Episode 14 - Mulut yang Berbicara


Beberapa menit sebelum keberangkatan.

Tim dua; Aster Glass. Tim empat; Flame Lily. Tim delapan; Mono Chrome. Tim sembilan; Harpy Eagle. Semua tim yang sudah ditunjuk berkumpul di depan gedung utama. Ini pertama kalinya OFD Indonesia menjalankan misi dalam skala besar-besaran. Normalnya, mengirim dua kelompok untuk mengalahkan Outsider Rank A.

Jika dipikir secara realistis, menambah jumlah orang untuk menyelesaikan misi ini akan menambah persentasi keberhasilan juga. Di saat yang sama, kemungkinan maksimal anggota yang gugur pun akan bertambah menjadi dua kali lipat.

Dengan satu orang yang mengambil cuti, jumlah mereka hanya ada lima belas orang. Sembilan pria dan enam wanita. Untuk Tim delapan dan sembilan, minimalnya mereka punya pengalaman yang cukup banyak dalam menangani Outsider Rank B.

Dengan Tim Aster Glass yang memiliki peringkat tertinggi, menjadi pemimpin utama untuk misi ini. Walaupun begitu, Noxa yang mewakili semuanya tidak banyak bicara saat semua orang sedang berkumpul. 

“Perjalanan kali ini sangatlah jauh. Jadi, sebelum sampai tujuan kita akan berhenti beberapa kali di tengah perjalanan.” Noxa mendekap. Gadis pendek itu menunjukkan wajah serius dengan nada tegas layaknya orang dewasa. “Yah, ini juga perjalanan panjangku yang pertama. Jadi, entah besok atau lusa kita akan mencapai tujuan. Sedikit bersabar dan merasakan bosan sesekali bukanlah masalah yang besar. Mungkin juga salah satu dari kalian akan mati di sini. Bukan berarti aku tidak peduli, tapi jika sampai sesuatu seperti itu terjadi, persiapkan diri kalian. Pertama kali datang ke sini, kalian sudah menukarkan nyawa kalian demi uang!”

Noxa memalingkan pandangan, menyembunyikan wajah. “Menyebalkan sekali harus berbicara seperti ini!” gumam Noxa menahan diri atas rasa tanggung jawabnya. Pandangannya kembali. “Segera siapkan saja semuanya! Kita akan segera berangkat. Lebih cepat lebih baik.”

Noxa menutup pengumuman pendeknya. 

Dua helikopter sudah bersiap di landasan. Tim delapan dan sembilan menaiki helikopter pertama. Begitu pun tim dua dan empat dengan segera menaiki helikopter kedua. Sebelum Neil naik helikopter, syal merah panjangnya harus digulung beberapa kali agar tidak membuatnya kerepotan saat sudah terbang. Sebagian wajah Neil tertutupi karenanya.

Neil yang sudah naik duluan, menjulurkan tangan untuk membantu yang lain. Satu persatu, dari mulai Noxa, Navi, Reina, dan seterusnya. Lalu, sampai yang kedelepan.

“Huh…?” “Huh!” “Huh?!”

Neil terdiam memberik, masih menjulurkan tangan. Begitu pun Noxa yang baru saja duduk di tempatnya setelah memastikan semua perlengkapan. Ekspresinya tidak berbeda dari Neil. Bahkan, tidak seorang pun yang tidak memasang ekspresi terkejut.

“Huh?” Merasa aneh pada semua wajah yang menatapnya, gadis yang masih berpijak pada tanah itu membuat wajah heran. Setengah matanya terbuka, menahan rasa kantuk. “Kalian seperti sedang melihat hantu?” Suaranya sedikit terganggu akan sesuatu.

“Tahan dulu!” Navi memotong dengan keras. Menggantikan Neil yang berada di pintu, ia melebarkan kedua tangan untuk menghalangi jalan masuk. “Apa yang kau lakukan di sini?” 

Pertanyaan Navi mewakili semua rasa penasaran orang yang ada di dalam helikopter.

“Yah, meski kau bicara begitu…” Gadis itu menghela napas. “Sebenarnya aku juga ingin tahu.” 

Karena suatu alasan, gadis yang masih menunggu itu nampak kelelahan. Di sisi lain, Navi memandang wajahnya yang tidak familiar dengan sangat serius.

Gadis yang tingginya sekitar 170cm itu mengenakan jaket hitam dengan garis oranye terang pada bagian lengan. Berbeda dengan Mono Chrome atau pun Harpy Eagle, dengan kata lain bukan dari tim delapan atau sembilan. Di lehernya terdapat sebuah headphone. Dengan short pant yang sama pendeknya dengan milik Navi.

Rambut hitam sepundaknya masih terlihat masih basah. Sejak pertama kali muncul, ekspresi wajahnya tidak berubah sedikit pun dengan sepasang mata yang setangah terbuka.

“Rem, aku tidak pernah dengar apa pun tentang ini.” Kali ini Noxa yang bertanggungjawab penuh atas semuanya, berbicara. Hanya dalam kurang dari satu detik, rasa tenangnya kembali.

“Cih,” Gadis yang dipanggil Rem itu menggigit lidahnya. Suasana hatinya memburuk. “Aku hanya mondar-mandir di gedung utama. Lalu, mereka memaksaku untuk ikut bersama kalian. Tim kalian seharusnya tidak lengkap, ‘kan?”

Navi dan Neil yang saling berdekatan, memandang satu sama lain.

Noxa tanpa bertanya lebih lanjut, bangkit dari tempat duduk. “Neil, Navi… Minggir!”

Noxa melompat turun ke bawah. Beberapa meter setelah membuat jarak, ia mengangkat ponsel, menghubungi seseorang.

Semua pandangan tertuju pada Noxa. Jika dilihat dari jauh sepertinya bukan sesuatu yang baik.

“HAH! Jangan sembarangan!” Noxa berteriak. “Apa kau mau main-main denganku?!” Tangan yang lain membuat kepalan kuat. “Bertindak seenaknya seperti biasa!” Noxa mematikan ponsel dan berjalan kembali ke helikopter. 

Aura buruk masih bisa dirasakan darinya. Merasa tidak ingin direpotkan, semuanya terdiam saja. Kecuali satu orang.

“Kau baik-baik saja?” Gadis yang merupakan salah satu anggotanya bertanya. Rambutnya dipotong pendek dengan poni depan lurus. Ekspresinya terlihat jelas khawatir. “Yang barusan itu pimpinan, ‘kan?”

“Tidak perlu mengkhawatirkanku, Fey.” Untuk membuat dirinya tenang kembali, Noxa harus membuang sedikit kebahagiannya dengan cara menghela napas. “Rem, kau ikut dengan kami!” Ketua dari tim dua itu memberi perintah dengan gaya seperti biasa.

Rem memberi senyum kecil sebagai tanda puas. Di satu sisi, Navi membuat wajah tak percaya dengan keputusan Noxa.

Dengan ikutnya Rem dalam misi ini, menjadikannya lima tim yang ikut berpartisipasi meski hanya diwakili oleh satu orang. 

Secara bergantian, Noxa dan Rem naik ke atas helikopter dengan bantuan Neil. Walaupun sebenarnya, mereka berdua bisa naik sendiri.

“Terima kasih, Neil.” 

Rem duduk mengambil tempat bersebelahan dengan Neil yang saling berhadapan dengan Noxa. 

“Tidak perlu memikirkannya,” jawab Neil datar sambil mengenakan sabuk.

“Ini mengingatkanku,” Rem mencoba membuat topic pembicaraan. “Sudah lama rasanya aku tidak berbicara denganmu.”

Baling-baling mulai berputar. Semua orang menggunakan alat kecil yang dipasang di telinga mereka untuk bisa saling berkomunikasi menembus suara baling-baling.

“Begitu, ‘kah? Tapi, kurasa kau tidak sepenuhnya salah.”

Sejak awal mereka berdua memang bukan teman atau sahabat. Tidak ada yang aneh jika keduanya jarang berkomunikasi.

“Aku masih ingat jelas kapan terakhir kali kita berbicara dan apa yang kita bicarakan saat itu.”

Bukan sebuah kalimat yang ingin didengar dari orang yang bukan teman dekatmu. Neil merasa aneh mendengarnya. Ia memerhatikan Noxa yang saat ini sedang memejamkan mata tepat di depannya. Kakinya yang pendek ditaruh di atas kaki yang lainnya sambil melihat kedua tangan di dada. Ketiga anggota Aster Glass yang lain nampak diam-diam saja.

“Hmm…” Neil hanya bisa memberi respon untuk kalimat Rem yang terakhir. 

Neil memang tidak terlalu ingat kapan terakhir kali dirinya bicara secara langsung dengan Rem, tapi ia sedikit ingat tentang apa yang dibicarakan saat itu. 

Meski tidak ada yang berbicara, suara baling-baling cukup kuat untuk memecah telinga. 

Beberapa menit pernebangan itu, diisi dengan kekosongan. Canggung mulai bisa dirasakan serta dengan tiupan angin kencang. Tidak lama kemudian, laut membentang tanpa ujung terlihat. Biasanya Navi akan duduk di pinggiran untuk menikmati pemandangan, tapi karena ada Rem ia tidak ingin mengambil risiko.

“Ngomong-ngomong,” Navi membuka mulut. “Rem, di mana anggota timmu yang lain?” Setengah dari maksud pertanyaan itu, diisi dengan perasaan penasaran. Sisanya, diisi bermaksud untuk memancing amarah.

“Navi, seandainya kau terus melanjutkannya, pengalamanmu terjun ke laut dari helikopter akan bertambah menjadi dua kali.” 

Rem tidak terlihat bercanda, ataupun berbohong. Entah kapan, tapi Neil tidak ingat pernah ada kejadian seperti itu.

“Rem.” Tanpa membuka mata, Noxa memberi peringatan. 

“Mengingat situasi dan kondisi, aku akan menahan diri sedikit.” Rem menjaga ketengan. Ia tidak menggubris perkataan Navi.

“Apa mereka meninggalkanmu sendirian lagi, Rem?” tanya Navi melanjutkan. 

“Seperti yang kau lihat.” Rem dengan setengah hati menjawabnya. “Hanya karena aku telat setengah jam, mereka pergi begitu saja.”

Itu menjelaskan tiga hal yang terjadi pagi ini. Suasana hatinya yang buruk. Kenapa dia tidak bersama timnya. Kenapa rambutnya basah seperti baru mandi. Meski rumahnya dekat, gadis headphone itu masih sering telat.

“Masalah utamanya, kau telat lebih dari dua kali. Tidak aneh jika kau ditendang dari tim nanti.”

“Yah, kurasa begitu.” Suaranya melemah. “Aku mengantuk. Aku akan tidur sebentar,” ucapnya, secara tidak langsung meminta izin pada Neil yang duduk di sebelahnya.

Rem melepas alat komunikasi yang terpasang di telinga. Mengganggu. Dengan sengaja, ia melempar alat itu ke laut. 

“Huh…?” 

Neil yang gerakannya jauh lebih cepat, menghentikkan Rem dari tindakannya. Tidak seorang pun di helikopter yang melihat kejadian itu.

“Jika kau tidak ingin memegangnya, aku yang akan menyimpannya.”

“Cepat seperti biasanya.” Tanpa protes, Rem memberikannya pada Neil. “Navi terlalu banyak bicara.”

“Memang seperti itulah dirinya.” Meski dengan suara baling-baling helikopter yang cukup keras, Neil bisa mendengarnya dengan jelas. “Jangan membencinya hanya karena hal itu.”

“…” Rem tidak menjawab. Ia memasang headphone yang ada di leher untuk meredam suara baling-baling. Lalu, kembali membuka mulutnya. “Mereka yang kuat secara tidak sadar akan menarik perhatian orang kuat lainnya, huh?”

Entah hal apa yang memancing Rem untuk berkata seperti itu. Namun, seperti sebuah tombol. Bukan hanya Neil saja, tapi Noxa tanpa sadar seperti terpanggil oleh suaranya itu. Matanya terbuka.

Dengan headphone yang menutupi sepasang telinga, Rem sendiri tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang baru saja dikeluarkan oleh mulutnya. Di sisi lain, Noxa yang daritadi hanya menutup matanya dengan wajah penuh pikiran, sekarang sudah kembali ke dunia nyata. Suara baling-baling pun terabaikan oleh sepasang telinga kecil itu.

Rem melanjutkan. “Kau pernah mengatakan itu saat kita bertemu. Meski bukan ditunjukkan padaku.”

Neil mengangguk pelan. Ia menghirup napas dalam menggunakan hidung. Semenjak mereka berada terbang, semakin sulit rasanya untuk menghirup udara.

“Rasanya sedikit aneh mendengar hal itu dari mulutmu.”

“Sama sepertimu,” respon Neil singkat.

Neil sedikit merasa tertekan karena suatu alasan. Ia sama sekali tidak mengerti maksud Rem.

“Sudah kuduga,” gumam Rem pelan.

Saat melirik, Neil baru menyadari kalau selama ini kedua mata Rem tertuju pada bibir Neil. Seperti tertusuk sebuah jarum es. Sangat dingin. Dengan headphone yang dikenakan, tidak mungkin Rem bisa mendengar suara Neil yang pelan. Jadi, gerakan bibir.

Rem kembali membuka mulut. “Aku percaya diri dengan indra penglihatanku, jadi mungkin saja telingaku yang sedang eror saat ini. Aku penasaran, kenapa dunia berjalan dengan sangat lambat, tapi kau tidak seperti itu Neil.”

Noxa memperhatikan Rem dengan ekspresi penasaran sekaligus bingung.

“Mulutmu bergerak lebih cepat dan tidak beraturan dengan suara yang ada. Aku kira itu sebuah trik seperti suara perut atau semacamnya, tapi sepertinya tidak. Bagaimana caramu melakukannya?” tanya Rem penasaran.

Apa Rem sedang bercanda saat ini? Noxa yang merasa heran tidak bisa berhenti berpikir. Setelah melihat bagaimana ekspresi yang dibentuk wajah mereka berdua, pikirannya membuat kesimpulan lain. Dirinya yang berada di luar percakapan, tidak akan pernah mengerti maksud mereka berdua. 

“Rem, matamu terlalu hebat.” 

Rem terkejut. Ia tidak menyangka akan menadapat pujian dari Neil, salah satu Agen Khusus terhebat. Walaupun begitu, Rem tidak terlalu memiirkannya. 

Smile Fox, tim ketiga. 

Untuk sesaat, Rem merasa bangga diri bisa berada di dalam tim tiga, yang jauh lebih hebat dari tim Neil. Namun, jika harus bertanding satu lawan satu, tidak seorang pun dari tim tiga bisa mengalahkan Neil seorang diri. 

Seandainya saja… 

Rem tidak dapat menahan diri.

Seandainya dirinya bertukar dengan Navi yang suka ceroboh, mungkin mereka bisa mendapat tim dengan peringkat satu. 

Angin yang kencang membuat helikopter sedikit bergetar. Semua orang berpegangan kuat pada kursi.

“Uwaaa, bukankah yang barusan itu mengagetkan?” Navi berbicara dengan senyum riangnya seperti biasa.

“Yah, karena angin kencang barusan, aku jadi teringat sesuatu.” Suara Noxa menarik perhatian semua orang. “Kita akan berhenti di Malaysia. Mulai dari sana, kita tidak akan menggunakan helikopter lagi. Namun, pesawat.”

Dengan pesawat, mereka bisa sampai lebih cepat. Untuk sebuah berita, itu bukanlah kabar yang buruk.