Lamalera untuk melompat maju dan… melancarkan serangan balik! 

Bintang Tenggara yang kehilangan momentum serangan terdiam terpana. Cukup besar tenaga dalam yang ia kerahkan barusan tadi. Teleportasi jarak dekat Silek Linsang Halimun dan kecepatan berlipat ganda Pencak Laksamana Laut. Keduanya bukanlah jurus yang mudah dikerahkan secara bersamaan. Kedua jurus boros tenaga dalam, dan membutuhkan konsentrasi mendalam. 

Akan tetapi, kini Bintang Tenggara tahu persis bahwa unsur kesaktian logam merupakan kemampuan bawaan dari Tempuling Malam. Tempuling Raja Naga diketahui memiliki unsur kesaktian tanah, namun kesaktiannya itu tidak bisa dimanfaatkan… atau setidaknya, belum bisa dikerahkan saat ini.

Dengan demikian, tak heran bilamana Tempuling Malam dapat mengurai diri menjadi berbagai bentuk perhiasan. Setelah beradu beberapa kali, maka Bintang Tenggara mengetahui juga bahwa Tempuling Malam sebenarnya pun ringan sruktur layaknya bilah bambu, dimana bagian tengahnya kosong. Di saat jeruji mencuat, Tempuling Malam ikut sedikit memendek. Sungguh senjata pusaka yang nyaris sempurna. 

Dari manakah Lamalera memperoleh senjata pusaka tersebut? Mungkinkah milik seorang lamafa di masa lampau? Apakah selama ini tersimpan di perguruannya? Siapakah gerangan yang mewariskan? batin Bintang Tenggara.

Kini, Lamalera yang melancarkan serangan balik menikam deras ke arah Bintang Tenggara. Pertukaran serangan kembali berlangsung. Lamalera tak sedikit pun menunjukkan celah. 

Tempuling Malam menikam, menebas, menusuk, menyabet… Bintang Tenggara semakin penasaran bagaimana mungkin Lamalera bisa demikian piawai dalam menggunakan tempuling… Siapakah gerangan yang memberi tunjuk ajar?

Bintang Tenggara mulai terlihat terdesak. Jika pertarungan hanya mengandalkan tempuling, maka tak lama lagi kemungkinan besar ia akan menelan kekalahan. Tempuling Malam terus-menerus menyulitkan karena seolah memiliki dua bilah. Tanpa pikir panjang lagi, pemakai Cincin Gundala Si Putra Petir itu lalu menjentikkan jemari dengan ringan ke arah tempuling yang mengincar tubuh dari samping. 

“Zzzttt…” 

Tubuh Lamalera tersengat menjadi kaku selama beberapa detik! Bintang Tenggara melontarkan Segel Petir ke bilah Tempuling Malam. Karena merupakan unsur logam, tempuling tersebut menjadi pengantar aliran listrik yang ideal kepada empunya. Telah diketahui bahwa unsur kesaktian milik Lamalera tentunya bukanlah logam, melainkan angin. Pantas saja gerakannya sejauh ini cukup gesit. 

Meskipun demikian, Bintang Tenggara tak hendak gegabah sebagaimana ketika ia bertarung menghadapi Cikartawana. Ia terlihat melompat mundur dan melepas kesempatan melancarkan serangan balik. Lamalera segera terlepas dari kondisi kaku sementara.

Senyum menghias sudut bibir Bintang Tenggara. Mengetahui kemampuan senjata dan unsur kesaktian lawan, dengan demikian, strategi pertarungan ke depan tentunya akan berubah drastis. Bintang Tenggara sudah menemukan lebih dari satu cara untuk mengungguli Lamalera. 

“Sepertinya pertarungan kita sudahi sampai di sini...” Lamalera berujar santai. 

Bintang Tenggara tetiba tersadar... Bahwa selama pertarungan berlangsung, ia sudah masuk ke wilayah perbukitan yang membagi sisi utara dengan sisi selatan pulau. Samar, aura dua Putra Perguruan dari Perguruan Anantawikramottunggadewa bergerak cepat mengepung! 

Jebakan! gerutu Bintang Tenggara. Dirinya yang selama ini cukup berhati-hati dalam bertindak, justru masuk ke dalam jebakan Lamalera. Meski demikian, anak remaja tersebut cukup tenang. Sejak awal ia telah mengetahui bahwa Aji Pamungkas pastilah ditugaskan memantau dirinya yang bertugas membongkar tahi...

Canting Emas dan Kuau Kakimerah tiba. Panglima Segantang pastilah ditinggal seorang diri menjaga benteng. Bukan Canting Emas namanya bilamana tak memperhitungkan kemungkinan yang ada. Sedangkan Aji Pamungkas, kemungkinan besar ditugaskan bergerak memutar dan mengincar benteng lawan. 

“Kesempatan baik!” seru Canting Emas. “Kita tahan mereka di sini.” 

Tiga lawan tiga. 

Lamalera mengeluarkan sebuah cermin kecil bertangkai dan menatap ke permukaannya. Ia terlihat sedang menimbang-nimbang. Bintang Tenggara mengetahui benda tersebut sebagai Cermin Cakra, yaitu alat untuk mendeteksi dengan akurat ahli yang berada di luar jangkauan mata hati. Lampir Marapi juga memiliki alat serupa. 

“Mundur!” Tetiba Lamalera berujar kepada dua temannya. “Sergap seorang yang telah tiba di benteng kita!” 

“Gawat! Mereka berupaya menjebak Aji Pamungkas!” tanggap Canting Emas. 

Tiga mengejar tiga. 

“Siapakah gadis itu!?” sergah Canting Emas sambil memacu langkah. 

“Teman masa kecilku. Unsur kesaktiannya angin. Memiliki senjata pusaka tempuling dengan unsur logam berwarna hitam.” 

Akan tetapi, meski ikut mengejar Lamalera, Bintang Tenggara merasa ada yang kurang mengena. Entah mengapa, ada yang membuat dirinya sedikit tak nyaman.

“Cih! Bila Aji Pamungkas terkepung, maka akan sulit baginya melepaskan diri di wilayah lawan.”

“Hati-hati… kemungkinan lawan memasang perangkap!” Kuau Kakimerah mengingatkan. 


Panglima Segantang berdiri tegar di atas Benteng Selatan. Di atas tubuhnya, bendera berwarna biru berkibar dimainkan angin. Di sisi kanannya, seekor binatang siluman Harimau Bara bermain-main dengan ekornya sendiri. Di sisi kiri, seekor binatang siluman Siamang Semenanjung tak bosan berupaya mencari kutu di rambut cepak Panglima Segantang. 

Sebagai mantan kepala pengawas binatang ternak, jangan sekali-kali mempertanyakan kemampuan remaja bertubuh kekar dan berambut cepak ini dalam mendeteksi gerak-gerik mencurigakan. Bahkan Serigala Bertanduk, tak pernah dapat lepas dari pantauannya. 

“Hara dan Sinanjung, malam ini tak akan ada yang dapat melewati kita!” gumam Panglima Segantang penuh percaya diri. 

Mengapakah Panglima Segantang melontarkan kata-kata tersebut? Tiada lain, karena di hadapannya seorang pemuda melangkah gagah. Postur tubuhnya tak kalah dengan Panglima Segantang, kepalanya plontos. Di lengan kanan, ia menenteng sebuah gada kayu besar dan di tangan kiri dua lembar Kartu Satwa…

“Pawang Petarung!” hardik Panglima Segantang. 

Pawang Petarung terbilang langka. Mereka merupakan kelompok pawang yang tidak hanya memusatkan diri pada keterampilan khusus, namun juga persilatan dan/atau kesaktian. Sampai batasan tertentu, Kum Kecho juga dapat dikelompokkan sebagai pawang jenis ini. 

Dengan demikian, pihak lawan juga berpikiran senada. Bahkan, mereka telah sejak awal mengirimkan utusan untuk menyambangi benteng musuh. Adalah Lamalera dan Pawang Petarung ini. Lamalera bertugas memancing lawan, dan Bintang Tenggaralah yang kebetulan terpancing. Sementara, pemuda pelontos ini bersembunyi dan menanti sabar kepergian Canting Emas, Aji Pamungkas dan Kuau Kakimerah meninggalkan benteng. 

Selain itu, tindakan Lamalera mengincar Aji Pamungkas pun merupakan upaya untuk mengalihkan perhatian. Setelah memastikan posisi kawan dan lawan menggunakan Cermin Cakra, ia hendak memberi kesempatan lebih leluasa kepada Pawang Petarung ini beraksi. Seorang pawang yang bertarung berbarengan dengan dukungan binatang siluman, tentu dapat membuka lebar-lebar peluang bagi kubu mereka dalam mencuri bendera. 

Kendatipun demikian, siapa menyangka yang menanti di Benteng Selatan adalah petarung sejati, yang secara kebetulan turut ditemani dua binatang siluman. 

“Datang dan penuhi panggilanku, wahai Babun Rambut Hutan dan Harimau Jumawa!” 

Segel ruang dan waktu nan sederhana pada Kartu Satwa berpendar dan membuka gerbang dimensi. Melompat keluar, seekor babun gempal dan seekor harimau besar. Kedua binatang siluman tersebut lalu melangkah maju, keduanya mendengus berat, tatapan mata mereka tajam menatap lawan. Kedua binatang siluman berada pada Kasta Perak!

Panglima Segantang melompat turun. Diikuti oleh Harimau Bara dan Siamang Semenanjung. Harimau Bara memang sudah sejak lama berada pada Kasta Perak, sedangkan Siamang Semenanjung baru belakangan ini naik ke Kasta Perak. Sebagai tambahan, Siamang Semenanjung juga merupakan kelinci percobaan bagi Kuau Kakimerah. Berbagai jenis ramuan telah ia tenggak, ada yang berhasil, ada pula yang tidak… Yang jelas, ia bukanlah Siamang Semenanjung yang dulu, yang sempat meringkuk ketakutan ketika dipelihara oleh seorang pawang jangkung nan bodoh. 

Mengemban peran menjaga bendera, sebenarnya menyulitkan Panglima Segantang. Ia terpaksa bertarung sambil terus memantau bahwa tak akan ada yang berupaya mencuri bendera. Pun, tak diketahui berapa banyak lawan yang datang bertandang. Sebaliknya, lawan akan bertarung dengan segenap kekuatan, serta mencari celah, bahkan membuka peluang untuk merampas bendera. 

Pertarungan ini harus diselesaikan cepat. Panglima Segantang memantapkan hati. Ia memegang secarik kertas. 


“Panah Asmara, Bentuk Keempat: Cinta Pandangan Pertama!”

Aji Pamungkas telah bertarung sejak beberapa waktu. Sejak awal, ia memang ditugaskan memantau Bintang Tenggara yang membongkar tahi. Lalu, mendapati Bintang Tenggara mengejar musuh, ia kembali ke Benteng Selatan. Dari sana, encana yang Canting emas susun, adalah sesuai dengan yang saat ini sedang berlangsung.

“Panah Asmara, Bentuk Kedua: Cinta Segitiga!”

Setelah melepas panah kendali, Aji Pamungkas melepas tiga rentetan anak panah secara bersamaan. Akan tetapi, upaya ini sia-sia belaka. Panah kendali tak dapat menjangkau apalagi meraih bendera, dan tiga rentetan anak panah tak mencederai lawan. 

Lawan Aji Pamungkas merupakan seorang perapal segel. Sebuah Segel Pertahanan berbentuk kubah besar telah terpasang melindungi wilayah Benteng Utara. Segel tersebut terus diperkuat bilamana mendapat serangan. Terlebih, yang semakin menyulitkan, lawan ini sangat disiplin. Ia sepenuhnya memusatkan diri pada pertahanan, tak sekalipun membalas serangan Aji Pamungkas. 

“Wahai, perapal segel! Hanya berlindungkah kemampuanmu!?” hardik Aji Pamungkas. 

Lawan hanya diam. Ia terus memusatkan perhatian menjaga kestabilan Segel Pertahanan, sekaligus pada anak panah kendali yang masih berputar-putar mencari kesempatan. 

“Huh! Betapa menyesalnya aku datang kemari…,” gerutu Aji Pamungkas. Jikalau kau memanfaatkan kemampuan segel hanya untuk bertahan, maka akan aku ratakan bentengmu!” 

Aji Pamungkas sebenarnya tiada sesumbar. Dengan melepaskan wujud busur bulan sabit, ia dapat dengan mudah menembus Segel Pertahanan lawan, bahkan meratakan benteng tersebut. Akan tetapi, setelah itu ia akan kehabisan tenaga dalam dan tak dapat berbuat apa-apa. 

“Aku banyak mengenal orang-orang sepertimu. Mereka yang memiliki percaya diri tinggi akan kemampuan bertahan… padahal, kalian hanyalah pengecut!” 

Alis lawan terlihat sedikit bergerak. 

“Hahaha…,” Aji Pamungkas tertawa lebar. “Katakan padaku, kapan terakhir kali engkau meraih kemenangan dalam sebuah pertarungan!? Dasar pengecut!”

Lawan memejamkan mata. 

“Tak dapat menjawab!? Haha… Pengecut!” Aji Pamungkas cukup giat berupaya memecah konsentrasi lawan. Di saat yang sama, panah kendali masih berputar-putar mencari titik lemah Segel Pertahanan lawan. 

Lawan malah berhasil menenangkan diri. 

“Cocok sekali!” Aji Pamungkas seolah baru menyadari akan sesuatu. “Murid pengecut, yang diajari jurus pengecut di perguruan pengecut!” 

“Apa kau bilang!?” 

Mudah sekali. Seorang ahli dapat menutup mata di saat menerima cemoohan tehadap dirinya, akan tetapi bagi sebagian besar ahli jangan sekali-kali mencemooh perguruan tempat mereka menuntut ilmu. 

“Panah Asmara, Bentuk Pertama: Cinta Sejati”

Anak panah tunggal yang dibungkus kesaktian unsur angin melesat deras. Sasarannya, tepat di antara posisi lawan dan Aji Pamungkas. Formasi Segel Pertahanan terlihat sedikit melemah ketika perapalnya sedikit kehilangan konsentrasi. Kesempatan yang tak akan disia-siakan!

Anak panah berhasil menembus formasi segel. Sebuah lubang tercipta, seukuran roda pedati. Namun, lawan segera menyadari kelalaiannya dan ia pun cukup sigap berupaya menutup celah tersebut. 

Sambil merangsek maju, Aji Pamungkas melepaskan beberapa anak panah lagi agar celah pada Segel Pertahanan sejenak. Kemudian, ia melompat harimau ke celah yang tebuka… berhasil masuk ke dalam wilayah Segel Pertahanan! 



Catatan:

*) Episode 2.

**) Episode 6 berjudul ‘Angin Monsun Barat’. Peribahasa ‘Yang menabur angin, yang menuai badai’ berarti siapa yang melakukan perbuatan, maka akan terkena akibatnya.